JANGAN BERPENDAPAT SESUATU YANG TIDAK ADA SALAFNYA

November 23, 2013 at 6:35 am | Posted in fiqih | Leave a comment

JANGAN BERPENDAPAT SESUATU YANG TIDAK ADA SALAFNYA

          Jalan salaf adalah jalan keselamatan, salaf disini adalah salafus sholeh yaitu penghulunya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam yang diikuti oleh para sahabat Rodhiyallahu anhum, para tabi’in dan generasi setelah mereka yang mengikuti jalan dan manhaj mereka. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda kepada putrid beliau Fatimah Rodhiyallahu anha  :

“bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, aku adalah sebaik-baik salaf bagimu” (HR. Muslim).

Tentunya seorang Muslim yang lurus agamanya, tidak akan ragu lagi bahwa kebahagian dunia dan akhiratnya serta keberhasilan dalam perkara duniawi dan ukhrowi adalah dengan mengikuti para salafus sholeh. Karena Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah : 100).

Coba perhatikan dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’aalaa mengatakan bahwa orang yang mengikuti jalan salaf, itu akan mendapatkan Fauz (kesuksesan) adhiim (sangat besar).

Termasuk didalam rangka mengikuti jalan salaf adalah dalam membahas suatu permasalahan agama, yaitu seorang tidak keluar dari pendapatnya mereka didalam memahami suatu dalil, karena mereka adalah kaum yang sangat berantusian didalam menggali dan mengamalkan ajaran Islam, tidak ada satu permasalahan yang mereka tinggalkan, kecuali telah diwariskan dan diajarkan kepada kita. Allah Azza wa Jalla mengingatkan dengan keras orang-orang yang menyelisihi jalan salaf. Firman-Nya :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An-Nisaa’ : 115).

Jalan Mukmin dalam ayat tersebut adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuiti mereka dengan baik. Imam Al Albani pernah menjawab sebuah pertanyaan, lalu kemudian beliau memberikan jawaban dan menjelaskan ayat diatas, kata beliau :

لأن النبي – صلى الله عليه وآله وسلم – قال في الحديث المعروف وأقتصر منه الآن على الشاهد منه: «وسَتَفْتَرِقُ أمتي على ثلاثٍ وسبعين فِرْقَة كلها في النار إلا واحدة» قالوا: من هي يا رسول الله؟ قال: «هي الجماعة»  الجماعة: هي سبيل المؤمنين، فالحديث إنْ لم يكن وحياً مباشراً من الله على قلب نبيه – صلى الله عليه وآله وسلم -، وإلا فهو اقتباس من الآية السابقة: {ويتبع غير سبيل المؤمنين} إذا كان من يشاقق الرسول ويتبع غير سبيل المؤمنين قد أُوْعِدَ بالنار، فالعكس بالعكس: من اتبع سبيل المؤمنين فهو مَوْعود بالجنة ولا شك ولا ريب، إذن رسول الله لما أجاب عن سؤال: ما هي الفرقة الناجية؟ من هي؟ قال: «الجماعة»، إذن، الجماعة: هي طائفة المسلمين، ثم جاءت الرواية الأخرى تُؤَكِّدُ هذا المعنى بل وتزيده إيضاحاً وبياناً، حيث قال عليه السلام: «هي ما أنا عليه وأصحابي»، «أصحابي» إذن هي سبيل المؤمنين

“karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda dalam sebuah hadits yang terkenal dan aku akan meringkaskan sebagai dalil dalam masalah ini : “akan berpecah umatku menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali 1 golongan”. Para sahabat bertanya : ‘siapa mereka, wahai Rasulullah?’, Nabi menjawab : “ia adalah Jamaah”.

Jamaah itulah jalan kaum mukminin. Hadits ini, sekalipun bukan wahyu langsung dari Allah kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, namun ia berhubungan dengan ayat sebelumnya : “mengikuti bukan jalannya kaum Mukminin”. Jika ada orang yang menyakiti Rasul dan mengikuti bukan jalannya Mukminin, maka ia diancam dengan neraka, begitu juga kebalikannya, barangsiapa yang mengikuti jalan Mukiminin, maka ia dijanjikan dengan surga, tanpa ada ada keraguan dan kebimbangan lagi. Oleh sebab itu, Rasulullah ketika menjawab pertanyaan, siapakah kelompok yang selamat?, beliau Sholallahu ‘alaihi wa Salaam menjawab : “Al Jamaah”. Sehingga Al Jamaah adalah kelompok Muslimin.

Kemudian terdapat riwayat lain yang menguatkan makna ini, bahkan lebih jelas maksudnya, tatkala Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “mereka adalah apa yang saya dan para sahabatku berada diatasnya”. Sehingga itulah yang dimaksud dengan jalan kaum Mukminin”. (Mausu’ah Al Albani fil Aqidah, karya Syaikh Syaadiy Alu Nu’maan).

 

Terdapat sebuah pernyataan Imam Ahmad yang cukup terkenal berkaitan dengan permasalahan ini. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya “Siyaar A’lamin Nubalaa’” ketika menyebutkan biografi Imam Ahmad bin Hanbal menukil perkataan sahabat beliau yaitu Al Ma’muniy, katanya :

قال لي أحمد: يا أبا الحسن، إياك أن تتكلم في مسألة ليس لك فيها إمام.

“Ahmad berkata kepadaku : ‘wahai Abul Hasan, hati-hatilah engkau untuk berpendapat tentang suatu permasalahan yang engkau tidak memiliki Imam (salaf) padanya”.

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “Majmu Fatawanya”  menukilkan juga kepada kita, bahwa pada waktu Imam Ahmad mendapatkan ujian dari penguasa dan para ulama penjilatnya agar menyatakan bahwa “Al Qur’an Makhluk”, maka dengan keteguhan manhajnya, Imam Ahmad berkata :

كَيْفَ أَقُولُ مَا لَمْ يُقَلْ

“Bagaimana (bisa) aku mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan (oleh salaf)?”.

Na’am, pendapat bahwa Al Qur’an makhluk adalah pendapat baru yang tidak pernah didengungkan, diucapkan, diyakini dan diterangkan oleh para salag dari kalangan sahabat, tabi’in dan para Aimah setelahnya, namun ini adalah pendapat bid’ahnya Mu’tazilah dan yang semadzhab dengannya.

Selain pernyataan beliau dengan lisan yang menunjukkan agar kita mengikuti jalan salaf, Imam Ahmad juga menuliskannya dalam sebuah kitab yang kemudian diberi nama “Ushulus Sunnah”  kata beliau dalam permulaan kitabnya :

أصُول السّنة عندنَا التَّمَسُّك بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَاب رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم والاقتداء بهم

“Pokok-pokok sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan sesuatu yang para sahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berada diatasnya dan mengikuti mereka”.

Sejarah telah mencatat bahwa tersesatnya sebagian kelompok kaum Muslimin adalah dalam cara mereka memahami ayat Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, yakni mereka tidak memahaminya sesuai dengan jalan kaum mukminin, jalannya para salaf, yaitu manhajnya kaum yang Nabi dan para sahabatnya berada diatasnya. Padahal dahulu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam telah mensinyalir keberadaan mereka. Aisyah Rodhiyallahu anha menuturkan kepada kita :

تَلاَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- (هُوَ الَّذِى أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلاَّ اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِى الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُو الأَلْبَابِ) قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ »

“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam membacakan ayat : “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (QS. Ali Imron : 7). Kata Beliau Sholallahu ‘alaihi wa Salaam : “

“Jika engkau melihat orang-orang yang mencari-cari hal syubhat, itulah orang-orang yang disinggung oleh Allah (dalam ayat ini), maka berhati-hatilah dari mereka”.

Silakan dipelajari bagaimana munculnya sekte-sekte dalam islam, niscaya engkau akan mendapatkan sebab terbesar mereka tersesat adalah karena tidak mengikuti jalan salaf, ambillah contoh sekte Mu’tazilah yang dicetuskan oleh Washil bin ‘Athoo’, ia dulunya adalah murid Imam Al Hasan Al Bashri salah seorang Imamnya Tabi’in pada waktu itu, kemudian Washil ini berpendapat sendiri tentang pelaku dosa besar dari kalangan kaum Muslimin, kata washil pelaku dosa besar diantara Mukmin dan Kafir, ini hukumnya didunia, sedangkan di akhirat maka ia kekal di neraka. Maka Washil telah I’tizal (memisahkan diri) dari gurunya dan para Aimah salaf lainnya, yang mereka berpendapat bahwa pelaku dosa besar selain syirik dari kalangan kaum Muslimin,  masih dihukumi sebagai Muslim dan jika mati belum sempat bertaubat, maka dibawah kehendak Allah, jika berkehendak Allah akan mengampuni seluruh dosanya dan jika berkehendak Allah akan mengadzabnya terlebih dahulu, namun ia tidak kekal di neraka.

Contoh lainnya lagi adalah Ma’bad Al Juhani, ia adalah pelopor sekte Qodariyyah yang mengingkari takdir Allah dan mengatakan bahwa ilmu Allah baru, artinya Allah Azza wa Jalla, tidak mengetahui sesuatu, kecuali setelah terjadi perkara tersebut, padaha pada zaman Ma’bad hidup, masih ada para sahabat yang masih hidup, namun ia memilih untuk menyelisihi jalan salaf sehingga ia sesat dan menyesatkan. Tatkala wabah pemikiran Ma’bad ini mulai menjalar, para ulama Tabi’in berinisiatif untuk mengkonsultasikan hal tersebut kepada para sahabat, dalam hal ini mereka diwakili oleh Yahya bin Ya’mar dan Humaid bin Abdur Rokhman. Imam Muslim dalam Shahihnya, kitab Imam hadits ke-1 meriwayatkan kepada kita, katanya :

حَدَّثَنِي أَبُو خَيْثَمَةَ زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ كَهْمَسٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، ح وحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ – وَهَذَا حَدِيثُهُ – حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا كَهْمَسٌ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، قَالَ: كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ، فَانْطَلَقْتُ أَنَا وَحُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِمْيَرِيُّ حَاجَّيْنِ – أَوْ مُعْتَمِرَيْنِ – فَقُلْنَا: لَوْ لَقِينَا أَحَدًا مَنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَسَأَلْنَاهُ عَمَّا يَقُولُ هَؤُلَاءِ فِي الْقَدَرِ، فَوُفِّقَ لَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ دَاخِلًا الْمَسْجِدَ، فَاكْتَنَفْتُهُ أَنَا وَصَاحِبِي أَحَدُنَا عَنْ يَمِينِهِ، وَالْآخَرُ عَنْ شِمَالِهِ، فَظَنَنْتُ أَنَّ صَاحِبِي سَيَكِلُ الْكَلَامَ إِلَيَّ، فَقُلْتُ : أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ قَدْ ظَهَرَ قِبَلَنَا نَاسٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، وَيَتَقَفَّرُونَ الْعِلْمَ، وَذَكَرَ مِنْ شَأْنِهِمْ، وَأَنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنْ لَا قَدَرَ، وَأَنَّ الْأَمْرَ أُنُفٌ، قَالَ: «فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ، وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي»، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ «لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ»

“ Haddatsanii Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb, haddatsanaa Wakii’ dari Kahmas dari Abdullah bin Buroidah dari Yahya bin Ya’mar (ganti sanad).

Haddatsanaa Ubaidillah bin Mu’adz Al ‘Anbariy –ini adalah haditsnya- haddatsanaa Bapakku, haddatsanaa Kahmas dari Ibnu Buroidah dari Yahya bin Ya’mar ia berkata : ‘adalah yang pertama kali mengatakan tentang masalah takdir di Bashroh yaitu Ma’bad Al Juhaniy, maka aku dan Humaid bin Abdur Rokhman Al Himyariy pergi berhaji –atau umroh-, kami berkata : ‘kalau kita bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, kita akan bertanya tentang masalah ini yaitu masalah takdir. Kemudian kami berjumpa dengan Abdullah bin Umar bin Khothob Rodhiyallahu anhumaa sedang masuk masjid, maka kami segera menyusulnya dan mengapit beliau, sahabatku disebelah kanan Beliau dan aku disebelah kirinya. Aku mengira sahabatku menyerahkan perkaranya agar aku yang berkata kepada beliau, aku berkata : ‘Wahai Abdur Rokhman, sesungguhnya didaerah kami telah muncul sekelompok manusia yang membaca Al Qur’an dan membahas ilmu, lalu disebutkan kondisi mereka, mereka mempropagandakan bahwa tidak ada takdir dan perkara-perkara itu baru’. Ibnu Umar Rodhiyallahu anhu menjawab : “jika engkau bertemu dengan mereka, beritahu mereka, bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Allah, sekiranya salah seorang diantara mereka berinfak emas sebesar gunung Uhud, maka Allah tidak akan menerimanya, sampai mereka beriman kepada takdir”.

Lihatlah dari kisah ini, bahwa kesesatan adalah karena menyelisihi jalan Salaf dan kesuksesan adalah dengan menetapi jalan Salaf. Semoga kita semua termasuk salafy, pengikut salaf dalam segala hal agar dapat mencapai kebahagian dunia dan akhirat.

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: