MENINGGALKAN BERDOA UNTUK KEDUA ORANG TUANYA AKAN MEMUTUS RIZKI?

January 31, 2014 at 4:01 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

JIKA SEORANG HAMBA MENINGGALKAN BERDOA UNTUK KEDUA ORANG TUANYA, MAKA AKAN MEMUTUSKAN

RIZKI ANAK TERSEBUT

 

Diriwayat dari sahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah bersabda :

إِذَا تَرَكَ الْعَبْدُ الدُّعَاءَ لِلْوَالِدَيْنِ، فَإِنَّهُ يَنْقَطِعُ مِنَ الْوَلَدِ وَالرِّزْقِ فِي الدُّنْيَا

“Jika seorang hamba meninggalkan berdoa kepada kedua orang tuanya, maka itu akan memutus rezeki anak tersebut di dunia”.

Continue Reading MENINGGALKAN BERDOA UNTUK KEDUA ORANG TUANYA AKAN MEMUTUS RIZKI?…

Advertisements

SYARAH BUKHORI KITAB MANDI – BAB 1 WUDHU SEBELUM MANDI

January 31, 2014 at 2:36 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | 2 Comments

1 – باب الْوُضُوءِ قَبْلَ الْغُسْلِ

Bab 1 Wudhu Sebelum Mandi

 

Penjelasan :

 

Imam al-‘Ainiy dalam “Umdahtul Qoriy”  berkata :

أي هذا باب في بيان حكم الوضوء قبل أن يشرع في الاغتسال هل هو واجب أو مستحب أم سنة

“yaitu bab ini menjelaskan hukum berwudhu sebelum mandi, apakah hukumnya wajib, mustahab atau sunnah?”.

Al Hafidz Ibnu Hajar menukil perkataan Imam Syafi’i dalam “al-Umm” (1/56, Daarul Ma’rifah) :

فَكَانَ فَرْضُ اللَّهِ الْغُسْلَ مُطْلَقًا لَمْ يَذْكُرْ فِيهِ شَيْئًا يَبْدَأُ بِهِ قَبْلَ شَيْءٍ فَإِذَا جَاءَ الْمُغْتَسِلُ بِالْغُسْلِ أَجْزَأَهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ كَيْفَمَا جَاءَ بِهِ وَكَذَلِكَ لَا وَقْتَ فِي الْمَاءِ فِي الْغُسْلِ إلَّا أَنْ يَأْتِيَ بِغُسْلِ جَمِيعِ بَدَنِهِ

Continue Reading SYARAH BUKHORI KITAB MANDI – BAB 1 WUDHU SEBELUM MANDI…

STATUS PERPECAHAN UMAT SEMUANYA DI SURGA

January 31, 2014 at 2:10 pm | Posted in Hadits | Leave a comment

STATUS HADITS PERPECAHAN UMAT SEMUANYA DI SURGA KECUALI SATU GOLONGAN YANG DI NERAKA

Telah masyhur hadits perpecahan umat Islam yang terpecah menjadi 73 golongan, semua golongan tersebut di neraka, kecuali satu golongan yang hanya masuk surga. Muawiyah bin Abi Sufyaan Rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِى النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِى الْجَنَّةِ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ

“Ketahuilah bahwa kaum sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab, berpecah belah menjadi 72 golongan dan agama ini (Islam) akan terpecah menhadi 73 golongan. 72 golongan diantaranya masuk neraka dan satu golongan yang masuk surga yaitu golongan al-Jama’aah” (HR. Abu Dawud dan selainnya dan hadits ini sanadnya hasan, namun menjadi shahih lighoirihi dengan jalan-jalan riwayat lainnya).

Namun sebagian orang membawakan hadits yang bertentangan dengan isi hadits shahih diatas, yakni dengan lafadz bahwa semua golongan masuk surga, kecuali satu yaitu dari kalangan Zindik. Oleh karena itu artikel ini akan membahas takhrij hadits tersebut dan meneliti statusnya dari sisi sanad dan isi hadits.

Hadits ini telah ditakhrij oleh Aimah hadits seperti :

1. Imam al-Uqoiliy dalam “adh-Dhu’aafaa’ al-kabiir” (4/201, Daarul Maktabatil ‘Ilmiyah-Beirut) dari jalan :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ خَالِدٍ اللَّيْثِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ، عَنْ يَاسِينَ الزَّيَّاتِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ سَعِيدٍ أَخِي يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ , عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى بِضْعٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً , كُلُّهَا فِي الْجَنَّةِ إِلَّا فِرْقَةً وَاحِدَةً , وَهِيَ الزَّنَادِقَةُ»

“Haddatsanaa al-Hasan bin Ali bin Khoolid al-Laitsi ia berkata, haddatsanaa Nu’aim bin Hammaad ia berkata, haddatsanaa Yahya bin Yamaan dari Yaasin az-Ziyaat dari Sa’ad bin Sa’id saudaranya Yahya bin Sa’id Al Anshoriy dari Anas Rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “umatku akan berpecah menjadi 70 lebih golongan, semuanya di Surga, kecuali satu kelompok yaitu az-Zanaadiqoh”.

 Status sanad :

Terdapat didalam perowi yang dikritik yaitu Yasin az-Ziyaat, Imam Ibnu Hibban telah menyebutkan biografinya dalam “al-Majruhiin” (3/142), beliau namanya adalah Abu Kholaf Yasin bin Muadz, lahir di Kufah kemudian pindah ke Yamaamah, lalu menetap di Hijaz. Imam Ibnu Hibban berkata menilainya :

وكان ممن يروى الموضوعات عن الثقات ويتفرد بالمعضلات عن الاثبات لا يجوز الاحتجاج به بحال، وكل ما وقع في نسخة ابن جريج عن ابى الزبير من المناكير كان ذلك مما سمعه ابن جريج عن ياسين الزيات عن أبى الزبير فدلس عنه.

 “beliau termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perowi tsiqot dan menyendiri dengan hadits-hadits mu’dhol dari para perowi yang kokoh. Tidak boleh berhujjah dengan haditsnya dalam kondisi apapun. Apa yang terdapat dalam naskah Ibnu Juraij dari Ibnu az-Zubair adalah hadits-hadits mungkar, karena Ibnu Juraij mendengar dari Yaasin az-Ziyaat dari Abu az-Zubair, lalu Ibnu Juraij melakukan tadlis terhadapnya”.

Pentahqiq kitab “al-Majruhin”  menambahkan penilaian ulama terhadap Yaasin ini, kata pentahqiq :

ياسين بن معاذ الزيات: قال البخاري: يتكلمون فيه منكر الحديث. وقال ابن معين: ليس حديثه بشئ وقال النسائي وابن الجنيد: متروك. كان من كبار فقهاء الكوفة ومفتيها. الميزان 358 / 4 التاريخ الكبير 429 / 8

“Yaasin bin Mu’adz az-Ziyaat, Bukhori berkata : ‘ia diperbincangkan, mungkarul hadits’. Ibnu Ma’in berkata : ‘haditsnya tidak ada apa-apanya’. Nasa’I dan Ibnul Junaid berkata : ‘matruk’. Beliau termasuk pembesarnya ahli fikih Kufah dan Muftinya. (al-Miizaan (4/258) dan at-Taariikh al-Kabiir (8/429)”.

Imam Ibnu Abu Hatim dalam “Jarh wa Ta’dil” (no. 1350) menukil dari bapaknya, Imam Abu Hatim yang berkata menilainya :

كان رجلا صالحا لا يعقل  ما يحدث به، ليس بقوى، منكر الحديث

“beliau (Yaasin) seorang laki-laki sholih, namun tidak masuk akal apa yang diriwayatkannya, beliau tidak kuat dan mungkarul hadits”.

Kemudian Imam Ibnu Abi Hatim menanyakan tentangnya juga kepada Imam Abu Zur’ah, maka jawaban beliau : “ضعيف الحديث” (lemah haditsnya).

Kesimpulannya, sanad hadits ini sangat lemah sekali, tidak dapat dijadikan hujjah dengan sebab kelemahan yang ada pada perowi yang bernama Yaasin az-Ziyaat.

2. Imam Ibnul Jauzi dalam “al-Maudhuu’aat” (1/267) dari jalan :

حدثنا محمد بن مروان القرشى قال حدثنا محمد بن عبادة الواسطي قال حدثنا موسى ابن إسماعيل قال حدثنا معاذ بن يس الزيات قال حدثنا الابرد بن الاشرس عن يحيى بن سعيد عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” تفترق أمتى على سبعين أو إحدى وسبعين فرقة كلهم في الجنة إلا فرقة واحدة قالوا: يا رسول الله من هم ؟ قال: الزنادقة وهم القدرية ” وقد رواه أحمد بن عدى الحافظ من حديث موسى بن إسماعيل عن خلف بن يس عن الابرد.

“Haddatsanaa Muhammad bin Marwaan al-Qurosiy ia berkata, haddatsanaa Muhammad bin ‘Ubaadah al-Waasithiy ia berkata, haddatsanaa Musa bin Ismail ia berkata, haddatsanaa Muadz bin Yaazin az-Ziyaat ia berkata, haddatsanaa al-Abrad bin al-Isyris dari Yahya bin Sa’id Al Anshoriy dari Anas Rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “umatku akan berpecah menjadi 70 atau 71 golongan, semuanya di Surga, kecuali satu kelompok . para sahabat bertanya : ‘siapa mereka wahai Rasulullah? Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjawab : “yaitu az-Zanaadiqoh, mereka adalah Qodariyyah”.

Al-Hafidz Ahmad bin ‘Adiy telah meriwayatkan dari haditsnya Musa bin Ismail dari Kholaf bin Yaasin dari al-Abrad”.

Status sanad :

Dalam sanad ini terdapat kritikan untuk perowinya yaitu Muadz bin Yaasin, maka ia adalah Yaasin sebagaimana biografinya telah berlalu atau mungkin Bapaknya. Syaikhnya yakni al-Abrod kata Imam Al Albani dalam “Silsilah ahaadits adh-Dhoifah” (no. 1035) maka ia lebih jelek kondisinya, kemudian Al Albani menukil perkataan Imam adz-Dzahabi dari Imam Ibnu Khuzaimah yang menilainya : “كذاب وضاع” (pendusta dan pemalsu hadits). Imam al-‘Uqoiliy dalam “adh-Dhu’aafaa’ (4/201) menilainya :

رجل مجهول وحديثه غير محفوظ

“lelaki majhul dan haditsnya tidak mahfuudz (terjaga)”.

Imam Ibnul Jauzi dalam “al-Maudhuu’aat”  mengatakan bahwa Yaasin mencuri hadits ini dari al-Abrod.

Kesimpulannya, sanad hadits ini bisa dikatakan palsu atau minimalnya sangat lemah sekali, tidak bisa dijadikan hujjah.

3. Masih di kitab yang sama, Imam Ibnul Jauzi mendatangkan sanad yang ketiga yaitu :

أنبأنا الجريرى قال أنبأنا العشارى قال حدثنا الدارقطني قال حدثنا أبو بكر محمد بن عثمان الصيدلانى قال حدثنا أحمد بن داود السجستاني قال حدثنا عثمان بن عفان القرشى قال حدثنا أبو إسماعيل الايلى حفص بن عمر عن مسعر عن سعد بن سعيد قال سمعت أنس بن مالك يقول.

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ” تفترق أمتى على بضع وسبعين فرقة كلها في الجنة إلا الزنادقة. قال أنس: كنا نراهم القدرية “.

“Haddatsanaa al-Hasan bin Ali bin Khoolid al-Laitsi ia berkata, haddatsanaa Nu’aim bin Hammaad ia berkata, haddatsanaa Yahya bin Yamaan dari Yazin az-Ziyaat dari Sa’ad bin Sa’id saudaranya Yahya bin Sa’id Al Anshoriy dari Anas Rodhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “umatku akan berpecah menjadi 70 lebih golongan, semuanya di Surga, kecuali satu kelompok yaiktu az-Zanaadiqoh”.

Status sanad :

Putaran sanad ini masih berporos kepada Yaasin az-Ziyaat, perowi yang sangat lemah dan tertuduh memalsukan hadits. Maka sanad ini juga kondisinya sama.

Pembahasan hadits ini dari sisi sanad adalah :

  1. Didalam sanadnya terdapat perowi yang sangat lemah, yang haditsnya tidak dapat dijadikan hujjah.
  2. Dalam sanadnya terjadi juga idhthirob (kegoncangan). Imam Al Albani dalam kitabnya “adh-Dhoo’ifaah” menukil perkataan Al Hafidz Ibnu Hajar :

فقال تارة عن يحيى بن سعيد ، و تارة عن سعد بن سعيد ، و هذا اضطراب شديد سندا و متنا

“ia berkata terkadang dari Yahya bin Sa’id dan terkadang dari Sa’ad bin Sa’id, maka ini sangat goncang secara sanad dan matan”.

Adapun dari sisi matan, maka kelemahan hadits ini adalah :

  1. Matan (isi) hadits ini mungkar, bertentangan dengan hadits yang masyhur yang shahih yang mengatakan bahwa semuanya di neraka, kecuali satu golongan. Hadits ini dikatakan mungkar karena terjadi perselisihan perowi dhoif yang menyelisihi perowi yang lebih tsiqoh darinya, sebagaimana ini ma’ruf dalam mustholah hadits.
  2. Matan hadits maqlub (terbalik), yakni seharusnya semua di neraka dan satu yang di sorga, namun dibalik menjadi semuanya di surga satu di neraka. Al Hafidz dalam sambungan nukilan sebelumnya berkata :

و المحفوظ في المتن : ” تفترق أمتي على ثلاث و سبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة ، قالوا : و ما تلك الفرقة ؟ قال : ما أنا عليه اليوم و أصحابي ” و هذا من أمثلة مقلوب المتن “

“yang mahfudz (terjaga) dari sisi matan adalah : “umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka, kecuali satu. Para sahabat bertanya : ‘siapa golongan tersebut?’, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjawab : “apa yang aku dan para sahabatku berada pada hari ini”. Dan ini juga salah satu contoh hadits yang maqlub (terbalik) isinya”.

Komentar para Aimah terhadap Hadits ini :

1. Imam al-Uqoily dalam “adh-Dhu’aafaa’” setelah meriwayatkan hadits ini berkata :

هذا حديث لا يرجع منه إلى صحة ولعل ياسين أخذه عن أبيه أو عن أبرد هذا وليس لهذا الحديث أصل من حديث يحيى بن سعيد ولا من حديث سعد

hadits ini tidak bersumber dari keshahihan, mungkin Yaasin mengambil hadits ini dari bapaknya atau dari Abrod. Hadits ini tidak bersumber dari haditsnya Yahya bin Sa’id dan jugan (saudaranya) Sa’ad”.

2. Imam Ibnu ‘Adiy dalam “al-Kamiil fii Dhu’aafaa’” (3/65) berkata :

ولم أر لخلف بن ياسين هذا غير هذا الحديث وان كان له غيره فليس له الا دون خمسة أحاديث ورواياته عن مجهولين والأبرد بن الأشرس ليس بالمعروف

aku tidak melihat Kholaf bin Yaasin memiliki hadits, selain hadits ini, jika ia memiliki hadits lain, jumlahnya dibawah lima buah dan berasal dari riwayat-riwayat para perowi majhul. Sedangkan al-Abrod bin al-Isyris tidak ma’ruf”.

3. Imam Ibnul Jauzi dalam “al-Maudhuu’aat”  mengomentarinya :

وهذا الحديث على هذا اللفظ لا أصل له

Hadits dengan lafadz ini tidak ada asalnya”.

4. Imam Suyuthi menyetujui penilaian palsunya hadits ini dalam kitabnya “al-La’aaliy”.

5. Syaikh Muhammad al-Kitaaniy dalam “Nidhomul Mutanatsir” (1/47)  berkata :

وفي لفظ تفترق أمتي على بضع وسبعين فرقة كلها في الجنة إلا فرقة واحدة وهي الزنادقة وقد أورده ابن الجوزي في الموضوعات في كتاب السنة وتبعه في اللئالي وقال ابن تيمية لا أصل له بل هو موضوع كذب باتفاق أهل العلم بالحديث انظر شرح العقيدة المذكورة.

“lafadz “umatku akan berpecah menjadi 70 lebih golongan, semuanya di Surga, kecuali satu kelompok yaitu az-Zanaadiqoh”. Ibnul Jauzi telah menulisnya dalam kitab al-Maudhuu’aat di kitab sunah dan ditulis juga di al-La’aaliy. Ibnu Taimiyyah berkata : ‘tidak ada asalnya, bahkan ini palsu dusta dengan kesepakatan ulama hadits, lihat syarah aqidah tersebut”.

6. Imam Al Albani dalam “adh-Dhoo’ifaah” (no. 1035)  berkata : “موضوع بهذا اللفظ” (palsu dengan lafadz ini).

SYARAH BUKHORI – KITAB MANDI MUKADIMAH

January 30, 2014 at 6:27 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم

5 – كِتَابُ الغُسْلِ

Kitab Mandi

 

Penjelasan :

 

Ini adalah lanjutan dari kitab wudhu yakni masih dalam pembahasan berkaitan dengan Thoharoh (bersuci). Kata “الغسْلِ” jika huruf  ‘ghoinnya’ dibaca dhommah maka artinya ‘الِاغْتِسَالُ’ yakni mashdar (kata kerja yang dibendakan) dari perbuatan mandi. Jika dibaca dengan memfathahkan huruf  ‘ghoinnya’  maka artinya adalah perbuatan mandi. Adapun jika dikasrahkan huruf ‘ghoinnya’ maka bermakna sesuatu yang digunakan bersama air. Demikian penjelasan Imam Shon’ani dalam kitab “Subulus Salam”.

Continue Reading SYARAH BUKHORI – KITAB MANDI MUKADIMAH…

TAFSIR AL FATIHAH AYAT 4

January 29, 2014 at 11:00 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Tafsir “Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (Al Fatihah : 4)

 

I.                   Mufrodat Ayat

إِيَّاكَ” (kepada Engkau) maf’ul bih (objek) dari fi’il “نَعْبُدُ” Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil dari qiro’ah 7 dan jumhur dengan mentasydidkan huruf yaa “إِيَّاكَ”, Amr bin Faayid membacanya dengan takhfif (tanpa tasydid) “اِيَا” dan ini syadz, karena artinya adalah sinar matahari. kalimat “إِيَّا” adalah dhomir (kata ganti) munfashil (yang terpisah) untuk manshuub, sehingga huruf Kaaf dalam kalimat tersebut adalah mudhofun ilaihnya yang bermakna “Engkau” yang kembalinya kepada Allah, ini adalah pendapatnya al-Kholiil. Pendapat lainnya adalah ia bukan dhomir, sehingga itu adalah kalimat satu kesatuan yang kembalinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Ini adalah pendapatnya Imam Al Akhfasy. Continue Reading TAFSIR AL FATIHAH AYAT 4…

PENDAPAT IMAM SYAFI’I TENTANG MENGIRIMKAN PAHALA BACAAN AL QUR’AN KEPADA MAYIT

January 25, 2014 at 3:07 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGIRIMKAN PAHALA BACAAN AL QUR’AN MENURUT IMAM SYAFI’I

Imam Syafi’i dalam “Al Umm” bab Shodaqohnya orang yang hidup dari mayit (4/126, Daarul Ma’rifah-Beirut) :

أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا الشَّافِعِيُّ إمْلَاءً قَالَ: يَلْحَقُ الْمَيِّتَ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ وَعَمَلِهِ ثَلَاثٌ حَجٌّ يُؤَدَّى عَنْهُ وَمَالٌ يُتَصَدَّقُ بِهِ عَنْهُ، أَوْ يُقْضَى وَدُعَاءٌ فَأَمَّا مَا سِوَى ذَلِكَ مِنْ صَلَاةٍ، أَوْ صِيَامٍ فَهُوَ لِفَاعِلِهِ دُونَ الْمَيِّت

Akhbaronaa ar-Robii’ bin Sulaimaan ia berkata, haddatsanaa asy-Syafi’i dengan imlaa bahwa beliau berkata : ‘diikutkan mayit (mendapatkan pahala-pent.) dari perbuatan orang lain dalam 3 perkara yaitu, haji yang ditunaikan untuk mayit (badal haji), harta yang disedekahkan atas namanya atau yang dibayarkan dan doa. Adapun selain itu berupa sholat dan puasa, maka pahalanya (hanya) untuk pelakunya, tidak untuk mayit.

Continue Reading PENDAPAT IMAM SYAFI’I TENTANG MENGIRIMKAN PAHALA BACAAN AL QUR’AN KEPADA MAYIT…

TAFSIR AL FATIHAH AYAT 3

January 24, 2014 at 1:35 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Tafsir “Yang Menguasai Hari Pembalasan” (Al Fatihah : 3)

 

I.                   Mufrodat Ayat

مَالِكِ” adalah sifat untuk “لِلَّهِ”. Qiro’ah Abu Ja’far, Naafi’, Ibnu Katsiir, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Aamir dan Hamzah dengan “مَلِكِ” tanpa alif. Sedangkan qiro’ah ‘Aashim, al-Kasaa’i, Ya’qub, Abu Hatim dan Kholaf dengan “مَالِكِ” menggunakan alif. Semua qiro’ah ini tidak berbeda didalam mengkasrohkan huruf kaafnya.

Continue Reading TAFSIR AL FATIHAH AYAT 3…

TAFSIR AL FATIHAH AYAT 2

January 23, 2014 at 2:08 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir “Yang Maha Pengasih laqi Maha Penyayang” (Al Fatihah : 2)

 

I.                   Mufrodat Ayat

الرَّحْمَنِ” adalah sifat untuk “لِلَّهِ”. Begitu juga “الرَّحِيمِ” sifat-Nya juga. Karena yang disifati hukumnya majruur, maka bacaannya juga majruur yakni ‘Ar-Rokhmaanir Rokhiimi’, ini adalah qiro’ahnya jumhur. Imam Ibnul Jauzi menukil dari Imam Abul ‘Aaliyah, Imam Ibnu as-Sumaifi’ dan Imam Isa bin Umar, mereka membacanya dengan nashob ‘Ar-Rokhmaanar Rokhiima’, lalu dinukil juga dari Imam Abu Riziin, Imam Robii’ bin Khoitsam dan Imam Abu Imroon dengan bacaan rofa’ yakni ‘Ar-Rokhmaanur Rokhiimu’. Adapun tafsirnya telah berlalu pada penjelasan tafsir Basmalah.

Continue Reading TAFSIR AL FATIHAH AYAT 2…

TAFSIR AL FATIHAH AYAT 1

January 22, 2014 at 11:15 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tafsir Segala Puji Bagi Allah, Rabb Alam Semesta (Al Fatihah : 1)

 

I.                   Mufrodat Ayat

الْحَمْدُ” adalah mubtada’ dan khobarnya adalah “لِلَّهِ”. Alim lam ta’rif pada Alhamdu, bisa berupa “لِلْجِنْسِ”  yaitu maknanya hakiki, mengisyaratkan bahwa semua orang mengetahui bahwa yang berhak dipuji adalah Dia Rabbunaa. Atau bisa juga alil lamnya berupa “لِلْاِسْتِغْرَاقِ” (mencakupi) yang maknanya bahwa seluruh pujian itu pada hakikatnya semuanya untuk Allah.  Alhamdu secara bahasa maknanya adalah pujian yang indah untuk mengagungkan dan mencintai, adapun secara istilah diungkapkan oleh Imam Ibnu Utsaimin : Continue Reading TAFSIR AL FATIHAH AYAT 1…

TAFSIR AL FATIHAH – MUKADIMAH

January 22, 2014 at 2:38 am | Posted in Tafsir | Leave a comment

سورة الفاتحة

Surat Al Fatihah

 

I.                   Penamaan Al Fatihah

Dinamakan surat Al Fatihah karena Al Qur’an dimulai dengannya, ada juga ulama yang mengatakan bahwa ini adalah surat yang pertamakali diturunkan secara sempurna. Mayoritas ulama juga menamakannya dengan Ummul Kitab atau Ummul Qur’an, karena didalam ayat ini terangkum semua kandungan isi Al Qur’an. Para ulama mengatakan bahwa Al Qur’an memiliki isi secara garis besarnya berupa, Tauhid, Hukum-Hukum dan Kisah-Kisah Adam dan keturunannya. Sehingga karena rangkuman tersebut terdapat dalam surat ini, maka dinamakan sebagai ‘Ummu’ (induk). Telah datang hadits yang dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani, bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : Continue Reading TAFSIR AL FATIHAH – MUKADIMAH…

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: