Kitab Wudhu Bab 49

July 28, 2013 at 1:25 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags:

49 – باب إِذَا أَدْخَلَ رِجْلَيْهِ وَهُمَا طَاهِرَتَانِ
Bab 49 Jika Memasukkan Kedua Kaki Dalam Keadaan Suci
Penjelasan :

Imam Bukhori disini seolah-olah mengisyaratkan kewajiban dalam kondisi suci/berwudhu ketika hendak memakai khuf (sepatu). Pendapat tentang disyaratkan seorang harus dalam keadaan suci/berwudhu, lalu baru mengenakan khufnya, dimana nantinya ia mendapatkan keringanan untuk tidak perlu membuka khufnya ketika berwudhu, cukup diusap bagian atasnya, diriwayatkan berasal dari Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad dan Imam Ishaq, sebagaimana dinukil oleh Imam Syaukani dalam “Nailul Author”.

Kemudian Imam Syaukani menukil pendapat para ulama yang menyelisihi hal ini, kata beliau :
وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَيَحْيَى بْنُ آدَمَ وَالْمُزَنِيِّ وَأَبُو ثَوْرٍ وَدَاوُد : يَجُوزُ اللُّبْسُ عَلَى حَدَثٍ ثُمَّ يُكْمِلُ طَهَارَتَهُ ، وَالْجُمْهُورُ حَمَلُوا الطَّهَارَةَ عَلَى الشَّرْعِيَّةِ وَخَالَفَهُمْ دَاوُد فَقَالَ : الْمُرَادُ إذَا لَمْ يَكُنْ عَلَى رِجْلَيْهِ نَجَاسَةٌ
“Abu Hanifah, Sufyan Ats-Tsauriy, Yahya bin Adam, Al Muzanniy, Abu Tsaur dan Dawud (Adh-Dhohiriy) berpendapat, boleh memakai kedua khuf pada waktu hadats lalu ia menyempurnakan bersuci/wudhunya. Mayoritas ulama membawa makna thoharoh dalam hadits-hadits pada bab ini sesuai dengan pengertian syariat, namun Imam Dawud menyelisi mereka dengan berkata : ‘yang dimaksud jika tidak ada di kakinya najis’’”.
Jadi menurut Imam Dawud suci yang dimaksud disini adalah lawan dari najis, sehingga yang dipersyaratkan menurut beliau adalah memasukkan kedua kaki ke dalam khuf dalam keadaan suci tidak ada najisnya, bukan dalam keadaan berwudhu sebagaimana pendapat kelompok ulama pertama.

Pendapat yang terpilih adalah dipersyaratkan dalam kondisi suci/wudhu ketika memasukkan kedua kaki ke dalam khufnya. Lalu ketika pada kesempatan selanjutnya, pada saat ia akab berwudhu lagi, maka diberikan keringanan untuk tidak usah membuka khufnya, untuk membasuh kedua kakinya, namun cukup diusap bagian atas khufnya. Syariat memberikan keringanan selama satu satu malam bagi orang yang mukim dan tiga hari tiga malam bagi yang bersafar, menurut pendapat yang terpilih. Kemudian diikutkan hukum mengusap khuf juga kepada orang yang memakai kaos kaki dan sandal, menurut pendapat yang terpilih sebagaimana telah berlalu pembahasannya.

Berkata Imam Bukhori :

206 – حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فِى سَفَرٍ ، فَأَهْوَيْتُ لأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ « دَعْهُمَا ، فَإِنِّى أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ » . فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا
68). Hadits no. 206
“Haddatsanaa Abu Nu’aim ia berkata, haddatsanaa Zakariyaa dari ‘Aamir dari ‘Urwah ibnul Mughiiroh dari Bapaknya ia berkata : ‘aku bersama Nabi  pada suatu perjalanan, aku hendak melepaskan kedua sepatu Nabi , lalu Beliau  berkata : “biarkan, karena aku memasukkan kedua kakiku (memakai khuf) dalam keadaan suci”. Lalu Beliau  mengusap bagian atas khufnya’”.
HR. Muslim no. 654

Biografi Perowi Hadits

Semua perowinya telah berlalu keterangannya.

Penjelasan Hadits :
1. Hadits ini salah satu dalil yang dijadikan oleh ulama yang berpendapat disyariatkannya dalam kondisi suci/wudhu bagi orang yang hendak memakai khuf untuk mendapatkan keringanan mengusapnya, tidak perlu melepas khufnya untuk membasuh kedua kakinya.
2. Keutamaan sahabat Al Mughiiroh bin Syu’bah Rodhiyallahu anhu yang berkhidmat kepada Nabi  dan sunnah-sunah beliau sepeninggal Nabi .
3. Adapun batas waktu mengusap bagi yang mukim 1×24 jam dan bagi yang musafir 3x 24 jam, diriwayatkan haditsnya oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” dari Syuraih bin Hanii’ ia berkata :
أَتَيْتُ عَائِشَةَ أَسْأَلُهَا عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فَقَالَتْ عَلَيْكَ بِابْنِ أَبِى طَالِبٍ فَسَلْهُ فَإِنَّهُ كَانَ يُسَافِرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَسَأَلْنَاهُ فَقَالَ جَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ لِلْمُسَافِرِ وَيَوْمًا وَلَيْلَةً لِلْمُقِيمِ
“aku mendatangi Aisyah Rodhiyallahu anha, aku bertanya kepadanya tentang mengusap kedua khuf?, maka beliau berkata : ‘engkau konfirmasi langsung kepada Ali bin Abi Tholib, lalu bertanya kepadanya, karena beliau Rodhiyallahu anhu yang menemani Rasulullah ’. Lalu kami pun bertanya langsung kepada Ali Rodhiyallahu anhu, maka jawabnya : ‘Rasullah memberikan waktu tiga hari tiga malam bagi Musafir dan satu satu malam bagi yang Mukim’”.
4. Pembatasan waktu tersebut adalah pendapat yang terpilih, karena dalam masalah ini ada sebagian ulama yang berpendapat lain, kata Imam Syaukani dalam “Nailul Author” :
وَقَدْ اخْتَلَفَ النَّاسُ فِي ذَلِكَ فَقَالَ مَالِكٌ وَاللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ : لَا وَقْتَ لِلْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ وَمَنْ لَبِسَ خُفَّيْهِ وَهُوَ طَاهِرٌ مَسَحَ مَا بَدَا لَهُ ، وَالْمُسَافِرُ وَالْمُقِيمُ فِي ذَلِكَ سَوَاءٌ ، وَرُوِيَ مِثْلُ ذَلِكَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَعُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَالْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ
“terdapat ulama yang menyelisihi hal diatas. Imam Malik dan Imam Al-Laits bin Sa’ad berkata : ‘tidak ada batasan waktu untuk mengusap khuf. Orang yang memakai khuf dalam keadaan suci, ia dapat mengusapnya sekehendaknya, Musafir dan yang mukim sama hukumnya. Diriwayatkan pendapat yang serupa dari Umar ibnul Khothoob, ‘Uqbaah bin ‘Aamir, Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhum dan Al Hasan Al Bashri”.
Kemungkinannya kata Imam Syaukani, mereka berdalil dengan hadits Ubay bin ‘Imaaroh, ia berkata :
قَالَ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَكَانَ قَدْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلْقِبْلَتَيْنِ – أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْسَحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ قَالَ « نَعَمْ ». قَالَ يَوْمًا قَالَ « يَوْمًا ». قَالَ وَيَوْمَيْنِ قَالَ « وَيَوْمَيْنِ ». قَالَ وَثَلاَثَةً قَالَ « نَعَمْ وَمَا شِئْتَ »
“Yahya bin Ayyub Rodhiyallahu anhu –beliau pernah sholat bersama Rasulullah  menghadap kedua kiblat- beliau berkata : ‘wahai Rasulullah, apakah engkau mengusap kedua khuf?’, Nabi  menjawab : “iya”, tanyanya lagi : ‘satu hari?’, jawab Nabi  : “satu hari”, lanjutnya : ‘dua hari?’, dijawab : “dua hari”, lanjutnya : ‘tiga hari?’, dijawab : “iya, sekehendakmua””. (HR. Abu Dawud, didhoifakan oleh Imam Al Albani).

Dalam lafadznya Imam Ibnu Majah :
قَالَ وَثَلاَثًا حَتَّى بَلَغَ سَبْعًا قَالَ لَهُ « وَمَا بَدَا لَكَ »
“tanyanya : ‘tiga hari sampai tujuh hari’, lalu dijawab : “sekehendakmu” (didhoifkan oleh Imam Al Albani).
Imam Syaukani dalam “Nailul Author” mengomentari hadits ini, kata beliau :
قَالَ أَبُو دَاوُد : وَقَدْ اُخْتُلِفَ فِي إسْنَادِهِ وَلَيْسَ بِالْقَوِيِّ .وَقَالَ الْبُخَارِيُّ نَحْوَهُ وَقَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ : رِجَالُهُ لَا يُعْرَفُونَ ، وَأَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيّ .وَقَالَ : هَذَا إسْنَادُهُ لَا يَثْبُتُ وَفِي إسْنَادِهِ ثَلَاثَةُ مَجَاهِيلَ : عَبْدُ الرَّحْمَنِ ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ ، وَأَيُّوبُ بْنُ قَطَنٍ ، وَمَعَ هَذَا فَقَدْ اُخْتُلِفَ فِيهِ عَلَى يَحْيَى بْنِ أَيُّوبَ اخْتِلَافًا كَثِيرًا ، وَقَالَ ابْنُ حِبَّانَ : لَسْت أَعْتَمِدُ عَلَى إسْنَادِ خَبَرِهِ ، وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ : لَا يَثْبُتُ وَلَيْسَ لَهُ إسْنَادٌ قَائِمٌ ، وَبَالَغَ الْجُوزَجَانِيّ فَذَكَرَهُ فِي الْمَوْضُوعَاتِ ، وَمَا كَانَ بِهَذِهِ الْمَرْتَبَةِ لَا يَصْلُحُ لِلِاحْتِجَاجِ بِهِ عَلَى فَرْضِ عَدَمِ الْمُعَارِضِ ، فَالْحَقُّ تَوْقِيتُ الْمَسْحِ بِالثَّلَاثِ لِلْمُسَافِرِ ، وَالْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ لِلْمُقِيمِ .
“Abu Dawud berkata : ‘telah terjadi perselisihan dalam sanadnya dan sanadnya tidak kuat, Bukhori juga mengatakan yang mirip dengannya. Imam Ahmad berkata : ‘perowinya tidak dikenal’.
Daruquthni meriwayatkan haditsnya, lalu berkata : ‘sanad ini tidak tetap, didalamnya terdapat tiga perowi majhul yaitu : Abdur Rokhman, Muhammad bin Yaziid dan Ayyub bin Qothon, disamping itu juga terjadi perselisihan yang sangat banyak terhadap diri Yahya bin Ayyub Rodhiyallahu anhu.
Imam Ibnu Hibban mengomentari : ‘aku tidak berpegang dengan sanad pengabarannya’.
Imam Ibnu Abdil Bar berkata : ‘tidak tetap, tidak memiliki sanad yang bisa tegak (hujjah padanya)’.
Al Jauzajaaniy berlebihan dengan menyebutkannya didalam kitabnya “Al Maudhuu’aat”.
Berdasarkan posisi sanad haditsnya, maka tidak layak dijadikan hujjah, sekalipun tidak ada penentangnya (apalagi disini ada penentangnya-pent,).
Maka pendapat yang benar dibatasi waktu mengusap 3 hari bagi musafir dan satu hari satu malam bagi yang mukim”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: