Tata Cara Sholat Orang Sakit

October 19, 2013 at 4:19 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

TATA CARA SHOLAT ORANG SAKIT

            Sholat lima waktu adalah suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang Muslim, apapun kondisi dan keadaannya. Termasuk ketika seseorang sedang menderita sakit, bahkan seharusnya pada kondisi ini, ia harus lebih rajin dan lebih khusyu’ dibandingkan ketika sehat, karena pada saat-saat seperti ini, ia butuh pertolongan kepada Rabbnya, agar segera diberikan kesembuhan.

Para ulama sepakat bahwa orang yang tidak bisa sholat berdiri, hendaknya ia sholat dengan duduk, jika tidak bisa ia sholat dengan berbaring miring, menghadap ke kiblat, dianjurkan ia berbaring diatas lambung sebelah kanannya. Jika terpaksa tidak bisa juga maka ia berbaring terlentang, dan jika masih kesulitan juga, maka ia sholat dalam posisi apapun yang mudah , sampaipun harus dengan berisyarat saja. Nabi r bersabda :

صَلِّ قَائِمًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Sholatlah dengan berdiri, jika tidak bisa dengan duduk, jika tidak bisa juga dengan berbaring diatas lambung” (HR. Bukhori)

Terdapat riwayat yang marfu’ dari Sahabat Ali bin Abi Tholib t, yang menjelaskan lebih rinci tentang tata cara sholat orang sakit, yaitu diriwayatkan Nabi r bersabda :

يُصَلِّى الْمَرِيضُ قَائِمًا إِنِ اسْتَطَاعَ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ صَلَّى قَاعِدًا فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَسْجُدَ أَوْمَأَ وَجَعَلَ سُجُودَهُ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّىَ قَاعِدًا صَلَّى عَلَى جَنْبِهِ الأَيْمَنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّىَ عَلَى جَنْبِهِ الأَيْمَنِ صَلَّى مُسْتَلْقِيًا رِجْلَيْهِ مِمَّا يَلِى الْقِبْلَةَ

“Orang yang sakit sholatya berdiri semampunya, jika tidak mampu sholatlah sambil duduk, jika tidak mampu untuk sujud, maka ia berisyarat dengan menjadikan isyarat sujudnya lebih rendah daripada ruku’nya. Jika tidak mampu sholat dengan duduk maka ia berbaring diatas lambung kanannya menghadap kiblat, jika tidak mampu untuk berbaring diatas lambung kanannya, sholat dengan telentang kedua kakinya menghadap kiblat” (HR. Daruquthni, didhoifkan Imam Al Albani didalam “Irwaul Gholil”).

Bagi orang yang sakit, namun masih mampu berdiri, maka ia tetap sholat berdiri, jika ia tidak mampu untuk ruku’ atau sujud, maka dengan menggunakan isyarat ketika ruku’, lalu ia duduk berisyarat ketika sujud. Karena Allah r berfirman :

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’” (QS. Al Baqoroh : 238).

Lalu dalam ayat lain, Allah r berfirman :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu” (QS. Ath-Thaghobun : 16).

Jika orang yang sakit tersebut lupa atau tertidur karena sakitnya, sedangkan ia belum mengerjakan sholat, maka ketika bangun atau sadar ia segera melaksanakan sholat yang ia tinggalkan, sekalipun waktu sholatnya sudah berlalu, karena Nabi r bersabda :

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang lupa, hendaklah ia sholat ketika ingat, tidak ada kafarahnya kecuali mengerjakan sholat tersebut” (Muttafaqun ‘Alaih).

Kemudian Nabi r membaca ayat :

وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى

“Dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku” (Thoha : 14).

Dalam lafadz Muslim :

مَنْ نَسِىَ الصَّلاَةَ فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا فَإِنَّ اللَّهَ قَالَ (أَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِى)

“Barangsiapa yang tertidur dari sholatnya, hendaklah ia sholat ketika bangun, karena Allah r berfirman : “Dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku””.

 

Sebagai penutup yang perlu diingat bahwa Allah r Maha Penyayang dan Penyantun kepada hamba-Nya, sekalipun orang yang sakit tidak dapat melaksanakan sholat dengan sempurna, sebagaimana diwajibkan ketika sehat dan kondisinya fit, namun Allah r tetap memberikan pahala utuh kepadanya, persis ketika ia dalam kondisi sehat. Nabi r bersabda :

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan safar, akan ditulis baginya (pahala) seperti yang ia lakukan ketika mukin dalam keadaan sehat” (HR. Bukhori).

 

 

 

 

 

 

(Diringkas dari Tulisan “Ahkamus Sholat lil mariidh wa Thoharotihi” karya Imam bin Baz Rahimahullah).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: