HADITS PALSU DALAM SUNAN IBNU MAJAH (HADITS KE-16)

November 16, 2013 at 4:58 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

16. Hadits no. 1461, Imam Ibnu Majah berkata :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ مُبَشِّرِ بْنِ عُبَيْدٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لِيُغَسِّلْ مَوْتَاكُمُ الْمَأْمُونُونَ»

“Haddatsanaa Muhammad ibnul Mushoffaa Al Himshiy ia berkata, haddatsanaa Baqiyyah ibnul Waliid dari Mubasysyir bin Ubaid dari Zaid bin Aslam dari Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “Hendaknya yang memandikan jenazah adalah orang yang dapat menjaga amanah”.

Mari kita bedah para perowinya :

  1. Al Himshiy dan Baqiyyah telah berlalu.
  2. Mubasysyir, Imam Ahmad menilainya : “ليس بشىء ، يضع الحديث” (tidak ada apa-apanya, pemalsu hadits). Imam Daruquthni berkata : “متروك الحديث ، يضع الأحاديث و يكذب” (matrukul hadits, memalsukan hadits dan berdusta). Imam Ibnu Hibban berkata : “روى عن الثقات الموضوعات ، لا يحل كتب حديثه إلا تعجبا” (meriwayatkan dari para perowi tsiqoh hadits-hadits palsu, tidak halal menulis haditsnya, kecuali untuk takjub saja). (tahdzibain).
  3. Zaid bin Aslam seorang ulama yang masyhur dengan ketsiqohannya.

Imam Al Albani dalam tahkiqnya terhadap hadits ini berkata : “موضوع” (hadits palsu).

Imam Al Albani dalam “Adh-Dhoifah” (no. 4395) mengatakan :

قلت: وهذا موضوع. قال الحاكم: “هذا حديث منكر، لاأعلم لمبشر بن عبيد متابعاً فيه”. وقال البوصيري (91/ 1) : “بقية؛ مدلس، وقد رواه بالعنعنة. وشيخه؛ قال فيه أحمد بن حنبل: أحاديثه كذب موضوعة. وقال البخاري: منكر الحديث. وقال الدارقطني: متروك الحديث، يضع الحديث، ويكذب”.

“ini hadits palsu, Al Hakim berkata : ‘ini hadits mungkar, aku tidak mengetahui untuk Mubasysyir bin Ubaid memiliki penguat. Bushiri (1/91) berkata : ‘Baqiyyah mudallis dan ia meriwayatkan dengan ‘an’anah, sedangkan gurunya (Mubasysyir), Ahmad berkata : ‘hadits-haditsnya dusta dan palsu’. Bukhori berkata : ‘mungkarul hadits’. Daruquthni berkata : ‘matrukul hadits, memalsukan hadits dan berdusta’”.

Adapun berkaitan dengan makna hadits ini, yakni agar orang yang bertugas memandikan jenazah adalah orang-orang yang menjaga amanah, karena Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menjanjikan bagi orang yang memandikan jenzah dan mampu menutupi aib si mayyit akan mendapatkan pahala yang besar. Imam Al Albani dalam “Ahkamul Janaiz” masalan no. 30 berkata :

ولمن تولى غسله أجر عظيم بشرطين اثنين: الأول: أن يستر عليه، ولا يحدث بما قد يرى من المكروه، لقوله صلى الله عليه وسلم: ” من غسل مسلما فكتم عليه غفر له الله أربعين مرة، ومن حفر له فأجنه أجري عليه كأجر مسكن أسكنه إياه إلى يوم القيامة، ومن كفنه كساه الله يوم القيامة من سندس واستبرق الجنة “. أحرجه الحاكم (1/ 354، 362) والبيهقي (3/ 395) من حديث أبي رافع رضي الله عنه، وقال الحاكم: ” صحيح على شرط مسلم “. ووافقه الذهبي، وهو كما قالا. وقد رواه الطبراني في ” الكبير ” بلفظ: ” أربعين كبيرة “. وقال المنذري (4/ 171) وتبعه الهيثمي (3/ 21): ” رواته محتج بهم في الصحيح “. وقال الحافظ ابن حجر في ” الدراية ” (1 40): ” إسناده قوي “.

“bagi orang yang diserahi untuk memandikan pahala akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan 2 syarat, yang pertama : ia menyembunyikan aib jenazah, jangan menceritakan sesuatu yang tidak disukai yang terlihat pada jenazah, karena sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam : “Barangsiapa yang memandikan jenazah seorang Muslim, lalu ia menyembunyikan (aibnya), maka Allah akan mengampuni dosanya sebanyak 40 kali dan barangsiapa yang membuatkan liang lahatnya, maka akan mendapatkan pahala seperti pahalanya seorang yang member rumah kepada orang miskin sampai hari kiamat dan barangsiapa yang mengkafaninya, maka Allah akan memakaikan pakaian untuknya pada hari kiamat dari “sandas dan istabroq surga”.

Diriwayatkan oleh Hakim, Baihaqi dari haditsnya Abu Roofi’ Rodhiyallahu anhu. Al Hakim berkata : ‘shahih atas syarat Muslim’. Lalu disetujui oleh Adz-dzahabi dan demikian sebagaimana yang mereka katakan.

Telah diriwayatkan oleh Thabrani dalam “Al Kabiir” dengan lafadz : “40 dosa besar”. Al Mundziri berkata, kemudian diikuti oleh Al Haitsamiy : ‘para perowinya adalah yang dijadikan hujjah dalam hadits shahih’. Al Hafidz dalam “Ad-Duriyyah” berkata : ‘sanadnya kuat’”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: