Kitab Wudhu Bab 49

July 28, 2013 at 1:25 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

49 – باب إِذَا أَدْخَلَ رِجْلَيْهِ وَهُمَا طَاهِرَتَانِ
Bab 49 Jika Memasukkan Kedua Kaki Dalam Keadaan Suci
Penjelasan :

Imam Bukhori disini seolah-olah mengisyaratkan kewajiban dalam kondisi suci/berwudhu ketika hendak memakai khuf (sepatu). Pendapat tentang disyaratkan seorang harus dalam keadaan suci/berwudhu, lalu baru mengenakan khufnya, dimana nantinya ia mendapatkan keringanan untuk tidak perlu membuka khufnya ketika berwudhu, cukup diusap bagian atasnya, diriwayatkan berasal dari Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad dan Imam Ishaq, sebagaimana dinukil oleh Imam Syaukani dalam “Nailul Author”.

Kemudian Imam Syaukani menukil pendapat para ulama yang menyelisihi hal ini, kata beliau :
وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَيَحْيَى بْنُ آدَمَ وَالْمُزَنِيِّ وَأَبُو ثَوْرٍ وَدَاوُد : يَجُوزُ اللُّبْسُ عَلَى حَدَثٍ ثُمَّ يُكْمِلُ طَهَارَتَهُ ، وَالْجُمْهُورُ حَمَلُوا الطَّهَارَةَ عَلَى الشَّرْعِيَّةِ وَخَالَفَهُمْ دَاوُد فَقَالَ : الْمُرَادُ إذَا لَمْ يَكُنْ عَلَى رِجْلَيْهِ نَجَاسَةٌ
“Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauriy, Yahya bin Adam, Al Muzanniy, Abu Tsaur dan Dawud (Adh-Dhohiriy) berpendapat, boleh memakai kedua khuf pada waktu hadats lalu ia menyempurnakan bersuci/wudhunya. Mayoritas ulama membawa makna thoharoh dalam hadits-hadits pada bab ini sesuai dengan pengertian syariat, namun Imam Dawud menyelisi mereka dengan berkata : ‘yang dimaksud jika tidak ada di kakinya najis’’”.
Jadi menurut Imam Dawud suci yang dimaksud disini adalah lawan dari najis, sehingga yang dipersyaratkan menurut beliau adalah memasukkan kedua kaki ke dalam khuf dalam keadaan suci tidak ada najisnya, bukan dalam keadaan berwudhu sebagaimana pendapat kelompok ulama pertama.

Pendapat yang terpilih adalah dipersyaratkan dalam kondisi suci/wudhu ketika memasukkan kedua kaki ke dalam khufnya. Lalu ketika pada kesempatan selanjutnya, pada saat ia akab berwudhu lagi, maka diberikan keringanan untuk tidak usah membuka khufnya, untuk membasuh kedua kakinya, namun cukup diusap bagian atas khufnya. Syariat memberikan keringanan selama satu satu malam bagi orang yang mukim dan tiga hari tiga malam bagi yang bersafar, menurut pendapat yang terpilih. Kemudian diikutkan hukum mengusap khuf juga kepada orang yang memakai kaos kaki dan sandal, menurut pendapat yang terpilih sebagaimana telah berlalu pembahasannya.

Berkata Imam Bukhori :

206 – حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَأَهْوَيْتُ لأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ « دَعْهُمَا ، فَإِنِّى أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ » . فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا
68). Hadits no. 206
“Haddatsanaa Abu Nu’aim ia berkata, haddatsanaa Zakariyaa dari ‘Aamir dari ‘Urwah ibnul Mughiiroh dari Bapaknya ia berkata : ‘aku bersama Nabi  pada suatu perjalanan, aku hendak melepaskan kedua sepatu Nabi , lalu Beliau  berkata : “biarkan, karena aku memasukkan kedua kakiku (memakai khuf) dalam keadaan suci”. Lalu Beliau  mengusap bagian atas khufnya’”.
HR. Muslim no. 654

Biografi Perowi Hadits

Semua perowinya telah berlalu keterangannya.

Penjelasan Hadits :
1. Hadits ini salah satu dalil yang dijadikan oleh ulama yang berpendapat disyariatkannya dalam kondisi suci/wudhu bagi orang yang hendak memakai khuf untuk mendapatkan keringanan mengusapnya, tidak perlu melepas khufnya untuk membasuh kedua kakinya.
2. Keutamaan sahabat Al Mughiiroh bin Syu’bah Rodhiyallahu anhu yang berkhidmat kepada Nabi  dan sunnah-sunah beliau sepeninggal Nabi .
3. Adapun batas waktu mengusap bagi yang mukim 1×24 jam dan bagi yang musafir 3x 24 jam, diriwayatkan haditsnya oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” dari Syuraih bin Hanii’ ia berkata :
أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فَقَالَتْ عَلَيْكَ بِابْنِ أَبِى طَالِبٍ فَسَلْهُ فَإِنَّهُ كَانَ يُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ
“aku mendatangi Aisyah Rodhiyallahu anha, aku bertanya kepadanya tentang mengusap kedua khuf?, maka beliau berkata : ‘engkau konfirmasi langsung kepada Ali bin Abi Tholib, lalu bertanya kepadanya, karena beliau Rodhiyallahu anhu yang menemani Rasulullah ’. Lalu kami pun bertanya langsung kepada Ali Rodhiyallahu anhu, maka jawabnya : ‘Rasullah memberikan waktu tiga hari tiga malam bagi Musafir dan satu satu malam bagi yang Mukim’”.
4. Pembatasan waktu tersebut adalah pendapat yang terpilih, karena dalam masalah ini ada sebagian ulama yang berpendapat lain, kata Imam Syaukani dalam “Nailul Author” :
وَقَدْ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي ذَلِكَ فَقَالَ مَالِكٌ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ : لَا وَقْتَ لِلْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَمَنْ لَبِسَ خُفَّيْهِ وَهُوَ طَاهِرٌ مَسَحَ مَا بَدَا لَهُ ، وَالْمُسَافِرُ وَالْمُقِيمُ فِي ذَلِكَ سَوَاءٌ ، وَرُوِيَ مِثْلُ ذَلِكَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَعُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَالْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ
“terdapat ulama yang menyelisihi hal diatas. Imam Malik dan Imam Al-Laits bin Sa’ad berkata : ‘tidak ada batasan waktu untuk mengusap khuf. Orang yang memakai khuf dalam keadaan suci, ia dapat mengusapnya sekehendaknya, Musafir dan yang mukim sama hukumnya. Diriwayatkan pendapat yang serupa dari Umar ibnul Khothoob, ‘Uqbaah bin ‘Aamir, Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhum dan Al Hasan Al Bashri”.
Kemungkinannya kata Imam Syaukani, mereka berdalil dengan hadits Ubay bin ‘Imaaroh, ia berkata :
قَالَ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَكَانَ قَدْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلْقِبْلَتَيْنِ – أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْسَحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ قَالَ « نَعَمْ ». قَالَ يَوْمًا قَالَ « يَوْمًا ». قَالَ وَيَوْمَيْنِ قَالَ « وَيَوْمَيْنِ ». قَالَ وَثَلاَثَةً قَالَ « نَعَمْ وَمَا شِئْتَ »
“Yahya bin Ayyub Rodhiyallahu anhu –beliau pernah sholat bersama Rasulullah  menghadap kedua kiblat- beliau berkata : ‘wahai Rasulullah, apakah engkau mengusap kedua khuf?’, Nabi  menjawab : “iya”, tanyanya lagi : ‘satu hari?’, jawab Nabi  : “satu hari”, lanjutnya : ‘dua hari?’, dijawab : “dua hari”, lanjutnya : ‘tiga hari?’, dijawab : “iya, sekehendakmua””. (HR. Abu Dawud, didhoifakan oleh Imam Al Albani).

Dalam lafadznya Imam Ibnu Majah :
قَالَ وَثَلاَثًا حَتَّى بَلَغَ سَبْعًا قَالَ لَهُ « وَمَا بَدَا لَكَ »
“tanyanya : ‘tiga hari sampai tujuh hari’, lalu dijawab : “sekehendakmu” (didhoifkan oleh Imam Al Albani).
Imam Syaukani dalam “Nailul Author” mengomentari hadits ini, kata beliau :
قَالَ أَبُو دَاوُد : وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي إسْنَادِهِ وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ .وَقَالَ الْبُخَارِيُّ نَحْوَهُ وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ : رِجَالُهُ لَا يُعْرَفُونَ ، وَأَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيّ .وَقَالَ : هَذَا إسْنَادُهُ لَا يَثْبُتُ وَفِي إسْنَادِهِ ثَلَاثَةُ مَجَاهِيلَ : عَبْدُ الرَّحْمَنِ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ ، وَأَيُّوبُ بْنُ قَطَنٍ ، وَمَعَ هَذَا فَقَدْ اُخْتُلِفَ فِيهِ عَلَى يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ، وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ : لَسْت أَعْتَمِدُ عَلَى إسْنَادِ خَبَرِهِ ، وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ : لَا يَثْبُتُ وَلَيْسَ لَهُ إسْنَادٌ قَائِمٌ ، وَبَالَغَ الْجُوزَجَانِيّ فَذَكَرَهُ فِي الْمَوْضُوعَاتِ ، وَمَا كَانَ بِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ لَا يَصْلُحُ لِلِاحْتِجَاجِ بِهِ عَلَى فَرْضِ عَدَمِ الْمُعَارِضِ ، فَالْحَقُّ تَوْقِيتُ الْمَسْحِ بِالثَّلَاثِ لِلْمُسَافِرِ ، وَالْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ لِلْمُقِيمِ .
“Abu Dawud berkata : ‘telah terjadi perselisihan dalam sanadnya dan sanadnya tidak kuat, Bukhori juga mengatakan yang mirip dengannya. Imam Ahmad berkata : ‘perowinya tidak dikenal’.
Daruquthni meriwayatkan haditsnya, lalu berkata : ‘sanad ini tidak tetap, didalamnya terdapat tiga perowi majhul yaitu : Abdur Rokhman, Muhammad bin Yaziid dan Ayyub bin Qothon, disamping itu juga terjadi perselisihan yang sangat banyak terhadap diri Yahya bin Ayyub Rodhiyallahu anhu.
Imam Ibnu Hibban mengomentari : ‘aku tidak berpegang dengan sanad pengabarannya’.
Imam Ibnu Abdil Bar berkata : ‘tidak tetap, tidak memiliki sanad yang bisa tegak (hujjah padanya)’.
Al Jauzajaaniy berlebihan dengan menyebutkannya didalam kitabnya “Al Maudhuu’aat”.
Berdasarkan posisi sanad haditsnya, maka tidak layak dijadikan hujjah, sekalipun tidak ada penentangnya (apalagi disini ada penentangnya-pent,).
Maka pendapat yang benar dibatasi waktu mengusap 3 hari bagi musafir dan satu hari satu malam bagi yang mukim”.

Advertisements

Kitab Wudhu Bab 47

July 28, 2013 at 1:24 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: ,

47 – باب الْوُضُوءِ بِالْمُدِّ
Bab 47 Wudhu dengan Air Satu Mud

Penjelasan :

Setelah sebelumnya ditunjukkan bahwa Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam pernah bersuci dari bejana yang biasa sehari-hari, dimana berarti kadar airnya sedikit. Dalam bab ini disebutkan kadar air yang paling sedikit yang shahih dari Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam, yang mana Beliau menggunakannya untuk berwudhu. Ukuran minimal air tersebut adalah satu Mud yakni seukuran dua telapak tangan orang dewasa.

Namun dalam kitab Bulughul Marom, Al Hafidz Ibnu Hajar membawakan riwayat dari sahabat Abdullah bin Zaid Rodhiyallahu ‘anhu katanya :
إنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَى بِثُلُثَيْ مُدٍّ ، فَجَعَلَ يَدْلُكُ ذِرَاعَيْهِ
“Sesungguhnya Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam pernah dibawakan air seukuran dua pertiga (2/3) Mud, lalu beliau menggosok-gosokkan kedua hastanya” (HR, Ahmad, dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah).
Imam Shon’ani menemukan bahwa ada ukuran yang lebih kecil dari ini, yakni dikatakan Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam pernah berwudhu dari sepertiga air Mud, namun Imam Shon’ani dalam “Subulus Salam” mengomentarinya :
وَأَمَّا حَدِيثُ : { أَنَّهُ تَوَضَّأَ بِثُلُثِ مُدٍّ } فَلَا أَصْلَ لَهُ
“Adapun Hadits bahwa “Beliau Shollallohu alaihi wa Salaam berwudhu dengan sepertiga Mud”, maka tidak ada asalnya”.
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “At-Talkhiisul Khobiir” juga berkata, ‘aku tidak mendapatkan sanadnya’.

Berkata Imam Bukhori

201 – حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ قَالَ حَدَّثَنِى ابْنُ جَبْرٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَغْسِلُ – أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ – بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ ، وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ

63). Hadits no. 201
“Haddatsanaa Abu Nu’aim ia berkata, haddatsanaa Mis’ar ia berkata, haddatsanii Ibnu Jabr ia berkata, aku mendengar Anas Rodhiyallahu ‘anhu berkata : “Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam mandi dengan air satu shoo’ sampai 5 Mud dan Beliau berwudhu dengan air sebanyak satu Mud”.
HR. Muslim no. 763

Biografi Perowi Hadits

Semua perowinya telah berlalu keterangannya. Kecuali :

1. Nama : Abu Salamah Mis’ar bin Kadaam
Kelahiran : Wafat 153 atau 155 H
Negeri tinggal : Kufah
Komentar ulama : Ditsiqohkan oleh Imam Yahya bin Sa’id Al Qohthoon, Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Zur’ah, Imam Abu Hatim dan Imam Ibnu Hibban.
Hubungan Rowi : Ibnu Jabr salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

2. Nama : Abdullah bin Abdullah bin Jaabir atau Jabr
Kelahiran : –
Negeri tinggal : Madinah
Komentar ulama : Tabi’I shoghiir. Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim dan Imam Ibnu Hibban.
Hubungan Rowi : Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang gurunya.

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)
Penjelasan Hadits :
1. Disukainya untuk berhemat dalam menggunakan air, sekalipun dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa.
2. Batasan minimal air yang digunakan untuk berwudhu adalah 2/3 Mud, karena telah datang riwayat yang shahih dari Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam tentang hal ini, sekalipun Imam Bukhori tidak menuliskan dalam kitabnya.

Shahih Bukhori Kitab Wudhu Bab 46

July 15, 2013 at 12:00 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , ,

46 – باب الْوُضُوءِ مِنَ التَّوْرِ
Bab 46 Wudhu dari At-Taur

Penjelasan :

At-Taur menurut Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al Fath” menyerupai Ath-Thostu yakni baskom. Dan telah berlalu pada bab sebelumnya perbuatan Nabi  yang bersuci dari berbagai macam tempat air. Ini semua menunjukkan sahnya bersuci pada air yang sedikit, apabila tidak ada najis didalamnya.

Berkata Imam Bukhori :

199 – حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ قَالَ حَدَّثَنِى عَمْرُو بْنُ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ عَمِّى يُكْثِرُ مِنَ الْوُضُوءِ ، قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَخْبِرْنِى كَيْفَ رَأَيْتَ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ ، فَكَفَأَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مِرَارٍ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِى التَّوْرِ ، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ غَرْفَةٍ وَاحِدَةٍ ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَاغْتَرَفَ بِهَا فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ، ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهِ مَاءً ، فَمَسَحَ رَأْسَهُ ، فَأَدْبَرَ بِيَدَيْهِ وَأَقْبَلَ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ، فَقَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – يَتَوَضَّأُ
61). Hadits no. 199
“Haddatsanaa Khoolid bin Makhlad ia berkata, haddatsanaa Sulaiman ia berkata, haddatsanii ‘Amr bin Yahya dari Bapaknya ia berkata, Pamanku sangat sering berwudhu, lalu ia berkata kepada Abdullah bin Zaid Rodhiyallahu ‘anhu : ‘beritahu aku bagaimana engkau melihat Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam berwudhu?’. Kemudian Abdullah meminta satu baskom air, ia mencelumkan kedua telapak tangannya, lalu mencucinya sebanyak tiga kali, lalu beliau memasukkan tangannya ke baskom, lalu berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung sebanyak tiga kali dari satu cidukan, lalu memasukkan tangannya, lalu menciduknya untuk membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, lalu mencuci kedua tangannya sampai kedua sikunya dua kali dua kali, lalu mengambil air dengan kedua tangannya, lalu mengusap kepalanya, diusap dengan kedua tangannya kebelakang lalu dikembalikan kedepan, lalu mencuci kedua kakinya. Kemudian beliau : ‘demikian aku melihat Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam berwudhu’”.

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua perowinya telah berlalu keterangannya.

Penjelasan Hadits :
1. Perbuatan sahabat Abdullah bin Zaid Rodhiyallahu ‘anhu yang berwudhu dari Taur (baskom) kemudian menyandarkan perbuatannya mencontoh Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam, maka menunjukkan bahwa Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam pernah berwudhu dari baskom.

Berkata Imam Bukhori :

200 – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَعَا بِإِنَاءٍ مِنْ مَاءٍ ، فَأُتِىَ بِقَدَحٍ رَحْرَاحٍ فِيهِ شَىْءٌ مِنْ مَاءٍ ، فَوَضَعَ أَصَابِعَهُ فِيهِ . قَالَ أَنَسٌ فَجَعَلْتُ أَنْظُرُ إِلَى الْمَاءِ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِهِ ، قَالَ أَنَسٌ فَحَزَرْتُ مَنْ تَوَضَّأَ مَا بَيْنَ السَّبْعِينَ إِلَى الثَّمَانِينَ
62). Hadits no. 200
“Haddatsanaa Musaddad ia berkata, haddatsanaa Hammaad dari Tsaabit dari Anas bahwa Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam meminta bejana dari air, maka didatangkan bejana yang mulutnya lebar, lalu ia meletakkan jari-jarinya didalamnya. Anas Rodhiyallahu ‘anhu berkata : ‘aku melihat air memancar diantara jari-jemari Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam’.
Anas Rodhiyallahu ‘anhu berkata : ‘aku memperkirakannya orang yang berwudhu darinya berjumlah 70 sampai 80 orang’”.
HR. Muslim no. 6080.

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua perowinya telah berlalu keterangannya.

Penjelasan Hadits :
1. Qodh mirip dengan Taur, sehingga berwudhunya Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam dari Qodh menunjukkan bolehnya berwudhu juga dari Taur, karena sama jenisnya.
2. Kisah ini menunjukkan salah satu mukjizat Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam.
3. Terdapat hadits yang menunjukkan secara tegas bahwa Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam berwudhu dari Taur. Misalnya dalam riwayat yang ditulis Imam Abu Dawud dalam “Sunannya” dari sahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, katanya :
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَتَى الْخَلاَءَ أَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فِى تَوْرٍ أَوْ رَكْوَةٍ فَاسْتَنْجَى
“Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam jika pergi ke jamban, maka aku menyediakan air untuk beliau dalam Taur atau Rokwah (gayung yang terbuat dari kulit-pent.), lalu beliau beristinja dengannya” (dihasankan oleh Imam Al Albani).
Masih dalam kitab yang sama, Imam Abu Dawud meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Zaid Rodhiyallahu ‘anhu :
جَاءَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِى تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ فَتَوَضَّأَ
“Rasulullah Shollallohu alaihi wa Salaam mengunjungi kami, lalu kami mengeluarkan air di baskom kuningan untuk Beliau gunakan, lalu Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam berwudhu dengan air tersebut” (dishahihkan oleh Imam Al Albani)”.

shahih Bukhori Kitab Wudhu Bab 45

July 14, 2013 at 11:59 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , ,

45 – باب الْغُسْلِ وَالْوُضُوءِ فِى الْمِخْضَبِ وَالْقَدَحِ وَالْخَشَبِ وَالْحِجَارَةِ
Bab 45 Mandi dan Berwudhu di Bejana dan Tempat Air, Kayu dan Batu

Penjelasan :

Yakni berkaiatan dengan tempat yang digunakan untuk bersuci.

Berkata Imam Bukhori :

195 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُنِيرٍ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بَكْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ قَالَ حَضَرَتِ الصَّلاَةُ ، فَقَامَ مَنْ كَانَ قَرِيبَ الدَّارِ إِلَى أَهْلِهِ ، وَبَقِىَ قَوْمٌ ، فَأُتِىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِمِخْضَبٍ مِنْ حِجَارَةٍ فِيهِ مَاءٌ ، فَصَغُرَ الْمِخْضَبُ أَنْ يَبْسُطَ فِيهِ كَفَّهُ ، فَتَوَضَّأَ الْقَوْمُ كُلُّهُمْ . قُلْنَا كَمْ كُنْتُمْ قَالَ ثَمَانِينَ وَزِيَادَةً
62). Hadits no. 195
“Haddatsanaa Abdullah bin Muniir, ia mendengar Abdullah bin Bakar berkata, haddatsanaa Humaid dari Anas Rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘Shalat telah tiba, berdirilah orang-orang yang rumahnya dekat pulang kepada keluarganya, lalu masih tersisa sejumlah sahabat. Rasulullah  didatangkan tempat air dari batu yang didalamnya terdapat air, Tempat airnya terlalu kecil untuk dibentangkan telapak tangan didalamnya, lalu orang-orang berwudhu semuanya. Kami berkata : ‘berapa jumlah kalian?, Anas menjawab : ‘lebih dari 80 orang”.

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua biografi perowinya telah berlalu sebelumnya, kecuali :

1. Nama : Abu Abdir Rokhman Abdullah bin Muniir
Kelahiran : Wafat 241 H atau setelahnya
Negeri tinggal : Marwazi
Komentar ulama : Ditsiqohkan oleh Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Hibban.
Hubungan Rowi : Abdullah bin Bakar adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

2. Nama : Abu Wahhaab Abdullah bin Bakar
Kelahiran : Wafat 208 H
Negeri tinggal : Bashroh
Komentar ulama : Ditsiqohkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Daruquthni, Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban.
Hubungan Rowi : Humaid Ath-Thaawil adalah salah seorang gurunya, dan tinggal senegeri dengannya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :
1. Salah satu mukjizat Nabi  yang menjadikan air yang kelihatannya sedikit, namun mencukupi digunakan untuk bersuci sampai puluhan orang.
2. Bolehnya bersuci dari tempat air, baik yang ukurannya kecil apalagi yang besar, selama tempat air tersebut suci.
3. Yang wajib ketika akan berwudhu berusaha semaksimal mungkin untuk menggunakan air, walaupun pada saat itu sedang musim kemarau, namun jika tidak mendapatkannya juga maka diberikan keringanan dengan tayamum.

Berkata Imam Bukhori :

196 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِى بُرْدَةَ عَنْ أَبِى مُوسَى أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَعَا بِقَدَحٍ فِيهِ مَاءٌ ، فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ فِيهِ وَمَجَّ فِيهِ
63). Hadits no. 196
“Haddatsanaa Muhammad ibnul ‘Alaa’ ia berkata, haddatsanaa Abu Usamah dari Buroid dari Abo Burdah dari Abi Musa Rodhiyallahu anhu bahwa Nabi  meminta satu bejana yang berisi air. Lalu beliau membasuh kedua tangannya dan wajahnya, serta menyemburkan air dari mulutnya ke bejana tersebut”.
HR. Muslim no. 6561

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua biografi perowinya telah berlalu sebelumnya. Ini silsilah keturunan, yakni Buroid meriwayatkan dari kakeknya Abu Burdah bin Abi Musa, lalu Abu Burdah meriwayatkan dari Bapaknya Abu Musa Rodhiyallahu anhu.

Penjelasan Hadits :
1. Dalam shahih Muslim terdapat keterangan bahwa Nabi  melakukan hal ini untuk memberikan berkah kepada sahabatnya Abu Musa dan Bilaal Rodhiyallahu anhumaa, agar mereka menemui orang Arab Badui dan memberikan kabar gembira kepadanya, Nabi setelah mencuci kedua tangan dan wajahnya dari air bejana tersebut, lalu menyemburkan air pada bejana tersebut, berkata kepada sahabat Abu Musa dan Bilaal Rodhiyallahu anhumaa :
اشْرَبَا مِنْهُ وَأَفْرِغَا عَلَى وُجُوهِكُمَا وَنُحُورِكُمَا وَأَبْشِرَا
“Kalian berdua minumlah airnya, lalu usapkan di wajah dan leher kalian, lalu bergembiralah”.
2. Dalam hadits ini dalil, Nabi  bersuci menggunakan “Qodh” (bejana/baskom) untuk tempat air.

Berkata Imam Bukhori :

197 – حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِى سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَتَى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَخْرَجْنَا لَهُ مَاءً فِى تَوْرٍ مِنْ صُفْرٍ فَتَوَضَّأَ ، فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ ، وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ فَأَقْبَلَ بِهِ وَأَدْبَرَ ، وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ

64). Hadits no. 197
“Haddatsanaa Ahmad bin Yunus ia berkata, haddatsanaa Abdul Aziz bin Abi Salamah ia berkata, haddatsanaa ‘Amr bin Yahya dari Bapaknya dari Abdullah bin Zaid Rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘Rasulullah  mendatangi kami, lalu kami mengeluarkan air didalam bejana Kuningan, lalu berwudhu dengannya, Beliau  membasuh wajahnya dan kedua tangannya 2 kali 2 kali, lalu mengusap kepalanya mulai dari depan ke belakang, lalu membasuh kedua kakinya”.

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua biografi perowinya telah berlalu sebelumnya.

Penjelasan Hadits :
1. Hadits ini dalil, Nabi  berwudhu dari bejana kuningan.

Berkata Imam Bukhori :

198 – حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَاشْتَدَّ بِهِ وَجَعُهُ ، اسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ فِى أَنْ يُمَرَّضَ فِى بَيْتِى ، فَأَذِنَّ لَهُ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بَيْنَ رَجُلَيْنِ تَخُطُّ رِجْلاَهُ فِى الأَرْضِ بَيْنَ عَبَّاسٍ وَرَجُلٍ آخَرَ . قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ فَأَخْبَرْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ أَتَدْرِى مَنِ الرَّجُلُ الآخَرُ قُلْتُ لاَ . قَالَ هُوَ عَلِىٌّ . وَكَانَتْ عَائِشَةُ – رضى الله عنها – تُحَدِّثُ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ بَعْدَ مَا دَخَلَ بَيْتَهُ وَاشْتَدَّ وَجَعُهُ « هَرِيقُوا عَلَىَّ مِنْ سَبْعِ قِرَبٍ ، لَمْ تُحْلَلْ أَوْكِيَتُهُنَّ ، لَعَلِّى أَعْهَدُ إِلَى النَّاسِ » . وَأُجْلِسَ فِى مِخْضَبٍ لِحَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ، ثُمَّ طَفِقْنَا نَصُبُّ عَلَيْهِ تِلْكَ حَتَّى طَفِقَ يُشِيرُ إِلَيْنَا أَنْ قَدْ فَعَلْتُنَّ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى النَّاسِ
64). Hadits no. 198
“Haddatsanaa Abul Yaman ia berkata, akhbaronaa Syu’aib dari Az-Zuhriy ia berkata, akhbaronii ‘Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah bahwa Aisyah Rodhiyallahu anha berkata : ‘ketika Nabi  semakin berat kondisinya dan sakitnya semakin parah, Beliau  meminta ijin kepada istri-istrinya agar Beliau tinggal di rumahku, lalu para istri-istri Beliau mengijinkannya. Nabi  keluar dengan dituntun oleh kedua sahabatnya, yakni Abbad dan sahabat satunya lagi. ‘Ubaidillah berkata : ‘Abdullah bin ‘Abbaas Rodhiyallahu anhu mengabariku, ia berkata : ‘tahukah kamu siapa laki-laki yang lain tadi?’, aku berkata : ‘tidak’, Ibnu Abbaas Rodhiyallahu anhu berkata, ia adalah Ali Rodhiyallahu anhu.
Kemudian Aisyah Rodhiyallahu anhu melanjutkan kisahnya setelah Nabi  tinggal di rumahnya dan sakitnya bertambah parah. Nabi  berkata : “Guyurlah aku dengan air dari tujuh geriba, jangan dibuka ikatnya, mudah-mudahan aku bisa menemui orang-orang”. Lalu Nabi  didudukkan diatas bak air miliki Hafshoh istri Nabi , lalu kami menemani Beliau dan mengguyurkan air ke badan Beliau, sampai Beliau mengisyaratkan kepada kami, bahwa hal itu telah cukup kami lakukan, kemudian Beliau keluar menemui orang-orang”.

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua biografi perowinya telah berlalu sebelumnya.

Penjelasan Hadits :
1. Hadits ini dalil, bahwa Nabi  bersuci di Mihdhob (bak air) yang biasanya digunakan untuk mencuci pakaian.
2. Penggunaan tujuh geriba adalah dalam rangka pengobatan, karena biasanya syar’I menyukai angka ganjil. Nabi  bersabda :
وَهْوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ
“Allah Witr, menyukai bilangan ganjil“ (Muttafaqun ‘Alaih).

Shahih Bukhori Kitab Wudhu Bab 44

July 13, 2013 at 11:37 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: ,

صَبِّ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَضُوءَهُ عَلَى الْمُغْمَى عَلَيْهِ
Bab 44 Basuhan Nabi  dengan Air Wudhu Kepada Orang yang Menderita Sakit Sampai Tidak Sadarkan Diri

Penjelasan :

Bab ini masih terkait dengan bab sebelumnya berkaitan dengan air musta’mal (bekas pakai), yakni disini Rasulullah  mewudhukan sahabatnya yang sakit hingga tidak sadarkan diri, dimana berarti air tersebut adalah sisa Nabi . Dan adanya pihak-pihak yang mengatakan bahwa ini kekhususan Nabi , maka tidak bisa diterima, memang benar bahwa jasad Nabi  memiliki keberkahan yang tidak dimiliki oleh seorang pun selain para Nabi. Namun berkaitan hukum air sisa bersuci, hal ini perlu dalil yang mengatakan bahwa ini adalah kekhususan Nabi , tidak berlaku kepada umatnya dan disana tidak ada dalil yang mengkhususkannya.

Berkata Imam Bukhori :

194 – حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرًا يَقُولُ جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُنِى ، وَأَنَا مَرِيضٌ لاَ أَعْقِلُ ، فَتَوَضَّأَ وَصَبَّ عَلَىَّ مِنْ وَضُوئِهِ ، فَعَقَلْتُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَنِ الْمِيرَاثُ إِنَّمَا يَرِثُنِى كَلاَلَةٌ . فَنَزَلَتْ آيَةُ الْفَرَائِضِ

61). Hadits no. 194
“Haddatsanaa Abul Waliid ia berkata, haddatsanaa Syu’bah dari Muhammad ibnul Munkadir ia berkata, aku mendengar Jaabir berkata : ‘Rasulullah  datang menjengukku, aku sakit sampai tidak sadarkan diri, lalu Beliau mewudhukanku dan membasuh air wudhu kepadaku, lalu aku sadar dan berkata : ‘wahai Rasulullah, kepada siapakah warisan itu? Aku mewarisi Kalaalah, lalu turunlah ayat tentang warisan”.
HR. Muslim no. 4233

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua biografi perowinya telah berlalu sebelumnya, kecuali :

1. Nama : Abu Abdillah Muhammad ibnul Munkadir
Kelahiran : Wafat 130 H atau setelahnya
Negeri tinggal : Madinah
Komentar ulama : Tabi’I wasith. Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim, Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban.
Hubungan Rowi : Jaabir Rodhiyallahu anhu adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :
1. Imam Ibnu Bathol berkata :
قال المهلب: فيه دليل على طهور الماء الذى توضأ به، لأنه لو كان نجسًا لم يصبه عليه، وقد أمر النبى، – صلى الله عليه وسلم -، الذى عَانَ سهلا أن يتوضأ له، ويغسل داخلة إزاره ويصبه عليه، ولو كان نجسًا لم يأمر سهلا أن يغتسل منه، بل رجاء بركته، وأن يحمل عنه شر العين
“ Al Muhallab berkata : ‘didalamnya dalil sucinya air yang digunakan untuk memwudhukan orang lain, karena seandainya najis, tentu tidak akan dibasuhkan kepadanya. Nabi  telah memerintahkan Sahal untuk memuwudhukannya dan memandikan bagian tubuh didalam sarungnya lalu mengguyurkan air diatasnya (diciti bs. Jawa), seandainya hal tersebut najis, tentu Beliau  tidak memerintahkan Sahal Rodhiyallahu anhu untuk memandikannya, namun mengharapkan keberkahannya dan mungkin ini adalah sejelek-jeleknya pertolongan”.
2. Dari nukilan Imam Ibnu Bathol, membantah mereka yang mengatakan hal tersebut adalah kekhususan Nabi , dengan bukti hal yang sama dilakukan oleh Sahal Rodhiyallahu anhu sepengetahuan dan atas perintah Nabi .

Shahih Bukhori Kitab Wudhu Bab 43

July 13, 2013 at 11:36 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: ,

43 – باب وُضُوءِ الرَّجُلِ مَعَ امْرَأَتِهِ وَفَضْلِ وَضُوءِ الْمَرْأَةِ
وَتَوَضَّأَ عُمَرُ بِالْحَمِيمِ مِنْ بَيْتِ نَصْرَانِيَّةٍ
Bab 43 Wudhunya Seorang Laki-Laki bersama Istrinya dan Sisa Wudhunya Perempuan
Umar Rodhiyallahu anhu pernah berwudhu dengan air panas di rumah orang Nashroni

Penjelasan :

Atsar dari Umar sebenarnya ada dua, namun disini Imam Bukhori Menggabungkannya, yakni sahabat Umar Rodhiyallahu anhu berwudhu dengan air panas dan sahabat Umar Rodhiyallahu anhu berwudhu di rumah orang Nashroni. Atsar yang pertama dikatakan oleh Al Hafidz dalam “Al Fath” :
وَهَذَا الْأَثَر وَصَلَهُ سَعِيد بْن مَنْصُور وَعَبْد الرَّزَّاق وَغَيْرهمَا بِإِسْنَادٍ صَحِيح بِلَفْظِ ” إِنَّ عُمَر كَانَ يَتَوَضَّأ بِالْحَمِيمِ وَيَغْتَسِل مِنْهُ ” وَرَوَاهُ اِبْن أَبِي شَيْبَة وَالدَّارَقُطْنِيّ بِلَفْظِ ” كَانَ يُسَخَّن لَهُ مَاء فِي قُمْقُم ثُمَّ يَغْتَسِل مِنْهُ ” قَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ إِسْنَاده صَحِيح ، وَمُنَاسَبَته لِلتَّرْجَمَةِ مِنْ جِهَة أَنَّ الْغَالِب أَنَّ أَهْل الرَّجُل تَبَع لَهُ فِيمَا يَفْعَل ، فَأَشَارَ الْبُخَارِيّ إِلَى الرَّدّ عَلَى مَنْ مَنَعَ الْمَرْأَة أَنْ تَتَطَهَّر بِفَضْلِ الرَّجُل ؛ لِأَنَّ الظَّاهِر أَنَّ اِمْرَأَة عُمَر كَانَتْ تَتَوَضَّأ بِفَضْلِهِ أَوْ مَعَهُ ، فَيُنَاسِب قَوْله ” وُضُوء الرَّجُل مَعَ اِمْرَأَته ” أَيْ مِنْ إِنَاء وَاحِد . وَأَمَّا مَسْأَلَة التَّطَهُّر بِالْمَاءِ الْمُسَخَّن فَاتَّفَقُوا عَلَى جَوَازه إِلَّا مَا نُقِلَ عَنْ مُجَاهِد
”Atsar ini disambungkan sanadnya oleh Sa’id bin Manshuur, Abdur Rozaq dan selainnya dengan sanad shahih dengan lafadz : ‘Umar Rodhiyallahu anhu berwudhu dengan air panas dan mandi darinya’. Ibnu Abi Syaibah dan Daruquthni meriwayatkan dengan lafadz : ‘Air dimasak untuk Umar Rodhiyallahu anhu di sebuah baskom, lalu beliau mandi dengannya’, Daruquthni berkata, sanadnya shahih.
Keterkaitannya dengan judul bab dari sisi bahwa umumnya istri mengikuti apa yang dilakukan oleh suaminya, maka Imam Bukhori mengisyaratkan untuk membantah orang yang melarang wanita bersuci dengan bekasnya seorang laki-laki, karena yang Nampak bahwa istri Umar Rodhiyallahu anhu berwudhu dari bekas air sisanya atau bersama menggunakannya, maka sesuai dengan judul bab ‘Seorang laki-laki berwudhu bersama istrinya’ yakni dari satu bejana.
Adapun masalah bersuci dengan air yang dipanaskan, maka para ulama telah sepakat untuk membolehkannya, kecuali apa yang dinukil dari Mujaahid”.

Kemudian masalah berwudhu di rumah orang Nashroni, Al Hafidz berkata :
وَهَذَا الْأَثَر وَصَلَهُ الشَّافِعِيّ وَعَبْد الرَّزَّاق وَغَيْرهمَا عَنْ اِبْن عُيَيْنَةَ عَنْ زَيْد بْن أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ بِهِ ، وَلَفْظ الشَّافِعِيّ ” تَوَضَّأَ مِنْ مَاء فِي جَرَّة نَصْرَانِيَّة ” وَلَمْ يَسْمَعهُ اِبْن عُيَيْنَةَ مِنْ زَيْد بْن أَسْلَمَ ، فَقَدْ رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ طَرِيق سَعْدَان بْنِ نَصْر عَنْهُ قَالَ ” حَدَّثُونَا عَنْ زَيْد بْن أَسْلَمَ ” فَذَكَرَهُ مُطَوَّلًا . وَرَوَاهُ الْإِسْمَاعِيلِيّ مِنْ وَجْه آخَر عَنْهُ بِإِثْبَاتِ الْوَاسِطَة فَقَالَ ” عَنْ اِبْن زَيْد بْن أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ بِهِ ” وَأَوْلَاد زَيْد هُمْ عَبْد اللَّه وَأُسَامَة وَعَبْد الرَّحْمَن ، وَأَوْثَقهمْ وَأَكْبَرهمْ عَبْد اللَّه ، وَأَظُنّهُ هُوَ الَّذِي سَمِعَ اِبْن عُيَيْنَةَ مِنْهُ ذَلِكَ ، وَلِهَذَا جَزَمَ بِهِ الْبُخَارِيّ
”Atsar ini disambungkan Syafi’I, Abdur Rozaq dan selainnya dari Ibnu ‘Uyyainah dari Zaid bin Aslam dari Bapaknya dari Umar Rodhiyallahu anhu. Lafadz Syafi’I : ‘Umar Rodhiyallahu anhu berwudhu dari air yang ada di tempat minumnya wanita Nashrani’. Ibnu Uyyainah tidak mendengar Zaid bin Aslam. Baihaqi meriwayatkan dari jalan Sa’daan bin Nashr dari Ibnu ‘Uyyainah ia berkata : ‘haddatsuunaa dari Zaid bin Aslam’ lalu menyebutkan kisah yang panjang.
Al Ismaa’iiliy meriwayatkan dari jalan lain dan mencantumkan perantara, Ibnu ‘Uyyainah berkata : ‘dari Ibnu Zaid bin Aslam dari Bapaknya dst.’. anak-anak Zaid adalah Abdullah, Usamah dan Abdur Rokhman. Yang paling tsiqoh dan paling besar diantara mereka adalah Abdullah, aku menduga Abdullah adalah perowi yang Ibnu ‘Uyyainah mendengar darinya, oleh karenanya Imam Bukhori meriwayatkan mu’alaq ini dengan kalimat jazm (aktif/pasti)”.

Lalu Al Hafidz menukil perkataan Imam Syafi’I tentang hukum berwudhu dengan air milik orang Nashroni :
وَقَالَ الشَّافِعِيّ فِي الْأُمّ : لَا بَأْس بِالْوُضُوءِ مِنْ مَاء الْمُشْرِك وَبِفَضْلِ وَضُوئِهِ مَا لَمْ تُعْلَم فِيهِ نَجَاسَة
”Imam Syafi’I dalam Al Umm berkata : ‘tidak mengapa berwudhu dari airnya orang Musyrik dan sisa airnya, selama tidak diketahui padanya terdapat najis”.

Berkata Imam Bukhori :

193 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَتَوَضَّئُونَ فِى زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – جَمِيعًا
60). Hadits no. 193
“Haddatsanaa Abdullah bin Yusuf ia berkata, akhbaronaa Maalik dari Naafi’ dari Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhu bahwa ia berkata : ‘laki-laki dan wanita mereka berwudhu bersama pada zaman Rasulullah ”.

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua biografi perowinya telah berlalu sebelumnya.

Penjelasan Hadits :
1. Imam Bukhori berdalil dengannya bolehnya seorang laki-laki bersuci dari bekasnya wanita dan sebaliknya.
2. Perkataan Ibnu Umar Rodhiyallahu anhu bahwa hal itu terjadi pada zaman Nabi , menununjukkan hukumnya marfu’.
3. Tentu hadits ini tidak dipahami seperti dhohirnya, yakni laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom, saling bercampur baur dalam berwudhu, namun yang dimaksud tempat wudhu yang digunakan adalah satu antara laki-laki dan perempuan, misalnya dengan memasang sekat pemisahah, namun kolam yang digunakan sama.

Ta’liq Nukhbatul Fikr (contoh hadits shahih lighoirihi, hasan lidzatihi dan hasan lighoirihi)

July 13, 2013 at 11:32 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , ,

Kami akan menyebutkan contoh untuk hadits hasan shahih lighorihi, hasan lidzatihi dan hadits hasan lighorihi. Contoh untuk hadits shahih lighoirihi adalah sabda Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam :
ابْتَعْ عَلَيْنَا إِبِلًا بِقَلَائِصَ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ إِلَى مَحِلِّهَا
“Juallah kepada kami unta dengan menggantinya dari unta zakat ketika sudah sampai tempatnya”.
Takhrij : Jalan-jalannya adalah :
A. Imam Ahmad meriwayatkannya dari jalan :
عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ، حَدَّثَنِي أَبُو سُفْيَانَ الْحَرَشِيُّ ، وَكَانَ ثِقَةً – فِيمَا ذَكَرَ أَهْلُ بِلَادِهِ -، عَنْ مُسْلِمِ بْنِ جُبَيْرٍ مَوْلَى ثَقِيفٍ – وَكَانَ مُسْلِمٌ رَجُلًا يُؤْخَذُ عَنْهُ، وَقَدْ أَدْرَكَ وَسَمِعَ – عَنْ عَمْرِو بْنِ حُرَيْشٍ الزُّبَيْدِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي قَالَ:
Kedudukan sanadnya : semua perowinya tsiqoh, kecuali Ibnu Ishaaq yaitu Muhammad bin Ishaaq, beliau seorang rowi yang shoduq dan Mudallis dan disini beliau sudah menjelaskan aktivitas periwayatannya, sehingga haditsnya Hasan. Namun terdapat jalan lain yang semakna dengannya :
B. Imam Baihaqi dalam “Sunannya” meriwayatkan yang semakna dengan hadits ini dari jalan :
أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ الْحَارِثِ الْفَقِيهُ أَخْبَرَنَا عَلِىُّ بْنُ عُمَرَ الْحَافِظُ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ النَّيْسَابُورِىُّ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى ابْنُ جُرَيْجٍ أَنَّ عَمْرَو بْنَ شُعَيْبٍ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ
Kedudukan sanadnya : Silsilah haditsnya ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya (Abdullah bin ‘Amr Ibnul ‘Ash Rodhiyallahu ‘anhu) adalah silsilah hadits hasan.
Dari kedua jalan tersebut, maka masing-masingnya adalah hasan, namun dengan digabungkan, maka saling menguatkan sehingga menaikkan statusnya menjadi hadits shahih lighoirihi.
Contoh hadits Hasan lidzatihi adalah sabda Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam :
من رحم و لو ذبيحة عصفور رحمه الله يوم القيامة “
“Barangsiapa yang mengasihi, sekalipun dalam menyembelih burung kecil, maka Allah Subhanahu wa Ta’alaa akan mengasihinya pada hari kiamat”.
Takhrij : Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam “Adaabul Mufrood” dari Jalan :
حدثنا محمود قال حدثنا يزيد قال أخبرنا الوليد بن جميل الكندي عن القاسم بن عبد الرحمن عن أبى أمامة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم
Kedudukan sanadnya : Semua perowinya tsiqoh, kecuali Al Waliid bin Jamiil dan Al Qoosim bin Abdur Rokhman, keduanya perowi shoduq, sehingga haditsnya Hasan, sebagaimana penilaian Imam Al Albani dalam Ta’liqnya dan “Silsilah hadits Shahihah”.
Contoh hadits Hasan lighorihi adalah hadits tentang mengusap wajah setelah berdoa. Kami telah merangkum takhrijanya, dimana masing-masing jalannya terdapat kelemahan, namun ketika digabungkan maka naik menjadi hadits Hasan lighoirihi, silakan merujuk bagi yang menginginkan penjelasan lebih lanjut.

Ta’liq Nukhbatul Fikr (makna hadits Hasan Shahih)

July 13, 2013 at 11:31 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , ,

قال الإمام الحافظ :
فإن جمعافللتردد في الناقل حيث التفرد وإلا فباعتبار إسنادين
“Jika digabungkan (shahih dan Hasan), maka terjadi perbedaan dari orang yang menukilnya, yang mana hal tersebut apakah satu kesatun (Hasan dan shahih) atau memiliki 2 sanad (Hasan atau Shahih).
Ta’liq :
Imam Tirmidzi dalam kitab sunannya, sering menggunakan istilah “hadits Hasan Shahih”. Al Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa maksud perkataan Imam Tirmidzi ada 2 yakni :
1. Istilah ini digunakan untuk menunjukkan bahwa pada hadits tersebut terdapat 2 jenis jalan yaitu jenis yang pertama, haditsnya Hasan dan jenis yang kedua, haditsnya shahih. Sehingga seolah-olah Imam Tirmidzi berkata haditsnya Hasan dan shahih. Namun terdapat sedikit isykal padanya, ketika diketahui bahwa hadits shahih adalah tingkatan yang paling tinggi, maka labih elok kalau dikatakan hadits shahih hasan, namun kenyataannya terbalik. Berdasarkan keterangan ini maka kedudukannya diatas hadits yang sekedar dikatakan shahih saja.
2. Maksudnya adalah terjadi perselisihan didalam penilaian ulama terhadap perowinya, apakah ia perowi shahih atau perowi hasan, sehingga seolah-olah Imam Tirmidzi berkata : ‘hadits hasan atau shahih’. Berdasarkan keterangan ini maka kedudukannya seolah-olah diatas hadits hasan, namun dibawah hadits shahih.
Ada sebagian ulama lagi yang menafsirkan bahwa yang dimaksud adalah :
3. Hasan (bagus) dari segi isinya dan shahih ditinjau dari segi sanadnya. Namun penafsiran ini juga masih menyisakan isykal, yaitu terkadang isi haditsnya adalah perkara neraka jahanam, hudud dan semisalnya, sehingga sangat rancu kalau dikatakan hasan matannya (isinya).

Ta’liq Nukhbatul Fikr (Hadits Shahih Lighorihi dan Hasan)

July 13, 2013 at 11:29 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , ,

قال الإمام الحافظ :
فإن خف الضبط : فالحسن لذاته وبكثرة طرقه يصحح
“jika ringan kedhobithannya, maka haditsnya Hasan lidzatihi dan dengan banyak jalannya, akan menguatkan keshahihannya (shahih lighoirihi)”.

Ta’liq :
Jenis hadits berikutnya adalah hadits Hasan, yakni semua kriteria hadits shahih telah terpenuhi, hanya saja dari segi dhobithnya, terdapat perowi yang ringan dhobithnya. Biasanya diungkapkan dengan ia seorang yang shoduq, laa ba’sa bih, atau mahaluhu shidqu (kejujuran adalah tempatnya) dan yang semisalnya. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitabnya “Taqribut Tahdzib” terkadang memberikan penilain shoduq kepada seseorang jika terjadi perselisihan dikalangan ulama jarh wa ta’dil kepadanya, sebagian mentsiqohkannya dan sebagian lainnya mendhoifkannya, maka seolah-oleh mengambil jalan tengah dari perselisihan tersebut, Al Hafidz memberikan penilaian shoduq. Haditsnya perowi yang ringan dhobithnya, disebut hadits Hasan lidzatihi.
Apabila ada 2 atau lebih jalan periwayatan dengan status hasan lidzatihi yang berlainan, namun sama lafadz atau maknanya, maka dapat naik statusnya menjadi hadits shahih lighoirihi. Ada juga jenis lain sebagimana yang didefinisikan oleh Imam Tirmidzi :
وما قلنا في كتابنا حديث حسنه فإنما أردنا به حسن إسناده عندنا إذ كل حديث يروى لا يكون راويه متهما بكذب ويروى من غير وجه نحو ذلك ولا يكون شاذا فهو عندنا حديث حسن
“Apa yang kami katakan dalam kitab kami hadits Hasan, maka hanyalah yang kami maksud hasan sanadnya menurut kami, yang mana setiap hadits yang diriwayatkan tidak ada padanya rowi yang tertuduh berdusta dan diriwayatkan dari jalan lain yang semisal denganya. Kemudian tidak terdapat syadz, maka menurut kami itu adalah hadits Hasan”.
Pendefinisian Imam Tirmidzi dianggap oleh sebagian orang sebagai definisi hadits Hasan lidzatihi, namun tentunya ada kritikan didalamnya, yaitu :
1. Persyaratan beliau “tidak ada perowi tertuduh berdusta didalamnya”, maka artinya masuk kedalamnya rowi yang dhoif, yang telah disepakati kedhoifannya dan perowi-perowi yang belum jelas kadar kedhobithannya, seperti perowi yang jelek hapalannya, perowi yang disebut dengan “Syaikh” dan yang semisalnya. Padahal jenis hadits hasan lidzatihi akan kita jadikan sebagai hadits yang dapat dijadikan hujjah.
2. Perkataan beliau : “diriwayatkan dari jalan lain yang semisal dengannya”, maka apabila jalan lain tersebut juga terdiri dari perowi yang telah disepakati kedhoifannya, tentunya hal ini tidak akan bisa menjadi kuat, bahkan sebaliknya menunjukkan sangat lemahnya hadits tersebut. Imam Al Albani dalam Mukadimah Tamaamul Minnah berkata :
من المشهور عند أهل العلم أن الحديث إذا جاء من طرق متعددة فإنه يتقوى بها ويصير حجة وإن كان كل طريق منها على انفراده ضعيفا ولكن هذا ليس على إطلاقه بل هو مقيد عند المحققين منهم بما إذا كان ضعف رواته في مختلف طرقه ناشئا من سوء حفظهم لا من تهمة في صدقهم أو دينهم وإلا فإنه لا يتقوى مهما كثرت طرقه
“diantara perkara yang masyhur menurut ulama bahwa, hadits jika datang dengan jalan yang banyak, akan saling menguatkan, sehingga menjadi hujjah, sekalipun masing-masing jalan tersebut terdapat kedhoifan. Namun hal ini tidak secara mutlak (diterapkan), namun terikat (dengan beberapa syarat) menurut kalangan Muhaqiqiin, diantaranya : jika kedhoifan perowinya pada jalan-jalan yang berlainan tersebut, bersumber dari hapalannya yang jelek bukan karena tuduhan terhadap kejujurannya atau agamanya. Jika tidak seperti ini kondisi perowinya, maka tidak akan bisa saling menguatkan, sekalipun banyak jalan-jalannya”.
Berdasarkan pembahasan diatas, maka definisi hadits Hasan yang diberikan oleh Imam Tirmidzi, lebih dekat untuk diterapkan bagi definisi hadits Hasan lighorihi, seandainya perkataan “rowi yang tertuduh berdusta” diganti dengan “rowi yang ringan kedhoifannya”.

Ta’liq Nukhbatul Fikr (Peringkat Hadits Shahih)

July 8, 2013 at 11:26 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , ,

قال الإمام الحافظ :
ومن ثم قدم صحيح البخاري ثم مسلم ثم شرطهما
“Kemudian dalam tingkat keshahihan hadits, didahulukan hadits shahih yang
terdapat dalam shahih Bukhori, lalu Shahih Muslim, lalu yang memenuhi syarat
keduanya”.
Ta’liq :
Para ulama dalam membagi hadits shahih, menjadi 7 tingkatan :
1. Hadits yang disepakati oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim, biasanya
hadits seperti ini diistilahkan dengan “Shahihain” atau “Muttafaqun ‘alaih”.
2. Hadits yang terdapat dalam shahih Bukhori.
3. Hadits yang terdapat dalam shahih Muslim.
4. Hadits yang memenuhi syarat Bukhori-Muslim, namun mereka berdua
tidak meriwayatkan dalam kitab shahihnya.
5. Hadits yang memenuhi syarat Bukhori
6. Hadits yang memenuhi syarat Muslim
7. Hadits shahih diluar syarat keduanya.
Kedua kitab shahih Bukhori dan Shahih Muslim adalah kitab yang
paling shahih, setelah Al Qur’anul kariim. Hal ini tidak bertentangan dengan
ucapan Imam Syafi’I yang pernah mengatakan : “kitab paling shahih setelah Al
Qur’an adalah Muwaththa’ Imam Malik”. Alasannya adalah :
1. Pernyataan Imam Syafi’I ini sebelum adanya shahih Bukhori dan
Muslim. Imam Syafi’I meninggal tahun 204 H, sedangkan Imam Bukhori pada
waktu itu baru berusian 10 tahun dan Imam Muslim lahir pada tahun tersebut.
2. Sebagian besar hadits yang ada pada Muwaththa’ terdapat pula pada
Shahih Bukhori dan shahih Muslim, sisanya pada kitab sunan yang empat.
Shahih Bukhori ditulis oleh Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail
bin Ibrohim bin Al-Mughiroh Al Bukhori. Beliau lahir pada bulan Syawal tahun
194 H dan wafat pada tahun 256 H. nama asli kitab beliau adalah “Al-Jami’
ash-shahih al-musnad min haditsi Rasulillah wa sunanihi wa Ayyamihi”. Syarat
Imam Bukhori dalam menulis kitabnya ini, berdasarkan penelitian ulama, yaitu
:
1. Beliau meriwayatkan hadits yang telah disepakati ketsiqohan
periwayatannya.
2. Sanadnya muttashil dan tidak terputus. Imam Bukhori dalam hal ini
memliki syarat yang lebih ketat dibandingkan yang lainnya, dimana beliau
mempersyaratkan perowinya harus benar-benar berjumpa dengan orang yang ia
ambil haditsnya, tidak hanya sekedar ia sezaman saja. Inilah faktor
pengunggulan shahih Bukhori dibandingkan dengan shahih Muslim.
Mayoritas ulama lebih merajihkan shahih Bukhori dibandingkan dengan
shahih Muslim. Namun ada sebagian ulama yang lebih merajihkan shahih Muslim
dibandingkan shahih Bukhori. Abu Ali An-Naisaburiy berkata :
ما تحتَ أَديمِ السَّماءِ أَصحُّ مِن كتابِ مُسلمٍ
“tidak ada dibawah langit kitab yang lebih shahih daripada kitab Muslim”.
Namun sebenarnya perkataan Imam Abu Ali ini, tidak tegas menunjukan
pengunggulan shahih Muslim diatas shahih Bukhori, hanyalah hal menunjukan
tidak ada kitab lain yang melebihi shahih Muslim dalam hal keshahihannya,
sehingga tidak menafikan adanya persamaan dalam tingkat kesahihannya yakni
sama tingkatannya dengan shahih Bukhori.
Kemudian apa yang dinukil dari sebagian ulama Maghrib (Maroko) yang
mengunggulkan shahih Muslim, maka hal tersebut ditinjau dari segi
penyusunannya saja. Namun jika ada yang mengunggulkan shahih Muslim
dibandingkan shahih Bukhori, maka perlu ditinjau hal berikut :
1. Dari segi perowinya, maka para perowi Bukhori lebih unggul dari
perowi Muslim, yakni Imam Bukhori hanya meriwayatkan haditsnya para perowi
yang telah disepakati ketsiqohannya. Imam Muslim kemudian meriwayatkan
haditsnya perowi yang ditinggalkan oleh Imam Bukhori yang menurut Imam
Bukhori ada aib padanya.
2. Dari segi ketersambungan sanadnya, Imam Bukhori mempersyaratkan
perowinya harus bertemu dengan orang yang diambil haditsnya, walaupun sekali
saja, sedangkan Imam Muslim mencukupkan diri, bahwa perowinya sezaman dengan
orang yang diambil haditsnya.
3. Dari segi keadilan dan kedhobithhannya, maka perowi yang dikritik
dalam shahih Muslim lebih banyak dibandingkan dengan perowi yang terdapat
dalam shahih Bukhori.
4. Dari segi tidak adanya illal (cacat tersembunyi) dan syadz
(keganjilan), maka apa yang disifatkan seperti ini banyak dikritikan kepada
shahih Muslim dibandingkan shahih Bukhori.
Sehingga dari 4 point diatas, maka Kitab shahih Bukhori lebih unggul
dari sisi tingkat keshahihannya dibandingkan dengan shahih Muslim.
Shahih Muslim ditulis oleh Imam Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin
Muslim Al Qusyairiy An-Naisaburi, yang dilahirkan pada tahun 204 H dan wafat
pada tahun 261 H. kitab ini dikenal dengan nama Shahih Muslim, namun Imam
Muslim sendiri menyebutkannya dengan nama Al Musnad Ash-Shahih.
Kemudian kitab hadits lainnya yang disusun sesuai dengan syarat
mereka berdua atau salah satunya. Kemudian kita akan sebutkan juga beberapa
hadits yang penulis melazimkan dirinya untuk hanya memasukan hadits yang
shahih saja, yaitu :
1. Shahih Ibnu Khuzaimah, yang ditulis oleh Imam Abu Bakar Muhammad bin
Ishaq bin Khuzaimah yang lahir pada tahun 223 H dan wafat pada tahun 311 H.
nama kitabnya sebagaimana dituturkan penulisnya adalah “Mukhtashar Al
Mukhtashar min Al Musnad Ash-Shahih ‘anin Nabi Shollallohu alaihi wa
Salaam”. Imam Suyuthi berkata : “Shahih Ibnu Khuzaimah lebih tinggi
martabatnya daripada shahih Ibnu Hibban, karena ketelitiannya yang sangat,
dimana pernyataan shahih tergantung pada pembahasan dalam sanad, misal : bab
makruhnya demikian, jika haditsnya shahih atau jika tsabit demikiam”. Kitab
ini telah diteliti oleh para ulama, diantara ulama kontemporer yang
menelitinya adalah Syaikh Musthofa Al ‘Adhomiy.
2. Shahih Ibnu Hibban, penulisnya adalah Imam Abu Hatim Muhammad bin
Hibban bin Ahmad bin Mu’adz bin Ma’bad At-Tamimi Ad-Darimi Al-Busti yang
lahir pada tahun kurang lebih kurun antara 273-279 H dan wafat pada tahun
354 H. kitab ini dikenal dengan nama Shahih Ibnu Hibban, padahal nama
sebenarnya adalah sebagaimana yang diberikan oleh penulis adalah “Al Musnad
Ash-Shahih ‘alaa At-Taqasim wa Al-Anwa’ min Ghoiri Wujudi Qath’in fi
Sanadiha wala Tsubuti Jarhin fi Naqiliha”. Imam Ibnu Sholah berkata tentang
Mustadrok Al Hakim : “beliau terlalu memudahkan persyaratan hadits shahih
dan gampang menshahihkan sebuah hadits. Dan yang mendekatinya dalam hukum
adalah Ibnu Hibban Al Busti”. Kitabnya ini telah ditetliti oleh para ulama
dan diantaranya dari kalangan ulama kontemporer yaitu Syaikh Syu’aib
Arnauth.
3. Al Mustadrok ‘ala ash-shahihain, penulisnya adalah Imam Abu Abdillah
Muhammad bin Abdullah bin Muhammad bin Hamdawaih bin Na’im bin Al Hakam
Adh-Dhabbi Al-Hafidz. Dilahirkan pada 321 H dan wafat 405 H. telah terdahulu
komentar Imam Ibnu Sholah. Kitab ini telah diteliti, diantaranya oleh Imam
Adz-Dzahabi dalam kitabnya “At-Talkhiish”.

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: