HADITS PALSU DALAM SUNAN IBNU MAJAH (HADITS KE-27)

November 23, 2013 at 2:22 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

27. Hadits no. 2736, Imam Ibnu Majah berkata :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا: حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ، وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى: عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَامَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَقَالَ: «الْمَرْأَةُ تَرِثُ مِنْ دِيَةِ زَوْجِهَا وَمَالِهِ، وَهُوَ يَرِثُ مِنْ دِيَتِهَا وَمَالِهَا، مَا لَمْ يَقْتُلْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَا قَتَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ عَمْدًا لَمْ يَرِثْ مِنْ دِيَتِهِ وَمَالِهِ شَيْئًا، وَإِنْ قَتَلَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ خَطَأً وَرِثَ مِنْ مَالِهِ وَلَمْ يَرِثْ مِنْ دِيَتِهِ»

  “Haddatsanaa Ali bin Muhammad dan Muhammad bin Yahya keduanya berkata, haddatsanaa Ubaidillah bin Musa dari Al Hasan bin Shoolih dari Muhammad bin Sa’id. Muhammad bin Yahya berkata dari Umar bin Sa’id dari ‘Amr bin Syu’aib ia berkata,  haddatsanii Bapakku dari Kakekku Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berdiri pada saat penaklukkan Mekkah, beliau bersabda : “seorang istri mendapatkan warisan diyat  dan harta suaminya, begitu juga suami mendapatkan warisan diyat dan harta istrinya, selama salah satunya tidak saling membunuh. Jika salah suami-istri membunuh pasangannya secara sengaja, maka ia tidak mewarisi diyat dan hartanya sedikitpun, namun jika pembunuhan karena kesalahan (yang tidak disengaja), maka ia mewarisi hartanya, namun tidak mewarisi diyatnya”.

Mari kita bedah para perowinya :

  1. Ali bin Muhammad, wafat pada tahun 233 atau 235 H, dinilai tsiqoh oleh Al Hafidz dalam “At-taqriib”.
  2. Muhammad bin Yahya Adz-Dzahiliy, lahir tahun 172 H dan wafat pada tahun 258 H, salah satu guru Imam Bukhori, seorang Imam yang tsiqoh.
  3. Ubadillah, lahir pada tahun 128 H dan wafat tahun 213 H, perowi Bukhori-Muslim, Al Hafidz berkata : “ثقة ، كان يتشيع” (tsiqoh, ia condong kepada syiah).
  4. Al Hasan bin Shoolih, lahir pada tahun 100 H dan wafat pada tahun 169 H, perowi Muslim, dinilai oleh Al Hafidz : “ثقة فقيه عابد رمى بالتشيع” (tsiqoh, faqih, ahli ibadah, tertuduh condong kepada syiah).
  5. Muhammad bin Sa’id, julukannya adalah Al Masluub (yang disalib) karena ia dibunuh dengan cara disalib oleh penguasa pada waktu itu, akibat perbuatan zindiknya dan telah memalsu ribuan hadits.
  6. Imam Adz-Dzahiliy meriwayatkan dari Umar bin Sa’id, sebagai ganti Muhammad bin Sa’id, barangkali ini adalah kekeliruan dari Imam Adz-Dzahiliy, oleh karenanya Imam Adz-Dzahabi merajihkan bahwa ia adalah Muhammad bin Sa’id, sebagaimana diatas.
  7. ‘Amr bin Syu’aib dari Bapaknya dari Kakeknya adalah silsilah hadits hasan.

Imam Al Albani dalam tahkiqnya terhadap hadits ini berkata : “موضوع” (hadits palsu).

Imam Bushiriy dalam “Az-Zawaaid”  berkata :

هَذَا إِسْنَاد ضَعِيف مُحَمَّد بن سعيد هُوَ المصلوب قَالَ أَحْمد بن حَنْبَل حَدِيثه مَوْضُوع وَقَالَ مرّة عمدا كَانَ يضع الحَدِيث وَقَالَ قَالَ أَبُو أَحْمد الْحَافِظ كَانَ يضع الحَدِيث صلب على الزندقة وَقَالَ الْحَاكِم أَبُو عبد الله هُوَ سَاقِط بِلَا خلاف بَين أَئِمَّة النَّقْل فِيهِ وَقَالَ الفلاس حدث بِأَحَادِيث مَوْضُوعَة قَالَ الْمزي فِي الْأَطْرَاف وَقع فِي بعض النّسخ الْمُتَأَخِّرَة عمر بن سعيد وَالصَّوَاب عمر بن سعيد كَمَا وَقع فِي عَامَّة الْأُصُول الْقَدِيمَة وَقَالَ الذَّهَبِيّ فِي الكاشف عمر بن سعيد عَن عمر بن شُعَيْب وَعَن الْحسن بن صَالح وَصَوَابه مُحَمَّد بن سعيد انْتهى

“hadits ini lemah, Muhammad bin Sa’id adalah orang yang disalib, Ahmad bin Hanbal berkata, haditsnya palsu, dalam kesempatan lain, beliau berkata : ‘ia memalsukan hadits’. Abu Ahmad Al Hafidz berkata : ‘ia memalsukan hadits, disalib karena zindiknya’. Al Hakim berkata : ‘ia gugur (riwayatnya) tanpa ada perselisihan dikalangan Aimah Hadits’. Al Falaas berkata : ‘ia meriwayatkan hadits-hadits palsu’. Al Mizziy berkata dalam “Al Athrof” : ‘terdapat dalam naskah ulama mutaakhirin perowinya adalah ‘Amr bin Said, yang benar adalah Umar bin Said, sebagaimana terdapat dalam naskah pokok ulama terdahulu’. Adz-Dzahabi dalam “Al Kaasyif” berkata : ‘Umar bin Said dari ‘Amr bin Syu’aib dan dari Al Hasan bin Shoolih, yang benar adalah Muhammad bin Said”.

Imam Al Albain dalam “Adh-Dhoifah” (no. 4674) berkata :

قلت: وهذا إسناد موضوع؛ آفته محمد بن سعيد؛ وهو المصلوب في الزندقة، وهو كذاب وضاع، وهو عمر بن سعيد نفسه في رواية محمد بن يحيى.

“sanad ini palsu, kesalahan ada pada Muhammad bin Said, ia orang yang disalib karena zindiknya, ia pendusta dan pemalsu hadits. Umar bin said adalah Muhammad bin Said itu sendiri, seperti dalam riwayat Muhammad bin Yahya”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: