SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 68 KENCING DI AIR DIAM

January 5, 2014 at 1:08 am | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

68 – باب الْبَوْلِ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ

Bab 68 Kencing di Air Diam

 

Penjelasan :

Imam al-Áini dalam “Úmdahtul Qoriy” (3/166) berkata :

أي هذا باب في بيان حكم البول في الماء الراكد وهو الذي لا يجري في رواية الأصيلي باب لا تبولوا في الماء الراكد وفي بعض النسخ باب الماء الدائم

“yakni ini adalah bab tentang penjelasan hukum kencing di air yang statis yaitu yang tidak mengalir. Dalam riwayat al-Áshiiliy “bab janganlah kalian kencing di air yang diam”, dalam sebagian naskah “bab air diam”.

Berkata Imam Bukhori :

238 – حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو الزِّنَادِ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ هُرْمُزَ الأَعْرَجَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « نَحْنُ الآخِرُونَ السَّابِقُونَ »

99). Hadits no. 238

“Haddatsanaa Abul Yamaan ia berkata, akhbaronaa Syuáib ia berkata, akhbaronaa Abu az-Zinaad bahwa Abdur Rokhman bin Hurmuz al-A’raj meriwayatkan bahwa ia mendengar Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu mendengar Rasulullah sholallahu alaihi wa salam bersabda : “kita umat yang terakhir, namun yang pertamakali dibangkitkan”.

HR. Muslim no. 2016

 

Biografi Perowi Hadits

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

1.  Nama                      : Abu Dawud Abdur Rokhman bin Hurmuz al-A’raj

Kelahiran                : Wafat  117 H di Iskandariyyah

Negeri tinggal         : Madinah

Komentar ulama      : Tabií wasith. Ditsiqohkan oleh Imam Ali ibnul Madini, Imam Abu Zuráh, Imam al-Íjli dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Berkata Imam Bukhori :

239 – وَبِإِسْنَادِهِ قَالَ « لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِى الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِى لاَ يَجْرِى ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ »

100). Hadits no. 239

“Dengan sanad diatas, Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :  “Janganlah kalian kencing di air yang diam yang tidak mengalir, lalu mandi padanya”.

HR. Muslim no. 682

 

Biografi Perowi Hadits

 

Telah berlalu di hadits sebelumnya.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Para ulama pensyarah shahih Bukhori berpikir keras, apa kesesuain hadits no. 238 dengan judul babnya?, ada beberapa pendapat yang penulis melihatnya :
    1. Imam Ibnu Bathool dalam “Syarah Bukhorinya” berpendapat kemungkinan Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu mendengar hadits tersebut dalam satu konteks ucapan Nabi sholallahu alaihi wa salam, sehingga beliau meriwayatkannya semua lafadznya (yakni hadits no. 238 dan 239). Karena contoh hal ini terdapat juga dalam kitab jihad, kitab ibaroh dan selainnya di shahih Bukhori.
    2. Al Hafidz mengkritik pendapat Imam Ibnu Bathool, karena jika seperti itu tentu Imam Bukhori akan meriwayatkan matan kedua hadits tersebut dalam satu kesatuan, namun ternyata memang 2 matan ini dipisahkan dan telah terdapat jalan lain seperti dalam riwayat Imam Muslim bahwa Abu Huroiroh hanya meriwayatkan dari Nabi sholallahu alaihi wa salam dengan matan hadits no. 239. Jika ini terpisah maka hadits no. 238 ini, Al Hafidz menukil dari ulama lain tentang kesesuain hadits pada bab ini yakni, bahwa ketika umat Islam adalah yang terakhir meninggal dunia dan yang pertama kali dibangkitkan, maka seolah-olah bendera terakhir diserahkan kepada yang pertama, maksudnya umat sebelum kita memberikan estafet bendera kepada kita umat Nabi Muhammad sholallahu alaihi wa salam, karena kita yang pertamakali dibangkitkan. Hal ini dianalogikan dengan air yang diam, maka ketika ada kencing yang jatuh kepadanya dan ia bagaikan air terakhir yang bercampur kepadanya, maka seolah-olah maka kencing inilah yang pertamakali akan mengenai anggota badan yang suci jika kita menggunakan air yang terkontaminasi tersebut, sehingga seharusnya dijauhi.
    3. Masih dinukil oleh Al Hafidz ada ulama lain yang mengatakan, sisi kesesuain hadits dengan bab ini adalah, sekalipun Bani Isroil telah mendahului kita, namun kita adalah umat yang pertamakali menjauhi menggunakan air diam yang terkontaminasi dengan kencing. Namun pendapat ini dikritik, karena bani Isroil terkenal sangat berlebihan terhadap najis.
    4. Bisa jadi hadits no. 238 hanya sebagai motto dalam naskah sebagian ulama hadits, ketika dirinya menyebutkan hadits lain, maka hadits no. 238 ini tetap dijadikan motto dalam naskah tulisannya dan hal ini banyak kita jumpai dalam tulisan ulama zaman sekarang, disamping mereka menulis makalah-makalah ilmiyah lainnya, mereka menyisipkan dalam makalah tersebut ayat Al Qurán atau hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam, bahkan terkadang mutiara ungkapan dari ulama salaf untuk dijadikan motto dalam tulisannya. Seandainya ini benar, maka penulisan motto-motto yang banyak digunakan sekarang oleh para penulis dalam makalahnya, berarti telah didahului oleh ulama salaf kita. Sehingga syarah untuk hadits no. 238 ini lebih mudah untuk diterima, daripada kita memberat-beratkan diri dalam mencari kesesuaian hadits dengan judul bab.
  2. Hadits no. 238 menunjukkan keutamaan Islam dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab telah menulis sebuah kitab apik yang berjudul “fadhlul Islam” (keutamaan Islam). Bagi yang berminat dapat mengambil terjemahan kitabnya dalam website kami.
  3. Para ulama berbeda pendapat tentang larangan yang ada pada hadits no. 239, Imam Shonáni dalam “Subulus Salam” telah menjelaskannya dan dapat kami simpulkan :
    1. Laranganya bermakna makruh litanziih ini adalah pendapatnya Malikiyyah, sehingga menurut mereka jika memang tidak berubah salah satu indikator air karena najis kencing yang mengkontaminasinya, maka air tersebut boleh dimanfaatkan untuk bersuci.
    2. Larangannya bermakna tahriim (pengharaman), namun bukan karena najisnya, tetapi sebagai taábudiyyah (dalam rangka ibadah) yakni maksudnya bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam telah melarang seorang untuk kencing di air diam, maka larangan ini adalah pengharaman, sekalipun pada akhirnya kencing tersebut tidak mempengaruhi salah satu indikator air yakni rasa, bau atau warnanya, maka pengharaman tersebut tetap berlaku bukan karena najisnya air, namun karena beribadah mengikuti perintah Nabi sholallahu alaihi wa salam yang melarang kencing di air yang diam. Ini adalah pendapatnya madzhab dhohiriyyah.
    3. Jika airnya banyak maka larangan ini makruh, namun jika airnya sedikit maka larangan ini haram. Ini adalah pendapatnya ulama yang membagi air menjadi 2 yaitu air banyak dan sedikit, yakni dari kalangan madzah syafiíyyah dan Hanafiyyah, yang mana menurut mereka jika najis bercampur dengan air yang sedikit, maka air tersebut otomatis menjadi najis, tanpa mempertimbangkan adanya perubahan indikator air atau tidak, namun jika airnya banyak, maka perlu dilihat indikator perubahan airnya. Dan telah berlalu perbedaan mereka didalam mendefinisikan air yang sedikit dan yang banyak.

Kami lebih condong merajihkan pendapat yang mengatakan bahwa larangan ini adalah haram, karena asal dari larangan adalah haram, sebagaimana ini maklum dalam ilmu ushul fiqih. Penulis kitab “al-Qowaaid wal Ushuul” (1/50) berkata :

وكذلك يقال في النهي، فإن النهي قد أمر النبي باجتناب المنهي عنه، والأمر بالوجوب فإذا وجب الاجتناب صار الفعل محرما، فهذان قولان للعلماء منهم من يقول: الأمر للوجوب والنهي للتحريم ما لم يوجد دليل، ومنهم من يقول: الأمر للاستحباب والنهي للاستحباب ما لم يوجد دليل على الوجوب أو على عدم الاستحباب أيضا، ومنهم من يقول: الأمر للوجوب والنهي للتحريم ما لم يوجد دليل على أن الأمر للاستحباب والنهي للكراهة أو ما إلى ما دون ذلك أيضا.

ومن العلماء من فصل فقال: أما الأمر حين يتعلق بالآداب والأخلاق فإنه للاستحباب؛ لأنه كمال، والكمال ليس بواجب، وكذلك يقال النهي حين يتعلق بالآداب والأخلاق إنه للكراهة، أما ما يتعلق بالعبادات فإن الأمر فيه للوجوب والنهي للتحريم.

“demikian juga dikatakan kepada larangan, karena larangan adalah perintah Nabi sholallahu alaihi wa salam untuk meninggalkannya, maka perkara yang wajib jika wajib untuk meninggalkannya akan menjadi haram jika melakukannya. Dalam hal ini ada 2 pendapat ulama, diantara mereka ada yang berpendapat, perintah untuk kewajiban dan larangan untuk keharoman selama tidak didapati dalil (yang memalingkannya). Sebagian ulama berkata, perintah untuk sunnah dan larang untuk makruh selama tidak didapati dalil kepada wajibnya atau tidak dianjurkannya. Sebagian lagi mengatakan, perintah untuk kewajiban dan larangan untuk keharoman selama tidak didapati dalil yang menunjukkan bahwa perintahnya untuk sunnah atau larangannya untuk makruh atau selain hal tersebut juga.

Sebagian ulama merinci lagi, adapun perintah jika berkaitan dengan adab dan akhlaq, maka ini untuk mustahab (sunnah), karena adab dan akhlak adalah penyempurna dan kesempurnaan tidaklah wajib, demikian juga larangan jika berkaitan dengan adab dan akhlaq maka ini makruh. Adapun jika berkaitan dengan ibadah maka perintah untuk wajib dan larangan untuk keharaman”.

Diantara penguat bahwa yang dimaksud dengan larangan tersebut adalah untuk keharaman, yaitu bahwa kencingnya seorang di air yang diam dapat mengganggu kemaslahatan kaum Muslimin, terlebih lagi jika air diam tersebut adalah sebagai sumber air mereka yang digunakan untuk memasak dan mencuci pakaian dan perabotan, maka bagaiamana sekiranya diketahui ada orang yang kencing di air tersebut, tentu para pengguna air tersebut merasa tidak nyaman, padahal agama melarang seorang menyakiti saudaranya.

4. Apakah selain kencing, misalnya buang air besar termasuk dalam larangan ini? Maka jumhur (mayoritas) ulama menjawab “iya” dan ini adalah perkara yang benar, karena bagaimana mungkin buang air besar yang lebih bau dan kotor dari kencing tidak masuk dalam cakupan hadits tersebut.

5. Bagaimana dengan air yang mengalir, apakah kencing disitu tetap diharamkan? Sebagian ulama mengatakan jika air yang mengalir banyak, maka tidak diharamkan berdasarkan mafhum hadits (pemahaman kebalikan dari hadits ini), namun yang lebih utama tidak melakukannya juga. Adapun jika airnya sedikit, maka ada yang berpendapat haram dan ada juga yang mengatakan makruh, barangkali pendapat yang mengatakan makruh lebih sesuai dengan kenyataan yang ada.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: