Syarah Bulugul Marom (Hadits no. 1)

December 22, 2011 at 1:03 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

بُلُوغُ اَلْمَرَامِ مِنْ أَدِلَّةِ اَلْأَحْكَامِ
KITAB THOHAROH (BERSUCI)
Syaroh :
Kitab : Masdar dari Kataba – yaktubu – Kitaban – Kitabatan – katban dan susunan hurufnya berkisar pada makna Pengumpulan. Dinamakan Al Kitab sebagai kitab dikarenakan ia mengumpulkan sesuatu yang diletakkan padanya (diringkas dari Kitab Fathul Majid)
Thoharoh : Secara bahasa adalah ungkapan dari kebersihan, sedangkan menurut istilah Syar’i ungkapan dari mencuci anggota (tubuh) tertentu dengan sifat yang tertentu. (Ta’rifat Al Jurjani 1/45)

Bab Miyah (Air-Air)
Syaroh :
Bab : Sesuatu yang keluar dan masuk darinya (Subulus Salam 1/18)
Miyah : Jamak dari air, asalnya Mawahun, oleh karenanya dinampakkan huruf Ha pada jamaknya. Miyah yaitu jenis yang terdapat pada yang sedikit maupun yang banyak. Dan tidaklah ia dijamak melainkan karena terdapat perbedaan jenis-jenisnya ditinjau dari hukum syar’i padanya. Ada jenis (air) yang dilarang menggunakannya, ada pula yang dimakruhkan. dan mengenai perbedaan kesucian pada sebagian air, seperti air laut, telah dinukil oleh Pensyaroh tentang hal ini dari Ibnu Umar Rodhiyallohu anhu dan Ibnu Amr Rodhiyallohu anhu (Subulus Salam 1/18)

1- عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي اَلْبَحْرِ: ( هُوَ اَلطُّهُورُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ ) أَخْرَجَهُ اَلْأَرْبَعَةُ, وَابْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَاللَّفْظُ لَهُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ خُزَيْمَةَ وَاَلتِّرْمِذِيُّ
[pasal Tentang Air Laut] Continue Reading Syarah Bulugul Marom (Hadits no. 1)…

Advertisements

Hukum Penggalangan Dana

December 22, 2011 at 12:59 pm | Posted in fiqih | Leave a comment
Tags:

HUKUM PENGGALANGAN DANA UNTUK MENUNJANG DAKWAH YANG HAQ

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد
I. Muqodimah
Kebutuhan dakwah ahlus sunnah terhadap sarana dan prasarana dakwah adalah sangat penting untuk menunjang dan mengembangkan aktivitas dakwah. Salah satu sarana yang dibutuhkan adalah madrasah-madrasah islamiyyah yang berlandaskan kurikulum islam yang hak berdasarkan Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman Salafus Sholih. Untuk membangun sarana-sarana tersebut tentunya dibutuhkan dana yang tidak sedikit, oleh karenanya dibutuhkan Ta’awun (kerjasama) dari kaum Muslimin untuk menyumbang sebagian rezekinya berupa bantuan baik moril maupun materil. Kaum muslimin yang memiliki kelebihan harta diharapkan untuk menyisihkan sebagian uangnya untuk proses pembangunan sarana dan prasana tersebut.
Untuk mempermudah permintaan tolong-menolong dalam penggalangan dana, maka disusunlah proposal permohonan dana yang menggambarkan secara rinci berapa perkiraan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan sarana tersebut. Kemudian proposal ini diberikan kepada kaum muslimin untuk mengulurkan uangnya dalam rangka membantu kelancaran usaha pembangunan sarana tersebut. Sumbangan ini tidak mengikat seorang pun, namun berdasarkan kemampuan yang dimiliki masing-masing orang. Continue Reading Hukum Penggalangan Dana…

Nishob Zakat Uang

December 22, 2011 at 12:58 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

ZAKAT UANG NISHOBNYA DENGAN EMAS

الحمد لله حمداً مباركاً فيه كما ينبغي لجلال وجهه وعظيم سلطانه نحمده سبحانه وتعالى ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ونصلي ونسلم على رسوله المصطفى خير البشر وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه واتبع سنته إلى يوم الدين .
أما بعد …

Muqodimah

Uang adalah termasuk harta (bahasa arab Mal) yang dimilki seseorang. Pada zaman dahulu mata uang yang digunakan adalah Dinar yang terbuat dari emas dan Dirham yang terbuat dari perak. Salah satu rukun Islam yang harus diterapkan oleh seorang Muslim adalah menunaikan zakat, cukup banyak dalil-dalil yang masyhur tentang wajibnya zakat.

Syarat Wajib Zakat

Dalam kitabnya Roudhul Murobi’ (hal. 164-165) Al-‘Alamah Manshur Al Buhuti menjelaskan bahwa syarat wajib zakat ada lima yaitu :
1. Merdeka
2. Muslim
3. Memiliki (cukup) Nishobnya
4. Sempurna kepemilikan nishobnya
5. Telah berlalu Haulnya.
Berkaitan dengan mata uang emas dan perak maka nishobnya adalah 20 dinar untuk mata uang emas, yang kurang lebih menurut ukuran sekarang adalah 85 gram, sedangkan perak adalah 200 dirham yang setara dengan 595 gram. Dan dikeluarkan zakatnya 2.5 % apabila sudah dimiliki selama satu tahun hijriyah. Apabila seseorang memiliki emas sebanyak 85 gram pada tanggal 1 Muharam 1433 H kemudian jumlahnya masih tetap sampai 1 Muharam 1434 H, maka ia wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2.5 % x 85 gram = 2.125 gram. Begitu juga dengan perak. Continue Reading Nishob Zakat Uang…

Fatwa Ulama Makmum Masbuk Mendapatkan Rukuk Imam

December 22, 2011 at 12:55 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dalam fatawa Islam Sual wa Jawab yang diasuh oleh Syaikh Sholih Al Munajid (syamilah) ada pertanyaan sebagai berikut :
سؤال رقم 22155- بم تُدرك الركعة ؟
إذا جاء رجلٌ ودخل الصلاة والإمام قائم من الركوع لكنه ما قال (الله أكبر) هل تعتبر له ركعة أم لا ؟ ولماذا ؟.
الحمد لله إذا دخل المأموم والإمام راكع فله ثلاث حالات :
1- أن يكبر تكبيرة الإحرام
وهو واقف ثم يركع والإمام راكع ، ففي هذه الحالة يكون مدركاً للركعة مع الإمام .
2- أن يكبر تكبيرة الإحرام
والإمام راكع ، ولكنه ركع بعد رفع الإمام من الركوع ، فلا يُعتبر مدركاً للركعة مع
الإمام ، وعليه أن يقضيها .
3- أن يركع مباشرة بدون أن
يُكبر تكبيرة الإحرام ، ففي هذه الحالة تبطل صلاته ، لأنه ترك ركناً من أركان
الصلاة وهو تكبيرة الإحرام .
وقد ” اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ أَدْرَكَ الإِمَامَ فِي الرُّكُوعِ فَقَدْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ , لِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : { مَنْ أَدْرَكَ الرُّكُوعَ فَقَدْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ } (رواه أبو داود وصححه الألباني في إرواء الغليل (496) وقال رحمه الله ص 262 : ” ومما يقوي الحديث جريان عمل جماعة من الصحابة عليه :
أولاً : ابن مسعود ، فقد قال : ” من لم يُدرك الإمام راكعاً لم يُدرك تلك الركعة ” … وسنده صحيح .
ثانياً : عبد الله بن عمر ، فقد قال : ” إذا جئت والإمام راكع ، فوضعت يديك على ركبتيك قبل أن يرفع فقد أدركت ” وإسناده صحيح .
ثالثاً : زيد بن ثابت ، كان يقول : ” من أدرك الركعة قبل أن يرفع الإمام رأسه فقد أدرك الركعة ” . وإسناده جيد … ” انتهى . انظر الموسوعة
الفقهية الكويتية (23/133) والمغني (1/298) .
الإسلام سؤال وجواب
الشيخ محمد صالح المنجد
Terjemahan :
Soal no. 22155 (dengan apa mendapatkan satu rokaat)
Pertanyaan : Jika seseorang mendatangi sholat pada saat imam sedang rukuk, akan tetapi orang tersebut tidak mengucapkan “Allohu Akbar” apakah dihitung mendapatkan saru rokaat ataukah tidak? Dan kenapa alasannya? Continue Reading Fatwa Ulama Makmum Masbuk Mendapatkan Rukuk Imam…

Sholat Sunnah Eksekusi Mati

December 22, 2011 at 12:53 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

SHOLAT SUNNAH YANG JARANG DIKERJAKAN KEBANYAKAN KAUM MUSLIMIN

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد

Rosulullah sholallahu alaihi wa salam telah mengajarkan kepada umatnya seluruh ajaran agama baik yang besar maupun yang kecil, karena Allah Subhana wa Ta’ala khusus menganugerahkan kepada Nabi-Nya kesempurnaan agama ini dalam firman-NYa :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. (QS. Al Maa’idah : 3)
Salah satu ajaran beliau sholallahu alaihi wa salam adalah sholat baik yang fardhu maupun yang sunnahnya, Rosulullah sholallahu alaihi wa salam sendiri langsung mempratekkan kepada umatnya cara sholat dan jenis-jenis sholat, semua tersusun rapi dalam buku-buku ulama islam yang diwariskan sampai kepada kita.
Namun yang menariknya ada satu sholat sunnah yang luput dari perhatian ulama kita, sehingga mereka tidak menulisnya dalam buku-buku tentang fikih sholat, hal ini disebabkan karena mereka memandang bahwa sholat tersebut amat sangat jarang dikerjakan oleh kaum Muslimin dan hanya untuk orang-orang tertentu saja. Sholat ini diharapkan menjadi penutup amal baiknya karena sudah tidak ada lagi harapan baginya untuk melaksanakan amalan-amalan sholih. Muslim khusus yang berkesempatan melaksanakan sholat tersebut adalah mereka yang sedang berjalan untuk melakukan perbuatan terakhir yang ditawarkan kepadanya pada saat ia akan dieksekusi mati. Sholat tersebut adalah Sholat dua rokaat menjelang eksekusi matinya.
Muslim yang pertamakali dan kemudian dijadikan syariat (akan datang pejelasannya) untuk mereka yang mengalami kejadian sepertinya adalah Sahabat mulia khubaib bin ‘Adiy Rodhiyallahu anhu. Kisah tentang hal ini diriwayatkan oleh Imam Abdur Rozaq dalam mushonafnya (no. 9730) dari jalan Ma’mar dari Az Zuhriy dari Amr bin Abi Sufyan Ats-Tsaqofiy dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu anhu dalam kisah yang panjang tentang perang Ar Rojii’ dan didalamnya ada kisah Khubaib yang ditawan oleh Musyrikin Quraisy dan ketika akan dieksekusi mati, beliau Rodhiyallahu anhu berkata :
دَعُونِى أُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ . ثُمَّ انْصَرَفَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ لَوْلاَ أَنْ تَرَوْا أَنَّ مَا بِى جَزَعٌ مِنَ الْمَوْتِ ، لَزِدْتُ
“biarkan aku untuk sholat dua rokaat, {lalu berpaling kepada mereka} dan berkata, seandainya kalian tidak menyangka bahwa aku takut mati tentu aku akan tambah lagi. Continue Reading Sholat Sunnah Eksekusi Mati…

TIDAK ADA ADZAN DAN IQOMAH DALAM 2 SHOLAT I’ED

December 22, 2011 at 12:50 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Imammuna Asy-Syafi’I berkata dalam Al Um (2/500/501 cet. Darul Wafa Tahqiq DR. Rifat Fauzi ) : “akhbaronaa tsiqoh dari Az Zuhri ia berkata : “tidak dikumandangkan adzan untuk 2 sholat I’ed pada masa Nabi Sholollahu alaihi wa Salam tidak juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, sampai Muawiyah membuat-buat hal itu di Syam dan juga Al Hajaaj di Madinah. Berkata Az Zuhri : Nabi Sholollahu alaihi wa Salam memerintahkan Muadzin pada 2 sholat I’ed untuk mengatakan : Ash-sholat jaamiah”.
Imam Syafi’I berkata lagi : “Tidak ada adzan kecuali untuk sholat yang wajib, kami belum pernah mengetahui bahwa pernah diadzankan untuk Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam selain sholat wajib. Dan saya menganjurkan Imam menyuruh Muadzin untuk mengatakan pada acara yang manusia berkumpul untuk mengadakan sholat dengan ucapan : ‘Ash-Sholatu Jaamiah’ atau ‘Annas Sholat…’ atau mengatakan demikian terus-menerus sampai ditegakkannya sholat, kami tidak memakruhkannya. Adapun jika mengatakan ‘Haya alash sholah’ tidak mengapa. Sekalipun saya menyukai untuk menghindarinya, karena itu adalah kalimat adzan dan saya menyukai menghindari semua kalimat-kalimat adzan. seandainya diadzani atau diiqomati untuk sholat I’ed saya memakruhkannya dan tidak perlu mengulangi atasnya (sholatnya)

Imam Nawawi berkata dalam Majmu Syaroh Muhadzab (5/18-20 cet. Maktabah Al Irsyad Tahqiq Muh. Najib Al Muth’i) : “berkata penulis kitab muhadzab (tidak diadzani dan diiqomati untuk 2 sholat Ied, karena telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas Rodhiyallohu anhuma ia berkata : ‘Saya menyaksikan I’ed bersama Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam, bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman Rodhiyallohu anhum. Semuanya sholat sebelum khutbah tanpa adzan dan iqomah’. Dan sunnah memanggil dengan ucapan ‘Ash-sholatu jaamiah’ sebagaimana diriwayatkan dari Az-zuhri bahwa beliau melakukan yang demikian).
Syaroh (penjelasan dari Imam Nawawi) : hadits Ibnu Abbas Rodhiyallohu anhumaa shohih, Abu Dawud meriwayatkannya dengan sanad shohih atas syarat Bukhori dan Muslim, kecuali perkataan Ibnu Abbas : (bersama) Umar dan Utsman. Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Jabir keduanya mengatakan : ‘tidak pernah diadzani (sholat I’ed) pada hari Idhul Fithri dan Idhul Adha’. Dalam shohih Muslim dari Jabir Rodhiyallohu anhu : ‘Saya menyaksikan bersama Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam pada hari I’ed, Beliau memulai sholat sebelum khutbah tanpa adzan dan Iqomah’. Dan Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jabir bin Samuroh Rodhiyallohu anhu : ‘Saya menyaksikan 2 I’ed bersama Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam bukan sekali dua kali tanpa adzan dan iqomat’. Adapun hadits yang dari Imam Az-Zuhri yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’I dengan sanad dhoif dan Mursal. Imam Syafi’I Berkata dalam Al Um : akhbaronaa Ats-tsiqoh dari Az-Zuhri Ia berkata : ‘senantiasa tidak dikumandangkan adzan untuk 2 sholat I’ed pada masa Nabi Sholollahu alaihi wa Salam tidak juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, sampai Muawiyah membuat-buat hal itu di Syam dan juga Al Hajaaj di Madinah ketika memerintah disitu, berkata Az-Zuhri : Nabi Sholollahu alaihi wa Salam memerintahkan Muadzin dalam 2 sholat Ied memanggil dengan Ash-sholata jaamiah. Hadits Zuhri ini dhoif akan tetapi dalam (masalah Ash-sholatu jaamiah-pent) dikiyaskan kepada sholat kusuuf (sholat gerhana matahari), telah tsabit hadits-hadits yang shohih tentangnya, diantaranya hadits ‘Abdulloh bin ‘Amr ibnul ‘Aash Rodhiyallohu anhumaa Ia berkata : “ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam dipanggil (untuk sholat gerhana) dengan Ash-sholata jaamiah. Dalam riwayat lain Annasholatu jaamiah, dikeluarkan oleh Bukhori dan Muslim. Juga (dalam kitab yang sama-pent) dari ‘Aisyah Rodhiyallohu anha berkata : Matahari terjadi gerhana pada zaman Nabi Sholollahu alaihi wa Salam, lalu beliau mengutus (muadzin) untuk berseru : Ash-sholata jaamiah. Perkataannya dari Zuhri Yunaadaa dengan fathah dal. Ucapan Ash-sholata jaamiah keduanya manshub, Ash-sholat karena Al-Ighroo sedangkan Jaamiah karena Hal. Continue Reading TIDAK ADA ADZAN DAN IQOMAH DALAM 2 SHOLAT I’ED…

Penjelasan Shahih Bukhari (Bagian 6) – Cara Nabi sholallahu alaihi wa salam Menghapal Wahyu Al Qur’an

December 16, 2011 at 5:13 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Oleh: Al Akh Abu Sa’id neno Triyono

Berkata Imam Bukhori:

5 – حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ قَالَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ أَبِى عَائِشَةَ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِى قَوْلِهِ تَعَالَى ( لاَ تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ ) قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُعَالِجُ مِنَ التَّنْزِيلِ شِدَّةً ، وَكَانَ مِمَّا يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ – فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَنَا أُحَرِّكُهُمَا لَكُمْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُحَرِّكُهُمَا . وَقَالَ سَعِيدٌ أَنَا أُحَرِّكُهُمَا كَمَا رَأَيْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يُحَرِّكُهُمَا . فَحَرَّكَ شَفَتَيْهِ – فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ( لاَ تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ* إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ) قَالَ جَمْعُهُ لَهُ فِى صَدْرِكَ ، وَتَقْرَأَهُ ( فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ) قَالَ فَاسْتَمِعْ لَهُ وَأَنْصِتْ ( ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ ) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا أَنْ تَقْرَأَهُ . فَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بَعْدَ ذَلِكَ إِذَا أَتَاهُ جِبْرِيلُ اسْتَمَعَ ، فَإِذَا انْطَلَقَ جِبْرِيلُ قَرَأَهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – كَمَا قَرَأَهُ

Penjelasan : Sama seperti sebelumnya Imam Bukhori, belum memberikan judul untuk bab ini, melihat dari isi hadits yang ditampilkan, maka kami beri judul “ Bab cara Nabi sholallahu alaihi wa salam menghapal wahtu yang diturunkan (Al Qur’an)”.

Hadits No. 5

“haddatsanaa Musa bin Ismail ia berkata, haddatsanaa Abu ‘Awaanah ia berkata, haddatsanaa Musa bin Abi Aisyah ia berkata, haddatsanaa Said bin Jubair dari Ibnu Abbas Rodhiyallohu anhu tentang firman Allah Subhana wa Ta’ala :

{Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya} [Al Qiyaamah : 16].

Beliau (Ibnu Abbas) berkata : “Adalah Rosulullah sholallahu alaihi wa salam menggerak-gerakkan lidahnya dan kedua bibirnya ketika turun ayat kepadanya”, Ibnu Abbas melanjutkan, saya akan (menunjukkan) kepada kalian menggerak-gerakkan kedua bibir, sebagaimana Rosulullah sholallahu alaihi wa salam menggerak-gerakkannya. Said (perowi dari Ibnu Abbas) berkata : Saya akan (menunjukkan) kepada kalian sebagaimana saya lihat Ibnu Abbas menggerak-gerakkannya –lalu Said pun menggerak-gerakkannya-. Maka turun firman Allah Subhana wa Ta’ala :

{Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya # Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.} [Al Qiyaamah : 16-17].

Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu menafsiri : “mengumpulkan (Al Qur’an) di dadamu”, lalu membaca ayat :

{Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu}. [Al Qiyaamah : 18].

Ibnu Abbas menafsiri : “Simaklah dan diam”,

{Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya}. [Al Qiyaamah : 19].

Lanjutnya, “kemudian atas tanggungan kami untuk kamu membacanya, setelah itu Rosulullah sholallahu alaihi wa salam jika Jibril alaihi salam datang kepadanya mendengarkan apa yang disampaikan, lalu setelah Jibril alaihi salam pergi baru Nabi sholallahu alaihi wa salam membacanya sebagaimana yang Jibril alaihi salam bacakan kepadanya”.

Continue Reading Penjelasan Shahih Bukhari (Bagian 6) – Cara Nabi sholallahu alaihi wa salam Menghapal Wahyu Al Qur’an…

Penjelasan Shahih Bukhari (Bagian 5) – Hadits tentang Terputusnya Wahyu

December 16, 2011 at 5:03 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Oleh : Al Akh Abu Sa’id Neno Triyono

 

Berkata Imam Bukhori :

4 – قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِى أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِىَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْىِ فَقَالَ فِى حَدِيثِهِ « بَيْنَا أَنَا أَمْشِى إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ ، فَرَفَعْتُ بَصَرِى فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِى جَاءَنِى بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِىٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، فَرُعِبْتُ مِنْهُ ، فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِى . فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى ( يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ * قُمْ فَأَنْذِرْ ) إِلَى قَوْلِهِ ( وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ) فَحَمِىَ الْوَحْىُ وَتَتَابَعَ » . تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ . وَتَابَعَهُ هِلاَلُ بْنُ رَدَّادٍ عَنِ الزُّهْرِىِّ . وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ « بَوَادِرُهُ » .

Hadits No. 4

Ibnu Syihab berkata, akhbaroni Abu Salamah bin Abdurrokhman, bahwa Jabir bin Abdulloh Al Anshori Rodhiyallohu anhu berkata, (Ia sedang bercerita tentang masa kevakuman turunnya wahyu) dan ini haditsnya : ‘Pada waktu saya (Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam) sedang berjalan, saya mendengar suara dari langit, lalu saya melihat keatas dan ada malaikat yang pernah mendatangiku di gua Hiro sedang duduk diatas kursi antara langit dan bumi, maka saya pun ketakutan dan segera kembali ke rumah sambil berkata (kepada Khodijah Rodhiyallohu anha), ‘Selimuti aku!!”. Kemudian Alloh Subhana wa Ta’ala menurunkan firman-Nya : “Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah,’ (QS. Al Mudatsir : 1-5) setelah itu Wahyu turun kepadaku berturut-turut’.

Menguatkannya (mutabaahnya) Abdulloh bin Yusuf dan Abu Sholih, kemudian memutabaahinya Hilal bin Rodad dari Zuhri. Yunus dan Ma’mar berkata : ‘Bawadiroh’.

Penjelasan biografi perowi hadits :

1. Nama : Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri

Kelahiran : Wafat 125 H ada yang mengatakan sebelumnya

Negeri tinggal : Madinah

Komentar ulama : Imam besar kaum Muslimin pada zamannya

perowi

Hubungan antar : Az-Zuhri mengambil hadits dari Abu Salamah Continue Reading Penjelasan Shahih Bukhari (Bagian 5) – Hadits tentang Terputusnya Wahyu…

Penjelasan Shahih Bukhari (Bagian 4) – Ayat Pertama yang Turun kepada Nabi Sholollahu alaihi wa Salam

December 16, 2011 at 4:41 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Oleh : Al Akh Abu Sa’id Neno Triyono

Berkata Imam Bukhori :
3 – باب ( … )

3 – حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ – وَهُوَ التَّعَبُّدُ – اللَّيَالِىَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ ، فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِى غَارِ حِرَاءٍ ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ . قَالَ « مَا أَنَا بِقَارِئٍ » . قَالَ « فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّالِثَةَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ ) » . فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَرْجُفُ فُؤَادُهُ ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ « زَمِّلُونِى زَمِّلُونِى » . فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ « لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِى » . فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ . فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ – وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِىَّ ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِىَ – فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِى مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – خَبَرَ مَا رَأَى . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِى نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى – صلى الله عليه وسلم – يَا لَيْتَنِى فِيهَا جَذَعًا ، لَيْتَنِى أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَوَمُخْرِجِىَّ هُمْ » . قَالَ نَعَمْ ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِىَ ، وَإِنْ يُدْرِكْنِى يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا . ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّىَ وَفَتَرَ الْوَحْىُ

3. Bab

Penjelasan : Sama seperti sebelumnya Imam Bukhori, belum memberikan judul untuk bab ini, melihat dari isi hadits yang ditampilkan, maka kami beri judul “3. Bab ayat yang pertamakali diturunkan kepada Nabi Sholollahu alaihi wa Salam”.

Hadits no. 3
Hadatsanaa Yahya bin Bukair ia berkata, hadatsanaa Al-Laits dari ‘Uqoil dari Ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair dari Aisyah Rodhiyallohu anhu Ibunda Mukminin ia berkata : “Yang pertamakali diturunkan kepada Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam berupa Wahyu adalah mimpi yang benar. Beliau Sholollahu alaihi wa Salam tidak pernah bermimpi, kecuali seperti merekahnya subuh. Lalu Beliau lebih senang menyendiri, Beliau menyepi di gua Hiro dan bertahanuts-yaitu beribadah-disana beberapa malam (hari), sebelumnya Beliau sudah menyiapkan perbekalan untuk tinggal disana lalu Beliau kembali lagi ke khodijah untuk membawa bekal lagi selama tinggal disana, sampai datang kebenaran kepada Beliau pada saat tinggal di gua Hiro. Malaikat (Jibril) datang kepadanya lalu berkata “Iqro” (bacalah), Nabi menjawab, Aku tidak bisa membaca, lalu (JIbril) meraihku dan mendekapku hingga aku merasa sesak, lalu melepaskanku dan berkata “Bacalah”, aku menjawab lagi, Aku tidak bisa membaca, maka Ia meraihku dan mendekapku lagi yang kedua kalinya hingga aku merasa sesak, dan melepaskanku lagi, sambil berkata “Bacalah”, aku kembali menjawab, aku tidak bisa membaca, maka ia meraihku lagi dan mendekapku yang ketiga kalinya hingga aku merasa sesak, lalu melepaskan lagi dan berkata
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ
“Bacalah dengan nama Robb-mu yang telah menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal mani. Bacalah demi Tuhanmu yang mulia”.
Maka Rosululloh sholollohu alaihi wa salam segera pulang dalam keadaan hatinya merasa takut, lalu menemui Khodijah binti Khuwailid Rodhiyallohu anha sambil berkata, ‘Selimuti aku, selimuti aku’, maka Khodijah pun menyelimuti hingga Beliau hilang rasa takutnya, kemudian menceritakan kejadian yang baru dialaminya dan Beliau berkata, ‘Saya mengkhawatirkan diri saya sendiri’. Khodijah (menenangkan) sambil berkata, “Sekali-kali tidak demi Alloh, Alloh tidak akan menghinakanmu selamanya, engkau banyak menyambung silaturohmi, menanggung beban, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, membantu orang yang benar-benar terkena musibah. Lalu khodijah pun pergi dan kembali dengan mengajak Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza (sepupu khodijah)-Ia adalah orang yang beragama Nasroni pada masa Jahiliyah, Ia dapat menulis bahasa Ibroni, Ia menulis Injil dengan bahasa Ibroni sesuai yang dikehendaki oleh Alloh sejauh mana ia menulis, Ia adalah seorang yang sudah berumur senja dan matanya sudah buta-. Continue Reading Penjelasan Shahih Bukhari (Bagian 4) – Ayat Pertama yang Turun kepada Nabi Sholollahu alaihi wa Salam…

Penjelasan Shahih Bukhari (bagian 3) – Bentuk Wahyu yang Turun kepada Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam

December 16, 2011 at 4:33 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Oleh : Al Akh Abu Sa’id Neno Triyono

Berkata Imam Bukhori :
2 – باب ( … )

2 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ – رضى الله عنها – أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ – رضى الله عنه – سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يَأْتِيكَ الْوَحْىُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَحْيَانًا يَأْتِينِى مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ – وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَىَّ – فَيُفْصَمُ عَنِّى وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِىَ الْمَلَكُ رَجُلاً فَيُكَلِّمُنِى فَأَعِى مَا يَقُولُ » . قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْىُ فِى الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا . طرفه 3215 – تحفة 17152 – 3/1

2. Bab

Penjelasan : Imam Bukhori tidak memberi nama untuk bab ini, dan banyak juga yang sengaja beliau tinggalkan untuk tidak diberi nama bab-bab yang ada dalam kitab shohihnya. Melihat dari hadits yang disampaikan, maka kami berikan judul babnya “2. Bab bentuk Wahyu yang datang kepada Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam”.

Hadist No. 2
Hadatsanaa Abdulloh bin Yusuf ia berkata, akhbaronaa Malik dari Hisyam bin Urwah dari Bapaknya dari Aisyah Rodhiyallohu anha –Ibunya kaum mukminin- bahwa Al-Harits bin Hisyam Rodhiyallohu anhu bertanya kepada Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam, ‘Ya Rosululloh bagaimana datangnya Wahyu kepadamu ?’, Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam menjawab : “Terkadang datang seperti suara lonceng dan ini berat bagiku saya sampai berpeluh dan saya dapat memahami apa yang Ia katakan, terkadang juga Malaikat menampakkan wujud seorang laki-laki, lalu berbicara kepadaku dan aku memahami pembicaraannya”. Aisyah Rodhiyallohu anha berkata, ‘saya melihat beliau ketika turun Wahyu kepadanya pada hari yang sangat dingin, beliau berpeluh, bahkan jidat beliau sampai mengeluarkan keringat’.

Penjelasan biografi perowi hadits :

1. Nama : Abu Muhammad Abdulloh bin Yusuf At-Tunisi
Kelahiran : Wafat 218 H
Negeri tinggal : Aslinya Damasqus kemudian pindah ke Tunisia
Komentar ulama : Ditsiqohkan oleh Imam Abu Hatim dan Imam Al’ijli, Imam Bukhori berkomentar : “Ia manusia yang paling tsabit dari penduduk Syam”. Imam Ibnu Ady menilainya, Shoduq (jujur) La ba’sa bih (tidak mengapa)
Hubungan antar : Beliau adalah orang yang paling mutqin terhadap Muwatho karya Imam Malik yang merupakan gurunya, sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Ma’in.

2. Nama : Abu Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abi ‘Amir
Kelahiran : 93 – 179 H
Negeri tinggal : Madinah
Komentar ulama : Imam Darul Hijroh
Hubungan antar : Hisyam bin Urwah adalah salah satu gurunya, sebagaimana dikatakan Imam Al-Mizzi. Continue Reading Penjelasan Shahih Bukhari (bagian 3) – Bentuk Wahyu yang Turun kepada Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam…

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: