HADITS PALSU DALAM SUNAN IBNU MAJAH (HADITS KE-34)

November 28, 2013 at 12:12 am | Posted in Hadits | Leave a comment

34. Hadits no. 3330, Imam Ibnu Majah berkata :

حَدَّثَنَا أَبُو بِشْرٍ بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ قَيْسٍ الْمَدَنِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُوا الْبَلَحَ بِالتَّمْرِ، كُلُوا الْخَلَقَ بِالْجَدِيدِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَغْضَبُ، وَيَقُولُ بَقِيَ ابْنُ آدَمَ، حَتَّى أَكَلَ الْخَلَقَ بِالْجَدِيدِ»

“Haddatsanaa Abu Bisyr Bakr bin Kholaf ia berkata, haddatsanaa Yahya bin Muhammad bin Qois Al Madaniy ia berkata, haddatsanaa Hisyaam bin Urwah dari Bapaknya dari Aisyah Rodhiyallahu anha ia berkata : ‘Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “makanlah kurma mentah bersama dengan kurma matang, makanlah yang baru dengan yang lama, karena syaithon akan marah dan berkata : ‘anak adam (tidak) menyisakan sedikitpun, sampai makanan lama dicampur dengan yang baru””.

Mari kita bedah para perowinya :

  1. Bakr bin Kholaf, wafat setelah tahun 240 H, Bukhori meriwayatkannya sebagai mu’alaq, Al Hafidz menilainya : shoduq.
  2. Yahya bin Muhammad, perowi Muslim. Al Hafidz menilainya : “صدوق يخطىء كثيرا” (jujur, banyak keliru).
  3. Hisyam bin Urwah dan bapaknya, perowi tsiqoh.

Imam Al Albani dalam tahkiqnya terhadap hadits ini berkata : “موضوع” (hadits palsu).

Imam Al Bushiri dalam “Az-Zawaid” berkata :

هَذَا إِسْنَاد فِيهِ أَبُو زُكَيْرٍ يحيى بن مُحَمَّد بن قيس وَهُوَ ضَعِيف رَوَاهُ النَّسَائِيّ فِي الْوَلِيمَة عَن مُحَمَّد بن عَليّ بن مقدم عَن يحيى بن مُحَمَّد بن قيس بِهِ وَقَالَ هَذَا حَدِيث مُنكر رَوَاهُ الْحَاكِم فِي الْمُسْتَدْرك من طَرِيق أبي عبد الله مُحَمَّد التَّيْمِيّ وَسليمَان بن دَاوُد الْعَتكِي وَنصر بن عَليّ الْجَهْضَمِي كلهم عَن أبي زُكَيْرٍ يحيى بن مُحَمَّد ابْن قيس بِهِ قَالَ ابْن الصّلاح تفرد بِهِ أبي زُكَيْرٍ وَهُوَ شيخ صَالح وَسَبقه إِلَى ذَلِك أبي يعلى الخليلي فَإِنَّهُ فِي الْإِرْشَاد لذَلِك

قلت وَضَعفه ابْن معِين وَابْن حبَان والعقيلي وَأورد لَهُ ابْن عدي أَرْبَعَة أَحَادِيث مَنَاكِير وَأورد ابْن الْجَوْزِيّ هَذَا الْمَتْن فِي الموضوعات من طَرِيق مُحَمَّد بن شَدَّاد عَن يحيى بن مُحَمَّد بن قيس بِهِ وَقَالَ لَعَلَّ الزلل من مُحَمَّد بن شَدَّاد قلت لم ينْفَرد بِهِ مُحَمَّد بن شَدَّاد كَمَا رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْن مَاجَه وَالْحَاكِم

“dalam sanadnya ada Abu Zukair Yahya bin Muhammad bin Qois ia perowi dhoif, Nasa’I meriwayatkan dalam Al Walimah dari Muhammad bin Ali bin Miqdam dari Yahya bin Muhammad bin Qois dan Nasa’I berkata : ‘hadits ini mungkar, diriwayatkan oleh Al Hakim dalam “Al Mustadrok” dari jalan Abu Abdillah Muhammad At-Taimiy dan Sulaiman bin Dawud Al ‘Itkiy dan Nashr bin Ali Al Jahdhomiy semuanya dari Abu Zukair Yahya bin Muha,,ad bin Qois dst..

Ibnu Sholah berkata : ‘Abu Zukar menyendiri dan ia adalah Syaikh yang sholih, telah mendahuluinya hal ini Abu Ya’laa Al Kholiiliy dan didalamnya terdapat keterangan tentang ini.

Aku berkata : ‘Abu Zukair didhoifkan oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Al Uqoiliy dan Ibnu ‘Adiy menyebutkan 4 hadits yang mungkar yang diriwayatkan olehnya. Ibnul Jauziy dalam Al Maudhu’aat menyebutkan isi hadits ini dari jalan Muhammad bin Syadaad dari Yahya bin Muhammad bin Qois dst.., lalu berkata : ‘mungkin kesalahan ada pada Muhammad bin Syadaad.

Aku berkata : ‘Muhammad bin Syadaad tidak bersendirian, sebagaimana diriwayatkan Nasa’I, Ibnu Majah dan Al Hakim”.

Pernyataan Imam Ibnul Jauzi bahwa kesalahan ada pada Muhammad bin Syadaad, karena beliau melihat bahwa Abu Zukair ini digunakan hujjah oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, sehingga karena kewibawaan shahih Muslim, Imam Ibnul Jauzi melemparkan kesalahan kepada ibnu Syadaad, perowi dibawahnya. Namun seandainya kelemahan ada pada Ibnu Syadaad, maka perowi ini telah dikuatkan oleh perowi lainnya sebagaimana telah disebutkan oleh Imam Al Bushiriy.

Untuk menjawab isykal Imam Ibnul Jauzi, bahwa sebenarnya cacat hadits ini terletak pada Abu Zukair, maka perinciannya sebagai berikut :

1. Abu Zukair hanya dijadikan sebagai Mutaba’ah (penguat) saja oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, sebagaimana dikatakan Imam Al Albani dalam “Adh-Dhoifah” (no. 231), kata beliau :

ومسلم إنما أخرج له في ” المتابعات “، كما في ” التهذيب “

“Muslim hanya meriwayatkannya sebagai mutaba’ah sebagaimana diterangkan dalam “At-Tahdziib”.

2. Para ulama, seperti Imam Ibnu ‘Adiy mensifatinya memiliki hadits yang mungkar, sehingga kemungkinan Imam Muslim meriwayatkan hadits dalam shahihnya bukan hadits yang mungkar darinya, Imam Muslim memilah haditsnya yang tidak mungkar, karena Abu Zukair sendiri adalah perowi yang shoduq (jujur), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar. Dan ketika Imam Ibnu ‘Adiy menyebutkan hadits mungkarnya, maka hadits ini adalah salah satu diantara hadits mungkarnya.

Sebenarnya agak berlebihan juga menilai hadits ini sebagai hadits palsu, namun dilihat dari sisi matannya (isi haditsnya), maka terdapat didalamnya yang menyelisihi kaedah umum, yaitu pencampuran makanan yang lama dengan yang baru, tentunya ini malah akan menimbulkan penyakit. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: