HADITS PALSU DALAM SUNAN TIRMIDZI (HADITS KE-3 & 4)

October 30, 2013 at 11:08 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

3. Hadits no 1859, Imam Tirmidzi berkata :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ الوَلِيدِ المَدَنِيُّ، عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ المَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الشَّيْطَانَ حَسَّاسٌ لَحَّاسٌ فَاحْذَرُوهُ عَلَى أَنْفُسِكُمْ، مَنْ بَاتَ وَفِي يَدِهِ رِيحُ غَمَرٍ فَأَصَابَهُ شَيْءٌ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ»

“Haddatsanaa Ahmad bin Munii’ ia berkata, haddatsanaa Ya’quub ibnul Waliid Al Madaniy dari Ibnu Abi Dzi’b dari Al Maqbariy dari Abu Huroiroh t ia berkata, Rasulullah r bersabda : “Sesungguhnya syaithon tajam penciumannya dan suka menjilati, maka hati-hatilah kalian, barangsiapa yang tidur, sedangkan di tangannya masih ada bau (bekas sisa makanan), lalu terjadi sesuatu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri”.

Kalau kita melihat sanadnya, maka sebagaimana hadits sebelumnya, terdapat disini seorang perowi yang bernama Ya’quub ibnul Waliid, yang dinilai oleh beberapa ulama sebagai seorang pendusta atau pemalsu hadits. Oleh karenanya Imam Al Albani dalam tahqiq sunan Tirmidzi menilai hadits ini Maudhu (palsu). Penilaian senada juga diberikan oleh Imam Adz-Dzahabi dalam “At-Talkhiish” ketika mengomentari Imam Al Hakim yang setelah meriwayatkan hadits ini dalam mustadroknya berkata :

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ بِهَذِهِ الْأَلْفَاظِ

“ini adalah hadits shahih atas syarat Bukhori-Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan dengan lafadz ini”.

Imam Adz-Dzahabi berkata : “بل موضوع” (bahkan hadits ini palsu).

Namun setengah kalimat kedua yakni :

مَنْ نَامَ وَفِي يَدِهِ غَمَرٌ وَلَمْ يَغْسِلْهُ، فَأَصَابَهُ شَيْءٌ، فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“barangsiapa yang tidur, sedangkan di tangannya masih ada bau (bekas sisa makanan), tapi ia tidak mencucinya, lalu terjadi sesuatu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri”

Haditsnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi dan selainnya dengan sanad yang shahih, dishahihkan oleh Imam Al Albani, dihasankan oleh Imam Tirmidzi dan juga dishahihkan oleh penta’liq Musnad Ahmad, Syaikh Syu’aib Arnauth.

4. Hadits No. 2494, Imam Tirmidzi berkata :

حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الغِفَارِيُّ الْمَدِينِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ المُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ نَشَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَأَدْخَلَهُ جَنَّتَهُ: رِفْقٌ بِالضَّعِيفِ، وَشَفَقَةٌ عَلَى الوَالِدَيْنِ، وَإِحْسَانٌ إِلَى المَمْلُوكِ

“Haddatsanaa Salamah bin Syabiib ia berkata, haddatsanaa Abdullah bin Ibrohim Al Ghifaariy Al Madaniy ia berkata,  haddatsanii Bapakku dari Abu Bakar ibnul Munkadir dari Jaabir t ia berkata, Rasulullah r bersabda : “ada tiga orang yang pada waktu Allah mengumpulkan manusia di padang mahsyar, Allah r akan menaunginya dan memasukkannya kedalam surga, yaitu orang yang lemah lembut kepada orang yang lemah, sayang penuh perhatian kepada kedua orang tuanya dan berbuat baik kepada budaknya”.

Mari kita bedah sanadnya :

A. Salamah bin Syabiib, wafat tahun 240-an, perowi Muslim, dinilai tsiqoh oleh Al Hafidz dalam “At-Taqriib”.

B. Abdullah bin Ibrohiim, Imam Ibnu Hibban menisbahkannya sebagai pemalsu hadits. Imam Al Hakim berkomentar :

روى عن جماعة من الضعفاء أحاديث موضوعة لا يرويها غيره

“meriwayatkan dari sekelompok perowi lemah, hadits-hadits palsu yang tidak diriwayatkan oleh selainnya”.

Para ulama lain juga melemahkannya, sehingga Al hafidz Ibnu Hajar menghukuminya sebagai perowi “Matruuk”. (tahdzibain)

C. Bapkanya, Ibrohim bin Abi ‘Amr, dinilai oleh Al Hafidz “Majhul”.

D. Abu Bakr Ibnul Munkadir, Perowi Bukhori-Muslim dinilai Al Hafidz “tsiqoh”.

E. Jaabir bin Abdullah t, seorang sahabat mulia

Imam Al Albani dalam tahkiqnya terhadap hadits ini berkata : “موضوع” (hadits palsu). Sementara itu Imam Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits ini :

هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ المُنْكَدِرِ هُوَ أَخُو مُحَمَّدُ بْنُ المُنْكَدِرِ

“ini hadits Ghoriib, Abu Bakar ibnul Munkadir adalah saudaranya Muhammad ibnul Munkadir”.

Dalam cetakan Darul Ihyau Turots Beirut dan juga Imam Suyuthi dalam “Jaamiul Kabiir” menulis Imam Tirmidzi berkata :

هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ الْمُنْكَدِرِ هُوَ أَخُو مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ

“ini hadits Hasan Ghoriib, Abu Bakar ibnul Munkadir adalah saudaranya Muhammad ibnul Munkadir”.

Imam Al Abani dalam “Silsilah Ahaadits Adh-Dhoifah” (no. 92) telah menghukumi hadits ini palsu karena kelemahan Abdullah bin Ibrohim tersebut.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: