KITABUT TAUHID – ITSBAT DIRI ALLAH DARI KITABULLAH

December 15, 2013 at 8:47 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

إِثبات النفس لله عز وجل من الكتاب

PENETAPAN DIRI UNTUK ALLAH AZZA WA JALLA

DALIL DARI KITABULLAH

 

Imam Ibnu Khuzaimah berkata :

قال الله جل ذكره لنبيه محمد صلى الله عليه وسلم {وإذا جاءك الذين يؤمنون بآياتنا فقل سلام عليكم كتب ربكم على نفسه الرحمة}   فأعلمنا ربنا أن له نفسًا كتب عليها الرحمة أي ليرحم بها من عمل سوءً بجهالة ثم تاب من بعده على ما دل سياق هذه الآية وهو قوله {أنه من عمل منكم سوءً بجهالة ثم تاب من بعدة وأصلح فأنه غفور رحيم}

والله جل ذكره لكليمه موسى {ثم جئت على قدر ياموسى واصطنعتك لنفسي} فبين الله أن له نفسًا اصطنع لها كليمه موسى, وقال جل وعلا {ويحذركم الله نفسه والله رؤوف بالعباد}  فثبت الله أيضًا في هذه الآية أن له نفسًا

وقال روح الله عيسى ابن مريم مخاطبًا ربه {تعلم في نفسي ولا أعلم ما في نفسك إنك أنت علام الغيوب} فروح الله عيسى بن مريم يعلم أن لمعبودة نفسًا.

Terjemahan :

Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam : {apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang} [QS. Al An’aam : 54].

Maka Rabb kita telah memberitahu bahwa Dia memiliki Diri yang Dia sendiri telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang, yaitu mengasihi orang yang melakukan amalan jelek karena kebodohannya, lalu ia bertaubat setelahnya, sesuai dengan indikasi konteks ayat ini yaitu Firman-Nya : {(yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.} [QS. Al An’aam : 54]

Allah berfirman kepada Kaliim-Nya Nabi Musa ‘alaihi as-Salaam : {kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan Hai Musa, dan aku telah memilihmu untuk Diri-Ku.} [QS. Thaha : 40-41].

Maka Allah menjelaskan bahwa Dia memiliki Diri, yang memilih Kaliim-Nya Nabi Musa ‘alaihi as-Salaam.

Allah Azza wa Jalla juga berfirman : {dan Allah memperingatkan kamu terhadap Diri-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.} [QS. Ali Imroon : 30)].

Maka Allah dalam ayat ini juga telah menetapkan bahwa Dia memiliki Diri.

Ruuhullah Nabi Isa ‘alaihi as-Salaam berkata kepada Rabbnya : {Maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada Diri Engkau.} [QS. Al Maidah : 116].

Maka Ruhullah Nabi Isa ‘alaihi as-Salaam mengetahui bahwa Allah yang berhak disembah memiliki Diri.

 

 

 

 

Ta’liq :

Alhamdulillah penjelasan yang sangat gamblang dan sangat kuat dari Imam Ibnu Khuzaimah, tidak akan ada yang mengingkari penjelasan ini kecuali orang-orang yang memiliki penyakit di hatinya, lalu Allah tambah penyakitnya.

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya” [QS. Al Baqoroh : 10].

Itsbat an-Nafsu (Diri) untuk Allah Azza wa Jalla adalah aqidahnya ahlu sunnah, sebagaimana dinukil peng-itsbat-annya oleh Aimah kita. Syaikh Hamud at-Tuwaijiriy dalam “Syarah al-Fatawa al-Hamuwiyyah” (1/331) berkata :

{ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ }  يفهم من إيراد ابن أبي زمنين لهذه الآية أنه يثبت النفس لله – عز وجل – كصفة من الصفات, وهذا قول طائفة من أهل العلم, وممن ذهب إلى هذا الإمام أبو حنيفة النعمان بن ثابت, صاحب المذهب -رحمة الله عليه- وكذلك الإمام ابن خزيمة, صاحب الصحيح, وصاحب كتاب “التوحيد”, وممن ذهب أيضا إلى إثبات النفس كصفة لله – عز وجل – أبو عبد الله بن الخطيب, من الأئمة المتقدمين, ومن المعظمين عند الصوفية, وكذلك ابن قدامة الموفق, صاحب “المغني”

{dan Allah memperingatkan kamu terhadap Diri-Nya}, dipahami maksud Imam Ibnu Abi Zamnain bahwa ayat ini terdapat penetapan Diri untuk Allah Azza wa Jalla, seperti sifat-sifat-Nya yang lain. Ini adalah pendapatnya ulama, diantara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Abu Hanifah an-Nu’maan bin Tsaabit –Imam Madzhab Hanafi-, demikian juga Imam Ibnu Khuzaimah –penulis kitab shahih Ibnu Khuzaimah- dan kitab –at-Tauhid-. Yang berpendapat seperti ini juga yaitu, penetapan Diri seperti sifat Allah Azza wa Jalla lainnya adalah Abu Abdillah bin al-Khothiib dari kalangan ulama mutaqodimin dan termasuk ulama yang diagungkan oleh kaum Sufi, demikian juga Imam Ibnu Qudamah al-Muwafiq –penulis kitab al-Mughni-.

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al Fath” menukil ucapan Imam Ibnu Bathool :

وَفِي هَذِه الْآيَات وَالْأَحَادِيث إِثْبَات النَّفس لله

“dalam ayat dan hadits ini terdapat itsbat Diri untuk Allah”.

Tentu Diri Allah tidak sama dengan diri makhluknya, hanya orang-orang yang bodoh saja yang mengatakan hal tersebut dan bukan berarti dalam rangka mensucikan Allah dari pandangan adanya penyamaan Diri Allah dengan diri makhluk-Nya, kemudian menafikan itsbat an-Nafsu bagi Allah, maka orang yang seperti ini telah menyimpang dari jalannya salaf. Imam Baihaqi dalam “al-Asmaa’ wa ash-Shifat” (2/53) mengklarifikasi sangkaan dengan itsbat an-Nafsu akan menyamakannya dengan makhluk, kata beliau :

فَعَلَى هَذَا الْمَعْنَى يُقَالُ فِي اللهِ سُبْحَانَهُ إِنَّهُ نَفْسٌ ، لا أَنَّ لَهُ نَفْسًا مَنْفُوسَةً أَوْ جِسْمًا مُرَوَّحًا

“maka berdasarkan makna ini dikatakan bahwa Allah Ta’alaa adalah memiliki Diri, bukan Diri yang memiliki nafas atau jism yang memiliki ruh”.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: