Ta’liq Nukhbah (hadits Syadz)

September 29, 2013 at 2:26 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment
Tags: ,

قال الإمام الحافظ :
وزيادة راويهما مقبولة ما لم تقع منافية لمن هو أوثق فإن خولف بأرجح فالرجح المحفوظ ومقابله الشاذ ومع الضعف الراجح المعروف ومقابلة المنكر
“Tambahan dari perowinya diterima, selama tidak terdapat pertentangan dengan perowi yang lebih tsiqoh. Namun jika terjadi pertentangan, maka yang kuat disebut Mahfuudh, sedangkan yang marjuh (lawannya) disebut Syadz. Namun jika yang menyelisihi adalah perowi yang dhoif, maka yang rajih (kuat) disebut Ma’ruf, sedangkan lawannya disebut Mungkar”.
Ta’liq :
Telah berlalu pembahasan mengenai hadits Syadz, nampaknya Al Hafidz condong kepada pendapat bahwa tambahan perowi Maqbul yang dapat dijadikan hujjah, haditsnya diterima, selama tambahan tersebut tidak bertentangan dengan perowi yang lebih tsiqoh darinya. Lawan dari Syadz disebut Mahfudz.
Adapun jika yang menyelisihi tadi adalah perowi yang dhoif, sedangkan yang diselisihi adalah perowi Maqbul, maka hadits perowi Maqbul disebut Ma’ruf, sedangkan hadits perowi yang dhoif tadi disebut Mungkar. Ini adalah istilah yang dipakai oleh Al Hafidz Ibnu Hajar, Imam Ibnu Katsiir dalam “Ikhtishor ‘Ulumul Hadits”, dan selainnya.
Al Hafidz dalam “Nuzhatun Nadhor” menyebutkan contohnya, kata beliau :
مثالُه : ما رواهُ ابنُ أَبي حاتمٍ مِن طريقِ حُبَيِّبِ بنِ حَبيبٍ – وهو أَخو حَمزَةَ بنِ حَبيبٍ الزَّيَّاتِ المُقرئِ – عن أَبي إِسحاقَ عن العَيْزارِ بنِ حُريثٍ عن ابنِ عبَّاسٍ رضي الله عنهما عن النبي صلَّى اللهُ عليهِ وآلهِ وسلَّمَ قالَ : (( مَن أَقامَ الصَّلاةَ وآتى الزَّكاةَ وحَجَّ البيتَ وصامَ وقَرَى الضَّيْفَ ؛ دَخَلَ الجنَّةَ )) .
قالَ أَبو حاتمٍ : و هُو مُنْكَرٌ ؛ لأَنَّ غيرَه مِن الثِّقاتِ رواهُ عن أَبي إِسحاقَ مَوقوفاً ، وهُو المَعروفُ
“misalnya, apa yang diriwayatkan Ibnu Abi Haatim dari jalan Hubaib bin Habiib-saudaranya Hamzah bin Habiib Az-Zayyaat Al Muqri’ –dari Abi Ishaaq dari Al ‘Aizaar bin Huraits dari Ibnu ‘Abbaas Rodhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam, Beliau bersabda : “Barangsiapa yang mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, puasa dan memuliakan tamu, masuk jannah”.
Abu Hatim berkata : ‘itu Mungkar, karena selainnya perowi yang tsiqoh meriwayatkan dari Ishaaq secara mauquf, inilah yang ma’ruf.
Dalam kitab “Jarh wa Ta’dil” (no. 1373), Imam Ibnu Abi Hatim menukil penilaian dari rekan Bapaknya Imam Abu Zur’ah, katanya Hubain (lemah haditsnya). Kemudian beliau juga menukil dari Bapaknya, yang mengatakan (aku tidak mengenalnya). Kesimpulannya Hubaib perowi dhoif. Riwayatnya dalam hal ini menyelisi perowi tsiqoh yang meriwayatkannya secara mauquf. Sehingga hadits yang marfu’ ini disebut Mungkar dan riwayat yang mauquf disebut Ma’ruf.
Imam Suyuthi menyebutkan dalam “Tadribur Rowi”, bahwa perowi tsiqoh yang memiliki kelemahan (wahm), kemudian ia meriwayatkan hadits yang diduga adalah dari wahm (kesalahannya), dimana ia menyelisihi riwayat perowi yang lebih tsiqoh darinya, maka ini disebut juga hadits Mungkar. Misalnya apa yang diriwayatkan oleh Imam 4 ahli hadits bahwa :
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ وَضَعَ خَاتَمَهُ
“Adalah Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam jika masuk kamar mandi, beliau melepaskan cincinnya”.

Hadits ini diriwayatkan dari jalan :
همَّام بن يحيى, عن ابن جُريج, عن الزُّهْري, عن أنس
Imam Abu Dawud setelah meriwayatkan hadits ini berkata :
هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ وَإِنَّمَا يُعْرَفُ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ سَعْدٍ عَنِ الزُّهْرِىِّ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ ثُمَّ أَلْقَاهُ. وَالْوَهَمُ فِيهِ مِنْ هَمَّامٍ وَلَمْ يَرْوِهِ إِلاَّ هَمَّامٌ
“ini adalah hadits mungkar, yang ma’ruf adalah dari Ibnu Juraij dari Ziyaad bin Sa’ad dari Az-Zuhriy dari Anas bahwa Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam membuat cincinnya dari perak, lalu melepasnya’.
Kesalahan terjadi pada Hammaam, dan tidak ada yang meriwayatkan (hadits Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam melepas cincin ketika masuk wc-pent.) kecuali Hammaam.
Imam Suyuthi dalam “Tadribur Rowi” berkata :
فهمَّام بن يحيى ثقة احتجَّ به أهل الصَّحيح, ولكنَّه خالف النَّاس, فروَى عن ابن جُريج هذا المَتْن بهذا السَّند, وإنَّما رَوَى النَّاس عن ابن جُريج الحديث الَّذي أشار إليه أبو داود, فلهذا حكم عليه بالنكارة.
“Hammaam bin Yahya tsiqoh, dijadikan hujjah oleh ahlu shohih, namun ia menyelisi para ulama. Diriwayatkan dari Ibnu Juraij dengan matan dan sanad ini, namun ulama lainnya meriwayatkan dari Ibnu Juraij dengan hadits yang diisyaratkan oleh Abu Dawud, oleh karenanya Imam Abu Dawud menghukuminya sebagai hadits Mungkar”.
Pengertian kedua hadits Mungkar, adalah sebagaimana yang ditulis Imam Baiquni dalam Mandhumahnya :
٣۰. (والُمنْكَرُ) الفَردُ بهِ رَاوٍ غَدَا تَعْدِيلُهُ لا يْحمِلُ التَّفَــــرُّدَا
Hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang tidak diterima ta’dil nya dalam keadaan menyendiri.
Yakni seorang rowi dhoif yang menyendiri dalam meriwayatkan hadits . misalnya adalah riwayat Imam Tirmidzi dalam “Sunannya” (no. 1975) dari jalan :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَعْلَى الْكُوفِىُّ حَدَّثَنَا عَنْبَسَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِىُّ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عَلاَّقٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « تَعَشَّوْا وَلَوْ بِكَفٍّ مِنْ حَشَفٍ فَإِنَّ تَرْكَ الْعَشَاءِ مَهْرَمَةٌ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ. وَعَنْبَسَةُ يُضَعَّفُ فِى الْحَدِيثِ وَعَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَلاَّقٍ مَجْهُولٌ.
“Haddatsanaa Yahya bin Muusaa, haddatsanaa Muhammad bin Ya’laa Al Kuufiy, haddatsanaa ‘Anbasah bin Abdur Rokhman Al Qurosiy dari Abdul Malik bin ‘Alaaqoh dari Anas bin Maalik ia berkata, Nabi Shollallohu alaihi wa Salaam bersabda : “Makan malamlah, sekalipun dengan kurma kering yang jelek, karena meninggalkan makan malam dapat menyebabkan pikun”.
Imam Tirmidzi berkata : ‘ini hadits Mungkar, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini. ‘Anbasah dilemahkan dalam masalah hadits dan Abdul Malik bin ‘Alaaqoh seorang perowi majhul”.

Kitab Wudhu Bab 50

September 8, 2013 at 12:28 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

50 – باب مَنْ لَمْ يَتَوَضَّأْ مِنْ لَحْمِ الشَّاةِ وَالسَّوِيقِ
وَأَكَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ – رضى الله عنهم – لَحْمًا فَلَمْ يَتَوَضَّئُوا
Bab 50 Orang yang Tidak Berwudhu Karena Memakan Daging Kambing dan Tepung
Abu Bakar, Umar dan Utsman Rodhiyallahu anhum memakan daging dan mereka tidak mengulangi wudhunya lagi

Penjelasan :

Telah berlalu pembahasan masalah batalnya wudhu karena memakan daging yang dimasak dengan api, dan yang shahih adalah batalnya wudhu karena memakan daging unta saja, tidak untuk daging kambing atau yang selainnya.

Adapun riwayat Mu’alaq dari 3 sahabat utama yang dibawakan Imam Bukhori di judul bab, telah disambungkan riwayatnya sebagaimana dijelaskan oleh Al Hafidz dalam “Al Fath” :
وَقَدْ وَصَلَهُ الطَّبَرَانِيُّ فِي مُسْنَد الشَّامِيِّينَ بِإِسْنَادٍ حَسَن مِنْ طَرِيق سُلَيْم بْن عَامِر قَالَ ” رَأَيْت أَبَا بَكْر وَعُمَر وَعُثْمَان أَكَلُوا مِمَّا مَسَّتْ النَّار وَلَمْ يَتَوَضَّئُوا ”
“Telah disambungkan sanadnya oleh Thobroni dalam Musnad Syaamiyyin dengan sanad hasan dari jalan Sulaim bin ‘Aamir ia berkata : ‘aku melihat Abu Bakar, Umar dan Utsman Rodhiyallahu anhum, mereka memakan daging yang dipanggang dengan api lalu tidak mengulangi wudhunya lagi’”.

Berkata Imam Bukhori :

207 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ . أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَكَلَ كَتِفَ شَاةٍ ، ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

69). Hadits no. 207
“Haddatsanaa Abdullah bin Yusuf ia berkata, akhbaronaa Malik dari Zaid bin Aslam dari ‘Athoo bin Yasaar dari Abdullah bin Abbaas Rodhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah  makan pundak kambing, lalu sholat tanpa mengulangi wudhunya lagi”.
HR. Muslim no. 817

Biografi Perowi Hadits

Semua perowinya telah berlalu keterangannya.

Berkata Imam Bukhori :

208 – حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِى جَعْفَرُ بْنُ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ أَنَّ أَبَاهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَحْتَزُّ مِنْ كَتِفِ شَاةٍ ، فَدُعِىَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَلْقَى السِّكِّينَ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ
70). Hadits no. 208
“Haddatsanaa Yahya bin Bukair ia berkata, haddatsanaa Al-Laits dari ‘Uqoil dari Ibnu Syihaab ia berkata, akhbaronii Ja’far bin ‘Amr bin Umayyah bahwa Bapaknya mengabarinya bahwa ia melihat Rasulullah , memotong pundak kambing, lalu dikumandangkan sholat, lalu Beliau meletakkan pisau, lalu sholat tanpa mengulangi wudhunya lagi’”.
HR. Muslim no. 820

Biografi Perowi Hadits

Semua perowinya telah berlalu keterangannya.

Penjelasan Hadits :
1. Diikutkannya tepung oleh Imam Bukhori kepada daging kambing adalah dalam rangka qiyas aula, yakni dimana daging kambing saja yang lebih berserat tidak membatalkan wudhu, apalagi tepung yang memiliki kadar serat lebih rendah, tentu lebih tidak membatalkan wudhu, karena terkadang tepung juga dipanggang dengan api, sebagai makanan yang dikenal sekarang dengan nama khubuz.
2. Pendapat tidak batalnya wudhu karena memakan daging kambing dikuatkan dengan amalan khulafaur Rosyidin yang tidak membatalkan wudhunya kerena hal tersebut.
3. Namun bagi yang memakan tepung (Sawiiq), dianjurkan untuk berkumur-kumur, sebagaimana akan datang babnya setelah ini –Insya Allah-.

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: