SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 69 NAJIS PADA PAKAIAN

January 5, 2014 at 3:15 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

69 – باب إِذَا أُلْقِىَ عَلَى ظَهْرِ الْمُصَلِّى قَذَرٌ أَوْ جِيفَةٌ لَمْ تَفْسُدْ عَلَيْهِ صَلاَتُهُ

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا رَأَى فِى ثَوْبِهِ دَمًا وَهُوَ يُصَلِّى وَضَعَهُ وَمَضَى فِى صَلاَتِهِ . وَقَالَ ابْنُ الْمُسَيَّبِ وَالشَّعْبِىُّ إِذَا صَلَّى وَفِى ثَوْبِهِ دَمٌ أَوْ جَنَابَةٌ أَوْ لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ أَوْ تَيَمَّمَ ، فَصَلَّى ثُمَّ أَدْرَكَ الْمَاءَ فِى وَقْتِهِ ، لاَ يُعِيدُ .

Bab 69 Jika diletakkan Kotoran atau Bangkai diatas Punggung orang yang Sholat, Tidak Membatalkan Sholatnya

Ibnu Umar rodhiyallahu anhu jika melihat di bajunya ada darah dalam keadaan sholat, beliau meletakkan bajunya, lalu tetap melanjutkan sholatnya.

Ibnul Musayyib dan asy-Sya’bi berkata : ‘jika seorang sholat dan di bajunya ada darah atau mani atau ia menghadap selain kiblat atau tayamum, lalu ia sholat sekalipun air sudah teredia pada waktunya, tidak perlu mengulang’.

 

Penjelasan :

Imam al-Áini dalam “Úmdahtul Qoriy” (3/170) berkata :

وجه المناسبة بين البابين من حيث إن الباب الأول يشتمل على حكم وصول النجاسة إلى الماء وهذا الباب يشتمل على حكم وصولها إلى المصلي وهو في الصلاة

“sisi keterkaitan antara bab sebelumnya dari sisi bab yang pertama mencakup hukum sampainya najis ke air, sedangkan bab ini mencekup hukum sampainya najis ke orang yang sedang sholat dalam sholatnya”.

Perkataan Imam Bukhori bahwa hal tersebut tidak membatalkan sholat, maka ini adalah pendapatnya ulama yang mengatakan bahwa menghilangkan najis bukan syarat atas sahnya sholat atau ulama yang berpendapat bahwa sesuatu najis yang terdapat ditengah-tengah sholat tidak membatalkan sholat.

Atsar Ibnu Umar rodhiyallahu anhu diatas dikatakan oleh Al Hafidz dalam “al-Fath” :

هَذَا الْأَثَر وَصَلَهُ اِبْن أَبِي شَيْبَة مِنْ طَرِيقِ بُرْدِ بْن سِنَانٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّهُ ” كَانَ إِذَا كَانَ فِي الصَّلَاةِ فَرَأَى فِي ثَوْبِهِ دَمًا فَاسْتَطَاعَ أَنْ يَضَعَهُ وَضَعَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ خَرَجَ فَغَسَلَهُ ثُمَّ جَاءَ فَيَبْنِي عَلَى مَا كَانَ صَلَّى ” . وَإِسْنَادُهُ صَحِيح

“atsar ini disambungkan Ibnu Abi Syaibah dari jalan Burdi bin Sinaan dari Naafi’ bahwa Ibnu Umar jika didalam sholatnya melihat darah dibajunya, maka jika bisa diletakkan akan diletakkan, namun jika tidak bisa, beliau melepasnya, lalu mencucinya lalu melanjutkan sholat yang sebelumnya”. Sanadnya shahih.

Jadi apabila ada najis yang terdapat di baju atau sandal kita, maka jika bisa dilepas, dilepas dan tetap dilanjutkan sholat. Hal ini diperkuat oleh hadits dari Abu Said rodhiyallahu anhu sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz :

أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فِي الصَّلَاةِ ثُمَّ قَالَ ” إِنَّ جِبْرِيلَ أَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا ” أَخْرَجَهُ أَحْمَد وَأَبُو دَاوُد وَصَحَّحَهُ اِبْن خُزَيْمَة . وَلَهُ شَاهِدٌ مِنْ حَدِيثِ اِبْن مَسْعُود أَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِي الْحَدِيثِ إِعَادَة ، وَهُوَ اِخْتِيَارُ جَمَاعَةٍ مِنْ الشَّافِعِيَّةِ

“bahwa  Nabi sholallahu alaihi wa salam melepas sandalnya ditengah-tengah sholat lalu bersabda (setelah selesai sholat) : “sesungguhnya Jibril mengabariku bahwa di kedua sandalku ada kotoran”. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah. Hadits ini memiliki penguat dari Ibnu Masúd rodhiyallahu anhu yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dan tidak disebutkan adanya pengulangan, ini adalah pilihannya sejumlah ulama Syafiíyyah”.

Sedangkan perkataan Imam Saíd ibnul Musayyib dan Imam Áamir asy-Sya’bi dalam judul bab diatas, diriwayatkan dengan sanad bersambung oleh Ima Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonaf” (no. 8038) dari jalan :

حَدَّثَنَا عَبْدَةُ، عَنْ سَعِيدٍ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، وَالشَّعْبِيِّ قَالَا: «إِذَا صَلَّى لِغَيْرِ الْقِبْلَةِ، أَوْ تَيَمَّمَ، أَوْ صَلَّى وَفِي ثَوْبِهِ دَمٌ أَوْ جَنَابَةٌ، ثُمَّ أَصَابَ الْمَاءَ فِي وَقْتٍ، فَلَيْسَ عَلَيْهِ إِعَادَةٌ»

“haddatsanaa Ábdah dari Saíd dari Qotaadah dari Saíd ibnul Musayyib dan asy-Sya’bi mereka berdua berkata : ‘jika seorang sholat tidak menghadap kiblat atau bertayamum atau sholat di bajunya ada darah atau janabah, lalu mendapatkan air pada waktu itu, maka tidak perlu mengulanginya lagi’.

Semua perowinya tsiqoh, para perowi Bukhori-Muslim, Ábdah adalah ibnu Sulaimaan; Saíd adalah Ibnu Abi Aruubah dan Qotaadah bin Diámah. Qotaadah ini memiliki guru Saíd ibnul Musayyib dan Áamir bin Syarohiil asy-Sya’bi, sehingga sanadnya shahih atas persyaratan Bukhori dan Muslim.

Kemudian kami mendapatkan pernyataan mereka berdua yang terpisah-pisah, sebagai berikut :

  1. Berkaitan darah yang menempel di baju:
  • Imam Ibnu Abi Syaibah dalam “al-Mushonaf” (no. 3957) menulis :

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عُمَرَ بْنِ شَبَّةَ، عَنْ قَارِظٍ أَخِيهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، «أَنَّهُ كَانَ لَا يَنْصَرِفُ مِنَ الدَّمِ حَتَّى يَكَونَ مِقْدَارَ الدِّرْهَمِ»

“haddatsanaa Wakii’dari Umar bin Syabbah dari Qooridh saudaranya dari Saíd ibnul Musayyib : ‘bahwa beliau tidak membatalkan sholatnya jika terdapar darah sekalipun seukuran uang dirham ”.

Wakii’ adalah Ibnul Jaroh seorang Imam yang masyhur; adapun Umar bin Syaibah bin Qooridh dikatakan oleh Imam Abu Hatim dalam “Jarh wa Ta’dil” (no. 616) : “سمعت ابى يقول ما بحديثه بأس وهو صدوق في الحديث” (haditsnya tidak mengapa, ia shoduq dalam hadits); Qooridh bin Syaibah bin Qooridh saudaranya Umar dikatakan Imam Nasaí, laisa bihi ba’sun sebagaimana dalam “Tahdzibul Kamal”. Sehingga atsar ini minimal hasan Insya Allah.

  • Imam Ibnu Abi Syaibah masih di kitab yang sama (no. 3960) :

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ حُسَيْنِ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عِيسَى بْنِ أَبِي عَزَّةَ، عَنِ الشَّعْبِيِّ فِي رَجُلٍ صَلَّى وَفِي ثَوْبِهِ دَمٌ قَالَ: «لَا يُعِيدُ»

“haddatsanaa Wakii’dari Husain bin Shoolih dari Isa bin Abi Ázzah dari asy-Sya’biy tentang seorang yang sholat dan di bajunya ada darah, beliau berkata : ‘tidak perlu diulangi’.

Husain bin Shoolih dan Isa bin Abi Azzah para perowi tsiqoh, sehingga sanad atsar ini shahih.

Selaian Imam Ibnul Musayyib dan Imam Asy-Sya’bi yang berpendapat serupa adalah Imam Al Hasan Al Bashri, Imam Athoo’bin Abi Robbaah dan selain mereka, riwayatnya dapat dilihat di Mushonaf karya Imam Ibnu Abi Syaibah.

2. Berkaitan dengan janabah yang menempel di baju, yang dimaksud janabah disini adalah sperma / mani :

  • Masih dalam Mushonaf (no. 3976) :

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنِ ابْنِ أَبِي عَرُوبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، أَنَّهُ قَالَ: «مَنْ صَلَّى وَفِي ثَوْبِهِ جَنَابَةٌ فَلَا إِعَادَةَ عَلَيْهِ»

“haddatsanaa Wakii’ dari Ibnu Abi Aruubah dari Qotadah dari Saíd ibnul Musayyib bahwa ia berkata : ‘barangsiapa yang sholat dan di bajunya ada mani, maka tidak perlu mengulangi sholatnya’.

Semua perowinya adalah para perowi tsiqoh. Sehingga atsar ini shahih.

Adapun berkaitan dengan sholat akan dibahas di babnya Insya Allah.

 

Berkata Imam Bukhori :

240 – حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنِى أَبِى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ بَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَاجِدٌ ح قَالَ وَحَدَّثَنِى أَحْمَدُ بْنُ عُثْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا شُرَيْحُ بْنُ مَسْلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنِى عَمْرُو بْنُ مَيْمُونٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يُصَلِّى عِنْدَ الْبَيْتِ ، وَأَبُو جَهْلٍ وَأَصْحَابٌ لَهُ جُلُوسٌ ، إِذْ قَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ أَيُّكُمْ يَجِىءُ بِسَلَى جَزُورِ بَنِى فُلاَنٍ فَيَضَعُهُ عَلَى ظَهْرِ مُحَمَّدٍ إِذَا سَجَدَ فَانْبَعَثَ أَشْقَى الْقَوْمِ فَجَاءَ بِهِ ، فَنَظَرَ حَتَّى إِذَا سَجَدَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَضَعَهُ عَلَى ظَهْرِهِ بَيْنَ كَتِفَيْهِ وَأَنَا أَنْظُرُ ، لاَ أُغَيِّرُ شَيْئًا ، لَوْ كَانَ لِى مَنْعَةٌ . قَالَ فَجَعَلُوا يَضْحَكُونَ وَيُحِيلُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ ، وَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سَاجِدٌ لاَ يَرْفَعُ رَأْسَهُ ، حَتَّى جَاءَتْهُ فَاطِمَةُ ، فَطَرَحَتْ عَنْ ظَهْرِهِ ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ قَالَ « اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ » . ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، فَشَقَّ عَلَيْهِمْ إِذْ دَعَا عَلَيْهِمْ – قَالَ وَكَانُوا يُرَوْنَ أَنَّ الدَّعْوَةَ فِى ذَلِكَ الْبَلَدِ مُسْتَجَابَةٌ – ثُمَّ سَمَّى « اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِى جَهْلٍ ، وَعَلَيْكَ بِعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ ، وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ ، وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ ، وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ ، وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِى مُعَيْطٍ » . وَعَدَّ السَّابِعَ فَلَمْ يَحْفَظْهُ قَالَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَقَدْ رَأَيْتُ الَّذِينَ عَدَّ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَرْعَى فِى الْقَلِيبِ قَلِيبِ بَدْرٍ

101). Hadits no. 240

“Haddatsanaa Ábdaan ia berkata, akhbaroni Bapakku dari Syu’bah dari Abi Ishaaq dari Ámr bin Maimuun dari Abdillah ia berkata : ‘ketika Rasulullah sholallahu alaihi wa salam sedang sujud (dalam sholat)’. (ganti sanad)

Bukhori berkata, haddatsani Ahmad bin Utsmaan ia berkata, haddatsanaa Syuraih bin Maslamah ia berkata, haddatsanaa Ibrohim bin Yusuf dari Bapaknya dari Abi Ishaaq ia berkata, haddatsani Ámr bin Maimuun bahwa Abdullah bin Masúd rodhiyallahu anhu menceritakan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam beliau sholah didekat Ka’bah, Abu Jahal dan teman-temannya sedang duduk-duduk disana, mereka saling berkata : ‘siapakah yang berani membawa jeroan Unta bani Fulaan, lalu meletakkannya di punggung Muhammad pada saat sujud? Maka bangkitlah salah seorang yang paling celaka diantara mereka untuk melaksanakan ide tersebut, ia menunggu, sampai ketika Nabi sholallahu alaihi wa salam sujud, ia meletakkan kotoran tersebut di punggung beliau diantara pundaknya dan saya hanya bisa melihat saja, tanpa bisa berbuat apa-apa, seandainya saya bisa menghalanginya’. Lanjut Ibnu Masúd rodhiyallahu anhu : ‘mereka semuanya tertawa sampai terbahak-bahak , sedangkan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tetap sujud tidak mengangkat kepalanya, hingga datang Fatimah rodhiyallahu anha dan membuang kotoran yang ada di punggung Beliau, lalu Nabi sholallahu alaihi wa salam mengangkat kepalanya lalu berdao : “Ya Allah binasakanlah Quraisy” sebanyak 3 kali, maka mereka sangat takut ketika Beliau berdoa seperti itu – mereke memandang berdoa di tempat tersebut mustajab- lalu Beliau sholallahu alaihi wa salam berdoa menyebut nama : “Ya Allah binasakanlah Abu Jahl, Utbah bin Robiiáh, Syaibah bin Robiiáh, Al Waliid bin Utbah, Umayyah bin Kholaf dan Uqbah bin Abi Muíith”. Beliau menyebutkan 7 nama, namun aku tidak menghapalnya. Ibnu Masúd berkata lagi : ‘demi dzat yang  jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku melihat orang yang disebutkan oleh Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, jenazahnya terbuang di sumur Badar”.

HR. Muslim no. 4750

 

Biografi Perowi Hadits

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

1.  Nama                      : Abu Abdir Rokhman Abdullah bin Utsman Abdaan

Kelahiran                : Wafat  221 H

Negeri tinggal         : Marwazi

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Abu Rojaa dan Imam Ibnu Hibban.  Imam Hakim berkata : “ia adalah Imam Ahli hadits di negerinya”.

Hubungan Rowi       : Bapaknya adalah Utsman bin Abi Rowaad, salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

2.  Nama                      : Utsman bin Jabilah bin Abi Rowaad

Kelahiran                : Wafat  200 H di Kufah

Negeri tinggal         : Marwazi

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Abu Hatim dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Syu’bah adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

Adapun Syu’bah, Abu Ishaaq dan Ámr bin Maimuun telah berlalu biografinya.

(ganti sanad)

 

3.  Nama                      : Abu Abdillah Ahmad bin Utsman bin Hakiim

Kelahiran                : Wafat  261 H

Negeri tinggal         : Kufah

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Nasaí, Imam Ibnu Kharoos, Imam Uqoili, Imam Bazaar dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Syuraih adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

4.  Nama                      : Syuraih bin Maslamah

Kelahiran                : Wafat  222 H

Negeri tinggal         : Kufah

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Daruquthni dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : Ibrohim bin Yusuf adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

5.  Nama                      : Ibrohim bin Yusuf bin Ishaaq bin Abi Ishaaq

Kelahiran                : Wafat  198 H

Negeri tinggal         : Kufah

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Daruquthni dan Imam Ibnu Hibban. Sebagian ulama lain mendhoifkannya seperti Imam Ibnu Maín, Imam Jauzajaani, Imam Nasaí dan Imam Abu Dawud

Hubungan Rowi       : Bapaknya Yusuf adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

6.  Nama                      : Yusuf bin Ishaq bin Abi Ishaq

Kelahiran                : Wafat  157 H

Negeri tinggal         : Kufah

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Daruquthni dan Imam Ibnu Hibban.

Hubungan Rowi       : beliau langsung merwayatkan dari kakeknya Abu Ishaq yang juga salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :

  1. Hadits ini dalil bahwa najis yang terdapat dalam pakaian tidak membatalkan sholat, namun jika memungkinkan untuk dilepas, maka dilepas sebagaimana hadits yang lalu, tentang perbuatan Nabi sholallahu alaihi wa salam yang melepas sandal yang terdapat najis, namun beliau tidak memutuskan sholatnya.
  2. Sucinya badan, pakaian dan tempat sholat adalah syarat sahnya sholat, ini adalah pendapat mayoritas ulama, sehingga jika seorang sengaja mengetahui di badan atau pakainnya ada najis yang menempel, maka sholatnya tidak sah. Berbeda jika najisnya baru diketahui ketika sedang dan setelah selesai sholat. Adapun jika najisnya diketahui pada saat sedang sholat, maka jika mampu dibersihkan atau dilepas baju atau sandal atau sepatu yang ada najisnya, maka lakukan dan sholatnya tetap dilanjutkan sebagaimana perbuatan Nabi sholallahu alaihi wa salam dalam hadits yang lalu dan atsar Ibnu Umar rodhiyallahu anhu yang dinukil Imam Bukhori disini. Adapun jika diketahui adanya najis setelah selesai sholat, maka sholatnya sah dan tidak perlu diulangi. Komisi Fatwa Ulama besar Saudi Arabia yang pada waktu itu diketuai Imam bin Baz pernah ditanya sebagai berikut (no. 3184):

س2: هل تصح الصلاة خلف إمام وفي ثوبه نجاسة ولم يعلم كل من الإمام والمأمومين إلا بعد انقضاء الصلاة، وإذا علموا هل يعيد الجميع صلاتهم أم الإمام وحده هو الذي يعيد صلاته؟

ج2: إذا صلى من على ثوبه أو بدنه نجاسة ولم يعلم بها إلا بعد انقضاء الصلاة فالصحيح من قولي العلماء أنه لا إعادة عليه ولا على من ائتم به في تلك الصلاة لما روى أبو سعيد عن النبي صلى الله عليه وسلم « أنه صلى فخلع نعليه فخلع الناس نعالهم فلما انصرفوا قال لهم: “لم خلعتم؟” قالوا: رأيناك خلعت فخلعنا، فقال: “إن جبريل أتاني فأخبرني أن بهما خبثا فإذا جاء أحدكم المسجد فليقلب نعليه ولينظر فيهما فإن رأى خبثا فليمسحه بالأرض ثم ليصل فيهما » (1) رواه أحمد وأبو داود ولم يعد أول صلاته، صلوات الله وسلامه عليه، ولم يأمرهم بالإعادة.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو // نائب الرئيس // الرئيس //

عبد الله بن قعود // عبد الرزاق عفيفي // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //

Soal : apakah sah sholat dibelakang Imam dan di bajunya ada najis, namun tidak diketahui oleh Imam dan Makmun kecuali setelah selesai sholat. Apabilah mereka menemukan najis tersebut, apakah semua yang sholat pada waktu itu mengulangi sholatnya atau imam saja yang mengulangi sholatnya?

Jawab : jika orang yang sholat di baju atau badannya ada najis dan ia tidak mengetahui kecuali setelah selesai sholat, maka sholatnya sah menurut salah satu diantara 2 pendapat ulama dan ia tidak perlu mengulangi lagi, begitu juga orang yang bermakmum kepadanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Said dari Nabi sholallahu alaihi wa salam : “al-Hadits”.

3. Adapun bagi yang mengulangi lagi sholatnya setelah ia tahu bahwa di badan atau pakainnya ada najis, maka ini tidak mengapa, terlebih lagi jika najisnya dalam jumlah banyak, maka demi keluar dari perselisihan (khuruj minal khilaaf) dianjurkan mengurangi sholatnya. Sebagian Ulama seperti Imam Syafií mewajibkan mengulangi sholat bagi orang yang mengetahui ada najis di badan atau pakainnya dalam jumlah banyak. Salah seorang murid beliau yakni Imam Al Muzani dalam “Mukhtashornya” (8/111) menulis :

(قَالَ الشَّافِعِيُّ) : وَلَوْ صَلَّى رَجُلٌ وَفِي ثَوْبِهِ نَجَاسَةٌ مِنْ دَمٍ، أَوْ قَيْحٍ وَكَانَ قَلِيلًا مِثْلَ دَمِ الْبَرَاغِيثِ وَمَا يَتَعَافَاهُ النَّاسُ لَمْ يُعِدْ وَإِنْ كَانَ كَثِيرًا أَوْ قَلِيلًا بَوْلًا، أَوْ عَذِرَةً، أَوْ خَمْرًا وَمَا كَانَ فِي مَعْنَى ذَلِكَ أَعَادَ فِي الْوَقْتِ وَغَيْرِ الْوَقْتِ

“Syafií berkata : ‘seandainya seorang sholat dan di bajunya ada najis berupa darah atau nanah dan jumlahnya sedikit seperti darah kutu dan apa yang dapat ditoleransi manusia, maka tidak perlu mengulangi sholatnya. Namun jika banyak atau sedikit tapi berupa kencing dan tahi atau minuman keras dan yang semisalnya maka ia mengulangi sholatnya baik pada waktunya atau diluar waktunya”.

Catatan : berkaitan dengan darah, selain darah haidh dan yang semakna dengannya tidak najis, begitu juga arak/minuman keras tidak najis, sekalipun memang hal tersebut diharamkan dikonsumsi.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: