Syarah Bukhori Kitab Wudhu Bab 36 Bacaan Al Qur’an dan selainnya setelah Hadats

December 13, 2013 at 12:04 am | Posted in Tulisan Lainnya | Leave a comment

36 – باب قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ بَعْدَ الْحَدَثِ وَغَيْرِهِ

وَقَالَ مَنْصُورٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ لاَ بَأْسَ بِالْقِرَاءَةِ فِى الْحَمَّامِ ، وَبِكَتْبِ الرِّسَالَةِ عَلَى غَيْرِ وُضُوءٍ . وَقَالَ حَمَّادٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِمْ إِزَارٌ فَسَلِّمْ ، وَإِلاَّ فَلاَ تُسَلِّمْ .

Bab 36 Bacaan Al Qur’an dan selainnya setelah Hadats

Manshuur berkata, dari Ibrohim : ‘tidak mengapa membaca Al Qur’an di kamar mandi dan menulis risalah tanpa berwudhu’.

Hammaad berkata, dari Ibrohim : ‘jika mereka memakai sarung (celana), maka jawab salamnya, jika tidak, maka jangan dijawab salamnya’.

 Penjelasan :

Yakni berkaitan dengan hukum membaca Al Qur’an pada saat tidak dalam keadaan berwudhu, apakah diperbolehkan atau tidak? Dan juga selain membaca Al Qur’an, seperti berzikir atau menjawab salam. Tentu yang lebih utama adalah membaca Al Qur’an dalam kondisi berwudhu. Karena membaca Al Qur’an adalah suatu ibadah yang utama, dan dengan kondisi seorang yang suci akan lebih menyempurnakan ibadah tersebut.

Maka pembahasan akan kita mulai dengan masalah menyentuh mushaf Al Qur’an, kemudian darinya bercabang masalah hukum membacanya bagi orang yang tidak dalam keadaan suci/batal wudhunya. Permasalahan, apakah boleh bagi orang yang tidak suci menyentuh mushaf Al Qur’an, maka dalam hal ini ada 2 pendapat yang masyhur dari ulama :

  1. Mayoritas ulama, termasuk didalamnya Imam yang 4 (yaitu Abu Hanifah, Malik, Syafi’I dan Ahmad) tidak membolehkan bagi seorang yang tidak suci untuk menyentuh Al Qur’an. Syaikhul Islam dalam “Majmu Fatawa” (4/450) pernah ditanya, dengan pertanyaan berikut :

وَسُئِلَ هَلْ يَجُوزُ مَسُّ الْمُصْحَفِ بِغَيْرِ وُضُوءٍ أَمْ لَا ؟ .

الْجَوَابُ

فَأَجَابَ : مَذْهَبُ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ أَنَّهُ لَا يَمَسُّ الْمُصْحَفَ إلَّا طَاهِرٌ كَمَا قَالَ فِي الْكِتَابِ الَّذِي كَتَبَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعَمْرِو بْنِ حَزْمٍ : { أَنْ لَا يَمَسَّ الْقُرْآنَ إلَّا طَاهِرٌ } . قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَد : لَا شَكَّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَهُ لَهُ وَهُوَ أَيْضًا قَوْلُ سَلْمَانَ الْفَارِسِيِّ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ وَغَيْرِهِمَا . وَلَا يُعْلَمُ لَهُمَا مَنْ الصَّحَابَةِ مُخَالِفٌ .

Soal : Apakah diperbolehkan menyentuh Mushaf tanpa berwudhu, ataukah tidak diperbolehkan?

Jawab : Madzhabnya Imam yang 4 bahwa tidak boleh menyentuh mushaf kecuali bagi orang yang suci, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah buku yang ditulis oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salam kepada ‘Amr bin Hazm Rodhiyallahu anhu : “tidak boleh menyentuh Al Qur’an, kecuali orang yang suci”.

Imam Ahmad berkata : ‘tidak ragu lagi bahwa Nabi r benar-benar menulis kepadanya, ini juga adalah pendapatnya Sahabat Salmaan Al Faarisiy dan Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhuma, dan tidak diketahui ada sahabat lain yang menyelisihi mereka berdua”.

Kemudian Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syaroh Mumti’” menambahkan dalil lain bagi pendapatnya jumhur ulama tersebut, kata beliau :

والدَّليل على ذلك:

1ـ قوله تعالى: إنه لقرآن كريم ( 77 ) في كتاب مكنون ( 78 ) لا يمسه إلا المطهرون ( 79 ) تنزيل من رب العالمين ( 80 ) {الواقعة: 77 – 80}

وجه الدِّلالة: أنَّ الضَّمير في قوله: “لا يمسُّه” يعود على القرآن، لأنَّ الآيات سِيقت للتَّحدُّث عنه بدليل قوله: تنزيل من رب العالمين {الواقعة: 80} والمنزَّل هو هذا القرآن، والمُطَهَّر: هو الذي أتى بالوُضُوء والغُسُل من الجنابة، بدليل قوله: ولكن يريد ليطهركم {المائدة: 6}

فإن قيل: يَرِدُ على هذا الاستدلال: أنَّ “لا” في قوله: “لا يمسُّه” نافية، وليست ناهية، لأنه قال:”لا يمسُّه” ولم يقل:”لا يمسَّه”؟.

قيل: إنه قد يأتي الخبر بمعنى الطَّلب، بل إن الخبر المراد به الطَّلب أقوى من الطَّلب المجرَّد، لأنه يُصوِّر الشيءَ كأنه مفروغ منه، ومنه قوله تعالى: والذين يتوفون منكم ويذرون أزواجا يتربصن بأنفسهن أربعة أشهر وعشرا {البقرة: 234} فقوله “يَتَرَبَّصْنَ” خبر بمعنى الأمر. وفي السُّنَّة: “لا يبيع الرَّجُل على بيع أخيه” بلفظـ الخبر، والمراد النَّهي.

“Dalilnya adalah Firman Allah r :

Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin” (QS. Al Waaqi’ah : 77-80).

Sisi pendalilannya adalah : kata ganti “tidak menyentuhnya”, kembali kepada Al Qur’an, karena ayat-ayat tersebut, konteknya berbicara tentang Al Qur’an, dengan dalil : “diturunkan dari Rabbil ‘Alamiin (QS. Al Waaqi’ah : 80).

Jika ada yang berkata, dibantah pendalilan ini bahwa kata-kata “Laa” pada Firman-Nya “laa yamassuhu” bermakna nafiyah (peniadaan) bukan bermakna nahiyah (larangan), karena dibaca “Laa Yamassuhu” bukan dibaca “Laa yamassahu”.

Dijawab, terkadang sebuah khabar bermakna tholab (perintah), bahkan khabar yang bermakna tholab lebih kuat daripada sekedar itu adalah tholab, karena terdiskripsi didalamnya bahwa hal tersebut adalah keputusan final. Misalnya firman Allah Azza wa Jalla :

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari” (QS. Al Baqoroh : 234).

Maka Firman-Nya : “menangguhkan dirinya (ber’iddah)”, khabar bermakna perintah. Dalam sebuah hadits, Nabi r bersabda :

“Janganlah seorang menjual sesuatu diatas penjualan saudaranya”.

Yakni dengan lafadz khabar yang bermakna larangan”.

Dari keterangan diatas maka dalilnya jumhur adalah :

  1. Al Qur’an yakni surat Al Waaqi’ah ayat 79
  2. As-Sunnah, yakni haditsnya ‘Amr bin Hazm Rodhiyallahu anhu
  3. Ijma sukuti sahabat
  4. Yang menyelisihi jumhur, sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Abdil Bar dalam “Al Istidzkaar” :

وقد روي عن عطاء أنه لا بأس أن تحمل الحائض المصحف بعلاقته وأما الحكم بن عتيبة وحماد بن أبي سليمان فلم يختلف عنهما في إجازة حمل المصحف بعلاقته لمن ليس على طهارة وقولهما عندي شذوذ عن الجمهور وما أعلم أحدا تابعهما عليه إلا داود بن علي ومن تابعه

قال داود لا بأس أن يمس المصحف والدنانير والدراهم التي فيها اسم الله الجنب والحائض

قال داود ومعنى قوله عز وجل لا يمسه إلا المطهرون الواقعة 79 هم الملائكة ودفع حديث عمرو بن حزم في أن لا يمس القرآن إلا طاهر بأنه مرسل غير متصل وعارضه بقول النبي المؤمن ليس بنجس

”telah diriwayatkan dari ‘Athoo’ bahwa beliau berpendapat, tidak mengapa wanita haidh membawa mushaf dengan menggantungkannya. Adapun Al Hakam bin ‘Utaibah dan Hammaad bin Abi Sulaiman, tidak ada perbedaan dari keduanya, tentang kebolehan membawa Mushaf dengan menggantungkannya bagi orang yang tidak dalam keadaan suci.

Pendapat keduanya, menurutku adalah syadz (ganjil) menyelisihi mayoritas ulama, aku tidak mengetahui seorang pun yang mengikutinya, kecuali Dawud bin Ali dan orang-orang yang sependapat dengannya.

Dawud berkata : ‘tidak mengapa orang yang junub dan haidz menyentuh Mushaf Al Qur’an, uang dinar dan uang dirham yang didalamnya terdapat nama Allah’. Lanjutanya, ‘adapun makna Firman Allah Azza Wa Jalla : “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waaqi’ah : 79) yang dimaksud adalah Malaikat’.

Lalu Dawud juga menyanggah hadits ‘Amr bin Hazm tentang “bahwa tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci”, bahwa hadits tersebut adalah Mursal, tidak bersambung dan bertentangan dengan sabda Nabi r : “Orang Mukmin tidak najis”.

Imam Ibnu Hazm dalam “Al Muhalla” menambahkan dalil bagi madzhabnya, dengan hadits surat Rasulullah r yang dikirimkan kepada Hiroql, Kaisar Romawi pada waktu itu dimana isinya adalah :

بسم الله الرحمن الرحيم مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى (أَمَّا بَعْدُ) فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلامِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْك إثْمَ الأَرِيسِيِّينَ وَ { يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}

“Dengan nama Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih, dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya kepada Hiroql, pembesar Romawi :

Salam kepada orang yang mengikuti petunjuk, Amma Ba’du :

Sesungguhnya saya mengajak anda untuk memeluk Islam, berislamlah niscaya engkau akan selamat, Allah akan memberikanmu pahala 2 kali, jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa Al Iriisyyiin (rakyat),

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. Ali Imroon : 64). (HR. Bukhori)

Dari pemaparan diatas, madzhab dhohiri berpendapat tidak masalah bagi orang yang tidak bersuci untuk menyentuh mushaf Al Qur’an dengan dalil berikut :

  1. Surat Nabi r kepada Hiroql yang notabene adalah orang kafir, sehingga tidak mungkin suci, dimana didalam surat tersebut terdapat ayat Al Qur’an dan sangat besar kemungkinan, surat tersebut akan disentuh oleh orang kafir tersebut.
  2. Hadits Nabi r yang menunjukan bahwa sorang Mukmin/Muslim adalah suci.
  3. Terdapat tambahan, sebagaimana dinukil Imam Ibnu Utsaimin, bahwa dhohiri berdalil juga dengan “Baro’ah Asliyah”, yakni bahwa pada asalnya tidak ada pembebanan kepada manusia, sehingga dalam masalah ini, tidak diwajibkan berwudhu kepada orang yang akan menyentuhnya, karena ini hukum asalnya. Dan hukum asal ini dapat berubah dengan adanya dalil yang tegas yang shahih yang memindahkan dari hukum asalnya.

Kemudian dhohiriyyah menyanggah pendapatnya jumhur ulama :

  1. Yang dimaksud “orang-orang yang disucikan” dalam ayat 79 surat Al Waaqi’ah adalah Malaikat.

Dan ini memang benar, bahwa kontek dalam ayat tersebut yang dimaksud adalah Malaikat, Imam Ibnu Utsaimin dalam “Al Mumti’” membantu penjelasan Dhohiriyyah, kata beliau :

ما الآية فلا دلالة فيها، لأن الضَّمير في قوله: “لا يمسُّه” يعود إلى “الكتاب المكنون”، والكتاب المكنون يُحْتَمَلُ أن المرادَ به اللوحُ المحفوظ، ويُحْتَمَلُ أن المرادَ به الكتب التي بأيدي الملائكة. فإن الله تعالى قال: كلا إنها تذكرة ( 11 ) فمن شاء ذكره ( 12 ) في صحف مكرمة ( 13 ) مرفوعة مطهرة ( 14 ) بأيدي سفرة ( 15 ) كرام بررة {عبس: 11 – 16} وهذه الآية تفسير لآية الواقعة فقوله: في صحف مكرمة كقوله: في كتاب مكنون {الواقعة: 78} وقوله: بأيدي سفرة كقوله: لا يمسه إلا المطهرون{الواقعة: 79}..

”Adapun ayat (79) maka tidak ada pendalilan didalamnya, karena kata ganti pada “tidak menyentuhnya” kembali kepada “Al Kitab Al Maknuun”, ini dimungkinkan yang dimaksud adalah “Lauhul Mahfuudz” dan mungkin juga yang dimaksud kitab yang berada di tangan Malaikat, karena Allah Ta’alaa berfirman :

Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti” (QS. ‘Abasa : 11-16).

Ayat-ayat ini menafsirkan ayat-ayat surat Al Waaqi’ah, Firman-Nya : “dalam kitab-kitab yang dimuliakan” seperti Firman-Nya : “pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh)”. Dan Firman-Nya : “di tangan para penulis (malaikat)” seperti Firman-Nya : “tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”.

2. Imam Ibnu Hazm dan sebelumnya Imam Dawud Adh-Dhohiriy mendhoifkan hadits sahabat ‘Amr bin Hazm Rodhiyallahu anhu. Namun hadits berkaitan dengan larangan menyentuh Al Qur’an diriwayatkan 5 orang sahabat, yaitu ‘Amr bin Hazm, Ibnu Umar, Hakiim bin Hizaam, Utsman bin Abil ‘Aash, dan Tsauban Rodhiyallahu anhum. Hadits ini telah diterima oleh para ulama dan diamalkan oleh mereka, sehingga tidak diragukan lagi keshahihannya.

Setelah diketahui bahwa hadits ini shahih, maka sesungguhnya ini adalah hujjah bagi pendapat yang mengatakan wajibnya bersuci bagi orang yang akan menyentuh Al Qur’an. Namun sebagian ulama yang berpendapat tidak wajib bersuci, mereka mengatakan bahwa kata “Thoohir” dalam hadits tersebut belum jelas menunjukan bahwa itu adalah suci dari hadats baik kecil maupun besar. Imam Ibnu Utsaimin dalam “Al Mumti’” membantu mereka lagi, katanya :

وإذا فرضنا صِحَّتَهُ بناءٍ على شُهْرَتِهِ فإن كلمةَ “طاهر” تَحْتَمِلُ أن يكونَ طاهرَ القلب من الشِّرك، أو طاهر البَدَنِ من النَّجَاسَة، أو طاهراً من الحدث الأصغر؛ أو الأكبر، فهذه أربعة احتمالات، والدَّليل إذا احتمل احتمالين بَطلَ الاستدلال به، فكيف إذا احتمل أربعة؟

وكذا فإن الطاَّهر يُطْلَقُ على المؤمن لقوله تعالى: إنما المشركون نجس {التوبة: 28} وهذا فيه إثبات النَّجَاسَةِ للمُشْرِكِ.

وقال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ: “إنَّ المؤمنَ لا يَنْجُس” وهذا فيه نَفْيُ النَّجاسة عن المؤمن، ونفي النَّقيضِ يستلزم ثبوت نقيضه، لأنَّه ليس هناك إلا طَهَارة أو نَجَاسة، فلا دلالة فيه على أن مَسَّ المصْحَفِ لا يكون إلا من مُتَوضِّيء.

”Jika kita tetapkan shahihnya hadits ini, karena kemasyhurannya, maka kata “Thoohir” dimungkinkan maknanya adalah :

1). Sucinya hati dari kesyirikan

2). Sucinya badan dari najis

3). Suci dari hadats kecil

4). Suci dari hadats besar

Ini adalah 4 kemungkinan (untuk makna Thoohir (suci)). Dan dalil jika terdapat 2 kemungkinan maka batalah istidlal (pendalilannya), maka bagaimana lagi jika kemungkinannya ada 4?

Demikianlah thoohir dimutlakkan atas seorang Mukmin, sebagaimana firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang Musyrik itu najis” (QS. At-Taubah : 28), maka ini adalah penetapan najis untuk orang-orang musyrik.

Nabi r bersabda : “sesungguhnya Mukmin tidak najis”, maka ini adalah penafian najis pada diri Mukmin, dan penafian yang membatalkan, melazimkan tetapnya pembatalan tersebut, karena tidak ada disana makna, kecuali suci atau najis, maka tidak ada sisi pendalilan bahwa menyentuh Mushaf Al Qur’an tidak boleh kecuali orang yang berwudhu”.

Apa yang disimpulkan dari mereka oleh Imam Ibnu Utsaimin bahwa makna Thoohir (suci) dalam hadits tersebut dengan orang mukmin, juga dikatakan oleh Imam Al Albani dalam “Tamaamul Minnah”, kata beliau

فالأقرب – والله أعلم – أن المراد بالطاهر في هذا الحديث هو المؤمن سواء أكان محدثا حدثا أكبر أو أصغر أو حائضا أو على بدنه نجاسة لقوله صلى الله عليه وسلم : ” المؤمن لا ينجس ” وهو متفق على صحته والمراد عدم تمكين المشرك من مسه فهو كحديث : ” نهى عن السفر بالقرآن إلى أرض العدو ” متفق عليه أيضا

”maka yang mendekati Wallahu A’lam, bahwa yang dimaksud dengan thoohir pada hadits ini adalah Mukmin sama saja apakah ia seorang yang berhadats, baik hadats kecil atau besar atau Haidh atau di badannya ada najis, karena sabda Nabi r : “seorang Mukmin tidak najis” (Muttafaqun ‘Alaih). Dan yang dimaksud juga tidak bolehnya orang Musyrik menyentuh Mushaf Al Qur’an, sebagaimana dalam hadits : “Larangan Nabi r untuk bersafar dengan membawa Al Qur’an ke negeri Musuh” (Muttafaqun ‘Alaih).

Namun mereka yang berpendapat wajibnya bersuci bagi, tentu saja merajihkan bahwa makna thoohir tersebut adalah suci dari hadats kecil dan besar, hal ini diwakili oleh Imam Ibnu Utsaimin dalam “Al Mumti’”, kata beliau :

وكنت في هذه المسألة أميل إلى قول الظَّاهِريَّة، لكنْ لمَّا تأمَّلتُ قوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ “لا يمسُّ القرآن إلا طاهر” والطَّاهرُ يُطْلَق على الطَّاهر من الحدث الأصغر والأكبر لقوله تعالى: ما يريد الله ليجعل عليكم من حرج ولكن يريد ليطهركم {المائدة: 6} ولم يكن من عادة النبي ِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أن يُعَبِّرَ عن المؤمن بالطَّاهر؛ لأنَّ وَصْفَهُ بالإيمان أَبْلَغُ، تبيَّن لي أنَّه لا يجوز أن يمسَّ القرآنَ مَنْ كان محدثاً حدثاً أصغر، أو أكبر، والذي أَرْكُنُ إليه حديث عمرو بن حزم، والقياس الذي استُدلَّ به على رأي الجمهور فيه ضعف، ولا يقوى للاستدلال به، وإنَّما العُمْدَة على حديث عمرو بن حزم.

وقد يقول قائل: إنَّ كتابَ عمرو بن حزم كُتِبَ إلى أهل اليَمَنِ، ولم يكونوا مسلمين في ذلك الوقت، فَكَوْنُهُ لِغَيْرِ المسلمين يكون قرينة أنَّ المراد بالطَّاهر هو المؤمِن.

وجَوَابُه: أن التَّعبير الكثير مِنْ قوله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ أن يُعَلِّقَ الشَّيء بالإيمان، وما الذي يَمْنَعُهُ مِنْ أن يقول: لا يَمَسُّ القرآنَ إلا ُمُؤْمِنٌ، مع أنَّ هذا واضح بَيِّن.

فالذي تَقَرَّرَ عندي أخيراً: أنَّه لا يجوز مَسُّ المصْحَفِ إلا بِوُضُوء.

”saya dalam masalah ini hampir condong kepada pendapatnya Dhohiriyyah, namun setelah saya amati sabda Nabi r : “tidak menyentuh Al Qur’an kecuali orang yang suci”. Maka Thoohir disini dimutlakkan kepada suci dari hadats kecil dan besar, berdasarkan Firman Allah Ta’alaa :

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu” (QS. Al Maidah : 6).

Dan bukan kebiasan Nabi r mengungkapkan seorang Mukmin dengan Thoohir (orang yang suci), karena pensifatannya dengan iman adalah lebih jelas, maka jelas bagiku bahwa menyentuh Al Qur’an tidak boleh bagi orang yang berhadats baik hadats kecil maupun hadats besar. Dalil yang pokok adalah hadits ‘Amr bin Hazm, sedangkan qiyas yang dilakukan jumhur ulama adalah lemah, tidak kuat untuk dijadikan dalil, maka yang dijadikan pokok pegangan adalah haditsnya ‘Amr bin Hazm.

Seorang berkata : ‘sesungguhnya bukunya ‘Amr bin Hazm ditulis kepada penduduk Yaman, sedangkan pada waktu itu belum ada kaum Muslimin, maka kondisi banyaknya oran non Muslim adalah indikasi yang dimaksud dengan Thoohir disini adakah kaum Mukminin’.

Jawabnya : ‘kebanyakan ungkapan Nabi r mengkaitkan sesuatu dengan Iman dan tidak ada halangan disini untuk mengucapkan, “tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali orang Mukmin”, dimana kalau hal ini dilakukan lebih jelas dan gamblang. Maka yang mantap disisiku pada akhirnya adalah tidak boleh menyentuh Mushaf kecuali dengan wudhu”

Barangkali yang menguatkan pendapat jumhur bahwa makna thohir disini adalah orang yang suci dari hadats, yaitu riwayat dari sahabat Hakiim bin Hizaam Rodhiyallahu anhu, kata beliau :

لما بعثني رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى اليمن قال: “لا تمس القرآن إلا وأنت طاهر”

“Tatkala Rasulullah r mengutusku ke Yaman, Beliau bersabda : “janganlah engkau menyentuh Al Qur’an kecuali engkau suci”.

Imam Al Haitsami dalam “Majmuz Zawaaid” berkata :

رواه الطبراني في الكبير والأوسط وفيه سويد أبو حاتم ضعفه النسائي وابن معين في رواية،ووثقه في رواية،وقال أبو زرعة: ليس بالقوي حديثه حديث أهل الصدق.

”diriwayatkan oleh Thobroni dalam Al Kabiir dan Al Ausath, didalamnya ada Suwaid Abu Hatim, dilemahkan oleh Nasa’I dan Ibnu Ma’in dalam salah satu riwayat, namun dalam riwayat lain beliau mentsiqohkannya. Abu Zur’ah berkata : ‘tidak kuat haditsnya,  namun (ia seperti) hadits ahlu shoduq’”.

Sehingga berdasarkan hal ini, maka sanadnya adalah Hasan, dihasankan oleh Imam Al Hazimi, sebagaimana dinukil oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “Talkhisul Khobiir”. Sedangkan Imam Al Hakim dalam “Al Mustadroknya” mengomentarinya :

قال الحاكم : حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه

”Hadits shahih sanadnya, namun tidak dikeluarkan oleh Bukhori-Muslim”.

3. Adapun berkaitan dengan perkataan Imam Ahmad yang menyatakan bahwa tidak boleh bagi orang yang tidak suci untuk menyentuh Al Qur’an dan ini adalah pendapatnya Salmaan dan Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhuma, kemudian tidak diketahui adanya sahabat lain yang menyelisihi hal ini, maka seandainya benar apa yang dikatakan Imam Ahmad, maka inilah yang dinamakan dengan ijma sukuti. Berkaitan dengan kehujjahannya, maka para ulama berselisih pendapat, Imam Syaukani dalam “Irsyadul Fukhuul” berkata :

البحث الحادي عشر : في الإجماع السكوتي

 وهو أن يقول بعض أهل الاجتهاد بقول وينتشر ذلك في المجتهدين من أهل ذلك العصر فيسكتون ولا يظهر منهم اعتراف ولا إنكار وفيه مذاهب

 الأول : أنه ليس بإجماع ولا حجة قاله داود الظاهري وابنه والمرتضى وعزاه القاضي إلى الشافعي واختاره وقال أنه آخر أقوال الشافعي وقال الغزالي والرازي والآمدي إنه نص الشافعي في الجديد وقال الجويني إنه ظاهر مذهبه

 والقول الثاني : أنه إجماع وحجة وبه قال جماعة من الشافعية وجماعة من أهل الأصول وروي نحوه عن الشافعي

القول الثالث : أنه حجة وليس بإجماع قاله أبو هاشم وهو أحد الوجهين عند الشافعي كما سلف وبه قال الصيرفي واختاره الآمدي

القول الرابع : أنه إجماع بشرط انقراض العصر لأنه يبعد مع ذلك أن يكون السكوت لا عن رضا وبه قال أنه على الجبائي وأحمد في رواية عنه ونقله ابن فورك في كتاب عن أكثر أصحاب الشافعي ونقله الأستاذ أبو طاهر البغدادي عن الحذاق منهم واختاره ابن القطان والروياني قال الرافعي إنه أصح الأوجه عند أصحاب الشافعي

القول الخامس : أنه إجماع إن كان فتيا لا حكما وبه قال ابن أبي هريرة

القول السادس : أنه إجماع إن كان صادرا عن فتيا قاله أبو إسحاق المروزي

القول السابع : أنه إن وقع في شيء يفوت استدراكه من إراقة دم أو استباحة فرج كان إجماعا وإلا فهو حجة

القول الثامن : إن كان الساكتون أقل كان إجماعا وإلا فلا قاله أبو بكر الرازي

القول التاسع : إن كان في عصر الصحابة كان إجماعا وإلا فلا قال الماوردي في الحاوي والروياني في البحر

القول العاشر : أن ذلك إن كان مما يدوم ويتكرر وقوعه والخوض فيه فإنه يكون السكوت إجماعا وبه قال إمام الحرمين الجويني

القول الحادي عشر : أنه إجماع بشرط إفادة القرائن العلم بالرضا وذلك بأن يوجد من قرائن الأحوال ما يدل على رضا الساكتين بذلك القول واختار هذا الغزالي في المستصفى وقال بعض المتأخرين أنه أحق الأقوال

القول الثاني عشر : أنه يكون حجة قبل استقرار المذاهب لا بعدها

وأما لو اتفق أهل الحل والعقد على عمل ولم يصدر منهم قول واختلفوا في ذلك فقيل إنه كفعل رسول الله صضص لأن العصمة ثابتة لإجماعهم كثوبتها للشارع فكانت أفعالهم كأفعاله وبه قطع الشيخ أبو إسحاق الشيرازي وغيره

”Pembahasan ke sebelas : tentang ijma Sukuutiy, yaitu sebagian ahli ijtihad berpendapat dengan sebuah pendapat dan hal ini telah tersebar dikalangan Mujtahidiin pada masa itu, lalu mereka diam, tidak Nampak dari mereka persetujuan dan pengingkaran. Maka dalam hal ini ada beberapa pendapat :

  1. Itu bukan ijma dan bukan juga hujjah, hal ini dikatakan oleh Dawud Adh-Dhoohiriy dan anaknya Al Murtadho, Al Qodhi menyandarkannya kepada Syafi’I, lalu memilih pendapat ini, beliau berkata : ‘ini adalah keputusan final Syafi’I’. Al Ghozaliy, Ar Raziy dan Al Amidiy berkata : ‘ini adalah nash Syafi’I dalam pendapat Jadiidnya’. Al Huwainiy berkata : ‘ini adalah dhohir madzhabnya’.
  2. Itu adalah ijma dan hujjah, ini adalah pendapatnya sejumlah ulama Syafi’iyyah dan ulama Ushul Fikih, diriwayatkan yang semisalnya dari Syafi’i.
  3. Itu adalah hujjah, namun bukan ijma, dikatakan oleh Abu Haasyim dan ini adalah satu sisi pendapat Syafi’I sebagaimana telah lalu yang dikatakan Ash-Shoirofiy dan dipilih oleh Al Amidiy.
  4.  Itu adalah ijma dengan syarat satu masa karena kalau jauh masanya biasanya diamnya bukan dari keridhoannya, ini dikatakan oleh Ali Al Juba’iy, Ahmad dalam salah satu riwayat darinya, dinukil oleh Ibnu Faruuk dalam kitabnya bahwa ini adalah pendapatnya kebanyakan ulama Syafi’iyyah. Dinukil oleh Ustadz Abu Thoohir Al Bagh daadiy dari ulama peneliti Syafi’iyyah, lalu dipilih oleh Ibnul Qothoon dan Ar-Ruyaaniy. Ar-Roofi’iy berkata : ‘ini adalah yang paling benar menurut ulama Syafi’iyyah’.
  5. Itu adalah ijma, jika berupa fatwa bukan  dalam hal hukum, dikatakan oleh Ibnu Abi Huroiroh.
  6. Itu adalah ijma jika berasal dari fatwa, dikatakan oleh Abu Ishaq Al Marwaziy.
  7. Itu jika dalam hal fatwa tentang penghalalan darah dan kemaluan, maka adalah ijma, jika tidak maka itu adalah hujjah.
  8. Itu jika yang diam adalah sedikit jumlahnya, maka adalah ijma dan jika sebaliknya, maka bukan, dikatakan oleh Abu Bakar Ar-Rooziy
  9. Itu jika terjadi pada masa sahabat, maka adalah ijma, jika bukan masa sahabat, bukan ijma, dikatakan Al Marwaziy dalam “Al Haawiy” dan Ar-Ruuyaaniy dalam “Al bahr”.

10. Itu jika pendapat tadi senantiasa dan diulang-ulang terus dan yang lainnya diam, maka itu adalah ijma, dikatakan oleh Imam Al Haromain dan Al Juwainiy.

11. Itu adalah ijma dengan syarat terdapat indikasi adanya keridhoan, hal ini didapatkan dari indikasi kondisi yang menunjukan keridhoan orang yang diam, ini adalah ucapan dan pilihannya Al Ghozali dalam “Al Mustashfaa” dan sebagian Muta’akhirin mengatakan ini adalah pendapat yang benar.

12. Itu adalah hujjah sebelum adanya madzhab-madzhab dan tidak setelahnya.

Adapun sekiranya ahlul hil wal aqdi sepakat untuk mengamalkannya dan tidak muncul dari mereka pendapat yang mereka berselisih didalamnya, maka dikatakan ini seperti perbuatan Rasulullah r, karena kemaksuman tertetapkan dengan kesepakatan mereka, seperti tetapnya syariat, maka perbuatan ahli hil wal aqdi seperti perbuatan Nabi r. Ini adalah pendapat yang dipastikan oleh Syaikh Abu Ishaaq Asy-Syairooziy dan selainnya”.

         Berdasarkan keterangan ini, maka kami lebih condong kepada pendapat dimakruhkannya seorang yang tidak dalam keadaan suci untuk menyentuh mushaf Al Qur’an dan larangan pada hadits yang menunjukan tidak boleh menyentuh mushaf Al Qur’an dibawa kepada makruh dengan indikasi :

  1. Tidak pastinya makna Thoohir pada hadits tersebut, apakah memang ditujukan kepada orang yang berhadats, baik hadats kecil maupun besar.
  2. Seandainya hal tersebut dipastikan bahwa makna Thoohir adalah untuk orang yang tidak berhadats, maka pengharamannya juga belum menunjukan kepastian, Karena tidak dinukil adanya akibat hukum baik didunia maupun diakhirat bagi orang yang berhadats untuk menyentuh Al Qur’an.
  3. Telah dinukil kebolehan menyentuh mushaf bagi yang berhadats kecil, sebagaimana dikatakan Imam Syaukani dalam “Nailul Author”, kata beliau :

وَأَمَّا الْمُحْدِثُ حَدَثًا أَصْغَرَ فَذَهَبَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَالشَّعْبِيُّ وَالضَّحَّاكُ وَزَيْدُ بْنُ عَلِيٍّ وَالْمُؤَيَّدُ بِاَللَّهِ وَالْهَادَوِيَّةُ وَقَاضِي الْقُضَاةِ وَدَاوُد إلَى أَنَّهُ يَجُوزُ لَهُ مَسُّ الْمُصْحَفِ

”adapun orang yang berhadats kecil, maka Ibnu Abbaas Rodhiyallahu anhu, Asy-Sya’biy, Adh-Dhohaak, Zaid bin Ali, Al Muayyadu billah, Al Hadawiyyah, Qoodhi Al Qudhoot dan dawud berpendapat diperbolehkan baginya menyentuh mushaf”.

4. Imam Ibnu Hazm telah menukil dalam kitabnya “Al Muhalla” dari :

  1. Alqomah bin Qois, seorang ulama Tabi’I bahwa ia :

إنَّهُ كَانَ إذَا أَرَادَ أَنْ يَتَّخِذَ مُصْحَفًا أَمَرَ نَصْرَانِيًّا فَنَسَخَهُ لَهُ

”beliau jika ingin mengambil mushaf, memerintahkan seorang Nashroni, lalu menyalinkan untuknya.

2. Lalu Imam Ibnu Hazm menukil perkataan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, lalu menyetujui komentar dari Ali :

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ: لا بَأْسَ أَنْ يَحْمِلَ الْجُنُبُ الْمُصْحَفَ بِعِلاقَتِهِ وَلا يَحْمِلُهُ بِغَيْرِ عِلاقَةٍ. وَغَيْرُ الْمُتَوَضِّئِ عِنْدَهُمْ كَذَلِكَ. وَقَالَ مَالِكٌ: لا يَحْمِلُ الْجُنُبُ وَلا غَيْرُ الْمُتَوَضِّئِ الْمُصْحَفَ لا بِعِلاقَةٍ وَلا عَلَى وِسَادَةٍ. فَإِنْ كَانَ فِي خُرْجٍ أَوْ تَابُوتٍ فَلا بَأْسَ أَنْ يَحْمِلَهُ الْيَهُودِيُّ وَالنَّصْرَانِيُّ وَالْجُنُبُ وَغَيْرُ الطَّاهِرِ. قَالَ عَلِيٌّ: هَذِهِ تَفَارِيقُ لا دَلِيلَ عَلَى صِحَّتِهَا لا مِنْ قُرْآنٍ وَلا مِنْ سُنَّةٍ – لا صَحِيحَةٍ وَلا سَقِيمَةٍ – وَلا مِنْ إجْمَاعٍ وَلا مِنْ قِيَاسٍ وَلا مِنْ قَوْلِ صَاحِبٍ. وَلَئِنْ كَانَ الْخُرْجُ حَاجِزًا بَيْنَ الْحَامِلِ وَبَيْنَ الْقُرْآنِ فَإِنَّ اللَّوْحَ وَظَهْرَ الْوَرَقَةِ حَاجِزٌ أَيْضًا بَيْنَ الْمَاسِّ وَبَيْنَ الْقُرْآنِ وَلا فَرْقَ وَبِاَللَّهِ تَعَالَى التَّوْفِيقُ.

”Abu Hanifah berkata : ‘tidak mengapa orang yang junub membawa mushaf dengan digantung dan tidak boleh membawanya tanpa digantung, begitu menurut mereka bagi orang yang tidak berwudhu’. Malik berkata : ‘orang yang junub dan tanpa wudhu tidak boleh membawa mushaf tidak dengan digantung juga diatas bantal, namun jika diletakkan diatas pelana atau didalam peti, maka tidak mengapa untuk membawanya orang Yahudi, Nashroni, orang junub dan yang tidak suci. Ali berkata : ‘ini adalah pembedaan yang tidak ada dalilnya yang shahih baik dari Al Qur’an maupun dari hadits, baik yang shahih maupun yang lemahnya, tidak juga dari ijma, qiyas dan ucapan sahabat. Seandainya dibawa dengan pelana adalah merupakan penghalang antara yang membawa dengan Mushaf Al Qur’an, maka cover dan halaman atas mushaf adalah penghalang juga antara orang yang memegang dengan Al Qur’an, tidak ada bedanya.

5. Telah dinukil secara shahih berkaitan surat Rasulullah r kepada Hiroql seorang kafir ahlu kitab, dimana dalam surat tersebut terdapat ayat Al Qur’an. Namun jumhur mengatakan bahwa yang dipermasalahkan adalah mushaf yang berisi Al Qur’an, kalau hanya ayat yang ditulis dalam kitab fikih misalnya, maka ini diluar pembahasan. Maka bagi yang berpendapat bahwa makna thoohir disitu adalah bagi orang Mukmin, mereka mengatakan jika satu dua ayat yang ditujukan kepada orang kafir untuk mendakwahkan islam, maka tidak mengapa.

6. Telah tetap dalam syariat bahwa seorang mukmin adalah suci zat, baik ia dalam keadaan junub, haidh dan tanpa wudhu, sehingga ketika seorang mukmin memegang mushaf Al Qur’an, maka tidak berpengaruh terhadap kesucian mushaf dalam artian secara fisiknya, hanyalah disyariatkan untuk bersuci ketika memegang mushaf sebagai penghormatan dan pengagungan kepada Al Qur’an. Maka seorang Muslim yang tidak dalam keadaan suci dalam artian ia sedang berhadats, maka ketika memegang mushaf bukan berarti ia tidak mengangungkan Al Qur’an, karena bukankah pengagungan tempatnya di hati, sebagaimana Allah r berfirman :

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al Hajj (22) : 32).

Kesimpulannya, sangat ditekankan kepada seorang Muslim yang hendak memegang mushaf Al Qur’an untuk berwudhu terlebih dahulu.

Adapun berkaitan dengan hukum membaca Al Qur’an, tentu hal ini merupakan cabang dari hukum memegang mushaf Al Qur’an. Dimana bagi orang yang berpendapat tidak wajib dalam kondisi suci dalam artian tidak berhadats baik besar maupun kecil ketika memegang mushaf, maka tentunya membaca Al Qur’an diperbolehkan tanpa kondisi suci, karena terkadang seorang yang membaca Al Qur’an tidak perlu memegang mushaf, apalagi jika ternyata ia hapal Al Qur’an. Imam Bukhori dalam bab ini telah menukil perkataan Imam Ibrohim An-Nakho’I tentang masalah membaca Al Qur’an dan berzikir serta yang sejenisnya dalam keadaan berhadats, ada 2 perkataan yang dinukil dari Imam Ibrohim, yaitu :

1. ‘tidak mengapa membaca Al Qur’an di kamar mandi dan menulis risalah tanpa berwudhu’.

Al Hafidz dalam “Al Fath” menjelaskannya secara apik :

وَأَثَره هَذَا وَصَلَهُ سَعِيد بْن مَنْصُور عَنْ أَبِي عَوَانَة عَنْ مَنْصُور مِثْله ، وَرَوَى عَبْد الرَّزَّاق عَنْ الثَّوْرِيّ عَنْ مَنْصُور قَالَ : سَأَلْت إِبْرَاهِيم عَنْ الْقِرَاءَة فِي الْحَمَّام فَقَالَ : لَمْ يُبْنَ لِلْقِرَاءَةِ فِيهِ . قُلْت : وَهَذَا لَا يُخَالِف رِوَايَة أَبِي عَوَانَة ، فَإِنَّهَا تَتَعَلَّق بِمُطْلَقِ الْجَوَاز وَقَدْ رَوَى سَعِيد بْن مَنْصُور أَيْضًا عَنْ مُحَمَّد بْن أَبَان عَنْ حَمَّاد بْن أَبِي سُلَيْمَان قَالَ : سَأَلْت إِبْرَاهِيم عَنْ الْقِرَاءَة فِي الْحَمَّام فَقَالَ يُكْرَه ذَلِكَ ، اِنْتَهَى . وَالْإِسْنَاد الْأَوَّل أَصَحّ . وَرَوَى اِبْن الْمُنْذِر عَنْ عَلِيّ قَالَ : بِئْسَ الْبَيْت الْحَمَّام يُنْزَع فِيهِ الْحَيَاء ، وَلَا يُقْرَأ فِيهِ آيَة مِنْ كِتَاب اللَّه . وَهَذَا لَا يَدُلّ عَلَى كَرَاهَة الْقِرَاءَة ، وَإِنَّمَا هُوَ إِخْبَار بِمَا هُوَ الْوَاقِع بِأَنَّ شَأْن مَنْ يَكُون فِي الْحَمَّام أَنْ يَلْتَهِي عَنْ الْقِرَاءَة . وَحُكِيَتْ الْكَرَاهَة عَنْ أَبِي حَنِيفَة ، وَخَالَفَهُ صَاحِبه مُحَمَّد بْن الْحَسَن وَمَالِك فَقَالَا لَا تُكْرَه ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ دَلِيل خَاصّ ، وَبِهِ صَرَّحَ صَاحِبَا الْعُدَّة وَالْبَيَان مِنْ الشَّافِعِيَّة . وَقَالَ النَّوَوِيّ فِي التِّبْيَان عَنْ الْأَصْحَاب : لَا تُكْرَه ، فَأَطْلَقَ . لَكِنْ فِي شَرْح الْكِفَايَة لِلصَّيْمَرِيِّ : لَا يَنْبَغِي أَنْ يَقْرَأ . وَسَوَّى الْحَلِيمِيّ بَيْنه وَبَيْن الْقِرَاءَة حَال قَضَاء الْحَاجَة . وَرَجَّحَ السُّبْكِيّ الْكَبِير عَدَم الْكَرَاهَة وَاحْتَجَّ بِأَنَّ الْقِرَاءَة مَطْلُوبَة وَالِاسْتِكْثَار مِنْهَا مَطْلُوب وَالْحَدَث يَكْثُر ، فَلَوْ كُرِهَتْ لَفَاتَ خَيْر كَثِير . ثُمَّ قَالَ : حُكْم الْقِرَاءَة فِي الْحَمَّام إِنْ كَانَ الْقَارِئ فِي مَكَان نَظِيف وَلَيْسَ فِيهِ كَشْف عَوْرَة لَمْ يُكْرَه ، وَإِلَّا كُرِهَ .

قَوْله : ( وَيَكْتُب الرِّسَالَة )

كَذَا فِي رِوَايَة الْأَكْثَر بِلَفْظ مُضَارِع كَتَبَ ، وَفِي رِوَايَة كَرِيمَة ” بِكَتْبِ ” بِمُوَحَّدَةٍ مَكْسُورَة وَكَافٍ مَفْتُوحَة عَطْفًا عَلَى قَوْله بِالْقِرَاءَةِ . وَهَذَا الْأَثَر وَصَلَهُ عَبْد الرَّزَّاق عَنْ الثَّوْرِيّ أَيْضًا عَنْ مَنْصُور قَالَ : سَأَلْت إِبْرَاهِيم : أَأَكْتُبُ الرِّسَالَة عَلَى غَيْر وُضُوء ؟ قَالَ : نَعَمْ . وَتَبَيَّنَ بِهَذَا أَنَّ قَوْله عَلَى غَيْر وُضُوء يَتَعَلَّق بِالْكِتَابَةِ لَا بِالْقِرَاءَةِ فِي الْحَمَّام . وَلَمَّا كَانَ مِنْ شَأْن الرَّسَائِل أَنْ تُصَدَّرَ بِالْبَسْمَلَةِ تَوَهَّمَ السَّائِل أَنَّ ذَلِكَ يُكْرَه لِمَنْ كَانَ عَلَى غَيْر وُضُوء ، لَكِنْ يُمْكِن أَنْ يُقَال : إِنَّ كَاتِب الرِّسَالَة لَا يَقْصِد الْقِرَاءَة فَلَا يَسْتَوِي مَعَ الْقِرَاءَة .

”Atsar ini disambungkan oleh Sa’id bin Manshur dari Abi ‘Awaanah dari Manshuur seperti ini. Abdur Rozak meriwayatkan dari Ats-Tsauri dari Manshur ia berkata : ‘aku bertanya kepada Ibrohim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?, maka beliau menjawab : ‘tidak layak membaca Al Qur’an di tempat tersebut’.

Aku berkata, ini tidak menyelisihi riwayat Abi ‘Awaanah, karena dikaitkan dengan kemutlakan pembolehannya, telah diriwayatkan juga oleh Sa’id bin Manshuur dari Muhammad bin Abaan dari Hammaad bin Abi Sulaiman ia berkata : ‘aku bertanya kepada Ibrohim tentang membaca Al Qur’an di kamar mandi?, maka jawabnya dimakruhkan hal tersebut. Sanad yang pertama (yakni dari Manshuur) lebih shahih. Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Ali Rodhiyallahu anhu, beliau berkata : ‘sejelek-jeleknya bagian rumah adalah kamar mandi, tempat rasa malu dilepaskan dan tidak dibacakan di tempat tersebut, Kitabullah’. Ini tidak menunjukan makruhnya membaca Al Qur’an, hanyalah hal tersebut merupakan khabar kenyataan yang terjadi, dimana kamar mandi memang tempat yang tidak dibaca Al Qur’an padanya.

Dinukil pendapat makruh dari Abu Hanifah, namun diselisihi oleh sahabatnya Muhammad ibnul Hasan dan Malik yang berkata, tidak makruh. Karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya, demikian yang ditegaskan pemilik kitab “Al ‘Uddah” dan “Al bayaan” dari kalangan Syafi’iyyah. An Nawawi dalam “At-Tibyaan” dari para sahabatnya, tidak makruh, lalu memutlakkannya. Namun dalam Syarah Al Kifaayah lis Shoimoriy, beliau berkata : ‘tidak selayaknya membaca Al Qur’an di kamar mandi”. Al Haliimiy menyamakan antaranya dan antara membaca Al Qur’an, kecuali pada saat buang hajat. As-Subkiy Al Kabiir merajihkan tidak dimakruhkannya hal tersebut dan berdalil bahwa membaca Al Qur’an adalah sesuatu yang diperintahkan, begitu juga banyak membaca Al Qur’an sesuatu yang diperintahkan, sedangkan hadats itu sering terjadi, seandainya hal tersebut dimakruhkankan, niscaya akan terluput kebaikan yang sangat banyak. Lalu beliau berkata : ‘hukum membaca Al Qur’an di kamar mandi, jika orang yang membaca di tempat yang bersih dan tidak terbuka auratnya, maka tidak dimakruhkan, kalau tidak seperti itu, maka dimakruhkan.

Ucapan Imam Ibrohim : ‘dan menulis Risalah’.

Demikian riwayat kebanyakan ulama dengan fi’il mudhori’ dari “kataba”, dalam riwayat Kariimah dengan “bikatbin” athof kepada “bil qirooah”.

Atsar ini disambungkan Abdur Rozak dari Ats-Tsauri juga dari Manshuur ia berkata : ‘aku bertanya kepada Ibrohim, apakah engkau menulis risalah dalam keadaan tidak berwudhu?, beliau menjawab, iya’. Jelas disini bahwa ucapannya tanpa berwudhu dikaitkan dengan penulisan risalah bukan membaca di kamar mandi. Ketika perkara risalah biasanya terdapat Basmalah, maka tersamarkan bagi si penanya apakah hal tersebut dimakruhkan ketika menulisnya tanpa berwudhu, namun dapat dikatakan : ‘sesungguhnya penulis risalah tidak dimaksudkan untuk membaca (Basmalah atau Al Qur’an), sehingga tidak dapat disamakan hukumnya dengan membaca Al Qur’an.

2. ‘jika mereka memakai sarung (celana), maka jawab salamnya, jika tidak, maka jangan dijawab salamnya’.

Al Hafidz masih dalam kitab yang sama, memberikan penjelasan :

وَأَثَره هَذَا وَصَلَهُ الثَّوْرِيّ فِي جَامِعه عَنْهُ ، وَالنَّهْي عَنْ السَّلَام عَلَيْهِمْ إِمَّا إِهَانَة لَهُمْ لِكَوْنِهِمْ عَلَى بِدْعَة ، وَإِمَّا لِكَوْنِهِ يَسْتَدْعِي مِنْهُمْ الرَّدّ ، وَالتَّلَفُّظ بِالسَّلَامِ فِيهِ ذِكْر اللَّه لِأَنَّ السَّلَام مِنْ أَسْمَائِهِ ، وَأَنَّ لَفْظ سَلَام عَلَيْكُمْ مِنْ الْقُرْآن ، وَالْمُتَعَرِّي عَنْ الْإِزَار مُشَابِه لِمَنْ هُوَ فِي الْخَلَاء . وَبِهَذَا التَّقْرِير يَتَوَجَّه ذِكْر هَذَا الْأَثَر فِي هَذِهِ التَّرْجَمَة .

”Atsar ini disambungkan oleh Ats-Tsauri dalam Jaami’ nya dari Hammad dari Ibrohim. Tentang larangan salam kepada mereka, bisa jadi karena untuk merendahkan mereka atas bid’ahnya mereka dan bisa jadi karena untuk membantah mereka. Pelafadzan salam didalamnya ada penyebutan Allah, karena As-salaam adalah salah satu Nama-Nya dan lafadz “Salaamun ‘Alaikum adalah termasuk ayat Al Qur’an. Orang yang telanjang tidak memakai celana adalah ketika berada di WC. Dengan penjelasan ini maka jelaslah korelasi atsar ini dengan judul bab”.

Sedangkan bagi mereka yang menyatkan wajib dalam kondisi suci bagi yang akan memegang mushaf, maka kaitannya dengan membaca Al Qur’an, mereka berbeda pendapat, Imam Ibnu Abdil Bar dalam “Al Istidzkaar”  berkata :

مالك عن أيوب بن أبي تميمة السختياني عن محمد بن سيرين أن عمر بن الخطاب كان في قوم وهم يقرؤون القرآن فذهب لحاجته ثم رجع وهو يقرأ القرآن فقال له رجل يا أمير المؤمنين أتقرأ القرآن ولست على وضوء فقال له عمر من أفتاك بهذا أمسيلمة

وفي هذا الحديث جواز قراءة القرآن طاهرا في غير المصحف لمن ليس على وضوء إن لم يكن جنبا

وعلى هذا جماعة أهل العلم لا يختلفون فيه إلا من شذ عن جماعتهم ممن هو محجوج بهم وحسبك بعمر في جماعة الصحابة وهم السلف الصالح

والسنن بذلك أيضا ثابتة فمنها حديث مالك عن مخرمة بن سليمان عن كريب مولى بن عباس عن بن عباس في حديث صلاة رسول الله بالليل وفيه فاستيقظ رسول الله من نومه فجلس ومسح النوم عن وجهه ثم قرأ العشر الآيات من سورة آل عمران ثم قام إلى شن معلقة فتوضأ مها وذكر تمام الحديث وهذا نص في قراءة القرآن طاهرا على غير وضوء

وحديث علي بن أبي طالب قال كان رسول الله لا يحجبه عن تلاوة القرآن شيء إلا الجنابة

”Malik bin Anas meriwayatkan dari Ayyuub bin Abi Tamiimah As-Sikhtiyaaniy dari Muhammad bin Siriin bahwa Umar ibnul Khothoob Rodhiyallahu anhu pernah berada di suatu kaum yang sedang membaca Al Qur’an, lalu beliau pergi untuk buang hajat, lalu kembali dan membaca Al Qur’an, maka salah seorang berkata kepadanya : ‘wahai Amiirul Mukminin, apakah engkau membaca Al Qur’an dan engkau tidak berwudhu?, maka jawabnya, siapa yang memberi fatwa kepadamu, apakah Musailamah?.

Dalam hadits ini terdapat pembolehan membaca Al Qur’an dalam keadaan suci tanpa memegang mushaf bagi yang tidak berwudhu, selama ia tidak junub. Ini adalah pendapat sejumlah ulama. Tidak ada perselisihian didalamnya, kecuali mereka yang ganjil dari jama’ah. Cukuplah bagi engkau dengan hadits Umar (yang membaca Al Qur’an tanpa berwudhu-pent.) dalam jama’ah sahabat dan mereka adalah salafus sholih.

Sunahnya hal tersebut juga tsabit, diantaranya dari hadits Malik dari Mukhoromah bin Sulaiman dari Kuroib Maula ibnu ‘Abbaas tentang hadits Sholat Rasulullah r pada malam hari, dimana Beliau bangun tidur, lalu duduk, lalu mengusap wajahnya, kemudian membaca sepuluh ayat surat Ali ‘Imroon. Lalu berdiri mengambil bejana air yang tergantung, lalu berwudhu dengannya….. ini adalah nash tentang bacaan Al Qur’an dalam keadaan suci (tidak junub-pent.) tanpa punya wudhu. Dan Hadits Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu anhu, ia berkata : ‘Rasulullah r tidak terhalangi untuk membaca Al Qur’an sedikit pun, kecuali pada saat janabah”.

Kemudian Imam Ibnu Abdil Barr, mengatakan pendapat yang menyelisihi, kata beliau :

وقد شذ داود عن الجماعة بإجازة قراءة القرآن للجنب وقال في حديث علي إنه ليس قول النبي

”Dawud telah berpendapat ganjil dari jama’ah dengan membolehkan membaca Al Qur’an bagi orang yang junub, lalu berkata tentang hadits Ali, bahwa itu bukan ucapan Nabi r”.

Imam Ibnu Hazm dalam “Al Muhalla” juga mengomentari hadits Ali Rodhiyallahu anhu, kata beliau :

فَأَمَّا مَنْ مَنَعَ الْجُنُبَ مِنْ قِرَاءَةِ شَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ، فَاحْتَجُّوا بِمَا رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ – رضي الله عنه – ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَمْ يَكُنْ يَحْجِزُهُ عَنْ الْقُرْآنِ شَيْءٌ لَيْسَ الْجَنَابَةُ ” وَهَذَا لا حُجَّةَ لَهُمْ فِيهِ؛ لأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ نَهْيٌ عَنْ أَنْ يَقْرَأَ الْجُنُبُ الْقُرْآنَ، وَإِنَّمَا هُوَ فِعْلٌ مِنْهُ عَلَيْهِ السَّلامُ لا يُلْزِمُ، وَلا بَيَّنَ عَلَيْهِ السَّلامُ أَنَّهُ إنَّمَا يَمْتَنِعُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ مِنْ أَجْلِ الْجَنَابَةِ. وَقَدْ يُتَّفَقُ لَهُ عَلَيْهِ السَّلامُ تَرْكُ الْقِرَاءَةِ فِي تِلْكَ الْحَالِ لَيْسَ مِنْ أَجْلِ الْجَنَابَةِ، وَهُوَ عَلَيْهِ السَّلامُ لَمْ يَصُمْ قَطُّ شَهْرًا كَامِلا غَيْرَ رَمَضَانَ، وَلَمْ يَزِدْ قَطُّ فِي قِيَامِهِ عَلَى ثَلاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً، وَلا أَكَلَ قَطُّ عَلَى خِوَانٍ، وَلا أَكَلَ مُتَّكِئًا. أَفَيَحْرُمُ أَنْ يُصَامَ شَهْرٌ كَامِلٌ غَيْرُ رَمَضَانَ أَوْ أَنْ يَتَهَجَّدَ الْمَرْءُ بِأَكْثَرَ مِنْ ثَلاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً، أَوْ أَنْ يَأْكُلَ عَلَى خِوَانٍ، أَوْ أَنْ يَأْكُلَ مُتَّكِئًا  هَذَا لا يَقُولُونَهُ، وَمِثْلُ هَذَا كَثِيرٌ جِدًّا. وَقَدْ جَاءَتْ آثَارٌ فِي نَهْيِ الْجُنُبِ وَمَنْ لَيْسَ عَلَى طُهْرٍ عَنْ أَنْ يَقْرَأَ شَيْئًا مِنْ الْقُرْآنِ، وَلا يَصِحُّ مِنْهَا شَيْءٌ

”Adapun ulama yang melarang orang junub membaca sesuatu dari Al Qur’an, berhujjah dengan yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Salamah dari Ali bin Abi Thoolib Rodhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah r tidak menghalanginya membaca sesuatu dari Al Qur’an, kecuali pada saat junub. Hadits ini tidak ada hujjah bagi mereka, karena tidak ada didalamnya larangan orang junub membaca Al Qur’an. Ia hanyalah sekedar perbuatan Nabi r yang tidak melazimkan (senantiasa Beliau r tidak membaca Al Qur’an pada saat junub-pent.). dan Nabi r juga tidak menjelaskan bahwa yang menghalanginya dari membaca Al Qur’an adalah karena janabah.

Telah disepakati bahwa Nabi r meninggalkan membaca Al Qur’an pada saat itu, bukan karena janabah. Beliau r tidak pernah berpuasa satu bulan penuh, selain bulan Ramadhon, Beliau r juga tidak menambahi sholat malam lebih dari 13 rakaat, atau Beliau tidak makan hewan tertentu (seperti Dhobb-pent.), atau Beliau tidak pernah makan dengan bersandar, semua ini, tidak dikatakan para ulama (bahwa terlarang melakukan kegiatan lebih dari itu-pent.). kasus seperti ini banyak sekali.

Telah ada riwayat tentang larangan orang junub dan yang tidak punya wudhu untuk membaca sesuatu dari Al Qur’an, namun haditsnya tidak ada yang shahih”.

Berdasarkan keterangan Imam Ibnu Hazm, kami memilih pendapat sangat dianjurkan bagi orang yang membaca Al Qur’an dalam keadaan suci dan berwudhu terlebih dahulu.

Berkata Imam Bukhori :

183 – حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِى مَالِكٌ عَنْ مَخْرَمَةَ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ بَاتَ لَيْلَةً عِنْدَ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَهِىَ خَالَتُهُ فَاضْطَجَعْتُ فِى عَرْضِ الْوِسَادَةِ ، وَاضْطَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – وَأَهْلُهُ فِى طُولِهَا ، فَنَامَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى إِذَا انْتَصَفَ اللَّيْلُ ، أَوْ قَبْلَهُ بِقَلِيلٍ أَوْ بَعْدَهُ بِقَلِيلٍ ، اسْتَيْقَظَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَجَلَسَ يَمْسَحُ النَّوْمَ عَنْ وَجْهِهِ بِيَدِهِ ، ثُمَّ قَرَأَ الْعَشْرَ الآيَاتِ الْخَوَاتِمَ مِنْ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ ، ثُمَّ قَامَ إِلَى شَنٍّ مُعَلَّقَةٍ ، فَتَوَضَّأَ مِنْهَا فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّى . قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقُمْتُ فَصَنَعْتُ مِثْلَ مَا صَنَعَ ، ثُمَّ ذَهَبْتُ ، فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ ، فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِى ، وَأَخَذَ بِأُذُنِى الْيُمْنَى ، يَفْتِلُهَا ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ أَوْتَرَ ، ثُمَّ اضْطَجَعَ ، حَتَّى أَتَاهُ الْمُؤَذِّنُ ، فَقَامَ ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ

50). Hadits no. 183

“Haddatsanaa Ismail ia berkata,  haddatsanii Maalik dari Makhromah bin Sulaiman dari Kuroib Maulaa Ibnu ‘Abbaas bahwa Abdullah bin ‘Abbaas t memberitahunya, bahwa ia pernah menginap di rumah Nabi r dirumah Maimunah istri Nabi r dan ia adalah bibinya, maka aku berbaring diatas bantal, sedangkan Nabi r dan istrinya berbaring di ranjang yang panjang, maka Beliau r tidur, hingga pertengahan malam kurang lebih sedikit, Rasulullah r bangun, lalu Beliau duduk dan mengusap bekas tidurnya dengan tangannya ke wajahnya, lalu Beliau r membaca sepuluh terakhir ayat dari surat Ali Imroon, lalu Beliau berdiri dan mengambil bejana air yang tergantung, lalu berwudhu darinya dan memperbagus wudhunya, lalu Beliau bangun dan sholat. Ibnu ‘Abbaas t berkata : ‘aku bangun dan berbuat seperti yang dilakukan Nabi r, lalu aku beranjak dan berdiri disamping Beliau, maka Nabi r memegang kepalaku dengan tangan kanannya, lalu beliau menarik kuping kananku dan menggeser posisiku. Lalu Beliau melakukan sholat 2 rakaat, lalu 2 rakaat, lalu 2 rakaat, lalu 2 rakaat, lalu 2 rakaat, lalu 2 rakaat, lalu 1 rakaat Witir, lalu Nabi r berbaring, hingga Muadzin mengumandangkan adzan, lalu Nabi r bangkit dan mengerjakan 2 rakaat ringan, lalu keluar rumah dan mengerjakan sholat Subuh”.

HR. Muslim no. 1825

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

1.  Nama                      : Makhromah bin Sulaiman

Kelahiran                : Lahir 60 H dan wafat 130 H

Negeri tinggal         : Madinah

Komentar ulama      : Tabi’I Shoghiir. Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Ma’in dan Imam Ibnu Hibban. Imam Abu Hatim menilainya, Shoolihul Hadits.

Hubungan Rowi       : Kuroib adalah salah seorang gurunya dan tinggal senegeri dengannya sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :

  1. Hadits ini dalil diperbolehkannya membaca Al Qur’an dalam kondisi tidak punya wudhu, sebagaimana perbuatan Nabi r yang bangun tidur, lalu membaca 10 ayat akhir surat Ali Imroon.
  2. Hadits ini adalah penguat dari sabda Nabi r :

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ ، وَإِلاَّ أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ

“Setan duduk diatas tengkuk kepala salah seorang diantara kalian, ketika ia tidur, setan akan memberikan 3 ikatan yang membuat ketiga ikatan tersebut menidurkanmu sepanjang malam. Jika kalian bangun, maka berdzikirlah kepada Allah I, sehingga terlepas 1 ikatan, lalu jika ia berwudhu maka terlepas lagi 1 ikatan dan jika ia lanjutkan dengan sholat terlepaslah seluruh ikatan, sehingga pagi harinya ia semangat dan bagus jiwanya, adapun jika tertidur sepanjang malam, maka pada pagi harinya jiwanya jelek dan malas” (Muttafaqun ‘Alaih).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: