Ta’liq Nukhbatul Fikr (Pembagian Khobar – Mutawatir)

June 27, 2013 at 11:49 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , , , ,

قال الإمام الحافظ :
* طرق بلا عدد معين
* أو مع حصر بما فوق الاثنتين
* أو بهما
* أو بواحد
فالأول : المتواتر المفيد للعلم اليقيني بشروطه
1. Jumlah yang tidak ditentukan
2. Jumlah yang terbatas lebih dari dua
3. Jumlahnya dua
4. Jumlahnya satu
“Jenis yang pertama adalah “Al Mutawatir” yang memberikan faedah ilmu Yakin dengan syarat-syaratnya”.
Ta’liq :
Al Hafidz membagi khobar menjadi 4, pembagian yang pertama adalah Mutawatir. Definisi Mutawatir adalah :
ما رواه جماعة يستحيل في العادة أن يتواطؤوا على الكذب، وأسندوه إلى شيء محسوس.
“Apa yang diriwayatkan sekelompok orang yang mustahil menurut kebiasaan, mereka bersepakat untuk berdusta, disandarkan juga kepada sesuatu yang dapat terindera”.
Adapun syarat Mutawatir ada dua : yang disepakati oleh para ulama dan yang masih menjadi perselisihan.
Syarat yang disepakati adalah :
1. diriwayatkan oleh sejumlah perowi yang banyak, tanpa ada batasan yang ditentukan, dikarenakan jumlah suatu berita itu memiliki faedah ilmu dhoruri berbeda sesuai dengan perbedaan beritanya, yang membawa berita dan yang menerima berita. Para ulama berselisih berapa batasan minimumnya sebuah hadits dikatakan mutawatir, Imam Suyuthi memilih minimumnya 10, Ibnu Hazm minimum dua kalau keduanya tadi tidak ada kesepakatan berdusta, Syaikh Abul Hasan mengatakan jumlah 4 kebawah belum bisa dikatakan memiliki faedah ilmu dhoruri dan batasan minimum sependapat dengan jumhur yang tidak menentukannya tapi dilihat dari berbagai sisi. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “Majmu Fatawa” (4/48) berkata :
وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ : أَنَّ التَّوَاتُرَ لَيْسَ لَهُ عَدَدٌ مَحْصُورٌ وَالْعِلْمُ الْحَاصِلُ بِخَبَرِ مِنْ الْأَخْبَارِ يَحْصُلُ فِي الْقَلْبِ ضَرُورَةً كَمَا يَحْصُلُ الشِّبَعُ عَقِيبَ الْأَكْلِ وَالرِّيِّ عِنْدَ الشُّرْبِ وَلَيْسَ لَمَّا يَشْبَعُ كُلُّ وَاحِدٍ وَيَرْوِيه قَدْرٌ مُعَيَّنٌ ؛ بَلْ قَدْ يَكُونُ الشِّبَعُ لِكَثْرَةِ الطَّعَامِ وَقَدْ يَكُونُ لِجَوْدَتِهِ كَاللَّحْمِ وَقَدْ يَكُونُ لِاسْتِغْنَاءِ الْآكِلِ بِقَلِيلِهِ ؛ وَقَدْ يَكُونُ لِاشْتِغَالِ نَفْسِهِ بِفَرَحِ أَوْ غَضَبٍ ؛ أَوْ حُزْنٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ
“Yang benar, sebagaimana yang dipilih mayoritas ulama bahwa, Mutawatir tidak memiliki batasan tertentu. Ilmu didapatkan dengan khobar dari pengabaran yang didapatkan oleh hati secara dharurat, sebagaimana didapakatkan rasa kenyang setelah makan dan minum. Tidaklah sama takaran kenyang untuk masing-masing individu dengan ukuran-ukuran tertentu. Terkadang rasa kenyang didapatkan karena banyak makannya, namun bisa juga karena kualitas makanannya, seperti daging, atau sudah merasa cukup dengan makanan yang sedikit dan bisa juga karena faktor dirinya yang tidak berselera, karena sedang gembira atau marah atau lagi sedih dan yang semisalnya”.
2. masing-masing tingkatan sanadnya diriwayatkan oleh rowi yang sangat banyak tanpa batasan minimalnya, melihat kepada kualitasnya.
3. Mustahil menurut kebiasaan mereka para perowi tersebut sepakat untuk berdusta, baik kesepakatan yang tidak disengaja atau yang disengaja.
4. Penukilan yang dibawakan oleh para perowinya adalah perkara yang terindera, seperti “Sami’na” (kami mendengar), Roainaa (kami melihat), Syahidnaa (Kami menyaksikan) dan semisalnya.
5. khobar mereka berasal dari ilmu yakin bukan ilmu dhon (keraguan), seperti perkataan seorang : saya melihat anjing tapi saya kira itu adalah kambing. Maka ilmunya ini tidak pasti tapi masih ada keraguan.
Sedangkan syarat yang diperselisihkan diantaranya,
1. kelompok syiah mempersyaratkan ada salah satu perowinya yang merupakan Imam maksum, dan bantahannya bahwa adanya Imam Maksum adalah diantara kesesatan syiah.
2. Ada yang mempersyaratkan negerinya harus berbeda-beda dengan jumlah negeri yang banyak.
Kemudian mutawatir dibagi menjadi beberapa :
1. ditinjau dari kemasyhurannya ada mutawatir yang dikenal semua kelompok ada yang hanya dikenal oleh ulama cabang ilmu tertentu.
2. ditinjau dari lafadzhnya ada yang mutawatir lafdzi, yaitu lafadnya sama dan maknawi, hanya sama dalam hal maknanya. Dan ada juga yang semisal dengan maknawi seperti wajibnya sholat lima waktu.
Contoh Mutawatir lafdhi, yaitu hadits :
من كذب عليَّ مُتعمداً فليتبوَّأ مقعدَه من النار
“Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”.
Hadits ini diriwayatkan lebih dari 60 orang sahabat, diantaranya 10 orang sahabat yang dijamin masuk jannah, kemudian dari mereka diriwayatkan juga oleh sekelompok ulama hadits dengan jumlah yang sangat banyak, dan begitu seterusnya.
Contoh Mutawatir maknawi adalah hadits-hadits yang berkaitan dengan mengangkat tangan ketika berdoa, mengusap khuf, syafaat dan yang semisalnya.
Hadits Mutawatir memberikan 2 faedah besar yakni :
1. Ilmu, yakni kepastian kevalidan penyandaran berita tersebut
2. Amal dengan sesuatu yang ditunjukan oleh hadits Mutawatir, kita benarkan jika ia berupa berita dan kita terapkan jika ia berupa instruksi.

Advertisements

Kitab wudhu bab 39

June 27, 2013 at 4:09 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , ,

Bab 39 Membasuh kedua kaki sampai mata kaki

Kitab Wudhu Bab 38

June 27, 2013 at 4:07 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , ,

Bab 38 Mengusap kepala seluruhnya

Ta’liq Nukhbatul Fikr (Khobar)

June 27, 2013 at 2:26 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , , ,

قال الإمام الحافظ :
فأقول : الخبر إما أن يكون له :
“Al Khobar bisa berupa :”.
Ta’liq :
Al Khobar memiliki makna yang sama dengan hadits yaitu, sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan atau sifat Beliau Sholallahu ‘Alaihi wa Salam. Ada yang berpendapat juga Khobar adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam dan juga kepada selainnya, sehingga ia lebih umum dari hadits. Kemudian ada istilah lain lagi yakni, “Al Atsar” adalah sesuatu yang disandarkan kepada sahabat atau Tabi’in. namun terkadang digunakan juga untuk menyebutkan sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, maka ketika itu Atsar ini dikaitkan dengan Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, seperti perkataan : ‘telah datang atsar dari Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam’.

Ta’liq Nukhbatul Fikir (Alasan penulisan kitab ini)

June 25, 2013 at 11:18 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , , ,

قال الإمام الحافظ :
فسألني بعض الإخوان أن ألخص له المهم من ذلك فأجبته إلى سؤاله رجاء الاندراج في تلك المسالك
“Maka sebagian ikhwah meminta kepadaku, untuk meringkaskan point-point penting dalam ilmu mustholah hadits. Maka aku memenuhi permintaan tersebut, mengharapkan ganjaran dari amalan tersebut”.
Ta’liq :
Perkataan Al Hafidz Ibnu Hajar, “sebagian ikhwah” menunjukan ketawadhu’an beliau, bisa jadi kemungkinan besar yang dimaksud ikhwah tersebut adalah murid-muridnya, namun beliau merendahkan diri dengan menyebut mereka sebagai rekan, seolah-olah kedudukan beliau sama dengan para muridnya, padahal Ibnu Hajar adalah Imam besar dan Amirul Mukminin fil Hadits pada zaman itu. Demikianlah sikap yang seharusnya dimiliki oleh kita, tidak merasa tinggi hati, dikarenakan ilmu yang kita sangka melebihi orang lain.
Terkadang sebuah buku atau pembahasan ilmiah, lahir dari permintaan orang-orang disekitar ulama. Sebut saja Imam Bukhori, salah satu alasan Imam Bukhori menulis kitab shahih adalah atas permintaan guru beliau Imam Ishaq bin Rohawaih. Kemudian juga pada zaman ini, diataranya Imam Al Albani yang menulis beberapa bukunya, karena ada permintaan dari murid-murid atau rekan-rekan beliau, misalnya kitab “Tamaamul Minnah”, karya beliau yang berisi komentar terhadap buku “Fiqhus Sunnah” karya Syaih Sayyid Sabiq.

Ta’liq Nukhbatul Fikr (Sejarah Mutsholah Hadits)

June 24, 2013 at 10:57 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , , ,

فإن التصانيف في اصطلاح أهل الحديث قد كثرت وبسطت واختصرت
“Sesungguhnya penulisan dalam bidang istilah ahli hadits sangat banyak, ada yang dibahas secara panjang lebar dan ada yang ringkas”.
Ta’liq :
Banyak karya ulama-ulama kita baik dari kalangan Mutaqodimin hingga zaman sekarang ini, yang menulis dibidang peristilahan hadits atau yang dikenal dengan “Mustholah Hadits” yang jumlahnya sangat banyak. Hal ini menunjukan antusias mereka didalam menggali, mengamalkan dan menyebarkan ajaran-ajaran Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam. Mereka membuat istilah, ungkapan atau kode-kode khusus dibidang periwayatan hadits, sehingga memberikan kaedah baku dalam berinteraksi dengan hadits-hadits Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam.
Yang pertama kali dikenal sebagai orang yang menulis ilmu Mustholah Hadits adalah Imam Syafi’I, melalui karya beliau yang berjudul “Ar-Risaalah”, namun buku ini, tidak hanya khusus membahas mustholah hadits, namun ada didalamnya pembahasan bidang Ushul fiqih dan selainnya. Kemudian setelah itu, banyak sekali ditulis ilmu mustholah hadits oleh para ulama kita. Dikatakan yang pertama kali menyusun ilmu mustholah hadits dalam buku tersendiri adalah Imam Al Hasan bin Abdur Rokhman bin Kholaad Abu Muhammadd Ar-Roomahurmuziy (w. 360 H) dalam kitabnya “لمحدث الفاصل بين الراوي والواعي”, namun tulisan ini belum mencakup semua cabang pembahasan dalam ilmu mustholah hadits.
Selain tulisan-tulisan yang panjang pembahasannya, ada juga sebagian ulama yang membuat tulisan yang ringkas yang isinya menjelaskan ilmu mustholah hadits, seperti kitab “Nukhbatul Fikr” yang sedang kita bahas ini. Kemudian ada juga, ulama kita yang membuat nadhom (bait-bait) syair tentang ilmu ini, seperti Mandhumah Baiquniyyah, karya Imam Baiquniy (saya memiliki ta’liq terhadapnya), lalu ‘Alfiyah karya Al Hafidz Irooqy, gurunya Al Hafidz Ibnu Hajar dan selainnya.

Kitab wudhu bab 34

June 23, 2013 at 11:45 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

Bab 34 Pendapat tidak ada Wudhu kecuali karena yang keluar dari 2 _dua_ jalan

Kitab Wudhu Bab 37

June 23, 2013 at 11:26 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , ,

Bab 37 Orang yang tidak berwudhu kecuali karena pingsan

Ta’liq Nukhbatul Fikr (Muqodimah)

June 23, 2013 at 10:46 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , ,

TA’LIQ NUKHBATUL FIKR
مقدمة
قال الإمام الحافظ : أحمد بن علي بن حجر العسقلاني – رحمه الله-
الحمد لله الذي لم يزل عليما قديرا وصلى الله على سيدنا محمد الذي أرسله إلى الناس كافة بشيرا ونذيرا وعلى آل محمد وصحبه وسلم تسليما كثيرا
أما بعد :
“Segala puji Bagi Allah Yang senantiasa Maha Mengetahui dan Maha Berkuasa”
Ta’liq :
Nukhbatur Fikr adalah kitab matan yang ditulis oleh Al Hafidz Ibnu Hajar, yang berisi pembahasan-pembahasan dalam bidang imu Mustholah Hadits.
Beliau memulai dengan pujian kepada Allah, karena memang semua nikmat, baik itu Imam , Ilmu, Kesehatan dan sebagainya adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’alaa, sehingga kita seharusnya bersyukur dengan memuji Allah Subhanahu wa Ta’alaa.
Allah Subhanahu wa Ta’alaa adalah Maha berilmu dan Maha berkuasa, sebagaimana firman-Nya :
إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا
“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (QS. Faathir : 44).
قال الإمام الحافظ :
وصلى الله على سيدنا محمد الذي أرسله إلى الناس كافة بشيرا ونذيرا وعلى آل محمد وصحبه وسلم تسليما كثيرا
أما بعد :
“Sholawat Allah kepada Sayyidinaa Muhammad yang Allah Subhanahu wa Ta’alaa utus kepada manusia seluruhnya, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Sholawat juga kepada keluarga Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Ammaa Ba’du :
Ta’liq :
Allah Subhanahu wa Ta’alaa dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, oleh karenanya Allah Subhanahu wa Ta’alaa memerintahkan kepada kaum Mukminin untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad Sholallahu ‘Alaihi wa Salam, sebagaimana Firman-Nya :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya” (QS. Al Ahzaab : 56).
Imam Bukhori dalam kitab shahihnya, meriwayatkan secara Mu’alaq :
قَالَ أَبُو الْعَالِيَةِ صَلاَةُ اللَّهِ ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ ، وَصَلاَةُ الْمَلاَئِكَةِ الدُّعَاءُ
“Abul ‘Aaliyah berkata : ‘Sholawat Allah adalah pujian kepada Nabi Muhammad dihadapan para Malaikat, sedangkan sholawat Malaikat adalah mendoakan Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam”.
Imam Al Baghowi dalam kitab tafsirnya, mengatakan bahwa makna sholawat kaum mukminin kepada Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam adalah mendoakan rahmat bagi Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi wa Salam.

Tanda kiamat memberi salam hanya kepada yang dikenal

June 21, 2013 at 4:31 pm | Posted in Tulisan Lainnya | 2 Comments
Tags: , ,

Memberi Salam hanya kepada Orang yang Dikenal adalah Tanda Kiamat

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: