STATUS ROWI YANG HANYA MENDAPATKAN JARH DARI MUTASYADID DAN TA’DIL DARI MUTASAHIL

January 27, 2012 at 2:59 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
STATUS ROWI YANG HANYA MENDAPATKAN JARH DARI MUTASYADID DAN TA’DIL DARI MUTASAHIL

Soal no. 50 :
Jika kita tidak mendapati dalam biografi seorang perowi kecuali adanya jarh dari Imam Mutasyadi atau tautsiq dari Imam Mutasahil, bagaimana hukum haditsnya?
Jawaban :
Kalau seseorang menemukan dalam biografi seorang rowi kemudian ada jarh dari Ibnul qothon misalnya, lalu ia mendapati juga tautsiq dari Ibnu Hibban dan Imam Al Hakim yang digolongkan oleh para ulama sebagai Mutasahil, maka lebih didahulukan ucapan Ibnul Qothon, hal inilah yang tidak dijadikan pedoman oleh Hafidz Ibnu hajar ketika memberikan komentar terhadap hukum seorang rowi dalam kitabnya At taqrib, ketika menghukumi seorang rowi yang majhul yang hanya terdapat tautsiq dari Mutasahilin, terkadang dengan status tetap majhul, terkadang Maqbul dan sedikit yang diberikan status shoduq. Terlebih lagi jika dijelaskan sisi pen-jarh-an rowi tersebut, seperti suul hifdzi (jelek hapalannya), walaupun hal ini tidak menafikan sisi keadilan rowi tersebut. Maka mungkin untuk dikompromikan bahwa tautsiq dari mutasahilin dibawa kepada tsiqoh dalam keadilannya, adapun hapalannya maka ada jarh didalamnya, sehingga tidak tepat tempatnya disini ungkapan ‘kalau telah tsabit kesiqohan seseorang, maka tidak akan berubah statusnya kecuali kalau dijelaskan secara gamblang alasan pen-jarh-annya, karena yang men-tautsiq adalah mutasahilin, berbeda kalau yang mentautsiq seorang Imam yang Muta’dil, atau jumhur ulama, atau Ia masyhur dengan ketsiqohannya, maka ketika ini tidak diterima jarhnya kecuali harus dijelaskan secara gamblang dan jelas.

Advertisements

Mustholah Hadits

January 27, 2012 at 2:58 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
CARA MENGETAHUI ULAMA JARH WA TA’DIL
YANG MUTASYADID, MUTA’DIL DAN MUTASAHIL

Soal no. 49 :
Bagaimana kita tahu bahwa ulama tersebut mutasyadid dan mutasahil dalam jarh wa ta’dil?
Jawaban :
Kita mengetahuinya dengan beberapa perkara :
1. dengan perkataan seorang Al Hafidz baik lebih akhir zamannya maupun yang sezaman bahwa ulama tersebut Mutasahil, atau Mutasyadid atau Muta’dil.
2. dengan meneliti perkataan-perkataannya tentang seorang rowi, kemudian dicocokkan dengan ulama jarh wa ta’dil lainnya yang sudah masyhur bahwasanya Ia Muta’dil, kalau perkataannya mayoritasnya mencocoki ulama muta’dil tersebut, maka Ia digolongkan muta’dil. Adapun kalau mayoritasnya menyelisihi, maka Ia bisa digolongkan Mutasyadid yang mayoritas perkataannya terlalu keras dalam menjrh atau bisa jadi Mutasahil kalau mayoritasnya terlalu gampang memberikan rekomendasi Tautsiq.
3. Penjelasan dari ulama sendiri, ketika Ia senantiasa berpedoman kepada qoidah mustholah tertentu, seperti qoidahnya Ibnu Hibban dalam masalah pen-tautsiq-kannya, maka Beliau digolongkan sebagai Mutasahil atau seperti qoidahnya Imam malik yang mengatakan : “Tidak diambil haditsnya kecuali orang yang terkenal sebagai tholibul hadits dan lama menyibukkan diri dalam hadits”.
Dalam metode diatas, masih juga peluang terbuka untuk ijtihad untuk menentukan seorang ulama itu Mutasahil, Muta’dil atau Mutasyadid manakala tidak didapati perkataan Aimah tentang ulama tersebut atau terjadi perselisihan para Imam dalam menilainya. Terkadang pada diri seorang ulama tersebut terjadi perbedaan perkataan tentang penilaian seorang rowi, maka kita harus tahu penyebabnya, yaitu sebagai berikut :
a. apakah karena ada perubahan ijtihad, misalnya Ia menilai dhoif seorang rowi, kemudian ketika jelas baginya keadaan yang lain, maka Imam tadi berubah menilainya tsiqoh, atau sebaliknya
b. cara menjawab pertanyaan tentang rowi tersebut, dalam kondisi pertanyaan tertentu ia menjawab demikian, kemudian ketika kondisi pertanyaannya berubah, maka jawabannya berubah padahal yang dinilai adalah orang yang sama, seperti misalnya rowi A ditanyakan kepada Seorang Imam ketika dibandingkan dengan rowi yang tsiqoh, maka Imam tadi menjawab ‘dhoif’ (artinya keadaanya jika dibandingkan dengan rowi yang tsiqoh tadi), lalu datang lagi pada kesempatan lain masih tentang rowi A tadi ,tapi dibandingkan dengan seorang rowi yang dhoif, maka jawaban Imam tersebut pun berubah ‘Tsiqoh’ (artinya keadaanya lebih baik daripada rowi yang dhoif tadi), maka perkara perojihan seperti ini adalah perkara yang relative (nisbi).

STATUS ROWI MASYHUR YANG DIKATAKAN MAJHUL OLEH IMAM IBNUL QOTHON

January 27, 2012 at 2:58 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
STATUS ROWI MASYHUR YANG
DIKATAKAN MAJHUL OLEH IMAM IBNUL QOTHON

Soal no. 48 :
Seorang Perowi dikatakan ‘Penduduk Mesir yang Masyhur’, lalu berkata Ibnul Qothon : ‘Tidak dikenal’ dan jamaah meriwayatkan darinya dan hanya diberikan Tautsiq oleh Ibnu Hibban, bagaimana status haditsnya?
Jawaban :
Kemasyhuran tidaklah melazimkan perekomendasian tsiqoh kepadanya, dikarenakan mungkin Ia masyhur dalam kedustaan, atau masyhur dalam kelemahan, atau masyhur dalam ibadahnya, atau masyhur bukan dalam ilmu hadits atau mungkin juga masyhur dalam ilmu hadits. Kemudian Ibnul Qothon terkenal ulama yang sering memutlakan lafadz majhul kepada orang-orang yang masyhur, sebagaimana ini dijelaskan oleh Adz Dzahabi dalam kitab Al mizan dan yang selainnya, maka ditulis disana bahwa Ibnul qothon sering mengatakan Majhul Adhalah, Majhul Hal, La na’rifu halahu (kami tidak mengetahui keadaanya) kepada rowi-rowi yang telah tetap ‘adalah kepadanya.

MAKSUD DARI PERBUATAN IMAM IBNU HIBBAN

January 27, 2012 at 2:57 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
MAKSUD DARI PERBUATAN IMAM IBNU HIBBAN

Soal no. 47 :
Imam Ibnu Hibban memasukkan seorang rowinya dalam kitabnya Ats Tsiqot kemudian beliau komentari Yaghrib (asing/aneh), apakah ini termasuk pendoifan darinya, kalau memang benar kenapa Beliau memasukkannya kedalam kitab “Tsiqotnya” bukan kitabnya” Majruhiin” (isinya rowi-rowi yang dijarh)?
Jawaban :
Perkataan Ibnu Hibban dalam kitanya “Ats Tsiqot”, rowi tersebut asing, keliru atau terkadang asing atau terkadang keliru, bukanlah lafadz yang tegas penjarh-an dari Beliau begitu juga selain Beliau dari para Aimah ketika menggunakan lafadz ini menunjukkan tidaklah tegas Jarh dari mereka, akan tetapi perlu dilihat kalau haditsnya banyak, maka tidak membahayakan ke-ghorib-an dari perowinya, kecuali jika haditsnya sedikit atau bahkan Cuma satu hadits maka jatuhlah rowi tersebut kedalam Matrukin (haditsnya ditinggalkan). Al Hafidz Ibnu Hajar sering mengkritik perbuatan Ibnu Hibban yang memasukan rowi sepeti ini kedalam kitabnya Ats Tsiqot padahal haditsnya sedikit.

STATUS ROWI YANG KEADAANNYA BERBEDA-BEDA

January 27, 2012 at 2:57 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
STATUS ROWI YANG KEADAANNYA BERBEDA-BEDA

Soal no. 46 :
Seorang rowi dikatakan haditsnya doif jika ia meriwayatkan di negeri tertentu, kemudian ia meriwayatkan hadits selain di negeri tersebut, maka bagaimana status riwayatnya?
Jawaban :
Bisa jadi kalau ia meriwayatkan di negeri yang lain haditsnya kuat, jika para ulama memberikan penilaian bahwa rowi ini kuat haditsnya ketika meriwayatkan dinegeri tertentu, yang hal ini juga menunjukkan ia dhoif kalau meriwayatkan di negeri yang lainnya. Akan tetapi jika para ulama menyebutkan bahwa seorang rowi meriwayatkan hadits di negeri tertentu hadits-hadits yang ada padanya Wahm (kesalahan), seperti Ma’mar Bin Rosyid, dikatakan ia meriwayatkan hadits di bashroh, hadits-hadits yang terdapat padanya Wahm. Tapi ini tidak menunjukkan bahwa, riwayat murid orang bashroh yang meriwayatkan dari Ma’mar semuanya lemah haditsnya, karena dimungkinkan ia meriwayatkan dari Ma’mar diluar bashroh, akan tetapi jika tidak ada indicator ini, maka riwayat orang bashroh dari Ma’mar adalah hadits dhoif terlebih lagi, kalau ada rowi tsiqoh lain yang menyelishi haditsnya.

PERBEDAAN PENILAIAN ULAMA KEPADA SEORANG ROWI

January 27, 2012 at 2:56 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
PERBEDAAN PENILAIAN ULAMA
KEPADA SEORANG ROWI

Soal no. 45 :
Jika seorang Imam berkata tentang seorang Rowi, Ia Majhul dan ulama lain mengatakan tsiqoh, apakah ini bisa digunakan sebagai jawaban dari keadaan rowi tersebut?
Jawaban :
Tidak ragu lagi jika Imam yang memberikan tautsiq tadi bukan dari kalangan ulama Mutasahilin (gampang merekomendasikan) rowi yang majhul, maka yang menetapkan didahulukan dari yang meniadakan, orang yang berilmu hujjah bagi yang tidak mengetahui. Tapi harus dilihat qorinah-qorinahnya juga, misalnya jika yang menilai Majhul adalah ulama yang sezaman atau senegeri dengan rowi tersebut, misalnya Imam Ahmad menilai majhul rowi penduduk Baghdad atau Imam Ibnu Main terhadap penduduk Syaiban, kemudian kita dapatkan Imam Al Hakim atau Imam Tirmidzi atau Imam Ibnu Hibban memberikan tautsiq padanya, maka kita menerima penilaian majhulnya lebih utama dibandingkan tautsiq yang diberikan kepada rowi tersebut. Contoh yang lain misalnya Imam Ahmad menilai Majhul rowi orang mesir, kemudian Imam Abi Said bin Yunus yang telah menulis buku Tarikh Mashri, umpamanya men-tautsiq rowi tersbut, maka ketika inilah kita katakan orang yang tahu hujjah bagi orang yang tidak tahu. Maka perkara tarjih harus dilihat qorinahnya yaitu : negerinya, mutasyadid (ketat) atau Mutasahil, kemudian juga factor sezamannya.

APAKAH ROWI MUKHTALITH TERMASUK PEMALSU HADITS

January 27, 2012 at 2:56 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
APAKAH ROWI MUKHTALITH
TERMASUK PEMALSU HADITS

Soal no. 44 :
Seorang rowi yang Mukhtalith apakah ia membuat-buat hadits?
Jawaban :
Jika rowi tersebut termasuk tingkatan ahlu mutabaah dan ahlu syawahid tidak membuat hadits, adapun jika rowi tersebut ikhtilathnya parah, maka dimungkinkan ia membuat hadits tapi bukan karena kesengajaan, melainkan dari kesalahannya, terlebih lagi jika datang kepadanya perowi yang pendusta atau ahlul bid’ah sedangkan rowinya ini seorang yang awam, maka ketika pendusta dan ahlul bid’ah tadi membacakan hadits kepadanya, lalu ia langsung meriwayatkannya.

STATUS ROWI YANG SERING MEMARFUKAN HADITS MAUQUF

January 27, 2012 at 2:55 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
STATUS ROWI YANG SERING
MEMARFUKAN HADITS MAUQUF

Soal no. 43 :
Seorang Rowi yang sering memarfukan (terangkat sampai ke Rosululloh Sholollahu alaihi wa Salam) hadits yang mauquf (perkataan Sahabat), apakah ini menunjukkan Ia seorang yang Mukhtalith (berubah hapalannya)?
Jawaban :
Memarfukan hadits yang mauquf maksudnya rowi tsiqoh yang lain meriwayatkan hadits dengan mauquf, adapun rowi ini memarfukan haditsnya. Hal ini disebabkan karena jelek hapalannya, atau ikhtilath (berubah hapalannya) atau ia menerima dengan talqin atau ia tertuduh berdusta bahkan terkadang karena ia berdusta. Oleh karena itu kalau ada ungkapan Ia termasuk perowi yang Rofa’iin (kelompok perowi yang sering memarfukan hadits), maka biasanya karena dari segi hapalannya ada kritikan, bukan karena tertuduh sengaja memarfukan. Berbeda kalau komentarnya, rowi ini menambahi sanadnya, maka yang dimaksud adalah tuduhan kesengajaan dari rowi tersebut.

STATUS ROWI YANG PADA HAPALANNYA TERDAPAT KELEMAHAN

January 27, 2012 at 2:55 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
STATUS ROWI YANG PADA
HAPALANNYA TERDAPAT KELEMAHAN

Soal no. 42 :
Seorang Rowi yang dikatakan tsiqoh, tapi dalam hapalannya ada sesuatu atau shoduq (jujur) pada hapalannya ada sesuatu, perowi seperti ini jika tidak ada jarh dan ta’dil padanya bagaimana statusnya?
Jawaban :
Perkataan tsiqoh, tapi dalam hapalannya ada sesuatu maka minimal keadaanya adalah hasan haditsnya, atau bisa juga dishohihkan selama tidak ada kepastian bahwa haditsnya inilah yang merupakan kesalahannya dan tidak ada indikasi juga yang mengarah bahwa yang dimaksud adalah tsiqoh dalam agamanya tapi lunak dalam hapalannya, maka ketika dalam kondisi seperti ini adalah lain hukumnya. Adapun perkataan shoduq pada hapalannya ada sesuatu maka yang dimaksud rowi yang jujur tapi lunak hapalannya, maka haditsnya tidak bisa terangkat menjadi Hasan, tapi hanya sebagai mutaba’ah dan syawahid saja.

STATUS ROWI YANG HANYA MENDAPATKAN REKOMENDASI DARI IMAM IBNU HIBBAN

January 27, 2012 at 2:54 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

Dirangkum oleh Abu Said Neno Triyono
STATUS ROWI YANG HANYA MENDAPATKAN REKOMENDASI DARI IMAM IBNU HIBBAN

Soal no. 41 :
Bagaimana Hukum seorang Rowi yang diriwayatkan darinya dua orang yang tsiqoh dan hanya mendapatkan rekomendasi tsiqoh dari Ibnu Hibban? Dengan catatan sebagian ahlu ilmi menghasankan haditsnya?
Jawaban :
Yang dimaksud rekomendasi tsiqoh dari Ibnu Hibban adalah para perowi yang dimasukkan oleh Ibnu Hibban kedalam kitab Ats siqohnya. Kemudian Ibnu hibban berkomentar terhadap rowi tersebut atau abstain, maka hukumnya berbeda-beda :
1. Apabila Ibnu Hibban mengomentari dengan perkataan ia seorang yang Hafidz, Dhobith, Mutqin, salah seorang Aimah dan yang semisalnya, maka Syaikh Abul Hasan telah meneliti biografi rowi-rowi yang disifati sepeti ini, bahwa ketika dibandingkan dengan penilain Imam Jarh wa Ta’dil lainnya, mayoritasnya banyak kecocokkannya, sehingga ini menunjukkan bahwa Imam Ibnu Hibban tidak bermudah-mudahan didalamnya.
2. Apabila komentar dari Beliau adalah, Mustaqim (lurus) haditsnya dan semisalnya, maka menurut penelitian Syaikh Abul Hasan adalah mayoritasnya hasan haditsnya dan ketika dicocokkan dengan penilain Al Hafidz Ibnu Hajar maka beliau memberikan penilain Shoduq.
3. Adapun yang Imam Ibnu Hibban diam, maka rowi majhul yang tidak ada yang meriwaykan Ia atau hanya satu orang, maka tautsiq Ibnu Hibban tidak dapat dipercaya, kerena memang madhabnya Beliau jika tidak diketahui ada pengingkaran maka pada dasarnya orang tersebut adil. Sehingga ini terhitung sikap bermudah-mudahannya Beliau dalam memberikan rekomendasi tautsiq.
4. Apabila yang meriwayatkan rowi majhul tersebut adalah perowi lemah maka ia adalah matrukiin (ditinggalkan haditsnya), ini adalah pendapatnya Haifidz Ibnu Hajjar.
5. Apabila rowi majhul ini diriwayatkan oleh dua orang rowi yang tsiqoh atau lebih dan tidak ada yang memberikan rekomendasi tsiqoh kecuali Ibnu Hibban dalam kitabnya At tsiqoh, maka para ulama berbeda pendapat, Syaikh Abul Hasan berpendapat untuk tawaquf terhadap haditsnya karena tidak merasa tenang dengan rekomendasi Imam Ibnu Hibban yang terlalu gampang memberikan rekomendasi kepada rowi yang majhul, adapun Syaikh Al Bani menerima haditsnya dan minimal dihukumi Hasan, lalu Beliau mengatakan bahwa ini yang dipegangi oleh ulama mutaakhirin seperti Imam Ibnu Katsir, Hafidz Iroqy, Hafidz Ibnu Hajjar dan selainnya, bahkan yang menguatkan pendapat Syaikh Al Bani adalah perkataan Ibnu Abi Hatim sebagai berikut, Saya pernah bertanya kepada ayahku mengenai riwayat para perowi tsiqot dari seseorang yang tidak tsiqot, apakah itu termasuk hal yang menguatkannya? Ayahku (Abu Hatim Ar Rozi) menjawab : “Apabila ia dikenal (ma’ruf) dengan kedhoif-annya, maka hal itu tidak dapat menguatkan riwayatnya itu darinya, namun jika ia seorang perowi majhul, maka hal itu bermanfaat (menguatkan) baginya atas riwayat para perowi tsiqot tersebut darinya (Al Jarh wat Ta’dil, 1/1/36).

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: