PEROWI INI PATUT DITAKBIRI

December 5, 2013 at 11:42 pm | Posted in Siroh | Leave a comment

Perawi Ini Patut Ditakbiri

 

Al Bardza’i bercerita :

Aku menuturkan kepada Abu Zur’ah sebuah hadits riwayat Musaddad, dari Muhammad bin Hamran, dari Salam bin Abdurrahman dari Sauda’ bin Rabi’ :

“ Kebaikan senantiasa tertambat pada ubun-ubun kuda perang.”

Lalu Abu Zur’ah mengatakan kepadaku, “ Perawi hadits ini adalah orang yang patut untuk kamu takbiri (maksudnya perawi ini menjadi hancur karena disebabkan riwayat haditsnya, ungkapan ini adalah salah satu gaya bahasa para ahli naqd/kritikus hadits dalam menjatuhkan hokum kepada perawi ). Hadits ini bukanlah riwayat Musaddad karena aku telah mencatat riwayat hadits dari Musaddad lebih dari tujuh, delapan atau Sembilan ribu hadits dan aku sama sekali tidak pernah mendengar dia menyebutkan nama Muhammad bin Hamran.”

“Hadits ini diriwayatkan dari Yahya bin Abdaka dari Musaddad “, tambahku.

“ Yahya adalah orang yang sangat terpercaya dan hadits ini bukanlah riwayat Musaddad,” tegas Abu Zur’ah.

Lalu aku menulis surat yang aku tujukan kepada Yahya yang memberikan balasan, “ Tidak. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Al Warraq, dia memasukkan hadits riwayat Al Mu’alla bin Asad ke dalam hadits riwayat Musaddad kedalam tulisanku, dan aku belum pernah memilahknya sejak dua puluh tahun yang lalu hingga suratmu ini sampai kepadaku, maka aku pun mencabutnya kembali.”

Kemudian akupun membacakan surat ini kepada Abu Zur’ah yang berkomentar kepadaku,” Ini adalah surat pemilik kejujuran .”

Imam Adz Dzahaby menyebutkan tentang Yahya :

Dia adalah Imam Al Hafidz yang terpercaya, pembaca hadits Qazwain, Abu Zakariyya Yahya bin Abdul A’zham Al Qazwain, seorang yang alim, pengarang, berkedudukan tinggi, termasuk orang yang selevel dengan Ibnu Majah. ( Siyar ‘Alamin Nubalaa’ )

 

Malhuudhoh :

Dalam Sualat Al Bardza’i terdapat beberapa faidah :

  1. Mengetahui metode pengkritik dalam mengetahui kesalah para perawi.
  2. Diantara tanda seseorang dapat dipercaya adalah dia mencabut kembali perkataannya yang salah dan tidak menenggelamkan diri dalam kesalahan tersebut.
  3. Pengaruh pembuat kertas atas para pembaca hadits. Al Warraq adalah pembuat kertas yang menyisipkan hadits kedalam kitab Yahya Al Qazwain.
  4. Telitinya para kritikus hadits terdahulu terhadap hadits dan perawinya, dan konsistensi mereka atas pendapat yang mereka keluarkan karena pendapat-pendapat itu bersumber dari pemahaman dan imu yang benar.

 

 

(Ditulis Oleh Imam Mu’thi via email dengan sedikit editan)

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: