TAUHID LIIBNI KHUZAIMAH – ITSBAT DIRI ALLAH (HADITS 9 & 10)

December 23, 2013 at 12:10 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

1- بَاب ذكر البيان من خبر النبي صلى الله عليه وسلم في إثبات النفس لله عز وجل

Bab 1 Penjelasan dari Khobar Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam Tentang Istbat Diri untuk Allah Azza wa Jalla

 

Imam Ibnu Khuzaimah berkata :

9- حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى ، قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا هَمَّامٌ ، قَالَ : حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي قِلابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِيمَا يُرْوَى عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِنِّي حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِي الظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِي فَلا تَظَالَمُوا كُلُّ بَنِي آدَمَ يُخْطِئُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرُ لَهُ وَلا أُبَالِي وَقَالَ يَا بَنِي آدَمَ كُلُّكُمْ كَانَ ضَالا إِلا مَنْ هَدَيْتُ وَكُلُّكُمْ كَانَ جَائِعًا إِلا مَنْ أَطْعَمْتُ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ.

10- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ عَبْدُ الأَعْلَى بْنُ مُسْهِرٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلانِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلا تَظَالَمُوا.

 

Terjemahan :

Hadits no. 9

Haddatsanaa Abu Musa ia berkata, haddatsanaa Abdus Somad ia berkata, haddatsanaa Hammaam ia berkata, haddatsanaa Qotadah dari Abi Qilaabah dari Abi Asmaa’dari Abi Dzar Rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam berksabda : “dari riwayat Rabbnya Tabaaraka wa Taálaa : “Sesungguhnya aku mengharamkan atas Diri-Ku kedholiman dan juga kepada hamba-Ku, maka janganlah kalian saling mendholimi. Setiap Bani Adam melakukan kesalahan pada malam dan siang hari, lalu ia memohon ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni dan Aku tidak peduli (berapa banyak dosanya) dan Allah berfirman : “wahai anak Adam setiap kalian itu sesat kecuali yang Aku beri petunjuk dan setiap kalian itu kelaparan, kecuali yang Aku beri makan lalu disebutkan hadits”.

Hadits no. 10

Haddatsanaa Muhammad bin Yahya, haddatsanaa Abu Mushir Abdul A’laa bin Mushir ia berkata, haddatsanaa Saíd bin Abdul Aziz dari Robiáh bin Yaziid dari Abi Idris al-Khoulaaniy dari Abi Dzar rodhiyallahu anhu dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dari Allah Tabaaroka wa Taálaa bahwa Dia berkata : “Wahai hamba-Ku, aku mengharamkan kedholiman atas Diri-Ku dan aku menjadikannya diantara kalian suatu keharaman, maka janganlah kalian saling mendholimi”.

Ta’liq :

Hadits no. 9 semua perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Abu Asmaa’ yang bernama Ámr bin Murtsid, Imam Bukhori hanya memakainya di kitab “adabul Mufrod”. Maka sanad ini memenuhi syarat Imam Muslim. Dan memang beliau menulis hadits ini dalam kitab shahihnya (no. 6740) dari jalan Ishaq bin Ibrohim dan Muhammad bin Mutsanaa (Abu Musa) keduanya dari Abdus Shomad dan seterusnya. Namun lafadznya lebih hanya sampai kata “jangan saling mendholimi”.

Syahid untuk bab itsbat Diri untuk Allah dari hadits ini adalah sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam : “Sesungguhnya aku mengharamkan atas Diri-Ku kedholiman”.

Hadits no. 10 semua perowinya tsiqoh, perowi Bukhori-Muslim, kecuali Said bin Abdul Aziz, Imam Bukhori hanya memakainya di kitab “adabul Mufrod”. Maka sanad ini memenuhi syarat Imam Muslim. Dan memang beliau menulis hadits ini dalam kitab shahihnya (no. 6737) dari jalan haddatsanaa Abdullah bin Abdur Rokhman bin Bahroom ad-Darimiy, haddatsanaa Marwan bin Muhammad ad-Dimasyqi, haddatsanaa Saíd bin Abdul Aziz dan seterusnya.

Syahid untuk bab itsbat Diri untuk Allah dari hadits ini adalah sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam : “aku mengharamkan kedholiman atas Diri-Ku”.

Imam Baihaqi juga berhujjah dengan hadits ini ketika menetapkan sifat Diri untuk Allah dalam kitabnya “Asmaa’wa Shifat” (no. 627).

Imam Ibnu Abil Izz dalam “Syarah Aqidah Thohawiyyah” berkata :

قد فسره السلف ، بأن الظلم : أن توضع عليه سيئات غيره ،

“para ulama salaf menafsirkan bahwa kedholiman adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya”.

Syaikhul Islam dalam “Majmu Fatawa” (4/96) menjelaskan bahwa di beberapa kitabnya Allah mengharamkan kedholiman, kata beliau :

إحْدَاهُمَا : فِي الظُّلْمِ الَّذِي حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى نَفْسِهِ وَنَفَاهُ عَنْ نَفْسِهِ بِقَوْلِهِ : { وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ } وَقَوْلِهِ : { وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا } وَقَوْلِهِ : { وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ } وَقَوْلِهِ : { إنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا } وَقَوْلِهِ : { قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا } . وَنَفَى إرَادَتَهُ بِقَوْلِهِ : { وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعَالَمِينَ } وَقَوْلِهِ : { وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ } . وَنَفَى خَوْفَ الْعِبَادِ لَهُ بِقَوْلِهِ : { وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا }

“tentang kedholiman yang Allah haramkan atas Diri-Nya dan menafikan kedholiman terjadi pada Diri-Nya, dengan firmannya : “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka” (QS. Hud : 101), lalu : “Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun” (QS. Al Kahfi : 49), lalu : “dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (QS. Fushilat : 46), lalu : “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya” (QS. An Nisaa’: 40), lalu : “”Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun” (QS. An Nisaa’: 77), dan Dia menafikan keinginan berbuat dholim, firman-Nya : “dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya” (QS. Ali Imron : 108), lalu : “Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya” (QS. Ghoofir : 31), dan menafikan ketakutan hamba bahwa Allah akan berbuat dholim dalam firman-Nya : “Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya” (QS. Thaha : 112).

Adapun bentuk kedholiman hamba maka ada 2 macam menurut Imam Nawawi dalam “Syarah Arbain Nawawi” yaitu : dholim kepada dirinya sendiri, yang paling besar adalah kesyirikan lalu berikutnya dari kemaksiatan dari dosa besar, sampai dosa kecilnya. Yang kedua adalah kedholiman seorang hamba kepada hamba lainnya, maka ini tersurat disebutkan dalam hadits ini. Bahkan kedholiman ini akan membawa kegelapan pada hari kiamat sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

إِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya kedholiman adalah kegelapan pada hari kiamat” (Muttafaqun alaih).

Hadits ini menutup bab penetapan Diri bagi Allah dalam kitabut Tauhid karya Imam Ibnu Khuzaimah. Sehingga seharusnya seorang Muslim meyakini bahwa Allah menetapkan sifat Diri bagi-Nya sesuai dengan keagungan dan kemulian-Nya, karena Allah sendiri yang menetapkan hal tersebut dalam kitabnya dan juga melalui lisan Rasul-Nya sholallahu alaihi wa salam dan ini adalah kesepakatan ulama salaf.

Janganlah mengikuti kesesatan ahlu bidáh yang mengingkari itsbat Diri bagi Allah dan jangan pula terpedaya dengan ketergelinciran ulama sunnah yang melakukan takwil terhadap sifat ini. Ulama sunnah seperti Imam Nawawi yang keliru dalam masalah asma wa shifat, maka Imam Ibnu Utsaimin telah menyinggung hal ini dalam Mukadimah syarah Arbain Nawawiyyah, kata beliau :

وهو – رحمه الله – مجتهدٌ، والمجتهد يخطئ ويصيب، وقد أخطأ – رحمه الله – في مسائل الأسماء والصفات، فكان يؤول فيها لكنه لاينكرها، فمثلاً: ( استوى على العرش ) يقول أهل التأويل معناها: استولى على العرش، لكن لاينكرون: (استوى) لأنهم لو أنكروا الاستواء تكذيباً لكفروا، أما من ينكر إنكار تأويل وهو لايجحدها فإن كان لتأويله مساغ في اللغة العربية فإنه لايكفر، أما إذا لم يكن له مسوّغ في اللغة العربية فهذا موجب الكفر. مثل أن يقول: ليس لله يدٌ حقيقة، ولا بمعنى النعمة،أو القوة، فهذا كافر؛ لأنه نفاها نفياً مطلقاً . فهم يصدقون به ولكن يحرفونه. ومثلُ هذه المسائل التي وقع منه – رحمه الله – خطأ في تأويل بعض نصوص الصفات إنه لمغمور بما له من فضائل ومنافع جمّة، ولانظن أن ماوقع منه إلا صادر عن اجتهاد وتأويل سائغ – ولو في رأيه – وأرجو أن يكون من الخطأ المغفور، وأن يكون ماقدّمه من الخير والنّفع من السعي المشكور، وأن يصدق عليه قول الله تعالى :(إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ)(هود: الآية114)

فالنووي نشهد له فيما نعلم من حاله بالصلاح، وأنه مجتهد، وأن كل مجتهد قد يصيب وقد يخطئ، إن أخطأ فله أجر واحد، وإن أصاب فله أجران

“beliau semoga Allah merahmatinya adalah seorang mujtahid, mujtahid bisa keliru dan benar. Sungguh Imam Nawawi telah keliru dalam masalah asma wa shifat, beliau mentakwilnya, namun tidak sampai mengingkarinya, misalnya : “Allah beristiwa di atas Arsy”, ahlu takwil berkata : ‘maknanya menguasai Arsy, namun mereka tidak mengingkari Istawa’. Karena seandainya mereka mengingkari istawa karena mendustakannya, niscaya mereka kafir, adapun orang yang mengingkarinya dengan melakukan takwil dan ia tidak juhud (menentang setelah ditegakkan hujjah), maka jika takwilnya bersumber dari konteks bahasa arabnya, maka ia tidak kafir, adapun jika keluar dari kontek bahasa arab maka ini dapat menyebabkan kekafiran. Misalnya ia mengatakan : “Allah tidak memiliki tangan yang hakiki, tidak juga nikmat atau kekuatan, maka ia kafir, karena ia menolaknya dengan penolakan secara mutlak.

Mereka ahlu takwi membenarkannya, namun mereka melakukan tahrif, dan misal untuk masalah ini dimana Imam Nawawi jatuh kepadanya, melakukan kekeliruan takwil terhadap sebagian nash-nash sifat, maka ia diampuni karena keutamaan dan manfaat beliau yang sangat banyak. Kami tidak menduga bahwa beliau melakukan hal tersebut, kecuali karena ijtihad dan takwil yang mendesak –menurut pendapat beliau- dan aku harap ini adalah kesalahan yang diampuni, dimana Beliau telah mempersembahkan kebaikan dan manfaat dari sebuah usaha yang patut disyukuri dan dalam rangka membenarkan Firman Allah Taálaa : “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk” (QS. Hud : 114). Maka Imam Nawawi kami menyaksikan sesuai yang kami ketahui bahwa kondisinya adalah penuh dengan kebaikan, beliau mujtahid dan setiap mujtahid kadang benar dan kadang keliru, jika keliru mendapatkan satu pahala dan jika benar mendapatkan dua pahala”..

Diantara kalangan Aimah yang melakukan kesalahan yang mirip dengan Imam Nawawi dalam menakwil sifat-sifat Allah adalah Imam Ibnu Hibban. Beliau berkata dalam kitab yang terkenal dengan judul Shahih Ibnu Hibban (no. 811), setelah membawakan hadits “Jika engkau mengingat Allah dalam dirimu, Aku (Allah) akan mengingat dalam Diri-Ku” :

قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: اللَّهُ أَجَلُّ وَأَعْلَى مِنْ أَنْ يُنْسَبَ إِلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِ، إِذْ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ، وَهَذِهِ أَلْفَاظٌ خَرَجَتْ مِنْ أَلْفَاظِ التَّعَارُفِ عَلَى حَسَبِ مَا يَتَعَارَفُهُ النَّاسُ مِمَّا بَيْنَهُمْ، وَمَنْ ذَكَرَ رَبَّهُ جَلَّ وَعَلَا فِي نَفْسِهِ بِنُطْقٍ أَوْ عَمَلٍ يَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى رَبِّهِ، ذَكَرَهُ اللَّهُ فِي مَلَكُوتِهِ بِالْمَغْفِرَةِ لَهُ تَفَضُّلًا وَجُودًا

“Allah lebih mulia dan lebih tinggi untuk dinisbatkan kepada sesuatu dari sifat makhluknya, yang mana tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Lafadz-lafadz ini keluar dari lafafz-lafadz yang ma’ruf sesuai dengan yang biasa dikenal orang. Barangsiapa yang berdzikir kepada Rabbnya Jalla wa Alaa dalam dirinya dengan ucapan atau amalan yang mendekatkan diri kepada Rabbnya, Allah akan menyebut dalam kerajaan-Nya dengan memberikan ampunan kepadanya, sebagai karunia dan kedermawanan-Nya”.

Dalam pernyataan Imam Ibnu Hibban diatas memiliki sisi kebenaran, yakni bahwa sifat Allah tidak layak disamakan dengan sifat makhluknya, bagaimana mungkin sang Pencipta sama dengan ciptaan-Nya, padahal Allah sendiri telah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (QS. Asy-Syuraa’ : 11).

Maka dalam ayat ini terdapat dalil bantahan kepada ahlu tasybih yang menyerupakan sifat Allah dengan makhluk-Nya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebut kelompok ini sebagai penyembah berhala, karena Tuhannya sama seperti makhluk.

Namun ayat ini bukan dalil bagi ahlu takwil yang melakukan penyimpangan makna terhadap nash-nash Asma dan Sifat, apalagi bagi kaum Mu’athilun yang menolak sama sekali sifat-sifat Allah, maka kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah kaum Mu’athilun menyembah sesuatu yang tidak ada, karena mereka tidak menetapkan sifat bagi Allah, kata mereka Allah tidak diatas, tidak dibawah, tidak dikanan, tidak dikiri, tidak dialam semesta dan tidak diluar alam semesta. Sungguh ini adalah suatu sifat bagi Dzat yang tidak ada.

Adapun kaum muharifun atau ahlu takwil, maka dalam ayat diatas bukan dalil bagi mereka, karena dalam ayat selanjutnya Allah berfirman :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” (QS. Asy-Syuraa’ : 11).

Dalam ayat ini Allah menggabungkan antara penafian sifat Allah sama dengan makhluknya dan penetapan bahwa Allah memiliki sifat, diantaranya Maha Mendengar dan Maha Melihat. Sehingga sangat jelas sekali apa yang disampaikan oleh Allah Taa’laa dalam ayat ini, bahwa Allah memiliki pendengaran dan penglihatan, namun pendengaran dan penglihatannya tidak sama dengan makhluk-Nya. Apabila seorang mau jujur dalam memahami ayat ini, maka ia akan berlapang dada dalam menerima sifat dan Asma Allah. Misalnya ketika Allah dan Rasul-Nya menetapkan bahwa Allah memiliki Diri, maka Diri yang dimaksud disini adalah Diri yang sesuai dengan kebesaran dan kemulian Allah Azza wa Jalla, sebagaimana Dia menetapkan dalam ayat diatas bahwa Allah memiliki pendengaran dan penglihatan, tentunya sesuai dengan kebesaran dan kemulian-Nya. Ini adalah aqidah salaf yang sangat jelas, gamblang dan sangat mudah. Maha suci Allah yang telah memberikan petunjuk kepada hamba-Nya.

Apa yang dilakukan Imam Ibnu hibban dengan menakwil sifat Diri bagi Allah adalah mirip dengan yang dilakukan asyairoh ketika mereka menakwil sifat-sifat Allah, terbayang dalam diri mereka bahwa kalau ditetapkan sifat tersebut berarti akan menyamakan Allah dengan makhluk-Nya, tentu ini adalah pemahaman yang mendahulukan akal dibandingkan dalil, bukankah Allah sudah memberitahukan kepada kita bahwa Diri-Nya tidak ada yang menyerupai makhluk-Nya? Dan Allah memberitahu kita juga bahwa Dia memiliki sifat-sifat tersebut, sehingga termasuk kesempurnaan iman adalah menetapkan hal tersebut, tanpa menta’thil, mentakyif, mentasybih dan mentahrif.

Kita mengatakan kepada Imam Ibnu Hibban seperti yang dikatakan Imam Ibnu Utsaimin sebelumnya kepada Imam Nawawi, bahwa ini adalah kesalahan ijtihad beliau, semoga Allah mengampuni beliau dan kita semua. Takwil yang dilakukan oleh Imam Ibnu Hibban masih masuk dalam pengertian bahasa Arab, sehingga ini masih masuk kedalam kesalahan yang tidak menyebabkan pelakunya kafir, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal” (QS. Ali Imron : 135-136).

Namun kesalahan ini adalah kesalahan yang tidak dapat ditolerir, bukan sebagaimana umumnya perselisihan pendapat dalam masalah fikih, karena masalah penakwilan Asma dan Sifat Allah tanpa adanya itsbat terhadapnya, bukan khilaf yang mu’tabar. Generasi salaf dahulu telah sepakat tidak adanya penakwilan dalam masalah Asmaa dan shifat dan ini baru muncul dari kalangan ahlu bid’ah setelah kemunduran Islam pada abad keempat hijriyyah. Nampak disini Imam Ibnu Khuzaimah khusus mengarang kitabut tauhid setelah sebelumnya ada rasa keengganan beliau untuk menulisnya, karena masalah penetapan Asma dan sifat sangat ma’ruf pada zaman itu, dimana zaman ulama ahlu sunnah masih berkibar dan banyak, namun mungkin karena beliau melihat diantara murid-murid beliau yang terpengaruh dengan paham jelek dari kalangan ahlu bid’ah yang berbicara tidak benar tentang masalah Asma wa Shifat, maka Imam Ibnu Khuzaimah terpaksa menulis tema tentang ini –silakan melihat alasan beliau menulis kitab ini di awal pembahasan-. Dan Imam Ibnu Hibban adalah salah satu murid beliau. Pada akhirnya kebenaran lebih layak untuk diikuti.

Syaikhul Islam telah melakukan penelitian yang mendalam, berkaitan dengan sikap salaf dalam menghadapi masalah Asma dan Shifat, diantara perkataan beliau di kitab “Daqoiq Tafsir” (2/481-482) :

“وأما الذي أقوله الآن وأكتبه – وإن كنت لم أكتبه فيما تقدم من أجوبتي، وإنما أقوله في كثير من المجالس – إن جميع ما في القرآن من آيات الصفات، فليس عن الصحابة اختلاف في تأويلها، وقد طالعت التفاسير المنقولة عن الصحابة، وما رووه من الحديث، ووقفت من ذلك على ما يشاء الله تعالى من الكتاب الكبار والصغار أكثر من مائة تفسير فلم أجد – إلى ساعتي هذه – عن أحد من الصحابة أنه تأويل شيئًا من آيات الصفات وأحاديث الصفات بخلاف مقتضاها المفهوم المعروف، بل عنهم من تقرير ذلك وتثبيته وبيان أن ذلك من صفات الله ما يخالف كلام المتأولين ما لا يحصيه إلا الله.

“adapun yang aku katakan sekarang dan aku tulis –sekalipun aku telah menulisnya sebelum menjawab pertanyaan ini dan aku banyak mengucapkannya di majelis- sesungguhnya kebanyakan isi Al Qur’an adalah ayat-ayat tentang sifat, dan tidak ada seorang sahabat pun yang melakukan takwil. Aku telah meneliti kitab-kitab tafsir yang menukil perkataan para sahabat dan yang diriwayatkan dalam hadits, aku meneliti sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah baik dari kitab yang besar maupun yang kecil lebih dari 100 kitab tafsir, maka aku tidak mendapatkan –sejauh ini- salah seorang dari sahabat yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat sifat dan hadits-hadits sifat, yang berbeda dengan konsekuensi yang dipahami dan sudah dikenal. Bahkan mereka mengakui dan menetapkan serta menjelaskan sifat-sifat Allah tersebut yang menyelisihi ucapannya ahlu takwil yang ucapannya tidak bisa dihitung kecuali oleh Allah.

Kemudian murid terbaik beliau Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim, menguatkan pernyataan gurunya dalam kitab “I’lamul Waqi’in” (1/49), kata beliau :

ويقول ابن القيم مقررًا ذلك: “وقد تنازع الصحابة في كثير من مسائل الأحكام وهم ساادت المؤمنين، وأكمل الأمة إيمانًا، لكن بحمد الله لم يتنازعوا في مسألة واحدة من مسائل الأسماء والصفات والأفعال، بل كلهم على إثبات ما نطق به الكتاب والسنة كلمة واحدة من أولهم إلى آخرهم“.

“Para sahabat telah berselisih dalam banyak masalah hukum sedangkan mereka adalah teladannya kaum mukminin dan kaum yang paling sempurna imannya, namun Alhamdulillah, mereka tidak pernah berselisih satu saja dalam masalah Asma, sifat dan Af’al Allah Azza wa Jalla, bahkan mereka semuanya menetapkan apa yang diucapkan oleh Kitabullah dan sunahnya, satu kalimat dari awal sampai akhirnya”.

Inilah jalan para sahabat jalanya kaum mukminin, barangsiapa yang menyelisihinya, maka takutlah ia dari ancaman Allah Ta’alaa yang berfirman :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An Nisaa’ : 115).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: