TAUHID LIIBNI KHUZAIMAH -ITSBAT DIRI ALLAH (HADITS NO. 5, 6 &7)

December 23, 2013 at 12:06 am | Posted in Aqidah | Leave a comment

1- بَاب ذكر البيان من خبر النبي صلى الله عليه وسلم في إثبات النفس لله عز وجل

Bab 1 Penjelasan dari Khobar Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam Tentang Istbat Diri untuk Allah Azza wa Jalla

 

Imam Ibnu Khuzaimah berkata :

5- حَدَّثَنَا عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلاءِ الْعَطَّارُ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ وَهُوَ مَوْلَى آلِ طَلْحَةَ عَنْ كُرَيْبٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم حِينَ خَرَجَ إِلَى صَلاةِ الصُّبْحِ وَجُوَيْرِيَةُ جَالِسَةٌ فِي الْمَسْجِدِ فَرَجَعَ حِينَ تَعَالَى النَّهَارُ قَالَ لَمْ تَزَالِي جَالِسَةً بَعْدِي قَالَتْ نَعَمْ قَالَ قَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِهِنَّ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ خَبَرُ شُعْبَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ مِنْ هَذَا الْبَابِ خَرَّجْتُهُ فِي كِتَابِ الدُّعَاءِ.

6- حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ عَنِ الْحَارِثِ وَهُوَ ابْنُ أَبِي ذُبَابٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ مِينَا عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ عَلَى نَفْسِهِ فَهُوَ مَوْضُوعٌ عِنْدَهُ أَنَّ رَحْمَتِيَ نَالَتْ غَضَبِي.

قَالَ لَنَا يُونُسُ قَالَ لَنَا أَنَسٌ نَالَتْ.

7- حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا خَالِدٌ ، يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلانَ (ح) وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاءِ أَبُو كُرَيْبٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ ، عَنِ ابْنِ عَجْلانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ بِيَدِهِ عَلَى نَفْسِهِ أَنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبِي.

قَالَ أَبُو بَكْرٍ فَاللَّهُ جَلَّ وَعَلا أَثْبَتَ فِي آيٍ مِنْ كِتَابِهِ أَنَّ لَهُ نَفْسًا وَكَذَلِكَ قَدْ بَيَّنَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّ لَهُ نَفْسًا كَمَا أَثْبَتَ النَّفْسَ فِي كِتَابِهِ وَكَفَرَتُ الْجَهْمِيَّةُ بِهَذِهِ الآيِ وَهَذِهِ السُّنَنِ وَزَعَمَ بَعْضُ جَهَلَتِهِمْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِنَّمَا أَضَافَ النَّفْسَ إِلَيْهِ عَلَى مَعْنَى إِضَافَةِ الْخَلْقِ إِلَيْهِ وَزَعَمَ أَنَّ نَفْسَهُ غَيْرُهُ كَمَا أَنَّ خَلْقَهُ غَيْرُهُ وَهَذَا لا يَتَوَهَّمُهُ ذُو لُبٍّ وَعِلْمٍ فَضْلا عَنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ.

قد أعلم الله في محكم تنزيله أنه كتب على نفسه الرحمة أفيتوهم مسلم أن الله تعالى كتب على غيره الرحمة وحذر الله العباد نفسه. أفيحل لمسلم أن يقول أن الله حذر العباد غيره أو يتأول قوله لكليمه موسى واصطنعتك لنفسي فيقول معناه واصطنعتك لغيرى من الخلوق أو يقول أراد روح الله يقوله ولا أعلم ما في نفسك أراد ولا أعلم مافي غيرك هذا لا يتوهمة مسلم ولا يقوله إلا معطل كافر.

Terjemahan :

Hadits no. 5

Haddatsanaa Abdul Jabbar ibnul Alaa’ al-Athoor ia berkata, haddatsanaa Sufyaan dari Muhammad bin Abdur Rokhman beliau maula keluarga Tholhah dari Kuroib dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam ketika keluar sholat subuh ke masjid, sedang Juwairiyah rodhiyallahu anha sedang duduk di masjid. Lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam kembali ke rumah. Maka ketika siang hari Nabi sholallahu alaihi wa salam datang lagi ke masjid dan (masih mendapati Juwairiyyah masih duduk-pent.), Nabi sholallahu alaihi wa salam pun berkata kepadanya : “engkau masih duduk disini setelah aku pulang kerumah?, jawab Juwairiyyah : íya’. Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata lagi : “bukankah aku pernah mengatakan kepadamu, ada 4 kalimat yang sekiranya ditimbang, niscaya akan berat timbangannya, yaitu : “Maha Suci Allah bagi-Nya segala puji sebanyak  jumlah makhluk-Nya dan sepanjang kalimat-Nya, yang Dia ridho dengan Diri-Nya sendiri serta perhiasan Ársy-Nya”.

Abu Bakar berkata : ‘riwayat Syu’bah dari Muhammad bin Abdur Rokhman dari hadits ini, aku telah mentakhrijnya dalam kitab Doa’.

Hadits no. 6

Haddatsanaa Yunus bin Abdul A’laa, akhbaroni Anas bin Íyaadh dari al-Harits ibnu Abi Dzubaab dari Áthoo’bin Miinaa dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu ia berkata, ”Bahwa Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “ketika Allah menakdirkan makhluknya, Dia menulis dalam kitab-Nya atas Diri-Nya sendiri yang kitab tersebut ada disisi-Nya, sesungguhnya rakhmatku mendahului murka-Ku”.

Yunus berkata kepada kami, Anas berkata kepada kami : ‘mendahului’.

Hadits no. 7

Haddatsanaa Yahya bin Habiib al-Haaritsi ia berkata, haddatsanaa Khoolid –ibnul Harits- dari Muhammad bin Ájlaan (ganti sanad).

Haddatsanaa Muhammad ibnul Álaa’Abu Kuroib ia berkata, haddatsanaa Abu Khoolid dari Ibnu Ájlaan dari Bapaknya dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “ketika Allah menciptakan mahkluk, Dia menulis dengan Tangan-Nya atas Diri-Nya sendiri bahwa Rakhmat-Ku mengalahkan Murka-Ku”.

Abu Bakar berkata : ‘maka Allah Jalla wa Álaa menetapkan di beberapa ayat dalam Kitab-Nya bahwa Dia memiliki Diri, demikian juga telah dijelaskan melalui lisan Nabi-Nya sholallahu alaihi wa salam bahwa Dia memiliki Diri, sebagaimana penetapan Diri dalam Kitab-Nya. Aku mengkafirkan Jahmiyyah dengan ayat-ayat ini dan hadits-hadits ini. Sebagaian orang bodoh dikalangan mereka mengklaim bahwa Allah Taálaa hanyalah menyandarkan Diri kepada-Nya, dengan makna menyandarkan makhluk kepada Penciptanya, mereka mengklaim diri-Nya bukan Allah sebagaimana ciptaan bukan Allah. Pemahaman ini tidak akan tersamarkan bagi orang yang cerdas dan memiliki ilmu, terlebih lagi untuk membahasnya’.

Allah telah mengajarkan dalam hukum yang diturunkan (Al-Qurán), bahwa Dia menulis atas Diri-Nya rakhmat, apakah akan terpahami oleh seorang Muslim bahwa Allah Taálaa menulis Rakhmat atas nama selain-Nya? Dan memperingatkan hamba selain Diri-Nya?. Apakah boleh bagi seorang Muslim untuk mengatakan bahwa Allah memperingatkan hamba-Nya atas nama selain-Nya? Atau mentakwil Firman-Nya kepada Musa alaihi salam : “aku telah memilihmu untuk Diri-Ku sendiri”, lalu dikatakan maknanya “Aku memilihmu untuk selain-Ku yaitu makhluk-Nya?”. Atau mereka mengatakan bahwa maksud perkataan Ruh Allah (Nabi Isa alaihi salam) yang mengatakan : “aku tidak mengetahui apa yang ada dalam Diri-Mu” dengan takwil “aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri selain-Mu?”. Maka semua ini tidak akan bersumber dari seorang Muslim, tidak ada yang mengatakannya kecuali Muáthilun Kafir’.

Ta’liq :

Hadits no. 5 status perowinya sebagai berikut : Abdul Jabbaar dinilai Al Hafidz “laa ba’sa bih” (tidak mengapa), dijadikan hujjah oleh Imam Muslim; Sufyaan adalah ibnu Úyyainah salah seorang Imam ahlu sunnah yang masyhur, dipakai Bukhori-Muslim; Muhammad bin Abdur Rokhman, perowi tsiqoh dipakai oleh Imam Muslim; Kuroib maula Ibnu Ábbas perowi tsiqoh, dipakai Bukhori-Muslim. Maka berdasarkan hal ini, sanadnya shahih atas syarat Imam Muslim. Karena memang Imam Muslim menulis hadits ini dalam kitab shahihnya (no. 7088) dari jalan Qutaibah bin Saád, Ámr an-Naaqid dan Ibnu Abi Umar semuanya dari Sufyaan dan seterusnya.

Syahid untuk bab itsbat Diri untuk Allah dari hadits ini adalah sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam : “yang Dia Ridho terhadap Diri-Nya”. Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syarah Lumatul I’tiqod” (13/89) :

وأجمع السلف على ثبوتها على الوجه اللائق به، فيجب إثباتها لله من غير تحريف، ولا تعطيل، ولا تكييف، ولا تمثيل.

“Para salaf bersepakat atas penetapan Diri sesuai dengan yang layak Bagi Allah, maka wajib menetapkannya tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif dan tamtsil”.

Dalam hadits ini terdapat faedah juga bahwa dziikir dengan kalimat yang menyebutkan ukuran yang banyak seperti dalam hadits ini dengan ungkapan “sebanyak pujian makhluk-Nya”, maka akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Dalam “al-Maushuáh al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah” (22/264) dinukil ucapan Imam Syaukani berikut :

وقال الشّوكانيّ : في الحديث دليل على أنّ من قال : عدد كذا ، وزنة كذا كتب له ذلك القدر ، وفضل اللّه يمنّ به على من يشاء من عباده . قال : ولا يتّجه هنا أن يقال إنّ مشقّة من قال هذا أخفّ من مشقّة من كرّر اللّفظ كثيراً ، فإنّ هذا باب منحه رسول اللّه صلى الله عليه وسلم لعباد اللّه وأرشدهم إليه ، ودلّهم عليه ، تخفيفاً عليهم ، وتكثيراً لأجورهم دون تعبٍ ولا نصبٍ فللّه الحمد .

“dalam hadits ini terdapat dalil bagi orang yang berdoa “sejumlah ini”, “seberat ini” akan ditulis pahala dengan ukuran tersebut. Allah memberikan karunia kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Maka disini tidak perlu untuk diperdebatkan bahwa kesulitan orang yang mengucapkan ini lebih ringan dari kesulitan orang yang mengucapkan lafadz doa berkali-kali, karena ini adalah bab pengajaran Rasulullah sholallahu alaihi wa salam kepada hamba Allah dengan memberik bimbingan dan petunjuk kepada mereka, sebagai peringan beban mereka dan untuk memperbanyak pahala mereka tanpa keletihan dan bersusah payah. Maka segala puji bagi Allah”.

Untuk hadits no. 6 kondisi perowinya sebagai berikut : Yunus perowi tsiqoh, dipakai oleh Imam Muslim; Anas bin Íyadh perowi tsiqoh, dipakai Bukhori-Muslim; al-Harits perowi shoduq menurut al-Hafidz, dipakai oleh Muslim; Áthoo’bin Miinaa’perowi shoduq menurut al-Hafidz dipakai oleh Bukhori-Muslim. Maka hadits ini atas syarat Imam Muslim. Dan memang Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab shahihnya (no. 7147) dari jalan haddatsanaa Ali bin Khosyrom, akhbaronaa Abu Dhomroh dari Al-Harits dan seterusnya, namun dengan lafadz :

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ عَلَى نَفْسِهِ فَهُوَ مَوْضُوعٌ عِنْدَهُ إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى

”ketika Allah menakdirkan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya atas Diri-Nya sendiri dan ia terdapat disisi-Nya, sesungguhnya rakhmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku”.

Untuk hadits no. 7 kondisi perowinya sebagai berikut : Yahya bin Habiib, perowi tsiqoh, dipakai Imam Muslim; Khoolid perowi tsiqoh, dipakai Bukhori-Muslim; Muhammad bin Ájlaan perowi shoduq menurut al-Hafidz, dipakai Imam Muslim; Muhammad ibnul Álaa’perowi tsiqoh, dipakai Bukhori-Muslim; Abu Khoolid adalah Sulaiman bin Hayaan perowi shoduq, dipakai Bukhori-Muslim; Bapaknya Muhammad bin Ájlaan, yaitu Ájlaan al-Madiniy perowi “laa ba’sa bih” menurut al-Hafidz, dipakai Imam Bukhori sebagai hadits muálaq dan dijadikan hujjah oleh Imam Muslim. Maka berdasarkan keterangan ini sanadnya memenuhi persyaratan Imam Muslim.

Yang mirip meriwayatkan dengan sanad ini adalah Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (no. 4436) dari jalan haddatsanaa Muhammad bin Abdullah bin Numair dan Abu Bakar bin Abi Syaibah mereka berdua berkata, haddatsanaa Abu Khoolid al-Ahmar dari Ibnu Ájlaan dan seterusnya. Lafadznya sangat mirip dengan hadits ini. Kemudian juga yang membawakan sanad yang sama lagi adalam Imam Tirmidzi dalam Sunannya (no. 3888) dari jalan haddatsanaa Qutaibag, haddatsanaa al-Laits dari Ibnu Ájlaan dan seterusnya, juga dengan lafadz yang sangat mirip. Lalu setelah meriwayatkan hadits ini, Imam Tirmidzi berkata : “هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ” (hadits ini hasan shahih ghorib).

Syahid itsbat Diri untuk Allah dari hadits no. 6 adalah ucapan Nabi sholallahu alaihi wa salam : “Dia menulis dalam kitab-Nya atas Diri-Nya sendiri” sedangkan dari hadits no. 7, sabda Beliau sholallahu alaihi wa salam : “Dia menulis dengan Tangan-Nya atas Diri-Nya sendiri”. Imam Bukhori telah meriwayatkan dalam shahihnya hadits yang semakna dengan ini (no. 7404) di Kitab Tauhid di bab 15 firman Allah Taálaa : “dan Allah memperingatkan kamu terhadap Diri-Nya”. Imam Ibnu Bathool ketika memberikan “Syarah Bukhori” berkata :

{وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ} [آل عمران: 28]، وقوله: {وَلاَ أَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِكَ} [المائدة: 116]، وما ذكر فى الأحاديث من ذكر النفس، فالمراد به إثبات نفس لله

“Firman Allah Taálla : “dan Allah memperingatkan kamu terhadap Diri-Nya” dan “dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada Diri Engkau”. lalu apa yang disebutkan dalam hadits-hadits (pada bab shahih Bukhori ini-pent.) berkaitan penyebutan Diri, maka yang dimaksud adalah penetapan Diri untuk Allah”.

Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Fathul Bari” (21/154) mengatakan :

وَنَظِير ذَلِكَ قَوْله تَعَالَى ( وَيُحَذِّركُمْ اللَّهُ نَفْسه ) مَعَ قَوْله تَعَالَى ( كُلّ نَفْس ذَائِقَة الْمَوْت ) فَكَمَا لَمْ تَدْخُل نَفْس اللَّه فِي هَذَا الْعُمُوم اِتِّفَاقًا

“yang semisal dengan ini firman Allah : “dan Allah memperingatkan kamu terhadap Diri-Nya” dengan firmannya : “setiap jiwa akan merasakan mati”, maka Diri Allah tidak masuk dalam keumuman ayat ini berdasarkan kesepakatan (para ulama).”

Al Hafidz sendiri ketika mensyarah shahih Bukhori di bab ini dalam kitabnya “Fathul Bari” (20/478) diawal pembahasan beliau menukil perkataan Imam Roghib :

قَالَ الرَّاغِب نَفْسه : ذَاته

“Imam Roghib berkata : ‘Diri-Nya adalah Dzat Allah”

Kemudian Al Hafidz menukil pendapat-pendapat lain yang memalingkan dari itsbat Diri untuk Allah, kemudian seolah-olah beliau mengcounter pendapat yang memalingkan dari itsbat Diri Allah, beliau menukil penjelasan Imam Baihaqi dalam “Asmaa’wa Shifat” yang menyatakan bahwa makna Diri dalam ayat-ayat dan hadits-hadits Nabawi adalah Dzat Allah. Namun sayangnya Al Hafidz tidak tegas dalam menetapkan sifat Diri untuk Allah, tidak sebagaimana pendahulu beliau yang menulis syarah Bukhori seperti Imam Ibnu Bathool yang telah kami nukilkan pernyataannnya diatas.

Semoga Allah mengampuni Al Hafidz Ibnu Hajar, beliau banyak terjatuh dalam aqidah asyairoh ketika menjelaskan ayat dan hadits-hadits sifat dalam shahih Bukhori di kitabnya “Fathul Bari”. Imam Ibnu Utsaimin dalam “Liqoo baabil Maftuuh” pernah ditanya sebagai berikut :

السؤال: فضيلة الشيخ! بالنسبة للعلماء الذين وقعوا في بعض الأخطاء في العقيدة؛ كالأسماء، والصفات، وغيرها، تمر علينا أسماؤهم في الجامعة حال الدراسة، فما حكم الترحُّم عليهم؟ الشيخ: مثل مَن؟ السائل: مثل: الزمخشري ، و الزركشي ، وغيرهما. السائل: الزمخشري ، و الزركشي . الشيخ: الزركشي في ماذا؟ السائل: في باب الأسماء والصفات!

________________________________________

الجواب: على كل حال هناك أناس ينتسبون لطائفة معينة شعارها البدعة؛ كالمعتزلة مثلاً، ومنهم الزمخشري ، فالزمخشري مُعتزلي، ويصف المثْبِتِين للصفات بأنهم: حَشَوِية، مُجَسِّمة ويُضَلِّلهم فهو معتزلي، ولهذا يجب على مَن طالع كتابه الكشاف في تفسير القرآن أن يحترز من كلامه في باب الصفات؛ لكنه من حيث البلاغة والدلالات البلاغية اللغوية جيد، يُنْتَفع بكتابه كثيراً، إلا أنه خَطَرٌ على الإنسان الذي لا يعرف في باب الأسماء والصفات شيئاً. لكن هناك علماء مشهودٌ لهم بالخير، لا ينتسبون إلى طائفة معينة مِن أهل البدع؛ لكن في كلامهم شيءٌ من كلام أهل البدع؛ مثل ابن حجر العسقلاني و النووي رحمهما الله فإن بعض السفهاء من الناس قدحوا فيهما قدحاً تاماً مطلقاً من كل وجه، حتى قيل لي: إن بعض الناس يقول: يجب أن يُحْرَقَ فتح الباري ؛ لأن ابن حجر أشعري، وهذا غير صحيح. فهذان الرجلان بالذات ما أعلم اليوم أن أحداً قدَّم للإسلام في باب أحاديث الرسول مثلما قدَّماه، ويدلك على أن الله سبحانه وتعالى بحوله وقوته -ولا أَتَأَلَّى على الله- قد قبلها، ما كان لمؤلفاتهما من القبول لدى الناس؛ لدى طلبة العلم، بل حتى عند العامة، فالآن كتاب رياض الصالحين يُقرأ في كل مجلس, ويقرأ في كل مسجد، وينتفع الناس به انتفاعاً عظيماً، وأتمنى أن يجعل الله لي كتاباً مثل هذا الكتاب، كلٌّ ينتفع به في بيته وفي مسجده. فكيف يقال عن هذين: إنهما مبتِدعان ضالان، لا يجوز الترحُّم عليهما، ولا يجوز القراءة في كتبهما! ويجب إحراق فتح الباري ، و شرح صحيح مسلم ؟! سبحان الله! فإني أقول لهؤلاء بلسان الحال وبلسان المقال:

أَقِلُّوا عليهمُ لا أبا لأبيكمُ مِن اللومِ أو سدوا المكان الذي سدوا

من كان يستطيع أن يقدم للإسلام والمسلمين مثلما قدَّم هذان الرجلان، إلا أن يشاء الله. فأنا أقول: غفر الله للنووي ، ولابن حجر العسقلاني ، ولمن كان على شاكلتهما ممن نفع الله بهم الإسلام والمسلمين. وأمِّنوا على ذلك.

Soal : Fadilah Syaikh, untuk ulama yang terjatuh dalam sebagian kesalahan aqidah, seperti asma wa shifat dan selainnya, kami mendapatkan nama-nama mereka ketika kami belajar di perkuliahan, maka bagaimana hukum mengucapkan “semoga Allah merakhmati mereka”?. Syaikh berkata : ‘contohnya siapa?’, yang bertanya menjawab : ‘misalnya az-Zamakhsyariy, az-Zarkasyiy dan selainnya.’ Syaikh : ‘az-Zarkasyiy dalam masalah apa?’ yang bertanya : ‘dalam masalah asma wa shifat.’

Jawab : kesimpulannya, mereka adalah orang-orang yang dinisbatkan oleh para ulama bahwa syiár mereka adalah syiarnya bidáh, seperti mu’tazilah, diantara mereka adalah az-Zamakhsyariy. Az-Zamakhsyari adalah mu’tazili, ia mensifati orang-orang yang menetapkan sifat dengan Hasyawiyyah (dangkal otaknya), mujassimah (mengatakan Allah punya anggota badan) dan mengatakan sesatnya yang menetapkan sifat, maka ia adalah mu’tazili, oleh karenanya bagi yang membaca kitab Al-Kasyaaf dalam tafsir Al Qurán untuk berhati-hati dari ucapannya tentang bab sifat, namun dari sisi balaghoh, dilalah, balaghiyah, lughoh adalah bagus, dalam hal ini kitabnya sangat bermanfaat. Namun bagi orang belum paham masalah asma wa sifat dikhawatirkan akan terpengaruh dengannya.

Kemudian disana ada juga ulama yang disaksikan dengan kebaikan, tidak dinisbatkan kepada kelompok tertentu dari kalangan ahlu bidáh, namun terdapat dalam pernyataannya sesuatu dari pernyataannya ahlu bidáh, misalnya Ibnu Hajar al-Asqolaniy dan an-Nawawi. Sungguh sebagian orang pandir mencela kedua ulama ini dengan celaan yang menyeluruh dari semua sisi, sehingga dikatakan kepadaku : ‘sesungguhnya sebagian orang berkata, wajib untuk membakar fathul bari, karena Ibnu Hajar adalah asyári, maka ini tidak benar. Kedua orang ini sesuai dengan yang saya ketahui pada hari ini, bahwa tidak ada satu orang pun yang menyajikan hadits-hadits rasul kepada umat islam seperti mereka berdua, maka hal ini menunjukkan dengan daya dan kekuatan Allah, bahwa tulisan mereka berdua diterima dikalangan manusia, dikalangan penuntut ilmu, bahkan sampai kaum awamnya. Sekarang kitab riyadhus sholihih dibaca disetiap majelis, di setiap masjid dan memberikan manfaat kepada manusia dengan manfaat yang besar. Dan aku berangan-angan Allah memberikan kepadaku sebuah kitab seperti kitab ini yang memberikan manfaat di rumah dan dimasjid kaum muslimin. Maka bagaimana dikatakan kepada kedua orang ini, bahwa mereka mubtadi sesat, tidak boleh mendoakan rakhmat bagi keduanya, tidak boleh membaca kitabnya, wajib membakar kitab fathul bari dan syarah shahih Muslim? Maha Suci Allah!.

Tidak ada yang mampu mempersembahkan untuk Islam dan kaum Muslimin seperti persembahan kedua ulama ini, kecuali jika Allah menghendakinya. Maka aku katakan, semoga Allah mengampuni Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqolaniy dan kepada orang-orang yang berupaya memberikan manfaat kepada Islam dan kaum Muslimin.

Dalam hadits ini terdapat faedah juga bahwa Allah Maha Penyayang kepada hamba-Nya, sehingga Dia sendiri menuliskan bagi Diri-Nya sifat kasih sayang, Firmannya :

كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ

“Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang” (QS. Al Anáam : 12).

Diantara bentuk kasih sayang-Nya adalah mengampuni hamba-Nya yang berbuat kesalahan setelah bertaubat. Firmannya :

كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Anáam : 54).

Allah juga di beberapa tempat dalam kitabnya selalu mendahulukan memberikan rakhmat pahala yang banyak sebelum memberikan siksa. Seperti dalam firman-Nya:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrohim : 7).

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman bahwa rakhmatnya meliputi segala sesuatu, sedangkan siksanya hanya diperuntukan bagi memang yang berhak mendapatkannya, sehingga ini sesuai dengan makna hadits “rahmat Allah mengalahkan kemurkaan-Nya”. Allah Azza wa Jalla berfirman :

قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآَيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

“Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami” (QS. Al A’raaf : 156).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: