SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 60 KENCING DENGAN DUDUK

December 22, 2013 at 11:43 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

60 – باب الْبَوْلِ قَائِمًا وَقَاعِدًا

Bab 60 Kecing Dalam Posisi Berdiri dan Duduk

 

Penjelasan :

 

Pembahasan kali ini berkaitan dengan tata cara kencing, apakah berdiri atau dengan posisi duduk/jongkok. Kebiasaan Rasulullah r adalah kencing dengan posisi duduk, sampai-sampai istri Beliau r, Ummul Mukminin Aisyah Rodhiyallahu anha berkata :

مَنْ حَدَّثَكُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَالَ قَائِمًا فَلاَ تُصَدِّقُوهُ مَا كَانَ يَبُولُ إِلاَّ جَالِسًا

“Barangsiapa yang menceritakan kepada kalian bahwa Rasulullah r pernah kencing berdiri, maka jangan kalian benarkan, tidaklah Nabi r kencing, melainkan dalam posisi duduk” (HR. Nasa’I, Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

    Namun Imam Bukhori sepertinya lebih condong kepada pendapat diperbolehkannya kedua posisi dalam kencing yaitu dalam kondisi berdiri dan duduk. Apa yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah Rodhiyallahu anha tidak bertentang dengan riwayat dari sahabat Khudzaifah Rodhiyallahu anhu yang menceritakan bahwa Nabi r pernah kencing berdiri, sehingga kalau kita kompromikan antara penafian sahabat Aisyah Rodhiyallahu anha dengan riwayat penetapan kencingnya Nabi r dalam posisi berdiri, bahwa Aisyah Rodhiyallahu anha melihat kebiasaan Nabi sholallahu alaihi wa salam kencing dengan posisi duduk ketika di rumah, sedangkan Khudzaifah rodhiyallahu anhu pernah melihat Beliau sholallahu alaihi wa salam kencing berdiri ketika di luar rumah.

 

Berkata Imam Bukhori :

224 – حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِى وَائِلٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أَتَى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – سُبَاطَةَ قَوْمٍ فَبَالَ قَائِمًا ، ثُمَّ دَعَا بِمَاءٍ ، فَجِئْتُهُ بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ

85). Hadits no. 224

“Haddatsanaa Adam ia berkata, haddatsanaa Syu’bah dari Al A’masy dari Abi Wail dari Khudzaifah rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘Nabi sholallahu alaihi wa salam mendatangi tempat sampah suatu kaum, lalu Beliau kencing dengan berdiri, lalu beliau meminta air, maka aku yang membawakan air untuk digunakan berwudhu”.

HR. Muslim no. 647

Biografi Perowi Hadits

Semua perowinya telah berlalu keterangannya

Penjelasan Hadits :

  1. Imam Ibnu Bathool dalam “Syarah Bukhori” (1/359) berkata :

فى نص الحديث جواز البول قائمًا، وأما البول قاعدًا فمن دليل الحديث، لأنه إذا جاز البول قائمًا فقاعدًا أجوز، لأنه أمكن.

dalam nash hadits ini terdapat dalil bolehnya kencing berdiri, adapun kencing dengan duduk termasuk dalam cakupan hadits, karena jika kencing berdiri saja diperbolehkan, maka kencing dengan duduk lebih diperbolehkan lagi, karena itu lebih mungkin”.

  1. Sebagian ulama memakruhkan kencing dengan berdiri dan alasan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam kencing berdiri adalah ada beberapa kemungkinan :
    1. Rasulullah kencing berdiri karena pada waktu itu sedang luka di lututnya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits :

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بَالَ قَائِمًا مِنْ جُرْحٍ كَانَ بِمَآبِضِه

Bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam kencing berdiri karena luka lutut” (HR. Baihaqi, Al Hakim dan selainnya).

Hadits ini dinilai shahih oleh Imam Al Hakim, namun penilaian ini dibantah oleh Imam Adz-Dzahabi dalam “at-Talkhis”, kata beliau : ‘Hamaad (salah satu perowinya-pent.) dinilai dhoif oleh Imam Daruquthni’. Hadits ini didhoifkan juga oleh Imam Al Albani.

  1. Imam Baihaqi menukil juga perkataan Imam Ahmad :

وَقَدْ قِيلَ كَانَتِ الْعَرَبُ تَسْتَشْفِى لِوَجَعِ الصُّلْبِ بِالْبَوْلِ قَائِمًا ، فَلَعَلَّهُ كَانَ بِهِ إِذْ ذَاكَ وَجَعُ الصُّلْبِ

dikatakan bahwa orang arab biasa melakukan terapi sakit pinggang dengan kencing berdiri, maka kemungkinan Nabi sholallahu alaihi wa salam kencing berdiri karena sedang melakukan terapi”.

  1. Imam Baihaqi menukil juga dari Imam Syafií :

إِنَّمَا فَعَلَ ذَلِكَ لأَنَّهُ لَمْ يَجِدْ لِلْقُعُودِ مَكَانًا أَوْ مَوْضِعًا وَاللَّهُ أَعْلَم

hanyalah Beliau sholallahu alaihi wa salam melakukan hal itu karena tidak didapati tempat untuk duduk, Wallahu A’lam”.

  1. Kami tutup dengan fatwa Lajnah Daimah Saudi Arabia yang pada waktu itu diketuai oleh Imam bin Baz :

السؤال الأول من فتوى رقم 2001

س: هل تبول الإنسان واقفا حرام أو حلال؟

 

ج: الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه.. وبعد:

لا يحرم تبول الإنسان قائما لكن يسن له أن يتبول قاعدا لقول عائشة رضي الله عنها: « من حدثكم أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يبول قائما فلا تصدقوه ما كان يبول إلا قاعدا »  رواه الترمذي وقال: هذا أصح شيء في الباب ولأنه استر له وأحفظ له من أن يصيبه شيء من رشاش بوله.

وقد رويت الرخصة في البول قائما عن عمر وعلي وابن عمر وزيد بن ثابت رضي الله عنهم لما رواه البخاري ومسلم عن حذيفة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم « أنه أتى سباطة قوم فبال قائما »  ولا منافاة بينه وبين حديث عائشة رضي الله عنها لاحتمال أن يكون النبي صلى الله عليه وسلم فعل ذلك لكونه في موضع لا يتمكن فيه من الجلوس أو فعله ليبين للناس أن البول قائما ليس بحرام وذلك لا ينافي أن الأصل ما ذكرته عائشة رضي الله عنها من بوله صلى الله عليه وسلم قاعدا وأنه سنة لا واجب يحرم خلافه.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

Soal : Apakah seorang yang kencing dengan berdiri itu haram atau halal?

Jawab : tidak diharamkan seseorang untuk kencing berdiri, namun dianjurkan baginya untuk kencing dengan duduk, karena ucapan Aisyah rodhiyallahu anhu : ‘Barangsiapa yang meriwayatkan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam kencing dengan berdiri, maka jangan benarkan, karena Beliau tidak kencing kecuali dengan duduk’. Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan beliau berkata : ‘ini adalah yang paling shahih dalam bab ini, karena lebih tertutup dan lebih terjada dari terkena cipratan air kencing’.

Telah diriwayatkan keringanan kencing berdiri dari Umar, Ali, Ibnu Umar dan Zaid bin Tsabit rodhiyallahu anhum, berdasarkan riwayat Bukhori-Muslim dari Khudzaifah rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau sholallahu alaihi wa salam mendatangi tempat sampah suatu kaum, lalu kencing berdiri. Hal ini tidak bertentangan antara hadits ini dengan hadits Aisyah rodhiyallahu anha, karena kemungkinan Nabi sholallahu alaihi wa salam melakukan hal itu di tempat yang tidak mungkin untuk duduk atau Beliau sholallahu alaihi wa salam melakukan itu dalam rangka mengajarkan manusia, bahwa kencing berdiri tidak haram. Hal ini tidak bertentangan karena asal apa yang disebutkan oleh Aisyah rodhiyallahu anha, kencingnya Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan duduk bahwa hal itu adalah sunnah, bukan wajib, sehingga haram yang menyelisihinya.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: