PUASA ‘ASYURA

November 13, 2013 at 12:02 am | Posted in fiqih | Leave a comment

PUASA ‘ASYURA

Mukadimah

            Asyura adalah hari pada tanggal 10 bulan Muharram. Pada hari ini disyariatkan bagi kaum Muslimin untuk berpuasa. Artikel ini akan membahas seputar puasa asyura yang telah disyariatkan dalam agama ini, biidznillah.

Dalil disyariatkannya puasa Asyura

Puasa Asyura telah dikerjakan oleh bangsa Arab pada masa jahiliyyah dulu. Aisyah Rodhiyallahu anha bercerita :

أَنَّ قُرَيْشًا كَانَتْ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، ثُمَّ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِصِيَامِهِ حَتَّى فُرِضَ رَمَضَانُ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ شَاءَ فَلْيَصُمْهُ ، وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ »

“Orang quraisy sudah berpuasa hari Asyura pada zaman jahiliyah dahulu, lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memerintahkan (kaum Muslimin) berpuasa pada hari Asyura, hingga diwajibkannya puasa Ramadhan. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “Barangsiapa yang berkehendak silakan berpuasa (Asyura), barangsiapa yang mau tidak usah berpuasa”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Bahkan orang-orang Yahudi juga melestarikan puasa pada hari ini. Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu anhuma menuturkan :

قَدِمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ ، فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَقَالَ « مَا هَذَا » . قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِى إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ ، فَصَامَهُ مُوسَى . قَالَ « فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ » . فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam datang ke Madinah, lalu melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bertanya : “mengapa kalian berpuasa hari ini?”, mereka (orang-orang Yahudi) menjawab : ‘ini adalah hari baik, pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Isroil dari musuh mereka, maka Musa r pun berpuasa karenanya’. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menanggapi : “saya lebih berhak terhadap Musa dibandingkan kalian”. Maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun berpuasa dan memerintahkan (kaum Muslimin) berpuasa pada hari itu”. (muttafaqun ‘Alaih).

Abu Musa Rodhiyallahu anhu mengatakan dengan versi lain :

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَعُدُّهُ الْيَهُودُ عِيدًا ، قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « فَصُومُوهُ أَنْتُمْ »

“Hari Asyura dianggap orang Yahudi sebagai hari raya, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “Puasalah kalian pada hari Asyura”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Tidak hanya kaum Musyirikin dan orang-orang Yahudi yang melestarikan puasa pada hari ini, orang-orang Kristen juga melaksanakan puasa pada hari tersebut.  Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu anhu berkata :

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

“Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata : ‘wahai Rasullah ini adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani”. (HR. Muslim).

Sebelum datangnya kewajiban puasa Ramadhan, maka puasa Asyura ini hukumnya wajib, namun setelah diwajibkan puasa Ramadhan, maka puasa ini hukumnya sunnah. Aisyah Rodhiyallahu anha berkata :

كَانَ عَاشُورَاءُ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ لاَ يَصُومُهُ

“Asyura adalah hari yang orang Quraisy pada zaman jahiliya berpuasa padanya dan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun berpuasa, ketika Beliau datang ke Madinah, Beliau tetap berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu. Namun ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, maka barangsiapa yang berkehendak silakan berpuasa dan barangsiapa yang mau silakan tidak berpuasa”. (Muttafaqun ‘Alaih).

Keutamaan puasa Asyura

Puasa hari Asyura memiliki keutamaan bagi yang mengerjakannya, sehingga selayaknya bagi kaum muslimin bagi yang mampu untuk tidak meninggalkan puasa pada hari ini. Berikut beberapa keutamaan berpuasa pada hari Asyura :

  1. Allah menyelamatkan kaum nabi Musa r dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya, sehingga karena hal inilah Nabi Musa r berpuasa dalam rangka bersyukur terhadap nikmat Allah. Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu anhu berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Bahwa Rasullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam datang ke Madinah, Beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berkata kepada mereka : “mengapa kalian berpuasa pada hari ini?”, mereka menjawab : ‘ini hari agung, Allah menyelamatkan Nabi Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya, maka Nabi Musa r berpuasa dalam rangka bersyukar, sehingga kamipun ikut berpuasa’. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “kami lebih berhak dan lebih utama kepada Musa dibandingkan kalian”. Maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari Asyura”. (Lafadz HR. Muslim).

  1. Puasa Asyura dapat menghapus dosa pada tahun yang lalu.

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ »

“Nabi ditanya tentang puasa Asyura, maka jawab Beliau Sholallahu ‘alaihi wa Salaam : “ia dapat menghapuskan dosa pada tahun yang lalu”. (HR. Muslim).

  1. Ini adalah hari yang diutamakan oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhumaa berkata :

أن النبي صلى الله عليه و سلم لم يكن يتوخى فضل يوم على يوم بعد رمضان إلا عاشوراء

“Bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam tidak pernah sengaja mengutamakan suatu hari atas hari lainnya selain bulan Ramadhan, kecuali khusus hari Asyura” (HR. Thabrani, dihasankan oleh Imam Al Albani).

Mengikutkan puasa pada hari ke-9 Muharram dalam Puasa Asyura

Untuk menyelisihi ritual puasa Asyura yang dilakukan oleh orang Yahudi dan Nasrani, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mensyariatkan bagi umatnya untuk berpuasa juga sehari sebelumnya, yaitu pada tanggal 9 Muharram. Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu berkata :

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ». قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Ketika Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para sahabat berkata : ‘wahai Rasullah ini adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani”. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pun menanggapi : “tahun depan nanti –Insya Allah- kita berpuasa pada hari ke-9”. Namun Rasullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam keburu wafat sebelum melaksanakannya pada tahun depannya”. (HR. Muslim).

Hadits Palsu atau Sangat Lemah Berkaitan dengan Puasa Asyura

Mayoritas ulama kita memperbolehkan menggunakan hadits-hadits lemah dalam masalah fadhoil amal (keutamaan amal), namun mereka mempersyaratkan hadits yang digunakan tersebut bukan kategori sangat lemah, apalagi hadits palsu. Namun sebenarnya cukup bagi kita kaum Muslimin beramal dan mengharapkan pahala dari Allah r dengan hadits-hadits yang shahih, oleh karena itu, kami bermaksud menampilkan hadits-hadits lemah atau palsu yang berkaitan dengan puasa Asyura agar dapat dijadikan peringatan bagi kita semua. Berikut beberapa hadits-hadits tersebut :

  1. Dari Jaabir Rodhiyallahu anhu, diriwayatkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

من وسع على نفسه وأهله يوم عاشوراء وسع الله عليه سائر سنته

“Barangsiapa yang merasa lapang dirinya dan keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan seluruh harinya dan setahun”. (HR. Baihaqi dan selainnya).

 Imam Al Albani dalam “Tamaamul minnah” menilai bahwa hadits Jaabir memiliki 2 jalan, yang pertama didalamnya ada perowi yang bernama Muhammad bin Yunus seorang pendusta. Jalan yang kedua didalam sanadnya ada Al Fadhl bin Hubaab, perowi yang mukhtalit (bercampur hapalannya) dan Ibnuz Zubair seorang perowi Mudallis dan ia meriwayatkan dengan ‘an’anah. Al Hafidz Ibnu Hajar menilai hadits ini sebagai hadits yang sangat mungkar.

  1. Dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu, diriwayatkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

عاشوراء يوم التاسع

“Hari Asyura adalah pada tanggal 9 Muharram”. (HR. Abu Nu’aim).

Imam Al Albani dalam “Adh-Dhoifah” (no. 3849) berkata :

قلت: وهذا متن موضوع، وإسناده ضعيف جداً؛ آفته أبو أمية هذا؛ قال ابن حبان: “لا يحل الرواية عنه”. وضعفه الدارقطني. وأما أن متنه موضوع؛ فواضح من تواتر أنه اليوم العاشر في أحاديث عدة في صيامه – صلى الله عليه وسلم – يوم عاشوراء، وأمره به، والحض عليه، وبيان فضل صيامه، وغير ذلك من الأحاديث الكثيرة، كلها مجمعة على أن عاشوراء هو يوم العاشر من محرم الحرام.

“Matan hadits ini palsu, sanadnya sangat lemah sekali, kesalahan ada pada Abu Ummayyah, Ibnu Hibban berkata : ‘tidak halal meriwayatkan darinya’. Hadits ini didhoifkan oleh Daruquthni, adapun alasan matannya palsu adalah sangat jelas karena mutawatirnya bahwa Asyura adalah hari kesepuluh yang terdapat dalam hadits yang sangat banyak tentang puasanya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam pada hari kesepuluh dan perintah Beliau terhadapnya, anjuran Beliau dan juga keutamaannya dan selainnya dari hadits-hadits yang banyak, semuanya sepakat bahwa Asyura adalah hari ke-10 bulan Muharram”.

  1. Diriwayatkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda tentang peristiwa yang terjadi pada hari Asyura yang dialami oleh para Nabi terdahulu :

فجرت بهم السفينة ستة أشهر، آخر ذلك يوم عاشوراء؛ أهبط على الجودي، فصام نوح ومن معه والوحش؛ شكراً لله عز وجل. وفي يوم عاشوراء أفلق الله البحر لبني إسرائيل. وفي يوم عاشوراء تاب الله عز وجل على آدم – صلى الله عليه وسلم – وعلى مدينة يونس، وفيه ولد إبراهيم – صلى الله عليه وسلم -)

“Kapal Nabi Nuh r berlayar selama 6 bulan dan berakhir (banjir bahnya) pada hari Asyura, terdampar diatas bukit Juudiy, maka Nuh dan kaumnya berpuasa dalam rangka bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla. Pada hari Asyura, Allah membelah lautan untuk bani Isroil. Pada hari ini, Allah menerima taubatnya Nabi Adam r dan kaumnya Nabi Yunus r. Pada hari ini Nabi Ibrohim r dilahirkan”. (HR. Thabrani).

Imam Al Albani dalam “Adh-Dhoifah” (no. 5413) berkata :

قلت: وهذا موضوع؛ آفته عثمان بن مطر؛ قال ابن حبان (2/ 99) : “يروي الموضوعات عن الأثبات”. وشيخه عبد الغفور؛ قريب منه. وبه أعله الهيثمي، فقال (3/ 188) : “وهو متروك”. قلت: وقال ابن حبان (2/ 148) : “كان ممن يضع الحديث على الثقات على كعب وغيره، لا يحل كتابة حديثه ولا الذكر عنه إلا على جهة الاعتبار”.

“Hadits ini palsu, kesalahan ada pada Utsman bin Mathor, Ibnu Hibban berkata : ‘ia meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perowi kuat’. Gurunya Abdul Ghofur mirip kondisinya, karennya Al Haitsami mencacatnya, beliau berkata : ‘ia matruk’. Ibnu Hibban berkata : ‘ia termasuk orang yang memalsukan hadits terhadap perowi tsiqot atas nama Ka’ab dan selainnya, tidak halal menulis kitabnya dan tidak boleh menyebutnya, kecuali sekedar untuk penelitian”.

  1. Hadits berkaitan dengan puasa tanggal 11 Muharram, diriwayatkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ، صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا، أَوْ بَعْدَهُ يَوْمًا

“Berpuasalah pada hari Asyura dan selisihilah Yahudi, berpuasalah satu hari sebelumnya atau satu hari setelahnya”. (HR. Ahmad dan selainnya).

Syaikh Syu’aib Arnauth ketika mentahqiq Musnad Ahmad berkata :

إسناده ضعيف، ابن أبي ليلى -واسمه محمد بن عبد الرحمن- سيىء الحفظ، وداود بن علي -وهو ابن عبد الله بن عباس الهاشمي- روى عنه جمع، وذكره ابن حبان في “الثقات”، وقال: يخطىء، وقال الإِمام الذهبي: وليس حديثه بحجة

“sanadnya dhoif, Ibnu Abi Laila –namanya Muhammad bin Abdur Rokhman- jelek hapalannya dan Dawud bin Ali –ibnu Abdiilah bin Abbas Al Hatsimiy-diriwayatkan oleh jamaah, Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats-tsiqot dan berkata : ‘ia keliru’. Imam Adz-Dzahabi berkata : ‘haditsnya bukan hujjah’”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: