Penjelasan Shahih Bukhari (Bagian 2) – Amal Tergantung Niat

December 16, 2011 at 4:17 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Comments Off
Tags: , , , ,

Oleh Al-Akh Abu Sa’id Neno Triyono

Berkata Imam Bukhori :
1 – حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِىُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِىُّ قَالَ أَخْبَرَنِى مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِىُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Hadits No. 1
Hadatsanaa Al-Khumaidi Abdulloh ibnuz-Zubair ia berkata, Hadatsana Sufyan ia berkata, Hadatsana Yahya bin Said Al-Anshori ia berkata, akhbaroni Muhammad bin Ibrohim At-Taimi bahwa Ia mendengar ‘Alqomah bin Waqosh Al-Laitsi berkata, Saya mendengar Umar ibnul Khotob Rodhiyallohu anhu berkata diatas mimbar, Saya mendengar Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam bersabda : “Sesungguhnya hanyalah Amalan-amalan itu tergantung niatnya, sesungguhnya hanyalah seseorang mendapatkan apa yang Ia niatkan, Barangsiapa yang berhijrahnya kepada dunia yang hendak ia raih atau kepada wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrohnya kepada apa yang ia (niatkan) dari hijrohnya tadi”.

Penjelasan biografi perowi hadits :
1. Nama : Abu Bakar Abdulloh ibnuz-Zubair Al-khumaidi
Kelahiran : Wafat tahun > 219 H di Mekkah
Negeri tinggal : Mekkah
Komentar ulama : Imam Ahmad mengatakan : “Ia menurut kami adalah Imam”, Imam Abu Hatim menilainya : “Tsiqoh dan Imam”. Imam Ibnu ‘Ady mengomentari bahwa Ia termasuk manusia pilihan.
Hubungan antar : Imam Bukhori meriwayatkan darinya dalam kitab shohihnya sebanyak 75 hadits. Ia merupakan murid terbaiknya Imam Sufyan bin Uyainah.

2. Nama : Abu Muhammad Sufyan bin Uyainah bin Abi Imron
Kelahiran : 107 – 198 H, wafat di Mekkah
Negeri tinggal : Mekkah
Komentar ulama : Imam Ahmad berkata : Saya tidak mengetahui seorang yang lebih alim terhadap Al-Qur’an dan Sunnah dibanding Ia”. Imam Ibnu Sa’ad mengomentari, Ia Tsiqoh, tsabat dan banyak memiliki hadits serta sebagai hujjah. Imam Abu Hatim menilainya, Tsiqoh, Imam. Imam Yahya bin Sa’id menginformasikan bahwa Sufyan berubah hapalannya pada tahun 197 H (setahun sebelum wafat).
Hubungan antar : Imam Al Mizzi, menggolongkan Yahya bin Said, termasuk deretan gurunya.

3. Nama : Abu Sa’id Yahya bin Sa’d bin Qois Al Anshori
Kelahiran : Wafat 144 H atau setelahnya
Negeri tinggal : Madinah
Komentar ulama : Imam Ibnu Sa’ad menilai, Ia Tsiqoh, banyak haditsnya, Hujjah dan Tsabit. Ditsiqohkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim dan Imam Abu Zur’ah.
Hubungan antar : Imam Al Mizzi, mengatakan Yahya pernah meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrohim At-Taimi

4. Nama : Abu Abdillah Muhammad bin Ibrohim ibnul Harits
Kelahiran : Wafat 120 H menurut pendapat yang shohih
Negeri tinggal : Madinah
Komentar ulama : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim, Imam Nasa’I dan Imam Ibnu Hibban. Imam Ahmad menilainya, Ia meriwayatkan hadits-hadits mungkar.
Hubungan antar : Alqomah termasuk gurunya, menurut Imam Al-Mizzi.
Perowi

5. Nama : Abu Yahya ‘Alqomah bin Waqosh Al-Laitsi
Kelahiran : Wafat pada pemerintahan Abdul Malik di Madinah
Negeri tinggal : Madinah
Komentar ulama : Ditsiqohkan oleh Imam Nasa’I dan Imam Ibnu Hibban. Ia bukan sahabat menurut pendapat yang kuat, karena Imam Ibnu Hibban menggolongkannya sebagai Tabi’in
Hubungan antar : Imam Al-Mizzi menegaskan Ia mendengar dari Umar
Perowi

6. Nama : Abu Hafs Amiril Mukminin ke-2 Umar bin Khotob
Kelahiran : Wafat 23 H ditusuk oleh budak Majusi Abu Lu’lu
Negeri tinggal : Madinah
Komentar ulama : Shohabat besar
(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Kedudukan Sanad : Para ulama ketika mencontohkan hadits ghorib, yaitu yang hanya terdapat satu rowi pada salah satu tingkatannya, dengan hadits ini, karena tidak ada sanad yang shohih selain sanad dari Yahya dari Muhammad dari Alqomah dan dari Umar Rodhiyallohu anhu. Kemudian sebelum Yahya diriwayatkan oleh banyak sekali ulama, diantara pembesarnya :
1. Hamad bin Zaid (98-179 H) haditsnya ditakhrij oleh Imam Bukhori (no. 3898) dan selainnya.
2. Malik bin Anas (93-179 H) haditsnya ditakhrij oleh Imam Bukhori (no. 54) dan selainnya.
3. Abdurrokhman bin Amr Al-Auza’I (w. 157 H) dikeluarkan oleh Imam Thobroni dalam Mu’jam Ausath (no. 40) dan selainnya.
4. dan lain-lain.
Catatan : dalam hadits ini Imam Bukhori membuang lafadz hadits,
فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله
“Barangsiapa yang hijrohnya kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrohnya kepada Alloh dan Rosul-Nya”.
Padahal lafadz ini beliau juga riwayatkan dalam kitab shohihnya ini dan disepakati juga oleh Imam Muslim dalam kitab shohihnya. Hal ini menunjukkan bahwa Imam Bukhori disini meriwayatkan hadits ini dengan maknanya saja dan sengaja membuangnya karena Beliau ingin menyampaikan nasehat kepada dirinya dan pembaca kitabnya, bahwa amalan yang tidak ikhlas, maka tidak akan mendapatkan pahala disisi Alloh, sebagaimana orang yang mengejar amalan dunia semata. Inilah maksud yang diduga oleh Imam Ibnu Hajar dalam menjelaskan perbuatan Imam Bukhori ini.

Penjelasan Hadist :
1. Niyat secara bahasa adalah “Kehendak dan keinginan”, adapun secara istilah yaitu, “keinginan yang kuat yang ada didalam hati untuk mengerjakan sesuatu baik itu adalah amalan sholih maupun amalan yang tercela”.
2. Hadits ini merupakan pokok dari pokok-pokok agama yang mana bahwa syarat diterimanya suatu amalan sholih adalah dengan adanya niat yang ikhlas dan mengikuti (mutabaah) petunjuk Nabi Muhammad Sholollahu alaihi wa Salam. Hadits ini berbicara pokok yang pertama yaitu masalah keikhlasan dalam beribadah kepada Robb kita Subhana wa Ta’ala.
3. Niat memilki dua fungsi utama yaitu membedakan antara tingkah laku kebiasaan manusia dengan ibadah, contoh seorang mandi dengan niat untuk menyegarkan badan dan orang yang lain mandi karena junub, maka orang yang pertama ia tidak diberikan pahala oleh Alloh Subhana wa Ta’ala karena mandi adalah aktivitas kegiatan mubah yang dilakukan oleh manusia, sedangkan yang kedua mendapatkan pahala, karena ia melakukan mandi tersebut dalam rangka ibadah kepada Alloh Subhana wa Ta’ala. Dengan niat yang baik inilah seseorang akan mendapatkan pahala dari Robb-Nya, karena pada dasarnya kegiatan manusia yang mubah Alloh tidak memberikan balasan pahala atau siksaan dosa kecuali ketika ia meniyatkan lain dari kebiasaannya tersebut, sebagai misal tidur adalah aktivitas mubah yang dilakukan oleh manusia, akan tetapi ketika seseorang meniyatkan dengan tidurnya tadi agar tubuh kembali segar dan dapat melanjutkan aktivitas ibadah lainnya, maka itu akan bernilai pahala disisi Alloh, begitu juga sebaliknya ketika ia meniyatkan tidur tadi untuk bermalas-malasan dari melaksanakan ibadah semisal sholat tepat pada waktunya, maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatannya tersebut. Ini fungsi yang pertama.
4. Fungsi niyat yang kedua adalah membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah lainnya. Sebagai contoh seorang melakukan sholat dua rokaat dengan niat sholat tahiyatul masjid, sedangkan orang lain sama-sama melakukan sholat dua rokaat tapi dengan niyat qobliyah dhuhur misalnya, maka walaupun itu adalah sama-sama sholat dua rokaat, akan tetapi dengan niyat yang berbeda, maka jenis sholat yang dilakukan oleh kedua orang tersebut pun berbeda.
5. Pelafadzan niyat ketika akan melakukan amalan suatu ibadah adalah bid’ah yang mungkar yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita Sholollahu alaihi wa Salam.
6. Hijroh secara bahasa adalah “meninggalkan”, adapun secara istilah yaitu “pindah dari negeri Kafir ke negeri Islam”
7. Hijroh secara umum ada dua jenis yaitu hijroh (berpindah) dari negeri kufur kepada negeri iman dan hijroh dari amalan yang jelek kepada amalan yang baik, seperti hijroh dari syirik kepada tauhid, dari bid’ah kepada sunnah, dari maksiat kepada ketaatan kepada Alloh Subhana wa Ta’ala dan seterusnya, hukumnya wajib bagi setiap orang.
8. Tercelanya orang yang meniatkan amalan ibadahnya hanya untuk memperoleh kepentingan dunia semata.
Catatan : sebagian ulama menyebutkan bahwa hadits ini datang berkaitan dengan kisah seorang sahabat yang akan meminang sorang wanita yang bernama ummu qois, akan tetapi wanita tersebut mempersyaratkan kepada calon laki-lakinya untuk hijroh bersamanya, maka jadilah pria tersebut dijuluki sebagai Muhajir Ummu Qois. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Thobroni dalam Mu’jamul Kabir (no. 8462) dari jalan Al-A’masy dari Syaqiq ia berkata, Abdulloh (bin Mas’ud) berkata : “Barangsiapa yang berhijroh mengharapkan sesuatu maka ia mendapatkannya, kemudian berkata seorang laki-laki berhijroh untuk menikahi wanita yang bernama Ummu Qois, maka setelah itu kami namakan Ia “Muhajir Ummu Qois”. Imam Al-Haitsami mengatakan : ‘Para perowinya, perowi shohih’. Dalam riwayat Imam Abu Nu’aim dalam Ma’rifatus Shohabat dari jalan Sufyan dari Al-A’masy dari Syaqiq dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : ‘Ada diantara kami seorang laki-laki yang melamar seorang perempuan yang bernama Ummu Qois, akan tetapi wanita tersebut enggan untuk dinikahi, sampai laki-laki tersebut ikut hijrah, maka ia pun hijroh dan menikahinya, setelah itu kami namai Ia ‘Muhajir Ummu Qois’. Akan tetapi ini bukan menjadi asbabul wurud bagi hadits ini, karena Ibnu Mas’ud sedang menceritakan kejadian seorang yang hijroh karena ingin menikahi seorang wanita.

About these ads

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: