KELUARGA SHOLIH – KELUARGA UMAR BIN KHOTHOB RADHIYALLAHU ANHU

December 27, 2013 at 11:01 pm | Posted in Siroh | Leave a comment

KELUARGA SHOLIH AHLUL HADITS

SILSILAH KELUARGA UMAR BIN KHOTHOB RODHIYALLAHU ANHU

Kali ini penyusun akan menampilkan keluarga sholih berikutnya yaitu sahabat mulia orang terbaik kedua setelah para Nabi dan Rasul serta Abu Bakar ash-Shidiq rodhiyallahu anhu, yang menjadi Amirul mukminin kedua sepeninggal Abu Bakar rodhiyallahu anhu, yaitu Umar bin Khothob rodhiyallahu anhu. Beliau rodhiyallahu anhu sudah tidak asing lagi bagi kaum Muslimin. Dilahirkan di Mekkah pada tahun 40 sebelum hijriyyah dan wafat pada 4 hari atau 3 hari sebelum habis bulan Dzulhijjah tahan 23 H, dibunuh pada saat Beliau sedang mengimami sholat Subuh oleh seorang Budak Majusi, yang bernama Abu Lu’lu. Beliau masuk Islam di Mekkah, setelah sebelumnya sangat ingin membunuh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam. Dengan keislamannya, maka dakwah Nabi sholallahu alaihi wa salam mendapatkan kekuatan dari Allah melalui perantaraan Umar rodhiyallahu anhu, karena beliau adalah termasuk pembesarnya bangsa Quraisy dan seorang yang pemberani.

Beliau benar-benar mendidik anaknya agar menjadi orang-orang yang berbakti kepada agama Islam dan kedua orang tuanya. Atas taufik dari Allah kemudian berkat didikan beliau yang sangat baik kepada putra-putrinya, maka lahirlah dari Istri Umar rodhiyallahu anhu, anak-anak yang menjadi ulama hadits pada zamannya. Diantara mereka adalah :

  1. Áashim bin Umar bin Khothob Rodhiyallahu ‘anhu, dilahirkan pada saat Nabi sholallahu alaihi wa salam masih hidup, ibunya bernama Jamiilah binti Tsaabit rodhiyallahu anha, beliau sebelumnya bernama Áashiyah, lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam mengganti namanya dengan Jamiilah.  Áashim wafat pada tahun 70 H atau setelahnya. Berkat taufik Allah, beliau sukses mendidik keluarganya, sehingga anaknya ada yang menjadi ulama hadits, diantaranya yaitu:
    1. Hafsh bin Áashim bin Umar, Al Hafidz Ibnu Hajar menggolongkannya sebagai Tabií wasith (pertengahan). Beliau seorang perowi tsiqoh, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nasaí, Imam Abu Zuráh, Imam al-Íjli dan Imam Ibnu Hibban. Imam Bukhori dan Imam Muslim berhujjah dengannya dalam kitab shahih mereka. Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya (no. 876) dari :

عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ. قَالَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ.قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ »

“dari Hafsh bin ‘Aashim bin Umar bin Khothob dari Bapaknya dari Kakeknya Umar bin Khothob Rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “Jika muadzin berkata : “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, kalian berkata : “Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Lalu ia berkata : “Asyhadu an Laa Illaha illallah”, kalian berkata : “Asyhadu an Laa Illaha illallah”. Jika ia berkata : “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, kalian berkata : “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Jika ia berkata : “Hayya ‘allas Sholaah”, kalian berkata : “Laa Haula wa Laa Quwwata illa billah”. Jika ia berkata : “Hayya ‘allal Falaakh”, kalian berkata : “Laa Haula wa Laa Quwwata illa billah”. Jika ia berkata : “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, kalian berkata : “Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Jika ia berkata : “Laa Ilaaha illallah”, kalian berkata : “Laa Ilaaha illallah”. (barangsiapa mengatakannya) dari lubuk hatinya , maka ia akan masuk Surga”.

Hafsh juga ayah yang sukses dalam mendidik anaknya, sekurang-kurangnya ada 2 anak beliau yang berkibar menjadi ulama hadits yaitu Umar bin Hafsh bin ‘Aashim dan Isa bin Hafsh bin ‘Aashim.  Umar bin Hafsh dikatakan oleh Imam Ibnu Hibban dalam “Masyahir ulamail Amshor” (no. 1000) :

من سادات أهل المدينة حفظا وإتقانا وورعا وفضلا مات بالمدينة

“Termasuk pembesarnya penduduk Madinah, dalam hapalan, kekokohan, kewara’an dan keutamaan. Wafat di Madinah”.

Umar bin Hafsh memiliki anak seorang Imam Hadits yang cukup terkenal yang bernama Ubaidillah bin Umar bin Hafsh. Saya belum menemukan silsilah Umar bin Hafsh dari Bapaknya dari kakeknya. Wallahu A’lam.

Adapun anak yang kedua yaitu Isa bin Hafsh, dilahirkan pada tahun 77 H jika dirajihkan bahwa beliau wafat pada tahun 157, karena ketika wafat beliau berusia 80 tahun. Beliau seorang ulama terpercaya (tsiqoh), sebagaimana dikatakan Oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Nasa’I, Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban. Imam Bukhori dan Imam Muslim berhujjah dengan haditsnya dalam kedua kitab shahih mereka.Penulis menemukan dalam kitab “Tarikh al-Madinah” (2/70) karya Imam Umar bin Syubah (w. 262 H) silsilah keluarga ahli hadits ini, kata Imam bin Syubah :

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَدِمَ عَلَيْهِ مَالٌ فَأَمَرَ بِهِ إِلَى بَيْتِ الْمَالِ

“Haddatsanaa Ustman bin Umar ia berkata, haddatsanaa Isa bin Hafsh bin ‘Aashim dari Bapaknya dari Kakeknya (‘Aashim) Rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Umar Rodhiyallahu ‘anhu datang ke Madinah membawa harta, lalu memerintahkan harta tersebut dibawa ke Baitul Mal….”.

Utsman bin Umar perowi tsiqoh, perowinya Bukhori-Muslim. Penulis belum menemukan silsilah seperti ini dalam kitab hadits lainnya. Wallahu A’lam. Adapun silsilah Isa bin Hafsh dari Bapaknya Hafsh bin ‘Aashim, maka Imam Bukhori dan Muslim telah mencatat silsilah ini dalam kitab shahih mereka berdua.

  1. Ubaidillah bin ‘Aashim bin Umar, ini adalah putra ‘Aashim berikutnya yang memiliki riwayat hadits, namun sepertinya Ubaidillah ini kurang mendalami ilmu hadits, sehingga riwayat dari beliau sedikit. Imam Ibnu Hibban memasukkan Ubaidillah bin ‘Aashim ini sebagai perowi tsiqoh. Imam Ibnu Abi Hatim dalam “Jarh wa Ta’dil”  menukil dari Bapaknya, bahwa Ubadillah meriwayatkan dari ayahnya yakni ‘Aashim dan ia diambil haditsnya oleh anaknya ‘Aashim bin Ubaidillah bin ‘Aashim bin Umar. Imam Abu Ya’laa dalam “Musnadnya” (1/120) menulis silsilah ini :

حَدَّثَنَا أَبُو هِشَامٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زِيَادٍ ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَاصِمٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ عُمَرَ ، قَالَ : كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي غَزَاةٍ ، فَقُلْنَا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ الْعَدُوَّ قَدْ حَضَرَ وَهُمْ شِبَاعٌ وَالنَّاسُ جِيَاعٌ

“Haddatsanaa Abu Hisyaam, haddatsanaa Ibnu Fudhoil, haddatsanaa Ibnu Abi Ziyaad dari ‘Aashim bin Abdullah bin ‘Aashim dari Bapaknya dari kakeknya Umar Rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Kami bersama Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dalam sebuah peperangan, kami berkata : ‘wahai Rasulullah, musuh telah datang mereka dalam keadaan kenyang, sedangkan kita dalam keadaan kelaparan….’”.

‘Aashim bin Ubaidillah banyak meriwayatkan hadits, hanya saja sebagian besar ulama mendhoifkannya, seperti Imam Ahmad, Imam Yahya bin Ma’in, Imam Yahya bin Sa’id Al Qohthoon, Imam Abu Dawud, Imam Abu Hatim, Imam Abu Zur’ah dan Imam Ibnu Hibban, serta Aimah lainnya. Penilaian positif diberikan oleh Imam Al’ijli yang mengatakan : ‘ia laa ba’sa bih’ dan juga Imam Ibnu Adiy yang mengatakan : ‘bersama kedhoifannya, ia dutulis haditsnya’. Kemudian dalam sanad ini disebutkan bahwa Ubaidllah meriwayatkan dari kakeknya yaitu Umar bin Khothob Rodhiyallahu ‘anhu, namun penulis belum mendapatkan informasi bahwa Ubaidillah pernah bertemu dengan kakeknya Umar bin Khothob Rodhiyallahu ‘anhu. Wallahu A’lam. Penulis belum mendapatkan haditsnya Ubaidillah bin ‘Aashim meriwayatkan dari Bapaknya ‘Aashim bin Umar Rodhiyallahu ‘anhu. Wallahu A’lam.

 

  1. Abdullah bin Umar bin Khothob Rodhiyallahu ‘anhu, beliau lahir pada tahun 12 atau 13 sebelum hijiriyah, jika beliau wafat dalam usia 86 tahun sebagaimana dikatakan Imam Malik, karena para ulama mengatakan bahwa beliau wafat pada tahun 73 atau 74 H. Ketika berlangsung perang Uhud, Ibnu Umar Rodhiyallahu ‘anhu pernah mengajukan diri untuk ikut berperang, namun tidak diijinkan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam mengingat usianya yang masih belia. Adapun pada saat perang Khondak beliau mulai ikut serta, dan demikian sesudahnya beliau senantiasa bergabung bersama tentara Islam dibawah komando Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Ibunya adalah Zainab bintu Madh’un Rodhiyallahu ‘anha, saudaranya Utsman bin Madh’un Rodhiyallahu ‘anhu. Ibnu Umar masih saudara seibu dan sebapak dengan Ummul Mukminin Hafshoh bintu Umar Rodhiyallahu ‘anha. Beliau mendapatkan tautsiq langsung dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, kata Hafshoh Rodhiyallahu ‘anha, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ رَجُلٌ صَالِحٌ

“Sesungguhnya Abdullah adalah laki-laki sholih” (Muttafaqun alaih).

Abdullah bin Umar salah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, disamping Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dan Aisyah Rodhiyallahu ‘anha.

Sama seperti Bapknya Umar bin Khothob Rodhiyallahu ‘anhu, Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu juga mendidik keluarganya agar dapat beribadah kepada Allah sesuai syariat Nabi-Nya Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Berkat taufik Allah Subhanahu wa Ta’alaa dan kedisiplinan yang ditanamkan Abdullah kepada anak-anaknya, maka diantara putra beliau ada yang berkecimpung dalam ilmu hadits dan menjadi ulamanya, yaitu :

  1. Bilaal bin Abdullah bin Umar, Al Hafidz Ibnu Hajar menggolongkannya sebagai Tabi’I Wasith, ditsiqohkan oleh Imam Abu Zur’ah dan Imam Ibnu Hibban. Imam Muslim berhujjah dengan haditsnya dalam kitab shahihnya. Imam Yahya bin Sa’id Al Qohthoon menggolongkannya sebagai ulama fikihnya penduduk Madinah. Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 1023)  meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Bilaal bin Abdillah bin Umar dari Bapaknya bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah bersabda :

لاَ تَمْنَعُوا النِّسَاءَ حُظُوظَهُنَّ مِنَ الْمَسَاجِدِ إِذَا اسْتَأْذَنُوكُمْ

“Janganlah kalian menghalangi para wanita mendatangi masjid, jika mereka telah meminta ijin kepada kalian”.

  1. Hamzah bin Abdullah bin Umar, Al Hafidz Ibnu Hajar menggolongkannya sebagai Tabi’I Wasith. Beliau ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Sa’ad, Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban. Imam Yahya Al Qohthon mengatakan bahwa Fuqoha (ulama Fikih) Madinah ada 12 orang, diantaranya Hamzah ini. Imam Bukhori dan Imam Muslim berhujjah dengannya dalam kitab shahih mereka.  Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab Sunannya (no. 5138) dengan sanadnya sampai kepada Hamzah bin Abdullah dari Bapaknya Abdullah bin Umar Rodhiyallahu ‘anhu , beliau berkata :

كَانَتْ تَحْتِي امْرَأَةٌ وَكُنْتُ أُحِبُّهَا وَكَانَ عُمَرُ يَكْرَهُهَا فَقَالَ: لِي طَلِّقْهَا فَأَبَيْتُ فَأَتَى عُمَرُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «طَلِّقْهَا»

“aku memiliki istri yang aku suka kepadanya, namum Umar Rodhiyallahu ‘anhu membencinya, beliau berkata kepadaku : ‘ceraikan ia!’, aku enggan untuk  melakukannya, lalu Umar Rodhiyallahu ‘anhu mendatangi Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan menceritakan hal tersebut, maka Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “ceraikan ia!” (dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Hamzah bin Abdullah bin Umar memiliki putra yang menjadi ahli hadits juga, yaitu Umar bin Hamzah bin Abdullah. Beliau ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban, Al Hafidz menukil dari Imam Hakim dalam “Tahdzibut Tahdzib” yang berkata : “أحاديثه كلها مستقيمة” (hadits-haditsnya semuanya lurus). Namun beliau didhoifkan oleh Imam Ahmad dan Imam Nasa’i.Imam Bukhori menulis haditsnya dalam kitab shahihnya sebagai mu’alaq, sedangkan Imam Muslim berhujjah dengan haditsnya.Imam Al Albani dalam “Adabuz Zifaf” (1/70) berkata tentang Umar bin Hamzah ini :

قلت : ويسنتنج من هذه الأقوال لهؤلاء الأئمة أن الحديث ضعيف وليس بصحيح وتوسط ابن القطان فقال كما في ” الفيض ” :

 ” وعمر ضعفه ابن معين وقال أحمد : أحاديثه مناكير فالحديث به حسن لا صحيح ”

 قلت : ولا أدري كيف حكم بحسنه مع التضعيف الذي حكاه هو نفسه فلعله أخذ بهيبة ” الصحيح “

“Kesimpulan dari perkataan Aimah bahwa haditsnya (Umar bin Hamzah) dhoif, tidak shohih, Ibnul Qohthoon mengambil pertengahan dengan berkata sebagaimana dalam Al Faidh : ‘Umar didhoifkan oleh Ibnu Ma’in, Ahmad berkata : ‘hadits-haditsnya mungkar’. Maka haditsnya hasan tidak shahih’.

Aku (Al Albani) berkata : ‘aku tidak tahu bagaimana (ibnul Qohthoon) menghukuminya Hasan, sedangkan ia sendiri menceritakan pendhoifannya, mungkin ia mengambil kewibawaan kitab shahih (Shahih Bukhori-Muslim yang menulis riwayatnya-pent.)”.

Umar bin Hamzah dalam Shahihain tidak meriwayatkan dari bapaknya, namun beliau meriwayatkan dari pamannya yaitu Saalim bin Abdullah bin Umar. Berikut contoh haditsnya dalam Shahih Muslim (no. ), dengan sanad sampai kepada Umar bin Hamzah dari Saalim bin Abdullah dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

أَيُّمَا أَهْلِ دَارٍ اتَّخَذُوا كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ كَلْبَ صَائِدٍ نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِمْ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

“Siapa saja pemilik rumah yang memelihara Anjing, kecuali anjing yang menjaga pertanian atau ternak, maka akan berkurang pahala amalannya setiap hari 2 qirat”.

  1. Zaid bin Abdullah bin Umar, Al Hafidz Ibnu Hajar menggolongkannya sebagai Tabií kabiir. Beliau ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban. Imam Bukhori dan Imam Muslim berhujjah dengan haditsnya dalam kitab shahih mereka. Imam Bukhori dalam Shahihnya (no. 3864) meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Muhammad bin Zaid, akhbaronii kakeknya (Zaid bin Abdullah bin Umar) dari Bapaknya (Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhu) , beliau berkata :

بَيْنَمَا هُوَ فِى الدَّارِ خَائِفًا ، إِذْ جَاءَهُ الْعَاصِ بْنُ وَائِلٍ السَّهْمِىُّ أَبُو عَمْرٍو ، عَلَيْهِ حُلَّةُ حِبَرَةٍ ، وَقَمِيصٌ مَكْفُوفٌ بِحَرِيرٍ ، وَهُوَ مِنْ بَنِى سَهْمٍ ، وَهُمْ حُلَفَاؤُنَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ لَهُ مَا بَالُكَ قَالَ زَعَمَ قَوْمُكَ أَنَّهُمْ سَيَقْتُلُونِى إِنْ أَسْلَمْتُ . قَالَ لاَ سَبِيلَ إِلَيْكَ . بَعْدَ أَنْ قَالَهَا أَمِنْتُ ، فَخَرَجَ الْعَاصِ ، فَلَقِىَ النَّاسَ قَدْ سَالَ بِهِمُ الْوَادِى فَقَالَ أَيْنَ تُرِيدُونَ فَقَالُوا نُرِيدُ هَذَا ابْنَ الْخَطَّابِ الَّذِى صَبَا . قَالَ لاَ سَبِيلَ إِلَيْهِ . فَكَرَّ النَّاسُ

“Tatkala Umar bin Khothob Rodhiyallahu anhu di rumah ketakutan, tiba-tiba datanglah Al ‘Ash bin Wail As Sahmiy Abu ‘Amr, ia memakai pakaian yang indah, bajunya disulam dengan sutera dan ia adalah suku Bani Sahm, mereka adalah pemimpin kami pada masa Jahiliyah, ia berkata : apa masalahmu (wahai Umar)?’, Umar berkata : ‘aku mengira kaummu akan membunuhku jika aku masuk Islam’. Ia berkata : ‘tidak ada jalan bagi mereka (untuk mencelakaimu)’. Setelah ia mengatakan hal tersebut, aku merasa aman. Lalu Al ‘Ash keluar, ia bertemu dengan orang-orang yang sedang berjalan di lemah, ia berkata : ‘kemana kalian pergi?’, mereka berkata : ‘kami akan pergi ke Ibnul Khothob ini. Al Ash berkata : ‘tidak ada jalan kepadanya’. Maka orang-orang berpikir ulang lagi.

Zaid bin Abdullah memiliki seorang putra juga yang menjadi ulama hadits yaitu Muhammd bin Zaid bin Abdullah bin Umar.  Beliau ditsiqohkan oleh Imam Abu Zur’ah dan Imam Ibnu Hibban. Imam Bukhori dan Muslim berhujjah dengannya di kitab shahih mereka. Al Hafidz Ibnu Hajar menggolongkan Muhammad bin Zaid bin Abdullah sebagai Tabi’I wasith (pertengahan). Beliau meriwayatkan hadits langsung dari kakeknya yakni Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhu. Penulis belum menemukan haditsnya Muhammad bin Zaid yang meriwayatkan dari ayahnya Zaid bin Abdullah bin Umar. Contoh hadits Muhammad bin Zaid, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam “Shahihnya” (no. 122) dengan sanadnya dari ‘Aashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah dari Bapaknya dari Kakeknya (Abdullah bin Umar) Rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun diatas 5 perkara, syahadat Laa Ilaaha illallah dan Muhammad Abduhu wa Rasuluhu, mendirikan sholat, menunaikan zakat, Haji ke Baitullah dan Puasa Romadhon”.

Muhammad bin Zaid memiliki beberapa orang anak yang menjadi ahli hadits juga yaitu, Zaid bin Muhammad bin Zaid, ‘Aashim bin Muhammad bin Zaid, Umar bin Muhammad bin Zaid, Waaqid bin Muhammad bin Zaid dan Abu Bakr bin Muhammad bin Zaid. Imam Daruquthni berkata sebagaimana dinukil oleh Imam Al Mizzi dalam “Tahdzibul Kamal” : “و هم خمسة إخوة كلهم ثقات” (mereka ada lima bersaudara yang semuanya tsiqoh).

Sungguh ini merupakan keluarga besar yang penuh dengan keilmuwan –semoga kita semua dikaruniai anak cucu yang berguna bagi agamanya, amiin-.

Zaid bin Muhammad bin Zaid, ditsiqohkan oleh Imam Abu Hatim, Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’I dan Imam Ibnu Hibban. Sebelumnya Imam Daruquthni telah menyebutkan tautsiq kepadanya dan juga saudara-saudaranya. Imam Muslim dalam shahihnya berhujjah dengan haditsnya. Contoh silsilah keluarga Zaid bin Muhammad ditulis riwayatnya oleh Imam Ali bin Harb Ath-Tho’I (w. 265 H) dalam “Ats-Tsani min Haditsi Sufyan bin Uyyainah” (no. 118) dari jalan :

عَنْ زَيْدِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: مَا رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ مَرَّ بِرَبْعَةٍ قَطُّ إِلا غَمَّضَ عَيْنَيْهِ , فَكَتَبَ لَهُ أَبُوهُ , قَالَ: «لا تَنْظُرْ إِلَيْهِ»

“Dari Zaid bin Muhammad dari Bapaknya ia berkata : ‘aku tidak melihat Ibnu Umar Rodhiyallahu anhu melewati Rob’ah keculai bercucuran air matanya’. Maka Bapaknya (Umar bin Khothob Rodhiyallahu anhu) menulis surat kepadanya : “jangan melihat tanahnya”.

Berikutnya adalah saudaranya, ‘Aashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar. Selain Imam Daruquthni yang mentsiqohkannya, sederetan ulama sunnah juga memberikan tautsiq kepada beliau, diantaranya adalah : Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Hatim, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Hibban. Imam Nasa’I berkata : ‘laa ba’sa bih’, sedangkan Imam Abu Zur’ah berkata : ‘shoduq dalam hadits’. Imam Bukhori dan Muslim menjadikannya sebagai hujjah dalam kitab shahih mereka. Silsilah ‘Aashim bin Muhammad, diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam Shahihnya (no. 2998) :

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى الْوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ »

“Haddatsanaa Abu Nu’aim, haddatsanaa ‘Aashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar dari Bapaknya dari Ibnu Umar Rodhiyallahu anhu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, beliau bersabda : “seandainya orang-orang mengetahui apa yang terjadi ketika bersendirian, maka ia tidak akan melakukan perjalan pada malam hari seorang diri”.

Anak berikutnya adalah Umar bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar. Selain Imam Daruquthni, Imam Ahmad, Imam Ibnu Sa’ad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Dawud, Imam Al’ijli, Imam Ibnu Hibban dan Imam Al Bazaar mentsiqohkannya juga. Imam Bukhori dan Imam Muslim berhujah dengannya dalam kitab shahih mereka. Contoh silisilah hadits keluarga ini, sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 5884) dengan sanadnya dari jalan Umar bin Muhammad bin Zaid dari Bapaknya (Muhammad bin Zaid) dari Ibnu Umar Rodhiyallahu anhu bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَطْفِئُوهَا بِالْمَاءِ

“Demam merupakan uap didihan neraka Jahannam, maka turunkan ia dengan air (dikpmpress-pent.)”.

Berikutnya adalah Waaqid bin Muhammad bin Zaid, selain Imam Daruquthni berikut ulama yang mentsiqohkannya : Imam Ahmad, Imam Ibnu Ma’in, Imam Abu Dawud, Imam Abu Hatim dan Imam Ibnu Hibban. Beliau dijadikan hujjah oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam kitab shahihnya. Contoh silsilah hadits ini, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam shahihnya (no. 6166) dan Imam Muslim dalam shahihnya (no. 234) semuanya dari jalan Waaqid bin Muhammad bin Zaid bahwa ia mendengar Bapaknya dari Ibnu Umar Rodhiyallahu anhu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bahwa Beliau bersabda :

وَيْحَكُمْ – أَوْ قَالَ وَيْلَكُمْ – لاَ تَرْجِعُوا بَعْدِى كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

“Celakalah kalian, janganlah kembali kufur setelahku, kalian saling membunuh”.

Dan yang terakhir adalah Abu Bakar bin Muhamad bin Zaid, beliau wafat pada tahun 150 H, Selain Imam Daruquthni, Imam Nasa’I juga mentsiqohkannya dan beliau meriwayatkan 1 hadits darinya yaitu dengan sanadnya dari Syu’bah :

سَمِعْتُ زَيْدًا وَأَبَا بَكْرٍ ابْنَىْ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُمَا سَمِعَا نَافِعًا يُحَدِّثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ « لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ »

“aku mendengar Zaid dan Abu Bakar keduanya putra Muhammad bin Zaid, keduanya mendegar Naafi’ menceritakan dari Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhu dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bahwa Beliau bersabda : “Labaik Allahumma Labaik, Labaika Laa Syariika laka labaik, inal Hamda wan Ni’mata laka wal mulka laa Syariika lak” (dishahihkan oleh Imam Al Albani).

  1. Saalim bin Abdullah bin Umar. Beliau digolongkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar sebagai Tabi’I wasith. Beliau adalah Imamnya Tabi’in pada zamannya, termasuk salah satu ahli fikih yang tujuh (Fuqoha sab’ah). Barangkali beliau adalah anaknya Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhu yang paling bersinar dalam keilmuwan, kezuhudan dan kemulian. Imam Bukhori dan Imam Muslim menulis haditsnya dalam kitab shahih mereka. Berikut contoh silsilah Saalim bin Abdullah, ditulis oleh Imam Muslim dalam shahihnya (no. 2452) dengan sanadnya dari jalan Ibnu Syihaab Az-Zuhri :

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ – رضى الله عنه – يَقُولُ قَدْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُعْطِينِى الْعَطَاءَ فَأَقُولُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. حَتَّى أَعْطَانِى مَرَّةً مَالاً فَقُلْتُ أَعْطِهِ أَفْقَرَ إِلَيْهِ مِنِّى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خُذْهُ وَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ وَمَا لاَ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ »

“Dari Saalim bin Abdullah bin Umar dari Bapaknya ia berkata aku mendengar Umar bin Khothob Rodhiyallahu anhu, beliau berkata : ‘Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memberiku sebuah pemberian, maka aku berkata, berikan saja kepada orang yang lebih butuh dariku. Hingga pada suatu hari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam memberiku harta, aku berkata kepadanya, berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan dariku’. Maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “ambillah dan harta yang datang kepadamu tanpa berlebihan dan tanpa memintanya, ambillah adapun yang tidak seperti itu maka jangan diambil dan dirimu jangan mengharapkannya”.

Saalim bin Abdullah memiliki seorang anak –menurut informasi yang penulis dapat- yang berkecimpung dalam ilmu hadits, yaitu Abu Bakar bin Saalim bin Abdullah. Al Hafidz Ibnu Hajar menggolongkannya sebagai Tabi’I shoghir (kecil). Beliau ditsiqohkan oleh Imam Al’ijli, nama aslinya tidak diketahui sebagaimana dikatakan oleh Imam Abu Hatim. Namun beliau dijadikan hujjah oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka. Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari :

أَبُو بَكْرِ بْنُ سَالِمٍ عَنْ سَالِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أُرِيتُ فِى الْمَنَامِ

“Abu Bakar bin Saalim dari Saalim dari Abdullah bin Umar ra bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam berkata : “aku pernah diperlihatkan dalam mimpi…” (lalu disebutkan Abu Bakar dan Umar Rodhiyallahu anhuma dalam mimpi tersebut).

  1. Abdullah bin Abdullah bin Umar bin Khothob, Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhu memberi nama anaknya persis seperti namanya. Beliau digolongkan oleh Al Hafidz sebagai Tabi’I wasith (pertengahan). Wafat pada tahun 105 H. beliau ditsiqohkan oleh Imam Wakii’ ibnul Jarooh, Imam Abu Zur’ah, Imam Nasa’I, Imam Ibnu Sa’ad, Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban. Dijadikan hujjah dalam Shahih Bukhori dan Muslim. Contoh silsilah ini ditulis Imam Muslim dalam shahihnya (no. 1989) dengan sanadnya dari Ibnu  Syihaab :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى الْمِنْبَرِ « مَنْ جَاءَ مِنْكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ »

“Dari Abdullah bin Abdullah bin Uar dari Abdullah bin Umar dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bahwa Beliau berdiri diatas mimbar dan bersabda : “Barangsiapa yang akan menghadiri sholat jum’ah, maka mandilah”.

  1. Ubaidillah bin Abdullah bin Umar. Beliau termasuk Tabi’I wasith menurut Al Hafidz Ibnu Hajar. Ditsiqohkan oleh Imam Abu Zur’ah, Imam Nasa’I, Imam Al’ijli dan Imam Ibnu Hibban. Wafat pada tahun 106 H. di Shahih Bukhori dan Shahih Muslim tercantum hadits darinya. Misalnya Imam Bukhori meriwayatkan dalam shahihnya (no. 1655) dengan sanadnya dari Imam az-Zuhri, katanya :

أَخْبَرَنِى عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِمِنًى رَكْعَتَيْنِ ، وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ صَدْرًا مِنْ خِلاَفَتِهِ

“akhbaronii Ubaidillah bin Abdullah bin Umar dari Bapaknya, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam sholat di Mina 2 rakaat, Abu Bakar, Umar dan Utsman pada masa kekhilafahannya sholat seperti itu juga”.

Beliau memiliki putra yang bernama Al-Qosim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Umar. Beliau ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Hibban. Wafat sekitar tahun 130 H. Imam Muslim berhujjah dengannya dalam shahihnya, sementara Imam Bukhori berhujjah dalam kitabnya “Adabul Mufrod”. Dalam Shahih Muslim dan selainnya, beliau meriwayatkan dari pamannya Saalim bin Abdullah bin Umar dari Abdullah bin Umar Rodhiyallahu anhu. Misalnya hadits (no. 5386) dengan sanadnya dari Umar bin Muhammad ia berkata :

حَدَّثَنِى الْقَاسِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ حَدَّثَهُ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَأْكُلَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِشِمَالِهِ وَلاَ يَشْرَبَنَّ بِهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِهَا »

“ Haddatsanii Al Qoosim bin Ubaidillah bin Abdullah bin Umar meriwayatkan dari Saalim dari Bapaknya bahwa Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda : “janganlah kalian makan dan minum menggunakan tangan kiri, karena syaithon makan dan minum dengan tangan kiri”.

  1. Selain Umar bin Khothob Rodhiyallahu anhu memiliki putra yang menjadi ulama hadits, ada juga putri beliau yang menjadi perowi hadits yaitu Ummul Mukminin Hafshoh bintu Umar Rodhiyallahu anha, yang menjadi istri Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam. Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan hadits dari beliau Rodhiyallahu anha. Misalnya hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dalam shahihnya (no. 1890) dengan sanadnya dari Hafshoh bintu Umar Rodhiyallahu anha, beliau berkata : aku mendengar Umar Rodhiyallahu anhu berdoa :

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِى شَهَادَةً فِى سَبِيلِكَ ، وَاجْعَلْ مَوْتِى فِى بَلَدِ رَسُولِكَ – صلى الله عليه وسلم –

“Yaa Allah, berilah aku mati syahid di jalanmu dan jadikanlah kematianku di negeri Rasulmu Sholallahu ‘alaihi wa Salaam”.

Dan Allah Azza wa Jalla mengabulkan doa Umar Rodhiyallahu anhu beliau wafat sebagai syahid ketika sedang sholat subuh di kota Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam.

Demikianlah keluarga sholih sahabat besar Umar Rodhiyallahu anhu, beliau berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya dan berguna bagi agamanya. Ulama-ulama pewaris para Nabi. Para Aimah hadits menjuluki para perowi yang berasal dari keluarga Umar Rodhiyallahu anhu dengan laqob dibelakang nama mereka Al-Umariy. Semoga kondisi mereka dapat menjadi teladan bagi kita didalam mendidik anak cucu kita agar berjalan di jalan Allah Azza wa Jalla. Amiin.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: