SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 59 KENCINGNYA BAYI

December 22, 2013 at 11:41 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

59 – باب بَوْلِ الصِّبْيَانِ

Bab 59 Kencingnya Bayi

Penjelasan :

 

Yakni hukum terkait dengan kencingnya bayi laki-laki. Berkaitan dengan masalah hukum air kencing bayi laki-laki dan perempuan ada 3 pandangan dari para ulama. Imam Shon’aniy dalam “Subulus Salam” berkata :

وَلِلْعُلَمَاءِ فِي ذَلِكَ ثَلَاثَةُ مَذَاهِبَ : لِلْهَادَوِيَّةِ ، وَالْحَنَفِيَّةِ ، وَالْمَالِكِيَّةِ : أَنَّهُ يَجِبُ غَسْلُهُمَا كَسَائِرِ النَّجَاسَاتِ قِيَاسًا لِبَوْلِهِمَا عَلَى سَائِرِ النَّجَاسَاتِ ، وَتَأَوَّلُوا الْأَحَادِيثَ ، وَهُوَ تَقْدِيمٌ لِلْقِيَاسِ عَلَى النَّصِّ .

الثَّانِي وَجْهٌ لِلشَّافِعِيَّةِ ، وَهُوَ أَصَحُّ الْأَوْجُهِ عِنْدَهُمْ : أَنَّهُ يَكْفِي النَّضْحُ فِي بَوْلِ الْغُلَامِ لَا الْجَارِيَةِ فَكَغَيْرِهَا مِنْ النَّجَاسَاتِ ، عَمَلًا بِالْأَحَادِيثِ الْوَارِدَةِ بِالتَّفْرِقَةِ بَيْنَهُمَا ، وَهُوَ قَوْلُ ” عَلِيٍّ ” عَلَيْهِ السَّلَامُ ، وَعَطَاءٍ ، وَالْحَسَنِ ، وَأَحْمَدَ ، وَإِسْحَاقَ ، وَغَيْرِهِمْ .

يَكْفِي النَّضْحُ فِيهِمَا ، وَهُوَ كَلَامُ الْأَوْزَاعِيِّ .

 

“Yang pertama pendapatnya Al Hadawiyyah, Al Hanafiyyah dan Al Malikiyyah, mereka berpendapat wajib mencuci kencingnya bayi laki-laki dan perempuan, sama seperti najis lainnya, dikiaskan kepada kencing pada umumnya, mereka memalingkan hadits, lebih mengedepankan qiyas disbanding nash.

Yang kedua, salah satu pendapat Syafi’iyyah dan ini yang rajih menurut mereka yakni, cukup diperciki air untuk kencing bayi laki-laki tidak untuk bayi perempuan, ia disamakan seperti najis lainnya, mereka beramal dengan hadits-hadist yang datang berkaitan dengan pembedaan diantara keduanya, ini juga pendapatnya sahabat Ali Rodhiyallahu anhu, ‘Athoo, Al Hasan, Ahmad, Ishaaq dan selainnya.

Yang ketiga adalah semuanya diperciki baik bayi laki-laki maupun perempuan, ini adalah pendapatnya Al Auzaa’iy”.

 

Barangkali yang rajih adalah pendapat Syafi’iyyah dan Hanabilah yang membedakan antara kencing bayi laki-laki yang cukup hanya diperciki saja dan kencingnya bayi perempuan, diikutkan kepada hukum najis sama seperti lainnya, wajih dicuci sampai hilang bekasnya. Dalil mereka berdasarkan riwayat-riwayat yang shahihah yang membedakan perlakuan terhadapnya, diantara dalilnya :

 

 

  1. Hadits Abu Samh t bahwa ia berkata, Rasulullah r bersabda :

يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ ، وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ

“dicuci kencingnya bayi perempuan dan diperciki kencingnya bayi laki-laki” (HR. Abu Dawud, dan Nasa’I, disahihkan oleh Imam Al Hakim dan Imam Al Albani).

  1. Hadits Ummu Qois binti Mihshoon yang nanti akan dibawakan oleh Imam Bukhori dalam bab ini.
  2. Hadits Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu anhu, kata beliau :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ فِى بَوْلِ الْغُلاَمِ الرَّضِيعِ « يُنْضَحُ بَوْلُ الْغُلاَمِ وَيُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ ». قَالَ قَتَادَةُ وَهَذَا مَا لَمْ يَطْعَمَا فَإِذَا طَعِمَا غُسِلاَ جَمِيعًا

“Rasullah r bersabda tentang air kencing bayi laki-laki yang masih menyusui : “Diperciki kencingnya bayi laki-laki dan dicuci kencingnya bayi perempuan”.

Qotadah berkata : ‘hal ini selama bayi laki-laki belum makan, jika sudah makan maka keduanya juga dicuci’” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

  1. Hadits Aisyah Rodhiyallahu anha, bahwa ia berkata :

أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِصَبِىٍّ يُحَنِّكُهُ ، فَبَالَ عَلَيْهِ ، فَأَتْبَعَهُ الْمَاءَ

“Nabi r didatangkan bayi laki-laki untuk ditahnik, lalu ia kencing, Nabi r mengalirkan air padanya” (HR. Bukhori).

  1. Hadits Ummu Kurzin Rodhiyallahu anha, bahwa ia berkata :

أُتِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِغُلَامٍ فَبَالَ عَلَيْهِ فَأَمَرَ بِهِ فَنُضِحَ، وَأُتِيَ بِجَارِيَةٍ فَبَالَتْ عَلَيْهِ فَأَمَرَ بِهِ فَغُسِلَ

“Nabi r didatangkan seorang bayi laki-laki, lalu mengencingi Beliau, maka beliau memerintahkan memericikinya. Lalu datang bayi perempuan, lalu mengencingiya, maka beliau memerintahkan mencucinya” (HR. Ahmad, dikatakan Syaikh Syu’aib Arnauth : ‘shahih lighoirihi’).

  1. Hadits Ummu Kurzin secara marfu bahwa Nabi r berkata :

بَوْلُ الْغُلاَمِ يُنْضَحُ وَبَوْلُ الْجَارِيَةِ يُغْسَلُ

“Kencing bayi laki-laki diperciki, sedangkan kencing bayi perempuan dicuci” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

 

 

 

 

 

Berkata Imam Bukhori :

 

222 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أُتِىَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِصَبِىٍّ ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتْبَعَهُ إِيَّاهُ

84). Hadits no. 222

“Haddatsanaa Abdullah bin Yusuf ia berkata, akhbaronaa Malik dari Hisyaam bin Urwah dari Bapaknya dari Aisyah Rodhiyallahu anhu Ummul Mukminin bahwa ia berkata : ‘didatangkan bayi laki-laki, lalu mengencingi baju Beliau r, kemudian Beliau meminta air, lalu mengalirkan air padanya”.

 

Biografi Perowi Hadits

 

Semua perowinya telah berlalu keterangannya.

 

Berkata Imam Bukhori :

 

223 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ عَنْ أُمِّ قَيْسٍ بِنْتِ مِحْصَنٍ أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ ، لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حِجْرِهِ ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

85). Hadits no. 223

“Haddatsanaa Abdullah bin Yusuf ia berkata, akhbaronaa Malik dari Ibnu Syihaab dari ‘Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Utbah dari Ummu Qois binti Mihshon bahwa ia datang bersama dengan bayi laki-lakinya yang belum makan makanan menemui Rasulullah r, lalu Rasulullah r mendudukkan bayi tersebut di pangkuannya. Kemudian bayi tersebut mengencingi baju Nabi r, maka Beliau meminta air, kemudian memercikinya tidak mencucinya”.

HR. Muslim no. 691

 

Biografi Perowi Hadits

 

Semua perowinya telah berlalu keterangannya, kecuali :

 

 

1.  Nama                      : Ummu Qois Aminah binti Mihshon Rodhiyallahu anha

Kelahiran                : –

Negeri tinggal         : Madinah

Komentar ulama      : Shahabiyyah.

Hubungan Rowi       : Termasuk wanita yang berhijrah.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :

  1. Dalam hadits Ummul Mukminin Aisyah Rodhiyallahu anha diatas, disebutkan bayi laki-laki secara mutlak, sedangkan pada hadits Ummu Qois Rodhiyallahu anhu terdapat tambahan bayi yang belum makan makanan, sehingga dalam masalah air kencing bayi laki-laki terdapat dalil yang menyebutkannya secara mutlak tanpa ada pembatasan, selama masih dikatakan bayi, maka diberlakukan hukum cukup memerciciki air kencingnya saja dan ada yang membatasi selama belum makan makanan. Bahkan dalam hadits Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu anhu diatas, ada perkataan dari rowi haditsnya yakni Qotadah yang secara tegas menyatakan bahwa hukum tersebut berlaku bagi bayi yang belum makan makanan. Sehingga apakah kemutlakan penyebutan bayi laki-laki ditaqyid (dibatasi) dengan belum makan makanan? Ataukah tetap berlaku kemutlakannya, dalam artian selama masih disebut bayi laki-laki maka hukumnya masih berlaku, sekalipun ia telah diberikan makanan tambahan selain air susu ibu? Jawabannya akan diberikan oleh Imam Mubarokfuriy dalam kitabnya “Tuhfatul Ahwadziy” :

قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ : قَوْلُهُ بَوْلُ الْغُلَامِ الرَّضِيعِ هَذَا تَقْيِيدٌ لِلَفْظِ الْغُلَامِ بِكَوْنِهِ رَضِيعًا وَهَكَذَا يَكُونُ تَقْيِيدًا لِلَفْظِ الصَّبِيِّ وَالصَّغِيرِ وَالذَّكَرِ الْوَارِدَةِ فِي بَقِيَّةِ الْأَحَادِيثِ اِنْتَهَى ، وَرَوَى أَبُو دَاوُدَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مَوْقُوفًا قَالَ يُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ وَيُنْضَحُ بَوْلُ الْغُلَامِ مَا لَمْ يَطْعَمْ وَرُوِيَ مِنْ طَرِيقِ الْحَسَنِ عَنْ أُمِّهِ قَالَتْ إِنَّهَا أَبْصَرَتْ أُمَّ سَلَمَةَ تَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى بَوْلِ الْغُلَامِ مَا لَمْ يَطْعَمْ فَإِذَا طَعِمَ غَسَلَتْهُ وَكَانَتْ تَغْسِلُ بَوْلَ الْجَارِيَةِ ، قَالَ الْحَافِظُ فِي التَّلْخِيصِ سَنَدُهُ صَحِيحٌ وَرَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ عَنْهَا مَوْقُوفًا أَيْضًا وَصَحَّحَهُ اِنْتَهَى . وَفِي حَدِيثِ أُمِّ قَيْسٍ الْمَذْكُورِ فِي الْبَابِ دَخَلْت بِابْنٍ لِي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَأْكُلْ الطَّعَامَ ، قَالَ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ الْمُرَادُ بِالطَّعَامِ مَا عَدَا اللَّبَنَ الَّذِي يَرْتَضِعُهُ وَالتَّمْرَ الَّذِي يُحَنَّكُ بِهِ وَالْعَسَلَ الَّذِي يَلْعَقُهُ لِلْمُدَاوَاةِ وَغَيْرِهَا . فَكَانَ الْمُرَادُ أَنَّهُ لَمْ يَحْصُلْ لَهُ الِاغْتِذَاءُ بِغَيْرِ اللَّبَنِ عَلَى الِاسْتِقْلَالِ هَذَا مُقْتَضَى كَلَامِ النَّوَوِيِّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَشَرْحِ الْمُهَذَّبِ وَأَطْلَقَ فِي الرَّوْضَةِ تَبَعًا لِأَصْلِهَا أَنَّهُ لَمْ يَطْعَمْ وَلَمْ يَشْرَبْ غَيْرَ اللَّبَنِ ، وَقَالَ فِي نُكَتِ التَّنْبِيهِ : الْمُرَادُ أَنَّهُ لَمْ يَأْكُلْ غَيْرَ اللَّبَنِ وَغَيْرَ مَا يُحَنَّكُ بِهِ ، وَمَا أَشْبَهَهُ

“Syaukaniy berkata dalam “An-Nail” : ‘ucapannya bayi laki-laki yang menyusui’, ini adalah taqyid (pembatasan) bahwa bayi tersebut adalah yang masih menyusui, sehingga ini juga pembatasan untuk lafadz Shobiy kecil dan anak laki-laki sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lainnya’.

Abu Dawud meriwayatkan dari Ali Rodhiyallahu anhu secara mauquf, beliau berkata : ‘dicuci bayi perempuan dan diperciki bayi laki-laki selama belum makan makanan’. Diriwayatkan dari jalan Al Hasan dari Ibunya ia berkata : ‘aku melihat Ummu salam menyiramkan air diatas kencingnya bayi laki-laki selama ia belum makan makanan, jika ia sudah makan makanan, beliau mencucinya dan beliau juga mencuci air kencingnya bayi perempuan’.

Al Hafidz berkata dalam “At-Talkhiish dengan sanad yang shahih dan Baihaqiy juga meriwayatkan dari jalan lain secara mauquf dan juga dishahihkannya. Dalam hadits Ummu Qois yang telah disebutkan pada bab ketika beliau masuk bersama anak laki-lakinya yang belum makan makanan menemui Nabi r. Al Hafidz berkata dalam “Al Fath” : ‘yang dimaksud dengan makanan adalah selain air susu ibu yang mana bayi tersebut menyusu kepadanya, lalu kurma yang biasanya ditahnikkan kepada bayi yang baru lahir dan juga madu yang dilepet-lepeti (bs. Jawa) di mulut bayi, sebagai bentuk kasih sayang kepadanya dan semisalnya. Maka yang dikehendaki adalah bahwa bayi tersebut tidak mendapatkan kekenyangan selain air susu ibu ketika makan makanan tersebut. Ini adalah konsekuensi dari ucapan Nawawi dalam syarah Muslim dan syarah Muhadzab dan pemutlakan beliau bahwa bayi tersebut masih menyusu adalah mengikuti hukum asalnya, yakni bahwa ia tidak makan dan minum selain ASI. Nawawi berkata dalam “Nukat Tanbiih” : ‘yang diinginkan bayi tersebut belum makan selain ASI dan makanan tahnik dan yang semisalnya’”.

Jadi kesimpulannya, yang mendapatkan keringanan adalah bayi laki-laki yang belum mendapatkan makanan tambahan selain ASI. Jika sudah diberikan makanan tambahan, maka diberlakukan hukumnya sama seperti bayi perempuan, yakni harus dicuci bekas kencingnya.

  1. Hikmah dari pembedaan antara bayi laki-laki dan perempuan dalam masalah kencingnya adalah karena Rasulullah r membedakannya, tidak dinukil dari Nabi r secara jelas alasan pembedaannya, kecuali kewajiban bagi kita menerima apa-apa yang Rasulullah r telah tetapkan bahwa hal tersebut memang dibedakan.
  2. Namun tidak sedikit ulama yang mencoba memberikan hikmah dari perbedaan tersebut, yang paling baik dalam menjelaskan adalah Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim dalam kitabnya “Tuhfatul Maudud”, kata beliau :

أحدها أن بول الغلام يتطاير وينشر هاهنا وهاهنا فيشق غسله وبول الجارية يقع في موضع واحد فلا يشق غسله الثاني أن بول الجارية أنتن من بول الغلام لأن حرارة الذكر أقوى وهي تؤثر في إنضاج البول وتخفيف رائحته الثالث أن حمل الغلام أكثر من حمل الجارية لتعلق القلوب به كما تدل عليه المشاهدة

“yang pertama, air kencing bayi laki-laki terpencar dan menyebar kemana-mana, maka akan timbul kesulitan untuk mencucinya, berbeda dengan bayi perempuan air kencing berada pada satu tempat, sehingga tidak menyulitkan mencucinya. Yang kedua air kencing bayi perempuan lebih pesing dibandingkan bayi laki-laki, karena panas tubuh laki-laki lebih kuat dibandingkan perempuan, sehingga berpengaruh terhadap kejernihan air kencing dan ringan baunya. Yang ketiga, bayi laki-laki lebih sering digendong dibandingkan bayi perempuan, karena senangnya hati terhadap bayi laki-laki sebagaimana ini adalah realitas yang ada”.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: