NAMA ABDUL MUN’IM DIPERBOLEHKAN?

November 27, 2013 at 1:45 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

MEMBERIKAN NAMA ANAK DENGAN ABDUL MUN’IM

 

Salah satu tugas orang tua adalah memberi nama anaknya dengan nama-nama yang baik, yang terkandung didalamnya doa dan pengharapan dari orang tua kepada anaknya, agar menjadi anak yang sholih dan sholihah. Diantara nama yang biasa diberikan oleh orang tua adalah mengkaitkan hamba (abdu) dengan nama-nama Allah yang Husna, seperti Abdullah, Abdur Rokhman, Abdul Aziz dan semisalnya.

Nama Abdu harus dikaitkan dengan Allah Azza wa Jalla, karena semua makhluk adalah hamba-Nya. Tidak boleh nama Abdu disandarkan kepada selain Allah Azza wa Jalla, karena berarti terkandung didalamnya penghambaan kepada selain Allah, yang berarti ia telah melakukan perbuatan syirik.

Dalam artikel ini saya akan mengulas penamaan seorang anak dengan nama Abdul Mun’im yang berarti “hambanya Yang Maha Pemberi Nikmat”. Yaitu apakah diperbolehkan orang tua menamai anaknya dengan nama “Abdul Mun’im” atau dengan kata lain apakah Al Mun’im adalah Nama dari Nama-Nama Allah yang Husna? Berikut ulasannya :

Syaikh Abdul Aziz Rajihi salah satu anggota Ulama besar dan Majelis ulama kerajaan Saudi Arabia dalam “Syarah Aqidah Thohawiyyah (1/129)”, pernah ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut :

س: هل يصح التسمي بعبد المنعم وعبد المحسن وعبد الناصر؟.

ج: إذا ثبت أنه اسم من أسماء الله يجوز ، عبد المحسن ثابت ولا يزال الأئمة والعلماء يعبّدون له وكذلك المنعم ما أذكر الآن الحديث الذي وردت فيه، لكن يغلب على الظن أنه ثابت والناصر جاء في: {وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ (150)} يحتاج إلى تأمل هل هو من أسماء الله أو ليس من أسماء الله”.

Soal : ‘Apakah benar pemberian nama Abdul Mun’im, Abdul Muhsin dan Abdun Naasir?’

Jawab : ‘jika telah tetap bahwa itu adalah nama dari nama-nama Allah, maka boleh. Abdul Muhsin telah tetap (bahwa itu Nama Allah), senantiasa para Aimah dan ulama menggunakan nama ini (Abdul Muhsin), demikian juga Al Mun’im, aku tidak bisa menyebutkan haditsnya disini sekarang, namun kuat dugaan bahwa (Al Mun’im) telah tetap (bahwa itu nama Allah). Adapun An-Naashir, Allah berfirman : { dan Dia-lah sebaik-baik Penolong } (QS. Ali Imroon : 150).

(semua ini) butuh kepada pengamatan apakah nama tersebut adalah nama Allah atau bukan nama Allah’.

Dari penjelasan Asy-Syaikh diatas kita mendapatkan faedah :

  1. Nama seorang dengan Abdu harus disandarkan kepada Asmaul Husna.
  2. Jika telah tetap bahwa hal tersebut adalah Asma Allah dapat dijadikan “mudhof ilaih” (yang dijadikan sandaran) untuk nama Abdu, misalnya Abdur Rokhman, Abdur Rokhim dan semisalnya.
  3. Menurut Asy-Syaikh Al Muhsin, An Naashir dan Al Mun’im adalah Asma’ul Husna, sehingga seorang boleh dinamakan dengan nama Abdul Muhsin, Abdun Naashir dan Abdul Mun’im.
  4. Khusus untuk Al Mun’im, Asy-Syaikh tidak ingat dalil yang menetapkan bahwa nama itu adalah Asma’ul Husna.

Sebelum kita masuk kedalam pembahasan apakah Al Mun’in nama Allah yang Husna, perlu diketahui bahwa penentuan sesuatu adalah Asma’ul Husna atau bukan adalah melalui jalan tauqifiyyah, artinya penamaan tersebut berasal dari wahyu baik yang tertera dalam Kitabullah maupun melalui lisan Rasul-Nya dalam hadits-hadits yang shahih (valid), tidak boleh penamaan Allah ini dengan jalan akal tanpa dalil yang shorih (yang jelas). Al Mun’im yang berarti Yang Maha Pemberi Nikmat adalah salah satu dari sifat Allah, karena Dialah Dzat yang Maha pemberi nikmat kepada hambanya dan nikmat yang terbaik didunia adalah keimanan dan diakhirat mendapatkan keridhoannya dengan ditempatkan kedalam jannahnya. Bukankah setiap Muslim minimal sehari semalam berdoa kepada Allah sebanyak 17 kali, agar mendapatkan kenikmatan-Nya. Kaum Muslimin berdoa dalam sholatnya :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah : 6-7).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunnan dan dishahihkan oleh Imam Al Albani, dari Anas bin Malik Rodhiyallahu anhu :

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.

فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى ».

“bahwa Anas Rodhiyallahu anhu bersama dengan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sedang duduk-duduk, lalu datang seorang yang sholat kemudian setelah selesai berdoa : ‘Ya Allah aku memohon kepada Engkau yang segala puji bagi-Mu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Al Mannaan (Maha pemberi Nikmat), Yang menciptakan langit dan bumi, wahai pemilik Ketinggian dan kemulian, wahai Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri’. Maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “sungguh ia telah berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang Agung, jika Dia diminta dengan doa seperti itu akan dikabulkan dan jika Dia diminta akan diberi”.

Syaikh DR Said Al Qohthon dalam “Syarah Asma’ul Husna”  menetapkan bahwa Al Mannaan adalah termasuk Asma’ul Husna, lalu beliau berkata tentang makna Nama Al Mannaan ini :

قال ابن الأثير في النهاية في غريب الحديث : (المنان) هو المنعم المعطي من المنِّ:العطاء، لا من المنة

“Ibnul Atsiir berkata dalam “An Nihaayah fii Ghoribil Hadits” : ‘Al Mannaan adalah Al Mun’in (Yang Maha Pemberi Nikmat) Al Mu’thi (Yang Maha Pemberi), dari kata Al Manni yaitu pemberian bukan Al Minnah (kebajikan)’”.

Kembali kepada persoalan apakah Al Mun’in termasuk nama Allah atau bukan? Berdasarkan kaedah diatas maka jalan penetapan nama Allah adalah dengan wahyu dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Adapun dari Al Qur’an penulis belum menemukan adanya penetapan bahwa Al Mun’im termasuk Asma’ul Husna. Adapun dari hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, maka Imam Baihaqiy dalam “Asma wa Shifat” (no. 149) berkata :

وَقَدْ رُوِيَ فِي تَسْمِيَةِ الْمُنْعِمِ الْمُفْضِلُ حَدِيثٌ مُنْقَطِعٌ

“telah diriwayatkan penamaan (untuk Allah) dengan Al Mun’im dan Al Mufdhil hadits yang terputus”.

Kemudian Imam Baihaqiy menyebutkan hadits (no. 150) dengan sanadnya dari Habiib bin Abi Tsaabit ia berkata :

ثنا شَيْخٌ , لَنَا: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا جَاءَهُ شَيْءٌ يَكْرَهُهُ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ» وَإِذَا جَاءَهُ شَيْءٌ يُعْجِبُهُ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُنْعِمِ الْمُفْضِلِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ»

“Haddatsanaa Syaikh (guru) kami, bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam jika mendapatkan sesuatu yang tidak  disukai mengucapkan : “segala puji bagi Allah atas segala hal”. Adapun jika mendapatkan sesuatu yang menakjubkannya berkata : “segala puji bagi Allah, yang Maha Pemberi Nikmat dan Maha Pemberi Anugerah yang mana dengan nikmatnya, sempurnalah kebaikan-kebaikan”.

Imam Abu Dawud dalam kitab “Marosiil”  (no. 503) meriwayatkan :

حدثنا عثمان بن أبي شيبة ، حدثنا وكيع ، حدثنا الأعمش ، عن حبيب ، عن بعض أشياخنا قال

“haddatsanaa Utsman bin Abi Syaibah, haddatsanaa Wakii’, haddatsanaa Al A’masy dari Habiib dari sebagian guru kami, bahwa Rasulullah ….”.

Imam Thobroni dalam “Ad-Du’aa’”  meriwayatkan juga dari Habiib ia berkata : ‘Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam …. (idem)’.

Status Hadits

Habiib bin Abi Tsaabit, wafat pada tahun 119 H, perowi Bukhori-Muslim, seorang Tabi’I wasith (pertengahan), Al Hafidz Ibnu hajar dalam “At-Taqriib”  menilainya : “ثقة فقيه جليل ، و كان كثير الإرسال و التدليس” (tsiqoh, faqih, utama, beliau banyak melakukan irsal dan tadlis). Karena beliau seorang Tabi’I maka tentunya masih ada perantara lagi antara dirinya dengan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, dalam riwayat Imam Baihaqi dan Imam Abu Dawud diatas, Habiib mengatakan bahwa ia mendengar haditsnya melalui perantaraan syaikhnya atau sebagian syaikhnya, namun tidak menyebutkan namanya, seandainya itu adalah sahabat, maka tentu saja hadits ini shahih, karena majhulnya sahabat tidak merusak hadits, melihat para sahabat semuanya adil sebagaimana hal ini ditetapkan oleh Aimah hadits, namun jika beliau mengambil dari Tabi’I lainnya, maka haditsnya terputus dan inilah yang dinamakan dengan istilah hadits Mursal. Barangkali penilaian dari Imam Baihaqi yang mengatakan hadits ini terputus dan juga Imam Abu Dawud yang memasukan hadits ini dalam kitab “Marosiilnya” menguatkan bahwa hadits ini adalah mursal dan mursal adalah salah satu jenis hadits dhoif (lemah), seandainya kita mendapatkan riwayat yang semaknya dengan jalan yang bersambung secara marfu’, walaupun lemah, asalkan kelemahannya tidak terlalu parah, tentu akan menguatkan status hadits ini, sehingga naik menjadi hasan lighoirihi. Namun kenyataannya penetapan Nama Al Mun’im sebagai Asma’ul Husna, hanya berdasarkan hadits mursal ini yang nilainya lemah, sehingga kita tidak bisa menegaskan bahwa Al Mun’im termasuk Asma’ul Husna, sekalipun ia adalah sifat bagi Rabbunaa Azza wa Jalla. Wallahu A’lam.

Kesimpulan :

  1. Hadits yang menetapkan Al Mun’im sebagai nama Allah tidak tsabit dari sisi sanadnya.
  2. Al Mun’in bukan termasuk Asma’ul Husna, sebagaimana diisyaratkan oleh Imam Baihaqi diatas.
  3. Sebaiknya jangan menamakan anak dengan nama Abdul Mun’in, karena tidak tsabitnya bahwa Al Mun’im adalah nama Allah.

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: