BELAJAR DARI AKHLAK IMAM MUHAMMAD BIN IBROHIM ALU SYAIKH

November 9, 2013 at 9:36 am | Posted in Siroh | Leave a comment

BELAJAR DARI AKHLAK SAMAHATUS SYAIKH

 MUHAMMAD BIN IBROHIM ALU SYAIKH

(Disadur dari tulisan Syaikh Naashir bin Hamd Al Fahd yang dipublikasikan oleh Multaqo Ahlul Hadits)

Beliau adalah Mufti ‘Aam Saudi Arabia sebelum Samahatus Syaikh bin Baz. Nasab beliau sampai kepada Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab, mujadid islam pada zamannya. Beliau dilahirkan pada tanggal 10 Muharam tahun 1311 H atau bertepatan dengan tanggal 23 Juli tahun 1893. pada saat beliau lahir, ibunya sedang melaksanakan puasa Asy-Syuraa’. Beliau lahir dari pasangan Ibrohim bin Abdul Lathif dan Jauharoh bintu Abdul Aziz Al Hilaaliy. Bapaknya adalah seorang hakim pada zamannya.

Al Imam Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh masa kecilnya tumbuh dalam naungan rumah yang dipenuhi oleh ilmu dan agama, beliau telah mempelajari Al Qur’an dan hapal Al Qur’an pada usia remajanya. Kemudian beliau belajar berbagai macam cabang ilmu agama. Pada usia 17 tahun penglihatan beliau hilang, sehingga akhirnya mengalami kebutaan. Diantara guru-guru beliau adalah :

  1. Syaikh Abdur Rokhman bin Mufairij, Al Imam belajar Al Qur’an pada saat usianya masih belia.
  2. Pamannya, Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif, beliau belajar kepadanya sebelum hilang penglihatannya. Syaikh Abdullah sangat menyayanginya.
  3. Syaikh Sa’ad bin Hamd bin ‘Atiiq, Al Imam sangat menyukai gurunya ini, sehingga kalau beliau menyebutkan syaikhnya ini, biasanya beliau akan mengatakan : ‘Syaikhunaa, syaikh kabiir dan seorang Alim yang masyhur’.
  4. Syaikh Abdullah bin Roosyid, Al Imam belajar kepadanya ilmu faroid (warisan).
  5. Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Al Maani’, Syaikh Nashir Al Fahd menceritakan bahwa beliau melihat berapa kali, jika Syaikh Ibnu Maani’ mengunjungi Al Imam, maka Al Imam berdiri menyambutnya lalu menciumnya, sangat berantusias menyambutnya, lalu mempersilakan untuk duduk di tempatnya. Ketika aku menanyakan kenapa Al Imam melakukan hal ini kepadanya, maka dikatakan kepadaku bahwa Syaikh Ibnu Maani’ adalah gurunya dan beliau menghormatinya karena usianya yang lebih tua.

Aktivitas kesibukan Imam Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh sangat banyak, beliau pernah menduduki beberapa posisi sebagai berikut :

  1. Menjabat sebagai hakim untuk wilayah Ghotghot, selama kurang lebih 6 bulan
  2. Beliau menjadi Imam masjid Syaikh Abdur Rokhman bin Hasan, beliau menjadi Imam dan khothib di masjid tersebut sampai beliau wafat. Sekarang masjid ini bernama masjid Syaikh Muhammad bin Ibrohim.
  3. Beliau sebelum sibuk dengan aktivitas yang berkaitan dengan kemaslahatan kaum muslimin, mengajar di masjidnya setelah sholat subuh, lalu di rumahnya pada waktu Dhuha dan terkadang mengajar di masjidnya juga setelah ashar.
  4. Beliau sudah menjadi mufti Arab Saudi, sebelum dibuka lembaga fatwa secara resmi, kemudian pada bulan Sya’ban tahun 1374 H yang bertepatan dengan bulan Maret 1955, dibukalah secara resmi lembaga fatwa dibawah kepempinan beliau Rokhimahullahu.
  5. Ketika didirikan Universitas Islam Madinah pada tahun 1380 H atau bertepatan dengan tahun 1960, beliau menjabat sebagai rektornya dan menunjuk Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz sebagai wakil rector.

Murid-murid beliau sangat banyak, diantara mereka adalah :

  1. Syaikh Abdullah bin Humaid
  2. Syaikh bin Baz
  3. Syaikh Shoolih bin Ghushuun
  4. Syaikh Abdur Rokhman bin Faaris

Beliau memiliki akhlak yang mulia, berikut beberapa gambaran akhlaknya :

  1. Beliau seorang yang cerdas, sekalipun pada usia mudanya beliau sudah kehilangan penglihatannya.
  2. Beliau adalah orang yang memiliki hapalan yang kuat, beliau hapal banyak matan-matan kitab. Beliau juga memiliki hapalan yang mutqin (kokoh) tentang Al Qur’an. Syaikh Al Fahd bersaksi bahwa selama 18 tahun bersama dengan beliau, maka tidak pernah mendapati Al Imam salah dalam membaca Al Qur’an ketika mengimami jamaah di masjidnya. Beliau tidak pernah mengulangi bacaan surat Al Qur’an ketika mengimami sholat, selama kurang lebih 18 tahun, menurut persaksian Syaikh Al Fahd. Tentu ini sesuatu yang luar biasa dari seorang yang memiliki cacat kebutaan pada usia mudanya.
  3. Beliau seorang yang teguh dan tegas, Al Imam sangat disiplin dalam menghapal matan-matan kitab, beliau tidak rela hanya hafal sedikit saja matan-matan tersebut dan beliau juga tidak rela kalau hapalan matan kitabnya hilang begitu saja.
  4. Beliau sangat zuhud terhadap gelar dan pujian. Syaikh Al Fahd mengisahkan bahwa selama kurang lebih 18 tahun menemani beliau, tidak pernah mendengar Al Imam mengucapkan untuk dirinya sendiri sebutan “Syaikh” atau “mufti”, sekalipun ketika menukilkan berita dari selainnya, beliau hanya menyebut namanya saja untuk dirinya.

Coba kita lihat betapa agungnya akhlak beliau, tidak gila dengan gelar dan puja-puji, sampaipun ketika menyampaikan berita dari orang lain yang tentunya orang lain tersebut menyebut nama beliau dengan Syaikh atau mufti. Betapa kita sering dapatkan, misalnya seorang ustadz ketika ditanya oleh hadirin, misalnya dengan pertanyaan : ‘ustadz apa hukumnya hal ini …’, maka sering kita dengar, ustadz tersebut ketika membacakan pertanyaannya akan mengulangi perkataan “ustadz” sebagaimana ucapan si penanya.

Kemudian Syaikh Al Fahd melanjutkan, Al Imam jika ada orang yang memujinya, maka beliau langsung memotongnya dan berkata : ‘semoga Allah menerima taubat kami’, ‘semoga Allah memaafkan kami’.

5. Beliau sangat menghormati gurunya, ulama, para Dai dan hakim. Telah berlalu bagaimana sikap Al Imam kepada gurunya Syaikh Ibnu Maani’. Syaikh Al Fahd menceritakan bahwa dirinya melihat Syaikh Hamuud At-Tuwaijiriy berkunjung ke samahatul Mufti, lalu membacakan tulisannya yang berisi bantahan kepada ahlu bid’ah, setelah selesai pada saat Syaikh Hamuud beranjak pulang, Al Imam berkata : ‘Syaikh Hamuud mujahid, Jazakallah khoir’. Al Imam sangat memuliakan Syaikh Ahmad Syakir dan syaikh Hamid Al Faqhi, jika berkunjung ke Saudi, beliau langsung menjamunya. Dan masih banyak kisah lainnya.

6. Beliau sangat cemburu terhadap agamanya, Syaikh Al Fahd mencontohkan bahwa pada suatu hari ada seorang yang bercerita kepada beliau tentang sebagian kemungkaran yang terjadi, maka pada keesokkan harinya Al Imam tampak gelisah, beliau sempat berkata : ‘aku tidak bisa tidur semalaman, karena merasa sempit (dengan cerita orang tadi)’.

7. Beliau sangat menjaga waktu, seluruh waktunya digunakan untuk ketaatan kepada Allah dan menunaikan kebutuhan kaum muslimin. Syaikh Al Fahd mengisahkan bahwa dirinya pernah pergi bersafar bersama Al Imam, maka sepanjang perjalanan, Beliau meminta kepada orang yang ikut bersama dengannya untuk membacakan kitab-kitab para ulama.

8. Beliau sekalipun dikenal tegas dan memiliki wibawa dikalangan manusia, namun Al Imam juga sosok yang humoris, terkadang beliau bercanda dengan murid-muridnya.

9. Beliau Rokhimallahu tidak pernah menceritakan ibadahnya kepada seorang pun. Syaikh Al Fahd menceritakan bahwa Al Imam banyak melakukan ibadah haji dan umroh, khususnya menjelang akhir usianya. Beliau banyak membaca Al Qur’an dalam kesendiriannya.

10. Beliau sangat waro’ khususnya dalam masalah ibadah jika dimintai fatwa. Beliau terkadang tawaquf ketika ditanya atau beliau baru memberikan jawabannya sehari atau 2 hari setelah mempelajari pertanyaannya. Berikut berapa contoh yang disebutkan oleh Syaikh Al Fahd :

  1. Ada seorang dari daerah Zulfa yang sering pergi bersafar, ia bercerita bahwa dirinya pernah tinggal disebelah masjid yang imam masjidnya mencukur jenggotnya dan merokok, maka kemudian orang tersebut meminta kepada syaikh Al Fahd menanyakannya kepada Imam Muhammad bin Ibrohim Alu Syaikh, maka Al Imam tidak langsung menjawabnya, beliau tawaquf selama kurang lebih 2 hari, baru kemudian beliau memberikan jawaban : ‘hendaknya ia mencari masjid yang lain, jika tidak mendapati masjid yang lain, maka janganlah ia sholat dibelakang orang (fasik) tersebut, selama ia dalam kondisi safar’.
  2. Syaikh Fahd menceritakan bahwa pada tahun 1377 H, dirinya pernah sakit kakinya, sampai kakinya di-gips, sehingga dirinya tidak bisa menggerakkan kakinya, kemudian ketika waktu sholat dirinya hanya bertayamum dan tidak mampu untuk menghadap kiblat. Kemudian setelah sembuh aku bertanya kepada Al Imam, apakah sah sholatku atau aku perlu mengulanginya? Maka beberapa hari aku menunggu jawabanya, namun beliau tidak memberikan jawaban sedikitpun.

Al Imam berpulang ke rakhmat Allah pada waktu Dhuha hari Kamis tanggal 17 Dzulhijjah tahun 1393 atau bertepatan dengan tanggal 10 Januari 1974 di kota Mekkah pada saat akan kembali dari menunaikan ibadah haji. Semoga Allah Ta’aalaa menempatkan beliau di jannah-Nya. Amiin.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: