SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 64 HUKUM MANI

December 29, 2013 at 12:56 am | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

64 – باب غَسْلِ الْمَنِىِّ وَفَرْكِهِ وَغَسْلِ مَا يُصِيبُ مِنَ الْمَرْأَةِ

Bab 64 Mencuci Mani dan Menggosoknya serta Mencuci Sesuatu yang Terkena Mani Istri

Penjelasan :

Imam al-‘Aini berkata menjelaskan judul bab ini dalam “Umdhatul Qory” :

أي هذا باب في بيان حكم غسل المني عند كونه رطبا وبيان حكم فركه عند كونه يابسا

“bab ini menjelaskan hukum mencuci mani ketika kondisinya basah dan menjelaskan hukum menggosoknya jika kondisinya sudah mengering”

Kemudian untuk penggalan kalimat kedua, Al Imam berkata :

أي وفي بيان غسل ما يصيب الثوب أو الجسد من المرأة عند مخالطته إياها

“yaitu penjelasan penjelasan mencuci sesuatu yang mengenai pakaian atau tubuh, berupa mani istri ketika berhubungan dengannya”.

Para ulama berbeda pendapat mengenai kesucian mani sebagai berikut :

  1. Mani adalah Najis, pendapat ini dianut oleh Imam Abu Hanifah, Imam Laits, Imam Sufyan ats-Tsauri, Imam Malik dan para pengikutnya. Namun mereka berbeda pendapat didalam cara menghilangkan mani, Imam Malik mengatakan harus dicuci, tidak sah jika hanya digosok, sedangkan Imam Abu Hanifah dicuci jika basah dan digosok jika kering, adapun Imam ats-Tsauri sekalipun digosok sudah mencukupi.
  2. Mani adalah suci, ini adalah pendapatnya Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Imam Ishaq bin Rohawiyah, Imam Abu Tsaur dan para pengikutnya. Imam Nawawi menisbatkan pendapat ini kepada mayoritas ahlu hadits. Diriwayatkan bahwa ini adalah pendapatnya Ali bin Abi Tholib, Sa’ad bin Abi Waqqoosh, Ibnu Umar dan Aisyah Rodhiyallahu anhum ajma’in.

Dalil bagi madzhab yang mengatakan najisnya mani diantaranya :

  • Terdapat riwayat berkenaan untuk mandi karena keluar mani, menurut mereka mandi tidaklah ditujukan kecuali untuk sesuatu yang najis.
  • Mereka berdalil dengan hadits dari ‘Ammaar Rodhiyallahu anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam bersabda :

إنَّمَا نَغْسِلُ الثَّوْبَ مِنْ الْغَائِطِ وَالْبَوْلِ وَالْمَذْيِ وَالْمَنِيِّ وَالدَّمِ وَالْقَيْء

“sesungguhnya hanyalah kami mencuci pakaian karena terkena tahi, air kencing, madzi, mani, darah dan muntahan” (HR. Bazaar dan Abu Ya’laa serta selainnya, namun hadits ini didhoifkan oleh Imam Syaukani dalam “Nailul Author”).

  • Mereka mengkiyaskan mani dengan sisa-sisa yang keluar dari tubuh seperti air kencing, tahi dan madzi. Lagi pula mani keluar dari kemaluan, sebagaimana air kencing yang keluar dari tempat itu juga.

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa mani suci, mereka berdalil dengan hadits di bab ini yaitu perbuatan Aisyah Rodhiyallahu anha yang mencuci baju Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam dan masih terlihat bekas cucian tersebut dan Beliau tetap melakukan sholat.

Pendapat terakhir inilah yang penyusun anggap paling rajih, yakni sucinya air Mani. Hal ini diperkuat juga dengan perkataan Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu :

أَنَّهُ قَالَ فِي الْمَنِيِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ أَمِطْهُ عَنْكَ قَالَ أَحَدُهُمَا بِعُودٍ، أَوْ إذْخِرَةٍ وَإِنَّمَا هُوَ بِمَنْزِلَةِ الْبُصَاقِ، أَوْ الْمُخَاطِ

“bahwa beliau Rodhiyallahu anhu berfatwa tentang mani yang mengenai baju, yaitu gosoklah dengan dahan atau batang idkhir, karena ia seperti ingus dan dahak”.

Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Syafi’I dalam Al Umm, Imam Al Albani dalam “Adh-Dhoifah” (no. 948) setelah menyebutkan hadits ini :

قلت : و هذا سند صحيح على شرط الشيخين ، و قد أخرجه البيهقي من طريق الشافعي ثم قال : ” هذا صحيح عن ابن عباس من قوله ، و قد روي مرفوعا ، و لا يصح رفعه

“sanad ini shahih atas syarat Bukhori-Muslim, Baihaqi meriwayatkan dari jalan Imam Syafi’I lalu berkata : ‘ini shahih dari perkataan Ibnu Abbas Rodhiyallahu anhu (secara mauquf), telah diriwayatkan secara marfu’, namun tidak shahih pemarfuannya”.

Benar hadits ini juga diriwayatkan secara marfu’ namun tidak shahih, Imam Al Albani telah menjelaskan sebab pelemahannya, silakan merujuk di kitab tersebut bagi yang mau.

Imam Syafi’I dalam “Al Umm” (1/73) menyanggah orang-orang yang mengatakan najisnya mani, karena ada perintah mandi :

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ فَقَدْ يُؤْمَرُ بِالْغُسْلِ مِنْهُ قُلْنَا: الْغُسْلُ لَيْسَ مِنْ نَجَاسَةِ مَا يَخْرُجُ إنَّمَا الْغُسْلُ شَيْءٌ تَعَبَّدَ اللَّهُ بِهِ الْخَلْقَ – عَزَّ وَجَلَّ – فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ مَا دَلَّ عَلَى ذَلِكَ؟ قِيلَ أَرَأَيْت الرَّجُلَ إذَا غَيَّبَ ذَكَرَهُ فِي الْفَرْجِ الْحَلَالِ وَلَمْ يَأْتِ مِنْهُ مَاءٌ فَأَوْجَبْت عَلَيْهِ الْغُسْلَ، وَلَيْسَتْ فِي الْفَرْجِ نَجَاسَةٌ

“Jika ada yang bertanya : ‘sungguh telah ada perintah untuk mandi karena keluar mani’. Kami jawab : ‘mandi bukan karena najis yang keluar darinya, hanyalah mandi disini dalam rangka beribadah kepada Allah Azza wa Jalla’. Jika ia bertanya lagi apa dalilnya?, jawab : ‘bukankah engkau melihat seorang laki-laki jika kemaluannya telah tenggelam dalam kemaluan wanita yang halal, sekalipun tidak keluar mani, ia wajib untuk mandi dan pada saat itu di kemaluannya tidak ada najis (baca mani)”.

Beliau juga menyanggah lagi masih dalam kitab yang sama (1/74) :

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ فَإِنَّ عَمْرَو بْنَ مَيْمُونٍ رَوَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ «عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا كَانَتْ تَغْسِلُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -» قُلْنَا: هَذَا إنْ جَعَلْنَاهُ ثَابِتًا فَلَيْسَ بِخِلَافٍ لِقَوْلِهَا كُنْت أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثُمَّ يُصَلِّي فِيهِ كَمَا لَا يَكُونُ غُسْلُهُ قَدَمَيْهِ عُمْرَهُ خِلَافًا لِمَسْحِهِ عَلَى خُفَّيْهِ يَوْمًا مِنْ أَيَّامِهِ وَذَلِكَ أَنَّهُ إذَا مَسَحَ عَلِمْنَا أَنَّهُ تُجْزِئُ الصَّلَاةُ بِالْمَسْحِ وَتُجْزِئُ الصَّلَاةُ بِالْغُسْلِ وَكَذَلِكَ تُجْزِئُ الصَّلَاةُ بِحَتِّهِ وَتُجْزِئُ الصَّلَاةُ بِغُسْلِهِ لَا أَنَّ وَاحِدًا مِنْهُمَا خِلَافُ الْآخَرِ مَعَ أَنَّ هَذَا لَيْسَ بِثَابِتٍ عَنْ عَائِشَةَ هُمْ يَخَافُونَ فِيهِ غَلَطَ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ إنَّمَا هُوَ رَأْيُ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ كَذَا حَفِظَهُ عَنْهُ الْحُفَّاظُ أَنَّهُ قَالَ غُسْلُهُ أَحَبُّ إلَيَّ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ خِلَافُ هَذَا الْقَوْلِ وَلَمْ يَسْمَعْ سُلَيْمَانُ عَلِمْنَاهُ مِنْ عَائِشَةَ حَرْفًا قَطُّ وَلَوْ رَوَاهُ عَنْهَا كَانَ مُرْسَل

“Jika ada yang berkata : ‘’Amr bin Maimuun telah meriwayatkan dari Bapaknya dari Sulaiman bin Yasaa dari Aisyah Rodhiyallahu anha bahwa beliau mencuci mani yang menempel di baju Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam’. Kami katakan : ‘ini jika kita anggap tsabit, maka tidak menyelisihi perkataan Aisyah Rodhiyallahu anha yang mengerik baju Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam, lalu sholat, sebagaimana beliau (meriwayatkan) bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam tidak mencuci kedua telapak kakinya pada saat Umroh menyelisihi riwayat bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa Salaam mengusap kedua khufnya pada suatu hari.

Yang demikian bahwa jika Aisyah mengusap mani, maka kita mengetahui bahwa sah sholah dengan baju yang terkena mani yang diusap, sah sholat dengan dicuci, sah sholat dengan dikerik dan sah sholat dengan dicuci, tidak ada pertentangan diantara hal tersebut. Sekalipun sebenarnya riwayat ini tidak tsabit dari Aisyah Rodhiyallahu anha, para ulama khawatir ini adalah kekeliruan ‘Amr bin Maimuun bahwa hal tersebut adalah pendapat pribadinya Sulaiman bin Yasaar, demikian yang dihapal para Hufadz  dari Sulaiman bahwa ia berkata : ‘mencucinya lebih aku sukai’. Telah diriwayatkan dari Aisyah Rodhiyallahu anha yang menyelisihi hal ini yang tidak didengar oleh Sulaimanm sehingga kami tahu dari Aisyah Rodhiyallahu anha satu kalimat saja, seandainya ia meriwayatkan dari Aisyah maka hal ini adalah mursal”.

Sebelumnya (1/73) Imam Syafi’I berkata :

فَإِنْ قَالَ قَائِلٌ فَمَا الْمَعْقُولُ فِي أَنَّهُ لَيْسَ بِنَجِسٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بَدَأَ خَلْقَ آدَمَ مِنْ مَاءٍ وَطِينٍ وَجَعَلَهُمَا جَمِيعًا طَهَارَةً، الْمَاءُ، وَالطِّينُ فِي حَالِ الْإِعْوَازِ مِنْ الْمَاءِ طَهَارَةٌ، وَهَذَا أَكْثَرُ مَا يَكُونُ فِي خَلْقٍ أَنْ يَكُونَ طَاهِرًا وَغَيْرَ نَجِسٍ وَقَدْ خَلَقَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بَنِي آدَمَ مِنْ الْمَاءِ الدَّافِقِ فَكَانَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ أَعَزَّ وَأَجَلَّ مِنْ أَنْ يَبْتَدِئَ خَلْقًا مِنْ نَجَسٍ مَعَ مَا وَصَفْت مِمَّا دَلَّتْ عَلَيْهِ سُنَّةُ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالْخَبَرُ عَنْ عَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ مَعَ مَا وَصَفْت مِمَّا يُدْرِكُهُ الْعَقْلُ مِنْ أَنَّ رِيحَهُ وَخَلْقَهُ مُبَايِنٌ خَلْقَ مَا يَخْرُجُ مِنْ ذَكَرٍ وَرِيحِهِ

“jika ada yang berkata : ‘bagaimana secara logika bahwa mani itu tidak najis’. (kita jawab) : ‘sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memulai penciptaan Adam dari air dan tanah dan menjadikan semua tadi suci, air dan tanah pada kondisi campuran adalah air suci. Ini adalah unsure terbesar dari manusia bahwa hal tersebut adalah suci bukan najis. Allah telah menciptakan anak Adam dari Air yang terpancar, maka Allah sangat Mulia dan sangat Tinggi untuk menciptakan manusia dari sesuatu yang najis, bersamaan dengan sifat yang ditunjukkan oleh hadits Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa Salaam dan atsar dari Aisyah Rodhiyallahu anha, Ibnu Abbas, Sa’ad bin Abi Waqqoosh Rodhiyallahu anhum ajmain (tentang sucinya). Dan sifat yang disaksikan oleh akal bahwa baunya berbeda dengan sesuatu yang keluar dari kemaluan (air kencing)”.

 

Berkata Imam Bukhori :

229 – حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ مَيْمُونٍ الْجَزَرِىُّ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كُنْتُ أَغْسِلُ الْجَنَابَةَ مِنْ ثَوْبِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَيَخْرُجُ إِلَى الصَّلاَةِ ، وَإِنَّ بُقَعَ الْمَاءِ فِى ثَوْبِهِ

90). Hadits no. 229

“Haddatsana Ábdaan ia berkata, akhbaronaa Abdullah ia berkata, akhbaronaa Ámr bin Maimuun Al Jazariy dari Sulaimaan bin Yasaae dari Áisyah rodhiyallahu anha ia berkata : áku pernah mencuci janabah (baca mani) dari baju Nabi sholallahu alaihi wa salam, lalu Beliau keluar untuk sholat, dan bekas (blentongan air-jawa) ada di bajunya’”.

 

Biografi Perowi Hadits

 

Abdaan adalah laqob untuk Abdullah bin Utsman seorang perowi tsiqoh tsbat, telah berlalu keterangannya; Abdullah yakni ibnul Mubarok.

 

  • Nama                     : Abu Abdillah/Abdur Rokhman Ámr bin Maimuun

Kelahiran                : Wafat 147 H

Negeri tinggal         : ar-Ruqiy

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Maín, Imam Ibnu Saád, Imam Nasaí, Imam Ibnu Numair dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Sulaimaan salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

  • Nama                     : Abu Ayyub Sulaimaan bin Yasaar Al Hilaaliy

Kelahiran                : Wafat setelah tahun 100-an H

Negeri tinggal         : Madinah

Komentar ulama      : Tabi’I wasith. Salah satu fuqoha yang tujuh, Aimah Tabiín pada zamannya.

Hubungan Rowi       : Aisyah  Rodhiyallahu ‘anha adalah salah seorang gurunya.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Berkata Imam Bukhori :

230 – حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ ح وَحَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنِ الْمَنِىِّ يُصِيبُ الثَّوْبَ فَقَالَتْ كُنْتُ أَغْسِلُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَيَخْرُجُ إِلَى الصَّلاَةِ وَأَثَرُ الْغَسْلِ فِى ثَوْبِهِ بُقَعُ الْمَاءِ

91). Hadits no. 230

“Haddatsana Qutaibah ia berkata, haddatsanaa Yaziid ia berkata, haddatsanaa Ámr dari Sulaimaan ia berkata, aku mendengar Aisyah rodhiyallahu anha. (ganti sanad)

Haddatsanaa Musaddad ia berkata, haddatsanaa Abdul Wahid ia berkata, haddatsanaa Ámr bin Maimuun dari Sulaimaan bin Yasaar ia berkata, aku bertanya kepada Aisyah rodhiyallahu anha tentang mani yang mengenai baju?’. Lalu beliau menjawab : áku pernah mencuci baju Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, lalu Beliau sholat dan bekas cucian di bajunya masih blentong (jawa) terlihat’”.

 

Biografi Perowi Hadits

 

Qutaibah adalah ibnu Saíd, perowi yang tsiqoh tsabat; Musaddad yaitu ibnu Musarhid, perowi tsiqoh tsabat; Abdul Wahid yakni ibnu Ziyaad, perowi tsiqoh.

 

  • Nama                     : Abu Muáwiyyah Yaziid bin Zurai’

Kelahiran                : Lahir 101 H Wafat 182 H

Negeri tinggal         : Bashroh

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Ahmad, Imam Ibnu Maín, Imam Ibnu Saád, Imam Abu Hatim, dan Imam Nasaí.

Hubungan Rowi       : Ámr bin Maimuun salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :

  1. Pada penjelasan Imam Syafií yang kami nukil di bab ini, beliau meragukan keshahihan pendengaran Sulaimaan bin Yaasir dari Aisyah rodhiyallahu anha, karena Ámr bin Maimuun menyendiri dalam riwayat tentang hal ini dari Sulaimaan, dimana para muridnya yang lain menjadikan hal ini adalah perkataannya Sulaimaan bukan perkataannya Aisyah rodhiyallahu anha. Namun dengan adanya sanad pada hadits no. 230 yang menunjukkan bahwa Sulaimaan mendengar dari Aisyah rodhiyallahu anha secara langsung dan melalui sanad lain Sulaimaanlah yang bertanya kepada Aisyah rodhiyallahu anha, sehingga dengan ini diketahui kelemahan pendapat yang menyatakan bahwa Sulaimaan tidak pernah mendengar dari Aisyah rodhiyallahu anha.
  2. Sucinya mani berdasarkan pendapat yang rajih, karena terdapat riwayat bahwa Aisyah rodhiyallahu anha pernah menggosok mani Nabi sholallahu alaihi wa salam ketika sudah kering. Imam Abu Dawud dalam sunannya (no. 372) dan dishahihkan oleh Imam Al Albani meriwayatkan :

كُنْتُ أَفْرُكُ الْمَنِيَّ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُصَلِّي فِيهِ

aku pernah mengerik mani dari baju Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, lalu Beliau sholat menggunakan pakain tersebut”.

3. Termasuk dalam bab ini adalah maninya wanita juga dihukumi suci. Sebagaimana telah diisyaratkan Imam al-Áini dalam pembukaan bab diatas.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: