TAUHID LIIBNI KHUZAIMAH – ITSBAT DIRI ALLAH (HADITS NO. 1-2)

December 15, 2013 at 11:36 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

1- بَاب ذكر البيان من خبر النبي صلى الله عليه وسلم في إثبات النفس لله عز وجل

Bab 1 Penjelasan dari Khobar Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam Tentang Istbat Diri untuk Allah Azza wa Jalla

 

Imam Ibnu Khuzaimah berkata :

على مثل موافقة التنزيل الذي بين الدفتين مسطور وفي المحاريب والمساجد والبيوت والسكك مقروء

1- حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يقول اللَّهِ أَنَا مَعَ عَبْدِي حِينَ يَذْكُرُنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ.

2- حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ الأَشَجُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ بِهَذَا السَّنَدِ مِثْلَهُ.

Terjemahan :

Penetapan ini sesuai dengan wahyu yang diturunkan, yang mana keduanya disimpan di mihrab-mihrab, masjid-masjid dan di rumah-rumah serta bangunan lainnya.

Hadits no. 1

Haddatsanaa Ya’qub bin Ibrohim ad-Dauroqiy ia berkata, haddatsanaa Abu Mu’awiyyah ia berkata, haddatsanaa Al ‘Amasy dari Abi Shoolih dari Abi Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : ”Allah berfirman : “Aku bersama hamba-Ku ketika ia mengingat-Ku, jika ia mengingatku pada dirinya, Aku mengingatnya pada Diri-Ku, jika ia mengingatku di keramaian, maka Aku mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka”.

Hadits no. 2

Haddatsanaa Abdullah bin Sa’id al-Asyajj ia berkata, haddatsanaa ibnu Numair ia berkata, haddatsanaa al-A’masy dengan sanad semisal ini.

Ta’liq :

Sekarang Imam Ibnu Khuzaimah membawakan dalil dari hadits-hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam yang berisi itsbat Diri untuk Allah Azza wa Jalla. Penomoron hadits ini dilakukan oleh pentahqiq kitab Tauhid ini, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Ibrohim asy-Syahwaan.

Hadits no. 1 para perowinya adalah perowi tsiqoh perowi Bukhori-Muslim, karena memang hadits ini diriwayatkan oleh mereka berdua dalam kitab shahihhnya. Sedangkan perowi pada hadits no. 2 juga para perowi tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim juga.

Imam Ibnu Bathool dalam “Syarah Bukhori”(20/70) berkata :

وما ذكر فى الأحاديث من ذكر النفس، فالمراد به إثبات نفس لله، والنفس لفظة تحتمل معانٍ، والمراد بنفسه تعالى ذاته، فنفسه ليس بأمر يزيد عليه، فوجب أن تكون نفسه هى هو، وهذا إجماع

Äpa yang disebutkan dalam hadits-hadits tentang penyebutan diri, maka yang dimaksud adalah itsbat Diri untuk Allah. An-Nafs (Diri) adalah lafadz yang memiliki beberapa makna,dan yang dimaksud Diri Allah Taálaa adalah Dzat-Nya, Diri-Nya bukan perkara tambahan atas-Nya, maka harus dimaksudkan bahwa an-Nafs itu sendiri adalah Dia Allah dan ini adalah kesepakatan/ijma”.

Sebagian orang menafikan adanya sifat Diri bagi Allah Azza wa Jalla, Imam Al Albani mencoba meluruskan pemahaman mereka, kata beliau :

قلت: اشتهر عند المتأخرين من علماء الكلام – خلافاً للسلف – تأويل هذه الصفات المذكورة في هذا الحديث من (النفس) و (التقرب) و … وما ذلك إلا لضيق عطنهم، وكثرة تأثرهم بشبهات المعتزلة وأمثالهم من أهل الأهواء والبدع فلا يكاد أحدهم يطرق سمعه هذه الصفات إلا كان السابق إلى قلوبهم أنها كصفات المخلوقات، فيقعون في التشبيه، ثم يفرون منه إلى التأويل ابتغاء التنزيه بزعمهم، ولو أنهم تلقوها حين سماعها مستحضرين قوله تعالى: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ} لما ركنوا إلى التأويل، ولآمنوا بحقائقها على ما يليق به تعالى، شأنهم في ذلك شأنهم في إيمانهم بصفتي السمع والبصر وغيرهما من صفاته عز وجل، مع تنزيهه عن مشابهته للحوادث، لو فعلوا ذلك هنا لاستراحوا وأراحوا، ولنجوا من تناقضهم في إيمانهم بربهم وصفاته، فاللهم هداك. وراجع إن شئت التوسع في هذا كتب شيخ الإسلام ابن تيمية، رحمه الله تعالى.

“التعليق على الترغيب والترهيب” (2/ 610).

“telah masyhur dikalangan ulama kalam muta’akhirin –yang menyelisihi salaf- ta’wil sifat-sifat ini dalam kandungan hadits, yaitu an-Nafs (Diri) dan taqorub (mendekat) dan …. Hal ini tidak terjadi, kecuali karena dangkalnya pemahaman mereka dan banyak terpengaruh oleh syubhat mu’tazilah dan yang semisalnya dari kalangan ahlul ahwa dan ahlu bid’ah. Hampir saja mereka setiap kali mendengar sifat-sifat ini tidaklah terbesit dalam pikiran mereka, kecuali bahwa hal tersebut adalah sifat makhluk, sehingga mereka terjatuh kedalam syubhat, lalu mereka lari dari penetapannya dan melakukan ta’wil dengan tujuan pensucian menurut persangkaannya. Seandainya mereka mau memahami ketika mendengar sifat tersebut dengan menghadirkan firman Allah Ta’alaa : {tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat} [QS. Asy-Syuraa’ : 11). Niscaya mereka tidak akan melakukan ta’wil dan beriman kepada hak Allah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Sebenarnya kondisi mereka ketika itu adalah seperti kondisi ketika beriman dengan 2 sifat ini yaitu as-Sam’u (mendengar) dan al-Bashor (melihat) dan selainnya dari sifat-sifat Azza wa Jalla, berbarengan dengan pensucian dari penyerupaan-Nya dengan makhluk, seandainya mereka melakukan hal ini, niscaya kita bisa beristirahat dan mereka juga dapat beristirahat dan lenyaplah kontradiksi dalam hal keimanan kepada Rabb dan sifat-sifat-Nya, Ya Allah berilah mereka hidayah, silakan merujuk masalah ini di kitab-kitabnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah” (Ta’liq alaa at-Targhiib wa at-Tarhiib” (2/610), dinukil dari “Mausu’ah Al Albani fil Aqidah” (6/247) karya Syaikh Syaadiy Alu Nu’man).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: