SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 37 WUDHUNYA ORANG PINGSAN

December 13, 2013 at 11:40 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

37 – باب مَنْ لَمْ يَتَوَضَّأْ إِلاَّ مِنَ الْغَشْىِ الْمُثْقِلِ

Bab orang yang Tidak Berwudhu kecuali

Karena Pingsan yang Berat

 Penjelasan :

Imam Ibnu Bathol menjelaskan makan Al Ghosyu dalam “Syarah Bukhori”, kata beliau :

قال عبد الواحد: الغشى: مرض يَعْرِض من طول التعب والوقوف

وقال صاحب العين: غشى عليه: ذهب عقله، وفى القرآن { كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ} [الأحزاب: 19]، وقال: { فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَن} [يس: 9].

”Abdul Waahid berkata : ‘Al Ghosyu adalah penyakit yang diakibatkan karena kecapaian atau lama berdiri’.

Penulis kitab Al ‘Ain berkata : ‘Ghosyu ‘alaihi, yakni hilang akalnya. Dalam Al Qur’an Allah r berfirman : “seperti orang yang pingsan karena akan mati” (QS. Al Ahzaab : 19). Dan firman-Nya : “dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS. Yasin : 9).

        Kemudian Imam Ibnu Bathol menjelaskan hukum berkaitan wudhunya orang yang pingsan, jika pingsannya sedikit yakni seperti kepalanya terasa sakit, namun belum sampai taraf tidak sadar, maka wudhunya tidak batal dan sholatnya juga masih tetap bisa jalan, sebagaimana kisah sahabiyah Asmaa’ Rodhiyallahu anhu yang dibawakan oleh Imam Bukhori, namun jika sampai tidak sadar, maka ia membatalkan wudhu dengan kesepakatan ulama dan sudah pernah dinukil sebelumnya dari Imam Ibnul Mundzir tentang ijma (kesepakatan) batalnya wudhu bagi orang yang hilang akalnya.

Berkata Imam Bukhori :

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِى مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنِ امْرَأَتِهِ فَاطِمَةَ عَنْ جَدَّتِهَا أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِى بَكْرٍ أَنَّهَا قَالَتْ أَتَيْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا نَحْوَ السَّمَاءِ وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ . فَقُمْتُ حَتَّى تَجَلاَّنِى الْغَشْىُ ، وَجَعَلْتُ أَصُبُّ فَوْقَ رَأْسِى مَاءً ، فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ، ثُمَّ قَالَ « مَا مِنْ شَىْءٍ كُنْتُ لَمْ أَرَهُ إِلاَّ قَدْ رَأَيْتُهُ فِى مَقَامِى هَذَا حَتَّى الْجَنَّةِ وَالنَّارِ ، وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِى الْقُبُورِ مِثْلَ أَوْ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ – لاَ أَدْرِى أَىَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ – يُؤْتَى أَحَدُكُمْ فَيُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ – أَوِ الْمُوقِنُ لاَ أَدْرِى أَىَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ – فَيَقُولُ هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ، جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى ، فَأَجَبْنَا وَآمَنَّا وَاتَّبَعْنَا ، فَيُقَالُ نَمْ صَالِحًا ، فَقَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُؤْمِنًا ، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ – أَوِ الْمُرْتَابُ لاَ أَدْرِى أَىَّ ذَلِكَ قَالَتْ أَسْمَاءُ – فَيَقُولُ لاَ أَدْرِى ، سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ »

51). Hadits no. 184

“Haddatsanaa Ismail ia berkata,  haddatsanii Maalik, dari Hisyaam bin ‘Urwah dari istrinya, Fatimah dari Neneknya Asmaa’ bintu Abi Bakr Rodhiyallahu anha, ia berkata : ‘aku mendatangi Aisyah t -istri Nabi r– ketika terjadi (kusuf/gerhana matahari), dimana orang-orang mengerjakan sholat dan Aisyah juga ikut sholat. Aku bertanya : ‘apa yang dilakukan orang-orang?’ Aisyah t mengisyaratkan keatas (maksudnya terjadi gerhana matahari). beliau t berkata : ‘Subhanallah (Maha Suci Allah)’. Aku bertanya : ‘apakah ini pertanda?’ Beliau t berisyarat dengan kepalanya, (maksudnya) ‘iya’. Aku berdiri (untuk sholat), namun aku hampir pingsan, maka aku mengguyurkan air di kepalaku. Ketika selesai sholat, lalu Nabi r memuji Allah Azza wa Jalla kemudian berkhutbah : “tidak ada sesuatupun yang diperlihatkan kepadaku kecuali aku melihatnya di tempatku berdiri hingga jannah dan neraka (telah dipelihatkan kepadaku). Telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan difitnah (ditanya) dalam kuburan, seperti –atau mirip, aku tidak tahu yang mana yang dikatakan Asmaa’- fitnahnya Al-Masiih Ad-Dajjaal. (kalian akan) ditanya apa yang kamu tahu tentang laki-laki ini (maksudnya Nabi r-pent.), jika ia seorang Mukmin –atau orang yang yakin, aku tidak tahu yang mana yang dikatakan Asmaa’- akan menjawab ia adalah Muhammad Rasulullah, telah datang kepada kami dengan penjelasan dan petunjuk, lalu kami menerima dan mengikutinya. Maka dikatakan kepadanya, tidurlah orang sholih, kami telah mengetahui bahwa kamu adalah orang-orang yang yakin terhadap hal ini. Adapun orang Munafik –atau orang yang ragu-ragu, aku tidak tahu yang mana yang dikatakan Asmaa’- akan menjawab ‘aku tidak tahu, orang-orang berkata sesuatu, maka akupun mengatakannya”.

Imam Muslim mengeluarkan no. 905

Penjelasan biografi perowi hadits :

Semua biografi perowinya telah berlalu sebelumnya. Dan hadits ini juga telah diriwayatkan hampir mirip pada no. 84.

Penjelasan Hadits :

  1. Hadits ini dalil sakit kepala yang tidak menyebabkan pingsan yang sampai tidak sadar, maka tidak membatalkan wudhu.
  2. Disyariatkannya sholat Gerhana dan akan datang rinciannya –Insya Allah- pada babnya.
Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: