MENCARI KEADILAN KE PENGADILAN UMUM

November 9, 2013 at 12:31 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MENCARI KEADILAN KEPADA PENGADILAN

YANG TIDAK BERHUKUM DENGAN HUKUM ISLAM

            Sebagai seorang Muslim yang berakidah shahihah, tentu mereka sangat mendambakan sekali, ketika menghadapi masalah-masalah hukum tidak hanya dalam perkara ibadah, namun juga dalam perkara-perkara muamalah seperti yang terkait dengan masalah perdata atau pidana untuk mencari keadilannya melalui hukum yang telah Allah r turunkan. Karena siapa lagi hukumnya yang lebih baik dan lebih adil dibandingkan hukum Allah. Firman-Nya :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. Al Maidah : 50).

Namun sebuah kenyataan yang ironi, sebagian besar negeri kaum Muslimin, pemerintahan yang mereka dirikan belum secara total menerapkan hukum islam. Permasalahannya adalah bagaimanakah seorang Muslim yang cemburu kepada agamanya dan tidak rela untuk berhukum dengan selain hukum Islam, ketika dihadapkan kepada permasalahan hukum di negerinya. Misalnya ia ingin menuntut keadilan karena hak-haknya telah dirampas orang lain, seperti ia dicuri hartanya, ditipu, dipukul, dicemarkan nama baiknya dan sejenisnya. Mau tidak mau ia harus menghadap ke pengadilan umum untuk mencari keadilan. Jawaban itu semua telah dijelaskan dengan baik oleh Faqihuz Zaman hadzal ‘Ashr, yakni oleh Imam Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin Rokhimahullahu.

Beliau pernah ditanya yang direkam dan dipublikasikan dalam “Liqooaatul Baabil Maftuuh”, dengan pertanyaan sebagai berikut :

السؤال: بالنسبة للأحكام الوضعية، هناك بلدان كثيرة تحكم بهذه الأحكام كما هو معروف، السؤال: معروف أن الإنسان مكره، قد يكره على القبول بحكم وضعي، لكن الحال فيمن له حقوق عند الناس ضرب وأخذ ماله وغير ذلك فهو حتى يحصل على هذا المال يحتاج إلى أن يتحاكم إلى الحكم الوضعي، وقد يكون في هذا الحكم الوضعي ما هو مخالف -وهو كثير- للأحكام الشرعية، فهل هناك إطلاق للتحاكم؟

________________________________________

الجواب: إذا لم نجد محكمة تحكم بالشريعة وصارت حقوقه من المال ستضيع فإننا نتحاكم إليهم لا على أن حكمهم شرع ولكن نجعلهم بمنزلة الشُرط نستخرج بهم حقوقنا، لاحظ هذا القيد: (لا يتحاكم إليهم على أن حكمهم شرع ولكن كأنهم شُرط يأخذون حقوقه) فلا بأس أن يتحاكم إليهم لاستخراج حقه، ولكن لو حكموا له بباطل شرعاً فإنه لا يجوز أن يأخذ به؛ لأنه لا يمكن أن يضيع حقوق الناس بحجة أن هؤلاء يحكمون بالقانون ولا يجد تحاكماً إلى الله ورسوله، يقول: أنا لا أتحاكم إليهم على أن قولهم فصل وحكم، لكن أتحاكم إليهم على أنهم شُرط يخرجون حقي أو أستخرج بهم حقي.

Soal :

“Dilihat dari Hukum-hukum wadh’iyyah, disana terdapat negeri-negeri yang berhukum dengan hukum-hukum wadh’iyyah sebagaimana hal ini telah diketahui. Pertanyaannya adalah : ‘telah maklum seorang (Muslim) terpaksa (menerima system hukum wadh’I ini-pent.), mereka tidak senang menerima hukum wadh’iy, namun kondisinya bagi orang-orang yang ingin mendapatkan haknya, ketika orang lain memukulnya (misalnya), mengambil hartanya dan sejenisnya, maka untuk mendapatkan harta yang dirampasnya tadi, ia harus berhukum dengan hukum wadh’I dan seringnya hukum wadh’I ini menyelisihi hukum-hukum syar’iyyah, maka apakah dalam hal ini diperbolehkan secara mutlak bertahkim dengan hal tesebut?

Jawab :

Jika tidak didapati pengadilan syariah, sehingga (dikhawatirkan) hak-hak berupa harta akan sia-sia, maka kita bertahkim kepada (pengadilan umum), bukan karena hukum pengadilan umum adalah syar’I, namun hal ini dijadikan sebagai sarana syarat mendapatkan hak-hak kita. Yang perlu dijadikan catatan adalah “kita tidak bertahkim kepada pengadilan umum, karena hukumnya syar’I, namun hal ini dijadikan seakan-akan syarat untuk mendapatkan hak-haknya”.  Maka tidak mengapa mengajukan ke pengadilan umum untuk mendapatkan haknya, namun jika mereka memutuskan dengan batil secara syariat, maka kita tidak boleh mengambil hak tersebut. Karena tidak mungkin untuk menyia-nyiakan hak manusia dengan dalil bahwa mereka memutuskan dengan undang-undang yang tidak merujuk kepada Allah dan Rasul-Nya. Kita katakan : ‘saya tidak bertahkim kepada pengadilan umum karena ucapan mereka adalah keputusan dan hukum (dari syariat Islam), namun saya bertahkim kepadanya karena hal tersebut sebagai syarat agar mereka menunaikan hak saya atau agar saya bisa mendapatkan hak saya”.

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: