Kewibawaan Imam Yahya (bag. 2)

November 25, 2013 at 10:53 pm | Posted in Siroh | Leave a comment

Kewibawaan Imam Yahya bin Ma’in ( 2 )

 

Ja’far Ath Thayalisi mendapat cerita dari Yahya bin Ma’in yang mengisahkan :

Ketika Abdul Wahhab bin ‘Atha’ datang, aku menghadap dan menulis hadits darinya. Saat aku disampingnya, tiba-tiba surat dari keluarganya di Bashra datang kepadanya. Dia membaca dan membalas surat tersebut. Aku pun melihatnya menulis di bagian luar surat, “ Aku telah sampai di Baghdad dan aku disambut oleh Yahya bin Ma’in, Alhamdulillaahi Robbil ‘aalamiin.

     Ibnu Muhraz bercerita, aku mendengar Yahya bin Ma’in  mengatakan bahwa suatu hari Ismail bin ‘Ulayyah bertanya kepadanya, “ Bagaimanakah hadits riwayatku?”

Yahya bin Ma’in menjawab, “ Kamu adalah orang yang riwayat haditsnya lurus/konsisten.”

“ Bagaimana engkau bisa tahu?” Tanya Isma’il bin ‘Ulayyah.

Yahya bin Ma’in menjawab,” Kami telah memaparkan didepan hadits-hadits perawi lain, dan kami melihat bahwa riwayatmu lurus.”

“ Alhamdulillah.” Dia terus mengucapkan hamdalah memuji Rabbnya hingga dia memasuki rumah Bisyr bin Ma’ruf. Dalam riwayat lain hingga dia memasuki rumah Abul Bakhtariy, dan aku masih bersamanya.

Ibnu Muhraz bercerita bahwa dia mendengar Yahya bin Ma’in berkata : Aku bersama Khalaf bin Al Bazzar, maka aku meminta kepadanya,” Bawalah kesini  kitab/tulisanmu.”

Dia ketakutan, lalu aku kembali berkata,” Bawalah kesini, rahimakallah ( semoga Allah merahmatimu).”

Lalu dia memberikan tulisannya kepadaku, dan aku menelitinya. Aku melihat bahwa riwayat hadits yang ditulisnya adalah lurus dan shahih, dan aku menulis beberapa riwayat darinya. Ya…aku menulis sebelas riwayat hadits darinya.

 

( Al Kaamil, Taarikh Baghdad, Taarikh Madinah Damsyiq, Ma’rifatur Rijaal )

 

Malhuudhoh :

  1. Diantara metode ahlu naqd ( kritikus ) hadits untuk mengetahui ketepatan atau kesempurnaan perawi adalah dengan membandingkan riwayat-riwayat seorang perawi dengan riwayat orang-orang yang terpercaya. Jika riwayatnya sama dengan perawi-perawi terpercaya tersebut maka dia termasuk perawi yang tsiqoh. Namun bila perowi tersebut tidak sama dengan perawi terpercaya maka harus dipilah terlebih dahulu antara ringan dan beratnya perbedaan yang ada.
  2. Ketelitian para peneliti dalam mengkritik perawi hingga mereka selalu merujuk kepada kitab asli dari perawi.
  3. Imam Ibnu Ma’in sangat terpandang dikalangan ahlul hadits, sehingga mereka sangat bersyukur jika Ibnu Ma’in memberikan ta’dil ( rekomendasi, pujian ) terhadapnya, dan mereka juga khawatir jika Ibnu Ma’in mencelanya sehingga mereka takut menunjukkan tulisan asli mereka.

(Ditulis Imam Mu’thi via email dengan sedikit editan)

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: