Ta’liq Nukhbatul Fikr (Shahih Lidzatihi)

July 7, 2013 at 11:19 pm | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: , , ,

قال الإمام الحافظ :
وخبر الآحاد بنقل عدل تام الضبط متصل السند غير معلل ولا شاذ : هو الصحيح لذاته “khabar Ahaad yang dinukil oleh rowi yang adil, sempurna dhibitnya, bersambung sanadnya, tidak ada cacat dan tidak syadz. Maka disebut shahih lidzatihi”.
Ta’liq :
Pembahasan sekarang adalah hadits ditinjau dari kualitasnya yakni dari segi tingkat kevalidannya sampai kepada sumber rujukan terakhir. Al Hafidz dan para ulama lain membagi hadits berdasarkan tingkat kevalidannya menjadi :
1. Shahih lidzatihi, ini tingkat yang paling tinggi, kemudian
2. Shahih lighorihi, yakni dua jalan atau lebih hadits Hasan lidzatihi
yang berlainan para perowinya yang mirip lafadz atau maknanya. Kemudian
3. Hasan lidzatihi, yakni hadits yang tingkat kedhobithan perowinya
dibawah hadits shahih. Kemudian
4. Hasan Lighorihi, yakni dua jalan atau lebih hadits dhoif yang ringan
kedhoifannya. Kemudian
5. Dhoif, yakni hadits yang tidak memenuhi satu atau lebih kriteria
validitas hadits yang akan disebutkan nanti-Insya Allah-. Tingkat kedhoifan bervariasi dari level yang ringan sampai tingkat pemalsuan.
Kriteria keberterimaan hadits, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz dan ulama lain, ada 5 kriteria :
1. Perowinya orang yang adil, yaitu seorang Muslim yang senantia
bertakwa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan dosa besar dan tidak terus-menerus berbuat dosa kecil dan juga menjaga muru’ahnya, yakni suatu perbuatan sekalipun tidak berdosa, namun dinilai dapat mencederai kehormatan diri seseorang, menurut kebiasan masyarakatnya. Misalnya orang dewasa yang bermain layang-layang, sekalipun ini adalah perbuatan yang mubah pada asalnya, namun dianggap dapat mencederai muru’ahnya.
Kemudian yang jadi patokannya adalah pada saat ia menyampaikan hadits bukan kejadian hadits tersebut, karena tidak sedikit sahabat Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam yang menceritakan kejadian hadits pada saat ia masih kafir.
Misalnya apa yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sufyan tentang kisahnya bersama Hiroql kaisar Romawi, pada waktu itu beliau masih kafir dan menebar permusuhan dengan Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam. haditsnya dikeluarkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.
Pembahasan berikutnya, termasuk rowi adil adalah ia telah tamyiz, yakni dapat memahami apa yang didengarnya, tentang berapa batasan usia minimal seorang dapat dikatakan sah pendengarannya, para ulama berbeda pendapat.
Imam Bukhori dalam kitab ilmu telah mengeluarkan satu bab yang diberi judul “kapan dianggap sah pendengarannya anak kecil”. Lalu beliau membawakan hadits, diantaranya hadits Mahmud ibnur Robii’ yang mengisahkan bahwa pada waktu beliau berumur 5 tahun, pernah dicandai oleh Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam. Pendapat yang terpilih, kapan pun usia anak kecil, begitu sudah memahami pembicaraan, maka telah sah pendengarannya.
2. Perowinya harus Dhoobith, yaitu hapal dan mampu menjaga hapalannya.
Dhoobith ada 2 macam :
A. Dhoobith shodr (dada), yakni hapalannya ada didadanya, kapan pun
diminta untuk menghadirkan hadits yang ia hapal, maka ia sanggup menyebutkannya.
B. Dhoobith Kitab (buku), yakni semenjak ia mendengar hadits dan
mencatat hadits tersebut didalam kitabnya, ia mampu menjaga dari perubahan-perubahan, sehingga tulisannya masih utuh seperti pada saat pertamakali ia mendengar hadits tersebut.
Dalam hadits shahih, dipersyaratkan kedhobithannya harus sempurna, karena ini adalah tingkatan validitas yang paling tinggi.
3. Bersambung sanadnya, yakni masing-masing rowi benar-benar mendengar
dari guru yang ia ambil haditsnya. Bentuk-bentuk yang menunjukkan shahihnya pendengaran adalah seperti perkataan, “Haddatsana”, “Akhbaronaa”, “Anbaanaa”
dan semisalnya, mayoritas ulama juga memasukan perkataan “’an” (dari), seperti dari Zaid, dari Bakr dan semisalnya, termasuk menunjukaan bahwa rowi tersebut mendengar dari gurunya, selama ia bukan seorang mudallis.
4. Tidak ada cacat, maka yang dimaksud adalah cacat tersembunyi yang
dapat merusak keshahihan hadits, seperti mursal khofiy, yakni seorang meriwayatkan hadits dari orang yang sezaman dengannya, namun tidak pernah menjumpainya.
5. Tidak Syadz, yakni seorang perowi maqbul yang dapat dijadikan hujjah
haditsnya, termasuk didalamnya perowi hasanul hadits, menyelisihi rowi yang lebih tsiqoh darinya, baik dari sisi tingkat kedhobithannya, maupun dari segi jumlah yang menyelisihinya.
Berkaitan dengan tambahan baik matan (isi hadits), maupun perowi dalam sebuah sanad, maka para ulama terbagi menjadi 3 madzhab :
1. Mereka menerima setiap tambahan dari perowi maqbul, tanpa melihat
terjadinya perselisihan makna, antara riwayat yang terdapat tambahan dengan yang tidak ada tambahannya, ini adalah madzabnya sebagian ulama ushul fiqih dan Fuqoha.
2. Mereka menolak setiap tambahan perowi maqbul, dimana rekannya yang
lain yang lebih tsiqoh atau lebih banyak jumlahnya tidak meriwayatkan tambahan tersebut. Ini adalah mazhabnya para kritikus hadits, seperti Imam Yahya ibnul Qohthoon, Imam Ahmad, Imam Bukhori dan selainnya. Bahkan dinukil dari Imam Syafi’I dalam “Al Umm” berkata :
ويكونُ إِذا أشْرَك أَحداً مِن الحُفَّاظِ لم يُخالِفْهُ ، فإِنْ خالَفَهُ فوُجِدَ حديثُهُ أَنْقَصَ كانَ في ذلك دليلٌ [ على ] صحَّةِ مَخْرَجِ حديثِهِ ، ومتى خالَفَ ما وَصَفْتُ أَضرَّ ذلك بحديثِهِ “yaitu jika haditsnya seorang sama dengan para hafidz hadits, tidak menyelisihinya (maka ia dhoobit). Jika ia menyelisihinya, lalu didapati haditsnya lebih pendek, maka hal itu menunjukan validnya hadits tersebut.
Namun kapan saja menyelisihi apa yang telah aku sifatkan sebelumnya, maka akan memudhorotkan haditsnya”.
Disini Imam Syafi’I mengisyaratkan bahwa sekedar tambahan rowi maqbul yang mana rekannya yang lebih tsiqoh tidak meriwayatkan tambahan tersebut, menunjukan bahwa hal ini merusak validitas haditsnya.
3. Mereka melihat tambahan tersebut, apabila tidak bertentangan secara
makna, dimana dengan diterapkannya hukum tambahan tersebut tidak menentang hukum hadits rekannya yang lebih tsiqoh yang meriwayatkan tanpa tambahan.
Mereka memandangnya bahwa hal ini seperti hadits yang terpisah yang diriwayatkan oleh perowi yang maqbul. Pendapat ini dianut oleh Imam Ibnu Sholah, sebagaimana beliau berkata dalam kitabnya yang dikenal dengan nama “Mukadimah Ibnu Sholah”, kata beliau :
إذا انفرد الراوي بشيء نظر فيه فإن كان مما انفرد به مخالفا لما رواه من هو أولى منه بالحفظ أو أضبط كان ما انفرد به شاذا مردودا وإن لم تكن فيه مخالفة لما رواه غيره وإنما رواه هو ولم يروه غيره فينظر في هذا الراوي المنفرد فإن كان عدلا حافظا موثوقا بإتقانه وضبطه قبل ما انفرد به ولم يقدح الانفراد به “Jika seorang rowi menyendiri, maka diamati riwayat penyendiriannya ini, jika ia menyelisihi riwayat rowi yang lebih Hafdh atau dhobth, maka kesendiriannya tadi adalah Syadz yang tertolak. Namun jika tidak terjadi penyelisihan, lalu hanya memang ia yang meriwayatkannya, yang lainnya tidak, maka diamati kondisi rowi yang menyendiri ini, jika ia orang yang adil, hafidz, distiqohkan, kokoh dan dhobithh, maka diterima haditsnya dan tidak dicela riwayatnya yang sendiri”.
Barangkali tidak mudah untuk merajihkan salah satu dari 3 pendapat ini, karena terkadang para ulama dalam menghadapi kasus seperti, mereka tidak serta merta menghukuminya secara kaku dengan rincian sebagaimana diatas, namun mereka melihat juga kepada indikasi-indikasi lainnya, maka apa yang menurut mereka indikasi tadi me1rajihkan status haditsnya, mereka akan merajihkannya.
Apabila terpenuhi 5 syarat ini, maka haditsnya dapat dikatakan sebagai hadits shahih lidzatihi yang wajib untuk diamalkan oleh setiap Muslim.

قال الإمام الحافظ :
وخبر الآحاد بنقل عدل تام الضبط متصل السند غير معلل ولا شاذ : هو الصحيح لذاته “khabar Ahaad yang dinukil oleh rowi yang adil, sempurna dhibitnya, bersambung sanadnya, tidak ada cacat dan tidak syadz. Maka disebut shahih lidzatihi”.
Ta’liq :
Pembahasan sekarang adalah hadits ditinjau dari kualitasnya yakni dari segi tingkat kevalidannya sampai kepada sumber rujukan terakhir. Al Hafidz dan para ulama lain membagi hadits berdasarkan tingkat kevalidannya menjadi :
1. Shahih lidzatihi, ini tingkat yang paling tinggi, kemudian
2. Shahih lighorihi, yakni dua jalan atau lebih hadits Hasan lidzatihi
yang berlainan para perowinya yang mirip lafadz atau maknanya. Kemudian
3. Hasan lidzatihi, yakni hadits yang tingkat kedhobithan perowinya
dibawah hadits shahih. Kemudian
4. Hasan Lighorihi, yakni dua jalan atau lebih hadits dhoif yang ringan
kedhoifannya. Kemudian
5. Dhoif, yakni hadits yang tidak memenuhi satu atau lebih kriteria
validitas hadits yang akan disebutkan nanti-Insya Allah-. Tingkat kedhoifan bervariasi dari level yang ringan sampai tingkat pemalsuan.
Kriteria keberterimaan hadits, sebagaimana disebutkan oleh Al Hafidz dan ulama lain, ada 5 kriteria :
1. Perowinya orang yang adil, yaitu seorang Muslim yang senantia
bertakwa menjaga diri dari perbuatan-perbuatan dosa besar dan tidak terus-menerus berbuat dosa kecil dan juga menjaga muru’ahnya, yakni suatu perbuatan sekalipun tidak berdosa, namun dinilai dapat mencederai kehormatan diri seseorang, menurut kebiasan masyarakatnya. Misalnya orang dewasa yang bermain layang-layang, sekalipun ini adalah perbuatan yang mubah pada asalnya, namun dianggap dapat mencederai muru’ahnya.
Kemudian yang jadi patokannya adalah pada saat ia menyampaikan hadits bukan kejadian hadits tersebut, karena tidak sedikit sahabat Nabi Sholallahu ‘Alaihi wa Salam yang menceritakan kejadian hadits pada saat ia masih kafir.
Misalnya apa yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sufyan tentang kisahnya bersama Hiroql kaisar Romawi, pada waktu itu beliau masih kafir dan menebar permusuhan dengan Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam. haditsnya dikeluarkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim.
Pembahasan berikutnya, termasuk rowi adil adalah ia telah tamyiz, yakni dapat memahami apa yang didengarnya, tentang berapa batasan usia minimal seorang dapat dikatakan sah pendengarannya, para ulama berbeda pendapat.
Imam Bukhori dalam kitab ilmu telah mengeluarkan satu bab yang diberi judul “kapan dianggap sah pendengarannya anak kecil”. Lalu beliau membawakan hadits, diantaranya hadits Mahmud ibnur Robii’ yang mengisahkan bahwa pada waktu beliau berumur 5 tahun, pernah dicandai oleh Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam. Pendapat yang terpilih, kapan pun usia anak kecil, begitu sudah memahami pembicaraan, maka telah sah pendengarannya.
2. Perowinya harus Dhoobith, yaitu hapal dan mampu menjaga hapalannya.
Dhoobith ada 2 macam :
A. Dhoobith shodr (dada), yakni hapalannya ada didadanya, kapan pun
diminta untuk menghadirkan hadits yang ia hapal, maka ia sanggup menyebutkannya.
B. Dhoobith Kitab (buku), yakni semenjak ia mendengar hadits dan
mencatat hadits tersebut didalam kitabnya, ia mampu menjaga dari perubahan-perubahan, sehingga tulisannya masih utuh seperti pada saat pertamakali ia mendengar hadits tersebut.
Dalam hadits shahih, dipersyaratkan kedhobithannya harus sempurna, karena ini adalah tingkatan validitas yang paling tinggi.
3. Bersambung sanadnya, yakni masing-masing rowi benar-benar mendengar
dari guru yang ia ambil haditsnya. Bentuk-bentuk yang menunjukkan shahihnya pendengaran adalah seperti perkataan, “Haddatsana”, “Akhbaronaa”, “Anbaanaa”
dan semisalnya, mayoritas ulama juga memasukan perkataan “’an” (dari), seperti dari Zaid, dari Bakr dan semisalnya, termasuk menunjukaan bahwa rowi tersebut mendengar dari gurunya, selama ia bukan seorang mudallis.
4. Tidak ada cacat, maka yang dimaksud adalah cacat tersembunyi yang
dapat merusak keshahihan hadits, seperti mursal khofiy, yakni seorang meriwayatkan hadits dari orang yang sezaman dengannya, namun tidak pernah menjumpainya.
5. Tidak Syadz, yakni seorang perowi maqbul yang dapat dijadikan hujjah
haditsnya, termasuk didalamnya perowi hasanul hadits, menyelisihi rowi yang lebih tsiqoh darinya, baik dari sisi tingkat kedhobithannya, maupun dari segi jumlah yang menyelisihinya.
Berkaitan dengan tambahan baik matan (isi hadits), maupun perowi dalam sebuah sanad, maka para ulama terbagi menjadi 3 madzhab :
1. Mereka menerima setiap tambahan dari perowi maqbul, tanpa melihat
terjadinya perselisihan makna, antara riwayat yang terdapat tambahan dengan yang tidak ada tambahannya, ini adalah madzabnya sebagian ulama ushul fiqih dan Fuqoha.
2. Mereka menolak setiap tambahan perowi maqbul, dimana rekannya yang
lain yang lebih tsiqoh atau lebih banyak jumlahnya tidak meriwayatkan tambahan tersebut. Ini adalah mazhabnya para kritikus hadits, seperti Imam Yahya ibnul Qohthoon, Imam Ahmad, Imam Bukhori dan selainnya. Bahkan dinukil dari Imam Syafi’I dalam “Al Umm” berkata :
ويكونُ إِذا أشْرَك أَحداً مِن الحُفَّاظِ لم يُخالِفْهُ ، فإِنْ خالَفَهُ فوُجِدَ حديثُهُ أَنْقَصَ كانَ في ذلك دليلٌ [ على ] صحَّةِ مَخْرَجِ حديثِهِ ، ومتى خالَفَ ما وَصَفْتُ أَضرَّ ذلك بحديثِهِ “yaitu jika haditsnya seorang sama dengan para hafidz hadits, tidak menyelisihinya (maka ia dhoobit). Jika ia menyelisihinya, lalu didapati haditsnya lebih pendek, maka hal itu menunjukan validnya hadits tersebut.
Namun kapan saja menyelisihi apa yang telah aku sifatkan sebelumnya, maka akan memudhorotkan haditsnya”.
Disini Imam Syafi’I mengisyaratkan bahwa sekedar tambahan rowi maqbul yang mana rekannya yang lebih tsiqoh tidak meriwayatkan tambahan tersebut, menunjukan bahwa hal ini merusak validitas haditsnya.
3. Mereka melihat tambahan tersebut, apabila tidak bertentangan secara
makna, dimana dengan diterapkannya hukum tambahan tersebut tidak menentang hukum hadits rekannya yang lebih tsiqoh yang meriwayatkan tanpa tambahan.
Mereka memandangnya bahwa hal ini seperti hadits yang terpisah yang diriwayatkan oleh perowi yang maqbul. Pendapat ini dianut oleh Imam Ibnu Sholah, sebagaimana beliau berkata dalam kitabnya yang dikenal dengan nama “Mukadimah Ibnu Sholah”, kata beliau :
إذا انفرد الراوي بشيء نظر فيه فإن كان مما انفرد به مخالفا لما رواه من هو أولى منه بالحفظ أو أضبط كان ما انفرد به شاذا مردودا وإن لم تكن فيه مخالفة لما رواه غيره وإنما رواه هو ولم يروه غيره فينظر في هذا الراوي المنفرد فإن كان عدلا حافظا موثوقا بإتقانه وضبطه قبل ما انفرد به ولم يقدح الانفراد به “Jika seorang rowi menyendiri, maka diamati riwayat penyendiriannya ini, jika ia menyelisihi riwayat rowi yang lebih Hafdh atau dhobth, maka kesendiriannya tadi adalah Syadz yang tertolak. Namun jika tidak terjadi penyelisihan, lalu hanya memang ia yang meriwayatkannya, yang lainnya tidak, maka diamati kondisi rowi yang menyendiri ini, jika ia orang yang adil, hafidz, distiqohkan, kokoh dan dhobithh, maka diterima haditsnya dan tidak dicela riwayatnya yang sendiri”.
Barangkali tidak mudah untuk merajihkan salah satu dari 3 pendapat ini, karena terkadang para ulama dalam menghadapi kasus seperti, mereka tidak serta merta menghukuminya secara kaku dengan rincian sebagaimana diatas, namun mereka melihat juga kepada indikasi-indikasi lainnya, maka apa yang menurut mereka indikasi tadi me1rajihkan status haditsnya, mereka akan merajihkannya.
Apabila terpenuhi 5 syarat ini, maka haditsnya dapat dikatakan sebagai hadits shahih lidzatihi yang wajib untuk diamalkan oleh setiap Muslim.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: