DOA KHATAM AL QUR’AN

December 9, 2013 at 11:53 pm | Posted in fiqih | Leave a comment

DOA KHATAM AL QUR’AN

Ada sebuah doa khatam Al Qur’an yang biasanya diajarkan kepada anak-anak TPQ (Taman Pendidikan Qur’an), dan biasanya dilagukan, Imam Ghozali dalam kitab “Ihya Ulumuddin”  menuliskan riwayat kata beliau :

كان يقوله – صلّى الله عليه وسلم – عند ختم القرآن اللهم ارحمني بالقرآن العظيم واجعله لي إماماً ونوراً وهدى ورحمة اللهم ذكرني منه ما نسيت وعلمني منه ما جهلت وارزقني تلاوته آناء الليل وآناء النهار واجعله حجة لي يا رب العالمين

“Adalah Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam ketika khatam Al Qur’an berdoa : “Ya Allah, rakmatilah aku dengan Al Qur’anul ‘Adhiim, jadikan untukku Imam, cahaya, petunjuk dan rakhmat. Ya Allah, ingatkanlah aku jika aku lupa dan ajarilah aku, dari ketidaktahuan tentangnya, berilah rizki kepadaku dengan membacanya sepanjang malam dan siang dan jadikan Al Qur’an sebagai hujjah kepadaku, wahai Rabb semesta alam”.

Imam Al Hafidz Al ‘Iroqiy, gurunya Al Hafidz Ibnu Hajar, berkata dalam “Takhrijul Ihyaa” (2/694) :

قال العراقي: رواه أبو منصور المظفر بن الحسين الأرجاني في فضائل القرآن وأبو بكر بن الضحاك في الشمائل كلاهما من طريق أبي ذر الهروي من رواية داود بن قيس معضلاً.

“diriwayatkan oleh Abu Manshuur Al Mudhofiriy ibnul Husain Al Arjaaniy dalam “Fadhoilul Qur’an” dan Abu Bakr bin adh-Dhohaak dalam “Asy-Syamaail”, keduanya meriwayatkan dari jalan Abu Dzar Al Harowy dari riwayat Dawud bin Qois, secara Mu’dhol (yaitu sanadnya gugur 2 perowi atau lebih-pent.)”.

Abu Dzar Al Harowi (w. 435 H), seorang Imam Al Hafidz pemilik beberapa kitab hadits. Dawud bin Qois, Bukhori meriwayatkan sebagai mu’alaq, Imam Muslim menggunakannya sebagai hujjah, seorang tabi’I shoghiir, yang dinilai oleh Al Hafidz dalam “At-Taqriib”  sebagai perowi tsiqoh, fadhil. Karena beliau seorang Tabi’I maka hadits ini mursal dan mursal beliau dikatakan oleh Al Hafidz Iroqi Mu’dhol, artinya kemungkinan yang digugurkan antara diri Dawud dengan Rasulullah bukan dalam thobaqoh sahabat, namun dari thobaqoh Tabi’in dan shahabat, sehingga jika yang gugur adalah Tabi’in tidak bisa dilacak kondisi ketsiqohannya dalam hadits, karena tidak semua Tabi’in adil, berbeda dengan para sahabat Rodhiyallahu anhum ‘ajmain. Dan hadits mursal termasuk hadits lemah.

Imam As-Subkiy dalam juz Thobaqot Syafi’iyyah Kubro telah melakukan penelitian terhadap kitab Ihya-nya Imam Ghozali dan beliau mendata hadits-hadits dalam Ihyaa yang tidak memiliki sanad dan hadits pada bab ini adalah salah satunya.

Namun amalan berdoa ketika khatam Al Qur’an, telah tsabit dari sahabat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini dalam “Fatawanya” (no. 65) pernah ditanya sebagai berikut :

السؤال 65: هل يسن الدعاء عند ختم القرآن ؟ وهل الأثر المروي عن أنس في ذلك صحيح؟

الجواب : نعم؛ ثبت في جملة آثار أن لخاتم القرآن دعوة مستجابة وكان أنس بن مالك كما ورد في سند سعيد بن منصور إن ختم القرآن جمع زوجه وأهل بيته ودعا، وكانت زوجته وأهل بيته يؤمنون فلا حرج في ذلك .

Soal no. 65 : apakah disunahkan berdoa ketika khatam Al Qur’an? Apakah atsar dari Anas Rodhiyallahu anhu tentang hal ini shahih?

Jawab : ‘iya, telah tsabit dalam sejumlah atsar bahwa ketika khatam Al Qur’an terdapat doa yang mustajab. Anas bin Malik Rodhiyallahu anhu sebagaimana dalam riwayat Sa’id bin Manshuur jika khatam Al Qur’an, mengumpulkan istri dan keluarganya, lalu berdoa, istri dan keluarganya mengamini doa Anas Rodhiyallahu anhu, maka hal ini tidak mengapa”.

Imam Darimiy dalam “as-Sunan” (no. 3525) meriwayatkan dari Al Hakam ia berkata:

بَعَثَ إِلَيَّ مُجَاهِدٌ قَالَ: إِنَّمَا دَعَوْنَاكَ أَنَّا أَرَدْنَا أَنْ نَخْتِمَ الْقُرْآنَ وَإِنَّهُ بَلَغَنَا أَنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ عِنْدَ خَتْمِ الْقُرْآنِ “، قَالَ: «فَدَعَوْا بِدَعَوَاتٍ»

“Mujahid mengutusku ia berkata : ‘hanyalah kami mengundangmu, untuk mengkhatamkan Al Qur’an, kami telah menyampaikan bahwa doa itu mustajab ketika khatam Al Qur’an’, katanya : ‘maka berdoalah dengan doa (apa saja)’”. (Syaikh Husain Salim Asad, pentahqiqnya berkata : ‘sanadnya shahih’).

Saya harap doa pada bab ini adalah diperbolehkan sebagai fadhoilul amal, tentu dengan syarat tidak meyakini bahwa hal itu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, namun sebagai keumuman disyariatkannya berdoa ketika khatam Al Qur’an dan yang terpenting jangan dilagukan sebagaimana yang selama ini diajarkan kepada anak-anak kaum Muslimin. Majelis Ulama Saudi Arabia yang pada waktu itu diketuai Imam bin Baz pernah berfatwa :

أريد من مجلسكم الموقر أن تنظروا في هذه القصيدة المقدمة إليكم، خاصة وأنها تقرأ بعد ختم القرآن، ولهذا فإني أريد فتوى في هذا الشأن؛ لأنني لم أجد من يقنعني في بلادنا، هل هو جائز شرعًا هذا الدعاء أم لا؟

ج: أولا: لا يجوز أن يقرأ شعر عند ختم القرآن لا قصيدتك ولا غيرها؛ لعدم ورود شيء بذلك عنه صلى الله عليه وسلم ولا عن خلفائه الراشدين رضي الله عنهم، بل ذلك بدعة محدثة، وقد ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال: « من أحدث في أمرنا ما ليس منه فهو رد » ، وفي لفظ: « من عمل عملًا ليس عليه أمرنا فهو رد » .

ثانيًا: سبق أن صدر منا فتوى في حكم الدعاء بعد ختم القرآن برقم (5042) هذا نصها: (الدعاء المنسوب إلى شيخ الإسلام ابن تيمية عند ختم القرآن لا نعلم صحته عنه، ولم نقف عليه بشيء من التفسير، لكن قد اشتهرت نسبته إليه، ولا نعلم فيه بأسًا، وإذا دعا الإنسان بدعوات أخرى فلا بأس بذلك؛ لعدم الدليل على تعيين دعاء معين). ثالثًا: قصيدتك بها استغاثة واستنصار بغير الله سبحانه فيما لا يقدر عليه إلا هو سبحانه وتعالى، وكذلك بها التجاء إلى غيره فيما لا يقدر عليه إلا هو سبحانه …

 

Soal : aku mengharapkan di mejelis kalian untuk meneliti qosidah-qosidah ini yang telah aku bawakan kepada kalian, terlebih lagi ini dibaca pada saat khatam Al Qur’an, aku ingin fatwa tentang perkara ini, karena aku tidak mendapati seorang pun yang cukup mumpuni di negeri kami, apakah doa ini diperbolehkan oleh syariat atau tidak?”.

Jawab : yang pertama, tidak boleh membaca syair ketika khatam Al Qur’an tidak juga qosidahmu ini atau selainnya, karena tidak ada riwayat sedikitpun tentang ini dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, tidak juga dari Khulaur Rosyidin Rodhiyallahu anhu, bahkan hal ini adalah bid’ah yang baru, telah tetap bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “barangsiapa yang membuat-buat perkara baru yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak”, dalam lafadz lain : “barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka itu tertolak”.

Yang kedua, telah berlalu dalam fatawa  tentang hukum berdoa setelah khatam Al Qur’an no. 5042 ini isinya : ‘doa yang dinisbahkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika khatam Al Qur’an, kami tidak mengetahui keshahihannya, kami tidak menemukan sedikitpun dalam tafsir, namun masyhur dinisbatkan kepada beliau, kami memandang hal ini tidak mengapa, jika seorang berdoa dengan doa lain tidak mengapa, karena tidak adanya dalil yang menentukan suatu doa tertentu’.

Yang ketiga, qosidahmu yang berisi istighosah dan minta pertolongan kepada selain Allah dengan sesuatu yang orang tersebut tidak mampu, kecuali Allah Ta’alaa, maka ini adalah meminta kepda selainnya yang seorang pun tidak mampu melakukannya kecuali Allah …”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: