SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 66 HUKUM KOTORAN TERNAK

December 29, 2013 at 11:00 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

66 – باب أَبْوَالِ الإِبِلِ وَالدَّوَابِّ وَالْغَنَمِ وَمَرَابِضِهَا

وَصَلَّى أَبُو مُوسَى فِى دَارِ الْبَرِيدِ وَالسِّرْقِينِ وَالْبَرِّيَّةُ إِلَى جَنْبِهِ فَقَالَ هَا هُنَا وَثَمَّ سَوَاءٌ

Bab 66 Kencing Unta, Binatang Ternak dan Kambing Serta Kandang Binatang Tersebut

Abu Musa rodhiyallahu anhu sholat di rumah al-Bariid, sedangkan tahi binatang ternak dan padang pasir ada disebelahnya, beliau berkata : ‘disini dan disana sama saja’.

Penjelasan :

Imam al-‘Aini berkata menjelaskan judul bab ini dalam “Umdhatul Qory” :

أي هذا باب في بيان حكم أبوال الإبل إلى آخره إنما جمع الأبوال لأنه ليس المراد ذكر حكم بول الإبل فقط بل المراد بيان حكم بول الإبل وبول الدواب وبول الغنم

“yaitu bab ini menjelaskan hukum kencing Unta dan seterusnya,  disini digunakan kata jamak kencing (Abwaal), karena yang dimaksud adalah bukan penyebutan hukum kencing Unta semata, namun penjelasan hukum kencing unta, kencing hewan ternak dan kencing Kambing”.

Imam al-‘Aini menyebutkan bahwa atsar sahabat Abu Musa rodhiyallahu anhu diriwayatkan dengan sanad bersambung sebagai berikut :

هذا الاثر وصله أبو نعيم شيخ البخاري في كتاب ( الصلاة ) له قال حدثنا الأعمش عن مالك بن الحارث هو السلمي الكوفي عن أبيه قال صلى بنا أبو موسى في دار البريد وهناك سرقين الدواب والبرية على الباب فقالوا لو صليت على الباب فذكره وهذا تفسير لما ذكره البخاري معلقا وأخرجه ابن أبي شيبة أيضا في ( مصنفه ) فقال ثنا وكيع الأعمش عن مالك بن الحارث عن أبيه قال كنا مع أبي موسى في دار البريد فحضرت الصلاة فصلى بنا على روث وتبن فقلنا لا نصلي ههنا والبرية إلى جنبك فقال البرية وههنا سواء وقال ابن حزم روينا من طريق شعبة وسفيان كلاهما عن الأعمش عن مالك بن الحارث عن أبيه قال صلى بنا أبو موسى على مكان فيه سرقين وهذا لفظ سفيان وقال شعبة روث الدواب قال ورويناه من طريق غيرهما والصحراء أمامه وقال ههنا وهناك سواء

“atsar ini disambungkan oleh Abu Nuáim gurunya Imam Bukhori dalam kitab “Sholat” : haddatsanaa Al-A’masy dari Maalik ibnul Haarits as-Sulamiy al-Kuufiy dari Bapaknya ia berkata : Ábu Musa sholat bersama kami di rumah al-Bariid, disana terdapat kotoran hewan ternak dan gurun pasir terletak didepan pintu, mereka berkata : ‘seandainya engkau sholat di pintu’, maka Abu Musa berkata : “Al-Atsar”. Ini adalah sebagai penjelas untuk apa yang disebutkan Imam Bukhori secara Muálaq.

Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonaf” meriwayatkan : haddatsanaa Wakii’dari Al-A’masy dari Maalik ibnul Haarits dari Bapaknya ia berkata : ‘kami bersama Abu Musa di rumah al-Bariid, lalu datang waktu sholat, lalu beliau akan mengajak kami sholat di tempat yang terdapat kotoran ternak dan jerami’, maka kami berkata : ‘jangan sholat disini, itu gurun pasir disampingmu!’. Beliau berkata : ‘di gurun dan disini sama saja’.

Ibnu Hazm berkata : ‘kami meriwayatkan dari jalan Syu’bah dan Sufyan keduanya dari Al-‘Amasy dari Malik ibnul Haarits dari Bapaknya ia berkata : ‘Abu Musa rodhiyallahu anhu akan mengimami kami sholat di tempat yang terdapat kotoran’. Ini adalah lafadznya Sufyan, sedangkan riwayatnya Syu’bah ‘kotoran ternak’. Ibnu Hazm berkata : ‘kami meriwayatkan dari jalan selain keduanya dengan lafadz : ‘sedangkan gurun pasir didepannya’, lalu Abu Musa rodhiyallahu anhu berkata : ‘disini dan disana sama’

Yang dimaksud dengan Daarul Bariid adalah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Áini :

قوله في دار البريد وهي دار ينزلها من يأتي برسالة السلطان والمراد من دار البريد ههنا موضع بالكوفة كانت الرسل تنزل فيه إذا حضروا من الخلفاء إلى الأمراء وكان أبو موسى رضي الله تعالى عنه أميرا على الكوفة في زمن عمر وفي زمن عثمان رضي الله عنهما وكان الدار في طرف البلد ولهذا كانت البرية إلى جنبها

“yakni rumah yang ditempati oleh orang yang mengantarkan surat dari sultan dan yang dimaksud darul bariid didalam atsar ini adalah tempat di Kufah yang dijadikan tempat singgah ketika mereka ditugaskan kholifah untuk mengantarkan pesannya kepada Gubernur. Abu Musa rodhiyallahu anhu pada waktu itu adalah sebagai gubernur Khufah pada zaman Umar dan Utsman rodhiyallahu anhumaa. Rumah ini terletak di ujung kota, oleh karenanya dekat dengan padang pasir”.

Jadi karena rumah ini bersifat sementara dan hanya disinggahi ketika utusan kholifah datang ke wilayah gubernuran, maka ketika tidak ditempati kemungkinan binatang ternak masuk disitu dan akhirnya rumah tersebut mirip kandang binatang.

Jadi dalam bab ini, Imam Bukhori ingin menyampaikan hukum air kencing dan kotoran binatang ternak apakah ia suci atau najis?, karena “Ad-dawaab” dalam bahasa arab, dijelaskan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al-Fath” :

وَالْمُرَاد بِالدَّوَابِّ مَعْنَاهُ الْعُرْفِيّ وَهُوَ ذَوَات الْحَافِرِ مِنْ الْخَيْلِ وَالْبِغَالِ وَالْحَمِيرِ

“yang dimaksud ad-Dawaab adalah secara urf (kebiasaan) yaitu binatang berkuku seperti Kuda, Bighol (campuran kuda dan keledai) dan Keledai”.

Al Hafidz dalam “Al Fath” condong kepada pendapat yang mengatakan najisnya air kencing dan kotoran binatang, menurut beliau berhujjah dengan sholatnya Abu Musa rodhiyallahu anhu di tempat yang terdapat kotoran ternak disitu tidak serta merta melazimkan bahwa kotoran ternak tersebut suci, karena bisa jadi Abu Musa sholat dengan menggunakan alas, namun dalam riwayat diatas sangat jelas menunjukkan bahwa Abu Musa rodhiyallahu anhu sholat tanpa menggunakan alas, terlebih lagi dinukil dari Ibnul Musayyib dan selainnya bahwa sholat menggunakan alas adalah bidáh. Atau bisa jadi Abu Musa rodhiyallahu anhu berpendapat bahwa sucinya tempat bukan syarat sholat, namun hanya sekedar wajib saja. Tapi dengan adanya riwayat yang menawarkan kepada Abu Musa rodhiyallahu anhu agar melakukan sholat di gurun pasir saja daripada di Rumah Bariid, namun Abu Musa rodhiyallahu anhu menolaknya dan mengatakan bahwa kedua tempat itu sama saja, menunjukkan bahwa Abu Musa rodhiyallahu anhu berpandangan bahwa kotoran hewan ternak adalah suci.

Lalu Al Hafidz masih mengatakan bahwa seandainya seperti itu maka bisa jadi ini adalah pendapat pribadinya Abu Musa rodhiyallahu anhu, karena ada sahabat lain seperti Ibnu Umar rodhiyallahu anhu yang menyelisihi beliau rodhiyallahu anhu. Kemudian Al Hafidz membandingkan riwayat dari seorang sahabat yang diserang dengan panah ketika sedang sholat menjaga perbatasan, sehingga beliau rodhiyallahu anhu sholat dengan penuh luka darah, namun dalam hal ini tidak otomatis menjadi hujjah bahwa darah itu suci, sebagaimana sholatnya Abu Musa rodhiyallahu anhu di tempat yang ada kotoran ternak, menjadi hujjah bahwa kotoran ternak itu suci. Dalam kesimpulannya Al Hafidz condong kepada pendapat najisnya kencing hewan, karena masuk dalam keumuman sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

اِسْتَنْزِهُوا مِنْ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّة عَذَاب الْقَبْر مِنْهُ

“Menjauhlah dari kencing, karena umumnya adab kubur, karena (tidak bisa menjaga diri dari air kencing-pent)”(dishahihkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah).

Imam Syaukani dalam “Nailul Author” menulis bahwa yang berpendapat najisnya air kencing hewan dengan berdalil keumuman hadits ini adalah :

وَاحْتَجَّ الْقَائِلُونَ بِنَجَاسَةِ جَمِيعِ الْأَبْوَالِ وَالْأَزْبَالِ ، وَهُمْ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّةُ ، وَنَسَبَهُ فِي الْفَتْحِ إلَى الْجُمْهُورِ ، وَرَوَاهُ ابْنُ حَزْمٍ فِي الْمُحَلَّى عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ السَّلَفِ بِالْحَدِيثِ الْمُتَّفَقِ عَلَيْهِ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ : { إنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ عَنْ الْبَوْلِ } الْحَدِيثَ .

قَالُوا : يَعُمُّ جِنْسَ الْبَوْلِ وَلَمْ يَخُصَّهُ بِبَوْلِ الْإِنْسَانِ ، وَلَا أَخْرَجَ عَنْهُ بَوْلَ الْمَأْكُولِ ، وَهَذَا الْحَدِيثُ غَايَةُ مَا تَمَسَّكُوا بِهِ .

وَأُجِيبُ عَنْهُ بِأَنَّ الْمُرَادَ بَوْلُ الْإِنْسَانِ لِمَا فِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ بِلَفْظِ : { كَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ } .

قَالَ الْبُخَارِيُّ : وَلَمْ يَذْكُرْ سِوَى بَوْلِ النَّاسِ ، فَالتَّعْرِيفُ فِي الْبَوْلِ لِلْعَهْدِ ، قَالَ ابْنُ بَطَّالٍ : أَرَادَ الْبُخَارِيُّ أَنَّ الْمُرَادَ بِقَوْلِهِ كَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنْ الْبَوْلِ : بَوْلِ الْإِنْسَانِ لَا بَوْلَ سَائِرِ الْحَيَوَانِ فَلَا يَكُونُ فِيهِ حُجَّةٌ لِمَنْ حَمَلَهُ عَلَى الْعُمُومِ فِي بَوْلِ جَمِيعِ الْحَيَوَانِ ، وَكَأَنَّهُ أَرَادَ الرَّدَّ عَلَى الْخَطَّابِيِّ حَيْثُ قَالَ : فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى نَجَاسَةِ الْأَبْوَالِ كُلِّهَا

“Mereka yang berpendapat najisnya seluruh air kencing dan kotoran adalah Syafiíyah, Hanafiyyah dan Al Hafidz dalam “Al Fath” menisbatkannya kepada mayoritas ulama, Ibnu Hazm dalam “Al Muhalla” meriwayatkan dari sekolompok ulama salaf, mereka berdalil dengan hadits Bukhori-Muslim bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam melewati 2 buah kuburan, maka Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “sungguh keduanya sedang diadzab, tidaklah keduanya diadzab karena perkara yang besar (menurut kebanyakan manusia-pent), adapun salah satunya, ia tidak menjaga diri dari kencing”.

Mereka berkata : ‘ini umum, mencakup semua kencing, tidak dikhususkan dengan kencing manusia saja dan tidak dikecualikan air kencing binatang yang boleh dimakan’.

Ini adalah hadits yang sangat mereka andalkan untuk dijadikan hujjah, maka dapat dijawab bahwa yang dimaksud dengan kencing adalah kencingnya manusia, karena dalam shahih Bukhori dengan lafadz : “ia tidak menjaga diri dari kencingnya”.

Bukhori berkata : ‘tidak disebutkan, kecuali kencing manusia’. Maka Alim Laf dalam isim ma’rifah “al-Baul” adalah untuk “Áhd (tertentu)”. Ibnu Batthool berkata : ‘Bukhori menginginkan yang dimaksud dengan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam : “ia tidak menjaga diri dari kencingnya”, adalah kencing manusia bukan kencing seluruh hewab, maka dalam hal ini tidak hujjah bagi yang membawa hadits ini atas keumumannya bahwa ini mencakup air kencing seluruh hewan’. Maka seolah-olah Ibnu Batthool membantah Al Khothobiy yang mengatakan : ‘didalamnya terdapat dalil najisnya air kencing semuanya’.

Pendapat yang rajih adalah bahwa air kencing dan kotoran hewan ternak yang boleh dimakan dagingnya itu suci. Pendapat ini dianut oleh an-Nakhoí, az-Zuhriy, Malik, Ahmad, Muhammad ibnul Hasan, Zufar, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban, asy-Syaukani dan selainnya. Dalil yang menguatkan adalah :

  1. Hadits izin dari Nabi sholallahu alaihi wa salam kepada penduduk Uroinah yang memerintahkan mereka untuk berobat dengan air kencing Unta –sebagaimana nanti akan dibawakan oleh Imam Bukhori-.
  2. Hadits sholatnya Nabi sholallahu alaihi wa salam di kandang Kambing sebelum masjid Nabawi selesai dibangun –juga akan dibawakan Imam Bukhori-.
  3. Baroáh ashliyyah, yakni hukum asal segala sesuatu adalah suci, sampai datang dalil yang memalingkan dari kesuciannya dan dalam hal ini tidak ada dalil yang shahih dan tegas yang memalingkan hukum asalnya.
  4. Hadits dari Ummu Salamah rodhiyallahu anha dalam riwayat Ibnu Hibban dan Baihaqi serta dari Wail bin Hujr rodhiyallahu anhu dalam riwayat Muslim, Tirmidzi dan Abu Dawud dengan lafadz :

إنَّ اللَّهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat untuk kalian dengan sesuatu yang diharamkan kepada kalian”.

Imam Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan juga dari Abu Huroirah rodhiyallahu anhu, belia berkata :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ دَوَاءٍ خَبِيثٍ

“ Rasulullah sholallahu alaihi wa salam melarang untuk menggunakan seluruh obat yang khobits (jelek)”.

Maka pengharaman disini melazimkan najisnya dan ketika diketahui diperbolehkannya (baca : dihalalkan) berobat dengan air kencing unta, menunjukkan bahwa kencing unta adalah suci.

  1. Dan dalil-dalil lain yang disebutkan oleh Imam Syaukani, namun hadits tersebut lemah, sehingga saya tidak menampilkannya disini.

Setelah beliau memaparkan dalil-dalil sucinya air kencing dan kotoran hewan ternak yang boleh dimakan dagingnya, Imam Syaukani dalam “an-Nail” berkata :

وَالظَّاهِرُ طَهَارَةُ الْأَبْوَالِ وَالْأَزْبَالِ مِنْ كُلِّ حَيَوَانٍ يُؤْكَلُ لَحْمه تَمَسُّكًا بِالْأَصْلِ وَاسْتِصْحَابًا لِلْبَرَاءَةِ الْأَصْلِيَّةِ ، وَالنَّجَاسَةُ حُكْمٌ شَرْعِيٌّ نَاقِلٌ عَنْ الْحُكْمِ الَّذِي يَقْتَضِيه الْأَصْلُ وَالْبَرَاءَةُ فَلَا يُقْبَلُ قَوْلُ مُدَّعِيهَا إلَّا بِدَلِيلٍ يَصْلُحُ لِلنَّقْلِ عَنْهُمَا ، وَلَمْ نَجِدْ لِلْقَائِلِينَ بِالنَّجَاسَةِ دَلِيلًا كَذَلِكَ ، وَغَايَةُ مَا جَاءُوا بِهِ حَدِيثُ صَاحِبِ الْقَبْرِ وَهُوَ مَعَ كَوْنِهِ مُرَادًا بِهِ الْخُصُوصَ كَمَا سَلَفَ

“yang nampak (baca : rajih) sucinya air kencing dan kotoran binatang yang boleh dimakan dagingnya, berpegang dengan hukum asal dan baroáh ashliyah. Penajisan adalah hukum syarí yang memalingkan dari hukum asal dan baroáh ashliyah, maka tidak diterima ucapan yang mengklaim najisnya hal tersebut, kecuali dengan dalil yang menegaskan pemalingan hukum tersebut dan kita belum mendapatkan orang yang mengatakan najisnya, sebuah dalil yang menegaskan hal tersebut. Maksimal dalil yang dibawakan adalah hadits penghuni kubur yang mana sebenarnya yang dimaksud dengan (air kencing disitu) adalah khusus (manusia) sebagaimana penjelasannya telah berlalu”.

Mungkin ada yang bertanya, apa dalilnya yang memisahkan antara hewan yang boleh dimakan dagingnya sehingga dikatakan kotorannya suci dengan hewan yang tidak boleh dimakan, sehingga dikatakan kotorannya najis. Maka Imam Syaukani telah menjawabnya :

قَدْ تَمَسَّكُوا بِحَدِيثِ ” إنَّهَا رِكْسٌ ” قَالَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الرَّوْثَةِ ، أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَالتِّرْمِذِيُّ وَالنَّسَائِيُّ .

وَبِمَا تَقَدَّمَ فِي بَوْلِ الْآدَمِيِّ وَأَلْحَقُوا سَائِرَ الْحَيَوَانَاتِ الَّتِي لَا تُؤْكَلُ بِهِ بِجَامِعِ عَدَمِ الْأَكْلِ وَهُوَ لَا يَتِمُّ إلَّا بَعْدَ تَسْلِيمِ أَنَّ عِلَّةَ النَّجَاسَةِ عَدَمُ الْأَكْلِ وَهُوَ مُنْتَقِضٌ بِالْقَوْلِ بِنَجَاسَةِ زِبْلِ الْجَلَّالَةِ ، وَالدَّفْعُ بِأَنَّ الْعِلَّةَ فِي زِبْلِ الْجَلَّالَةِ هُوَ الِاسْتِقْذَارُ مَنْقُوضٌ بِاسْتِلْزَامِهِ لِنَجَاسَةِ كُلِّ مُسْتَقْذَرٍ كَالطَّاهِرِ إذَا صَارَ مُنْتِنًا ، إلَّا أَنْ يُقَالَ : إنَّ زِبْلَ الْجَلَّالَةِ هُوَ مَحْكُومٌ بِنَجَاسَتِهِ لَا لِلِاسْتِقْذَارِ ، بَلْ لِكَوْنِهِ عَيْنَ النَّجَاسَةِ الْأَصْلِيَّةِ الَّتِي جَلَّتْهَا الدَّابَّةُ لِعَدَمِ الِاسْتِحَالَةِ التَّامَّةِ .

“Mereka berpengang dengan hadits : “sesungguhnya (kotoran keledai) itu riksun (baca : najis)”. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda berkaitan dengan kotoran Keledai, dikeluarkan oleh Bukhori, Tirmidzi dan Nasaí. Dan juga dengan hadits yang lalu tentang air kencing manusia, maka diikutkan seluruh hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya, dan ini tidak sempurna, kecuali setelah diterima bahwa alasan penajisannya karena tidak boleh dimakan dagingnya dan hal ini terbantahkan dengan ucapan najisnya kotoran binatang Jalalaah, namun dapat dibantah lagi bahwa alasan najisnya kotoran binatang Jalallah adalah karena ia kotor, maka ini terbantahkan juga dengan pelaziman najis semua yang kotor, seperti benda suci jika busuk baunya, kecuali kalau dikatakan : ‘sesungguhnya kotoran Jalallah itu yang dihukumi najis bukan karena ia binatang kotor, namun karena kotorannya itu sendiri yang najis secara asalnya yang mana binatang tersebut makan sembarangan dan tidak adanya penghalalan yang menyeluruh terhadapnya”.

Kesimpulan yang saya condong kepadanya adalah sucinya kotoran hewan yang boleh dimakan dagingnya dan saya tutup dengan fatwa lembaga ulama besar Saudi Arabia yang pada waktu itu diketuai oleh Imam bin Baz berikut teks fatwanya :

السؤال الثاني من الفتوى رقم 9009

س: أ- هل يجوز غسل الرأس بوزر (ببول) الإبل والصلاة به؟

ب- هل يجوز غسل الرأس بوزر (ببول) الغنم والصلاة به؟

جـ- هل يجوز الصلاة في غرفة الغنم؟

ج: الحمد لله وحده والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه.. وبعد: أولا: بول ما يؤكل لحمه طاهر، فإذا استعمله في البدن لحاجة فلا حرج من الصلاة به. ثانيا: تجوز الصلاة في غرفة الغنم ومرابضها؛ لأنه قد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على ذلك.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو // عضو // نائب الرئيس // الرئيس //

عبد الله بن قعود // عبد الله بن غديان // عبد الرزاق عفيفي // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //

Soal : A. Bolehkan mencuci kepala anak dengan kencing Unta dan sholat dengannya?

B. Bolehkah mencuci kepada anak dengan air kencing Kambing dan sholat dengannya?

C. Bolehkan sholat di kandang kambing?

Jawab : Alhamdulillah wahdah dan sholawat salam terlimpahcurahkan kepada Rasul-Nya, keluarganya dan para sahabatnya .. wa Ba’du :

Pertama, air kencing binatang yang boleh dimakan dagingnya adalah suci, jika digunakan di badan karena ada keperluannya, maka tidak mengapa sholat dalam kondisi terlumuri dengan air kencingnya.

Kedua, boleh sholat di kandang Kambing, karena telah tsabit dari Nabi sholallahu alaihi wa salam yang menunjukkan hal tersebut.

 

Berkata Imam Bukhori :

233 – حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِى قِلاَبَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ ، فَاجْتَوَوُا الْمَدِينَةَ ، فَأَمَرَهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِلِقَاحٍ ، وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا ، فَانْطَلَقُوا ، فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِىَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ ، فَجَاءَ الْخَبَرُ فِى أَوَّلِ النَّهَارِ ، فَبَعَثَ فِى آثَارِهِمْ ، فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِىءَ بِهِمْ ، فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ ، وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ ، وَأُلْقُوا فِى الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُونَ فَلاَ يُسْقَوْنَ . قَالَ أَبُو قِلاَبَةَ فَهَؤُلاَءِ سَرَقُوا وَقَتَلُوا وَكَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ، وَحَارَبُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

94). Hadits no. 233

“Haddatsanaa Sulaimaan bin Harb ia berkata, haddatsanaa Hammaad bin Zaid dari Ayyub dari Abi Qilaabah dari Anas rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘kaum uklin atau uroinah pernah datang ke Madinah, lalu mereka terkena penyakit di Madinah, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam memerintahkan mereka untuk  mengikuti penggembala Unta, lalu mereka meminum air kencing dan susunya, lalu mereka pun pulang, maka ketika mereka sudah sehat, mereka membunuh penggembala Unta Nabi sholallahu alaihi wa salam dan mereka merampok hewan ternak. Lalu datang berita pada awal siang hari, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam memerintahkan untuk mencari jejak mereka, ketika matahari mulai naik, para sahabat berhasil membawa mereka, maka Nabi sholallahu alaihi wa salam memerintahkan untuk memotong tangan dan kaki mereka, lalu dicungkil matanya dan membiarkan mereka ditengah terik matahari dan tidak diberi minum. Abu Qilaabah berkata : ‘mereka merampok, membunuh dan kafir setelah beriman, sehingga Allah an Rasul-Nya memerangi mereka’”.

HR. Muslim no. 4447

 

Biografi Perowi Hadits

 

Semua perowinya telah berlalu.

 

Berkata Imam Bukhori :

234 – حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو التَّيَّاحِ يَزِيدُ بْنُ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُصَلِّى قَبْلَ أَنْ يُبْنَى الْمَسْجِدُ فِى مَرَابِضِ الْغَنَمِ

95). Hadits no. 234

“Haddatsanaa Adam ia berkata, haddatsanaa Syu’bah ia berkata, akhbaronaa Abu at-Tayyaah Yaziid bin Humaid dari Anas rodhiyallahu anhu ia berkata : ‘Nabi sholallahu alaihi wa salam sholat di kandang Kambing sebelum masjid Nabawi dibangun”.

HR. Muslim no. 1202

 

Biografi Perowi Hadits

 

Semua perowinya telah berlalu.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al Fath” menukil pendapat ulama yang menyatakan bahwa hukuman keras yang dijatuhkan kepada suku Uroinah dalam rangka qishoh, kata beliau :

وَمَالَ جَمَاعَة مِنْهُمْ اِبْن الْجَوْزِيِّ إِلَى أَنَّ ذَلِكَ وَقَعَ عَلَيْهِمْ عَلَى سَبِيلِ الْقِصَاصِ ؛ لِمَا عِنْد مُسْلِم مِنْ حَدِيثِ سُلَيْمَان التَّيْمِيّ عَنْ أَنَس ” إِنَّمَا سَمَلَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْيُنَهُمْ ؛ لِأَنَّهُمْ سَمَلُوا أَعْيُنَ الرُّعَاةِ “

 “sebagian ulama diantaranya Ibnul Jauzi condong kepada pendapat bahwa hal tersebut adalah karena qishoh, karena riwayat dalam shahih Muslim dari hadits Sulaimaan at-Tamiimiy dari Anas rodhiyallahu anhu, kata beliau : ‘hanyalah Nabi sholallahu alaihi wa salam memerintahkan mencungkil mata mereka, karena mereka mencungkil mata penggembala Unta tersebut”.

2. diperbolehkannya sholat di kandang Kambing.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: