HADITS PALSU DALAM SUNAN IBNU MAJAH (HADITS KE-3)

November 9, 2013 at 3:04 am | Posted in Hadits | Leave a comment

3. Hadits no. 65, Imam Ibnu Majah berkata :

حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ أَبِي سَهْلٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ صَالِحٍ أَبُو الصَّلْتِ الْهَرَوِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُوسَى الرِّضَا، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْإِيمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ، وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ»

“Haddatsanaa Sahl bin Abi Sahl dan Muhammad bin Ismail mereka berkata, haddatsanaa Abdus Salaam bin Shoolih Abus Sholti Al Harowiy ia berkata, haddatsanaa Ali bin Musa Ar-Ridhoo dari Bapaknya dari Ja’far bin Muhammad dari Bapaknya dari Ali bin Husain dari Bapaknya dari Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “Imam adalah mengetahui dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan”.

Mari kita bedah para perowinya :

  1. Sahl bin Abi Sahl, wafat sekitar tahun 24o H, dinilai oleh Al Hafidz dalam “At-Taqriib” : “صدوق” (jujur).
  2. Muhammad bin Ismail, wafat pada tahun 260 H atau 258 H, dinilai tsiqoh oleh Al Hafidz.
  3. Abdus Salaam Abu Sholti, dinilai pendusta oleh Imam Al Uqoiliy dan Muhammad bin Thoohir. Namun sebagian ulama mentsiqohkannya seperti Imam Ibnu Ma’in. Al Hafidz dalam “At-Taqriib” berkata : “shoduq memiliki hadits mungkar, ia condong kepada syi’ah, Uqoiliy berlebihan dengan menilainya sebagai pendusta.
  4. Ali bin Musa bin Ja’far, salah satu keturunan ahlu bait, wafat pada tahun 203 H, dinilai shoduq oleh Al Hafidz.
  5. Bapaknya Musa bin Ja’far bin Muhammad, lahir pada tahun 128 H dan wafat pada tahun 183 H, dinilai shoduq dan ahli ibadah oleh Al Hafidz.
  6. Ja’far bin Muhammad Ash-Shodiq, lahir pada tahun 80 H dan wafat pada tahun 148 H, perowi Muslim, dinilai oleh Al Hafidz shoduq, ahli fiqih dan seorang Imam.
  7. Muhammad bin Ali bin Husain, wafat sekitar tahun 110-an H, perowi Bukhori-Muslim, dinilai tsiqoh oleh Al Hafidz.
  8. Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib, wafat pada tahun 93 H dinilai tsiqoh tsabat oleh Al Hafidz.
  9. Husain bin Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu anhu salah seorang sahabat dan cucunya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam.
  10. Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu anhu, Amirul Mukminin yang keempat, sepupu dan menantunya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam.

Imam Al Albani dalam tahkiqnya terhadap hadits ini berkata : “موضوع” (hadits palsu).

Imam Ibnu Majah setelah meriwayatkan hadits ini berkata :

قَالَ: أَبُو الصَّلْتِ: لَوْ قُرِئَ هَذَا الْإِسْنَادُ عَلَى مَجْنُونٍ لَبَرَأَ

“Abu Sholti, sekiranya sanad ini dibacakan kepada orang gila, niscaya ia akan berlepas diri”.

Imam Al Albani dalam “Silsilah Ahaadits Adh-Dhoifah” (no. 2271) berkata :

وقال العقيلي: ” موسى بن جعفر حديثه غير محفوظ، ولا يتابع عليه إلا من جهة تقاربه، والحمل فيه على أبي الصلت الهروي “. قلت: اسمه عبد السلام بن صالح، قال الذهبي في ” الضعفاء “: ” اتهمه بالكذب غير واحد، قال أبو زرعة: لم يكن بثقة. وقال ابن عدي: متهم

. وقال غيره: رافضي “. وفي ” التقريب “: ” صدوق، له مناكير، وكان يتشيع، وأفرط العقيلي فقال: كذاب “. قلت: لم ينفرد بذلك العقيلي، بل تابعه محمد بن طاهر، فقال أيضا: ” كذاب “؛ كما نقله الحافظ نفسه في ” التهذيب “. وذكر فيه عن أبي الحسن – وهو

الدارقطني -: ” وهو متهم بوضعه – يعني هذا الحديث – لم يحدث به إلا من سرقه منه، فهو الابتداء في هذا الحديث “.

“Uqoiliy berkata : ‘Musa bin Ja’far haditsnya tidak mahfudz, tidak terdapat penguatnya, kecuali juga datang dari rowi yang sekelas dengannya dan yang membawakan hadits ini adalah Abu Sholti Al Harowi. Aku (Al Albani) berkata : ‘namanya Abdus Salaam bin Shoolih, Adz-Dzahabi berkata dalam “Adh-Dhu’aafaa’ : ‘dituduh sebagai pendusta oleh lebih dari 1 orang ulama’. Abu Zur’ah berkata : ‘tidak tsiqoh’. Ibnu Adiy berkata : ‘tertuduh (berdusta)’. Yang lainnya berkata : ‘Rofidhoh’. Dalam At-Taqrib (Ibnu Hajar) berkata : ‘jujur, memiliki hadits mungkar, ia condong kepada syiah, Uqoiliy berlebihan dengan menilainya pendusta’. Aku (Al Albani) berkata : ‘Uqoiliy tidak sendirian dalam menilainya sebagai pendusta, namun diikuti oleh Muhammad bin Thoohir yang juga menilainya sebagai pendusta, sebagaimana dinukil sendiri oleh Al Hafidz dalam “At-Tahdziib”’. Daruquthni berkata : ‘ia tertuduh memalsukan hadits –yakni hadits ini- tidak ada yang meriwayatkannya kecuali dari pencurian yaitu awal dalam hadits ini’”.

Kemudian Imam Al Albani masih dalam kitabnya yang sama menyebutkan mutaba’ah bagi hadits ini, lalu pada kesimpulannya beliau berkata :

وبالجملة؛ فهذه المتابعات كلها واهية جدا، فلا يزداد الحديث بها إلا وهنا، لا سيما مع جزم الإمام الدارقطني أنهم سرقوه من المتهم بوضعه، ألا وهو الهروي . وزعم بعض المعاصرين من المشتغلين بالحديث أن الحديث صحيح، وأن عبد السلام ابن صالح ثقة، وإنما تكلم فيه لتشيعه؛ مردود بأن الكلام فيه إنما هو لكونه روى أحاديث أنكرت عليه هذا أحدها، وقد صرح بذلك الخطيب البغدادي فقال:

” قلت: وقد ضعف جماعة من الأئمة أبا الصلت، وتكلموا فيه بغير هذا الحديث “. ولذلك فلم يبعد ابن الجوزي عن الصواب حين حكم على الحديث بالوضع، وقد أقره عليه السخاوي في ” المقاصد ” (ص 140) ، وتبعه ابن القيم في ” تهذيب السنن ” (8/59) .

Kesimpulannya, semua penguat-penguat ini semuanya lemah, tidak menambah untuk hadits ini, kecuali tambah parah, terlebih lagi adanya pemastian dari Imam Daruquthni bahwa mereka mencurinya dari perowi yang tertuduh berdusta, yaitu Abu Sholti Al Harowiy. Sebagian ulama kontemporer yang menyibukkan diri dengan hadits, mengklaim bahwa hadits ini shahih, yaitu perowinya Abdus Salaam tsiqoh, ia diperbicangkan hanya karena madzhab syiahnya. Klaim tersebut tertolak, karena Abu Sholti dikritik dengan sebab ia meriwayatkan hadits mungkar dan ini adalah salah satunya. Yang menegaskan hal ini adalah Al Khothiib Al Baghdadiy ia berkata : ‘para Aimah mendhoifkan Abu Sholti, mereka mengkritiknya bukan hanya hadits ini saja’. Oleh karenanya tidaklah jauh apa yang dilakukan Ibnul Jauzi ketika menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu. Hal ini disetujui oleh As-Sakhoowiy dalam “Al Maqooshid” (h. 140) dan diikuti oleh Ibnul Qoyyim dalam “Tahdzibus Sunan” (8/59).

 

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: