HADITS PALSU DALAM SUNAN TIRMIDZI (HADITS KE-6)

November 1, 2013 at 2:53 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

6. Hadits no. 2648, Imam Tirmidzi berkata :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ المُعَلَّى قَالَ: حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ خَيْثَمَةَ، عَنْ أَبِي دَاوُدَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَخْبَرَةَ، عَنْ سَخْبَرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ طَلَبَ العِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى»

“Haddatsanaa Muhammad bin Humaid Ar-Rooziy ia berkata, haddatsanaa Muhammad ibnul Mu’alaa ia berkata, haddatsanaa Ziyaad bin Khoitsamah dari Abu Dawud dari Abdullah bin Sahbaroh dari Sahbaroh dari Nabi r beliau bersabda : “Barangsiapa yang menuntut ilmu, maka itu adalah sebagai penebus dosanya yang telah lalu”.

Mari kita bedah para perowinya :

A. Muhammad bin Humaid, wafat pada tahun 248 H, ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in. Beliau dipuji juga oleh Imam Ahmad namun dinilai lemah oleh Imam Bukhori, Imam Nasa’i dan Imam Jauzaajaniy. Bahkan Imam Ibnu Haroosy mengatakan bahwa ia berdusta. (Tahdzibul Kamal). Penilaian akhir barangkali seperti yang diberikan oleh Imam Adz-Dzahabi :

الحافظ ، وثقه جماعة و الأولى تركه

“Beliau adalah Hafidz, ditsiqohkan oleh sejumlah ulama, namun yang lebih utama meninggalkan riwayatnya”.

B. Muhammad ibnul Mu’alaa, dinilai oleh Al Hafidz dalam “At-Taqriib” : “صدوق” (jujur).

C. Ziyaad bin Khoitsamah, perowi Muslim dinilai tsiqoh oleh Al Hafidz.

D. Abu Dawud namanya adalah Nufai’ ibnul Harits. Dikatakan berdusta oleh Imam Hamaam. Imam Ibnu Ma’in berkata :

أبو داود الأعمى يضع ليس بشىء

“Abu Dawud Al A’maa memalsukan hadits, tidak ada apa-apanya”.

Ia dikatakan matrukul hadits oleh Imam Nasa’i dan Imam ‘Amr bin Ali. Selain Imam Ibnu Ma’in yang mengatakan ia pendusta ada juga Imam Ibnu Hibban dan Imam As-Saaji. (Tahdzibain).

E. Abdullah bin Sakhbaroh, dinilai majhul oleh Al Hafidz.

F. Sakhbaroh t, dinilai oleh Al Hafidz sebagai seorang sahabat Nabi r.

Imam Al Albani dalam tahkiqnya terhadap hadits ini berkata : “موضوع” (hadits palsu). Sementara itu Imam Tirmidzi berkata setelah meriwayatkan hadits ini :

هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفُ الإِسْنَادِ، أَبُو دَاوُدَ اسْمُهُ نُفَيْعٌ الْأَعْمَى يُضَعَّفُ فِي الحَدِيثِ، وَلَا نَعْرِفُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَخْبَرَةَ كَبِيرَ شَيْءٍ وَلَا لِأَبِيهِ

“ini hadits lemah sanadnya, Abu Dawud namanya Nufai’ Al A’maa, didhoifkan haditsnya. Kami juga tidak mengenal sedikitpun Abdullah bin Sakhbaroh dan Bapaknya Sakhbaroh”.

Selain Imam Al Albani yang menilai hadits ini palsu, ada juga Imam Al Haitsamiy dalam “Majmuz Zawaaid” (no. 503) yang mengisyaratkan bahwa hadits ini palsu, kata beliau :

رواه الطبراني في الكبير وفيه أبو داود الأعمى وهو كذاب

“Diriwayatkan oleh Thabrani dalam “Al Kabiir” didalam sanadnya ada Abu Dawud Al A’maa ia seorang pendusta”.

 

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: