HADITS PALSU DALAM SUNAN IBNU MAJAH (HADITS KE-28)

November 23, 2013 at 3:01 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

28. Hadits no. 2768, Imam Ibnu Majah berkata :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَعْلَى السُّلَمِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ صُبْحٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَرِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مِنْ وَرَاءِ عَوْرَةِ الْمُسْلِمِينَ، مُحْتَسِبًا مِنْ غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنْ عِبَادَةِ مِائَةِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا، وَرِبَاطُ يَوْمٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مِنْ وَرَاءِ عَوْرَةِ الْمُسْلِمِينَ، مُحْتَسِبًا مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ أَفْضَلُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَعْظَمُ أَجْرًا – أُرَاهُ قَالَ – مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا، فَإِنْ رَدَّهُ اللَّهُ إِلَى أَهْلِهِ سَالِمًا، لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْهِ سَيِّئَةٌ أَلْفَ سَنَةٍ، وَتُكْتَبُ لَهُ الْحَسَنَاتُ، وَيُجْرَى لَهُ أَجْرُ الرِّبَاطِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ»

“Haddatsanaa Muhammad bin Ismail bin Samurah ia berkata, haddatsanaa Muhammad bin Ya’laa As-Sulamiy ia berkata, haddatsanaa Umar bin Shubh dari Abdur Rokhman bin ‘Amr dari Makhuul dari Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “sungguh berjaga di jalan Allah dibelakang auratnya kaum muslimin, dalam keadaan mengharapkan (pahala) pada selain bulan ramadhan, akan mendapatkan ganjaran yang lebih besar daripada beribadah 100 tahun dengan puasa dan sholat (terus-menerus) dan berjaga di jalan Allah dibelakang auratnya kaum Muslimin, dalam keadaan mengharapkan (pahala) pada bulan Romadhon, lebih utama dan lebih besar ganjarannya daripada beribadah 1000 tahun, puasa dan sholat (terus-menerus), jika ia kembali kepada keluarganya dalam keadaan selamat, tidak akan dituliskan baginya kesalahan selama 1000 tahun, akan ditulis kebaikan dan mengalir pahala berjaga di jalan Allah, sampai hari kiamat”.

Mari kita bedah para perowinya :

  1. Ibnu Samuroh, seorang perowi tsiqoh.
  2. Muhammad bin Ya’laa, perowi dhoif.
  3. Umar bin Shubh, Imam Ishaq bin Rohawiyah berkata : “aku meninggalkan khurosan, ada 3 orang yang tidak ada yang menyerupainya –yakni dalam bid’ah dan kedustaan- mereka adalah Jahm bin Shofwan, Umar bin Shubh, dan Muqootil bin Sulaiman”. Imam Ibnu Hibban berkata : “ia memalsukan hadits atas nama perowi tsiqoh, tidak halal menulis haditsnya, kecuali karena takjub saja”. Imam Al Azdiy juga menilainya sebagai pendusta. Imam Abu Nu’aim berkata : “ia meriwayatkan dari Qotadah dan Muqotil, hadits-hadits palsu”. (Tahdzibain).
  4. Abdur Rokman bin ‘Amr Al Auzaa’I, seorang syaikhul Islam pada zamannya.
  5. Makhuul, seorang Imam Tabi’in pada zamannya, namun dalam hal ini beliau tidak pernah mendengar dari Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu anhu.

Imam Al Albani dalam tahkiqnya terhadap hadits ini berkata : “موضوع” (hadits palsu).

Imam Bushiriy dalam “Az-Zawaaid”  berkata :

هَذَا إِسْنَاد ضَعِيف لضعف مُحَمَّد بن يعلى وَشَيْخه عمر بن صبح قلت وَمَكْحُول لم يدْرك أبي بن كَعْب وَمَعَ ذَلِك فَهُوَ مُدَلّس وَقد عنعنه وَقَالَ عبد الْعَظِيم الْمُنْذِرِيّ فِي كتاب التَّرْغِيب والترهيب فِي بَاب الرِّبَاط وآثار الْوَضع عَلَيْهِ ظَاهر قَالَ وَلَا عجب فراوية عمر بن صبح الْخُرَاسَانِي وَلَوْلَا أَنه فِي الْأُصُول لما ذكرته

 “hadits ini lemah, karena kelemah Muhammad bin Ya’laa dan gurunya Umar bin Shubh. Aku berkata : ‘Makhuul tidak berjumpa dengan Ubay bin Ka’ab Rodhiyallahu anhu, disamping itu juga, beliau mudallis dan disini meriwayatkan dengan ‘an’anah. Abdul Adhiim Al Mundiriy berkata dalam kitabnya “Targhiib wa Tarhiib” di bab Ar-Ribaath : ‘atsar ini palsu dan sangat jelas kepalsuannya, hal ini tidak mengherankan karena diriwayatkan oleh Umar bin Shubh Al Khurosaaniy, seandainya hadits ini tidak ada dalam kitab induk, aku tidak akan menyebutkannya’”.

Imam Al Albani dalam “Adh-Dhoifah” (no. 836) menambahkan :

ونقل أبو الحسن السندي في ” حاشيته على ابن ماجه ” عن الحافظ ابن كثير أنه قال: ” أخلق بهذا الحديث أن يكون موضوعا، لما فيه من المجازفة، ولأنه من رواية عمر بن صبيح أحد الكذابين المعروفين بوضع الحديث “.

 “dinukil oleh Abul Hasan As-Sindiy dalam “Hasiyah Ibnu Majah” dari Al Hafidz Ibnu Katsiir bahwa beliau berkata : ‘dibuat hadits ini, yakni ini adalah hadits palsu, ketika didalamnya terdapat perkara yang berlebihan, dan karena ini adalah riwayat Umar bin Shubh salah satu pendusta yang sudah dikenal sebagai pemalsu hadits”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: