SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 70 HUKUM LUDAH DAN DAHAK

January 7, 2014 at 12:12 am | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

70 – باب الْبُزَاقِ وَالْمُخَاطِ وَنَحْوِهِ فِى الثَّوْبِ

 قَالَ عُرْوَةُ عَنِ الْمِسْوَرِ وَمَرْوَانَ خَرَجَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – زَمَنَ حُدَيْبِيَةَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ . وَمَا تَنَخَّمَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – نُخَامَةً إِلاَّ وَقَعَتْ فِى كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ

Bab 70 Bab Ludah dan Ingus serta Semisalnya ketika Menempel di Pakaian

Urwah berkata, dari Miswar dan Marwaan bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam pergi pada waktu Hudaibiyah lalu disebutkan kisahnya.. tidaklah Nabi sholallahu alaihi wa salam berdahak, kecuali dahaknya tersebut akan ditampung oleh para Sahabat, mereka mengusap dahak Nabi sholallahu alaihi wa salam tersebut di wajah dan kulitnya.

 

Penjelasan :

Imam al-Áini dalam “Úmdahtul Qoriy” (3/176) berkata :

إن قلنا إن باب البصاق مبتدأ يحتاج إلى خبر فيكون تقديره باب البصاق في الثوب لا يضر المصلي وإن قلنا هو خبر مبتدأ محذوف فيكون تقديره هذا باب في بيان حكم البصاق في الثوب هل يضر أم لا

“jika kita katakan bahwa “baabul Bushooq”, sebagai ‘mubtada’’ maka ini perlu khobar dan khobar tersebut diperkirakan (sehingga kalimatnya sempurna) menjadi “baabul Bushooq fii ats-Tsaubi laa yadhurru al-Musholliy” (bab ludah di pakaian yang tidak merusak sholatnya musholli). Namun jika kita katakan bahwa ini adalah khobar, berarti mubtada’nya mahdzuuf (dihilangkan) maka perkiraannya sehingga kalimatnya sempurna yaitu : ‘ini adalah bab tentang hukum ludah di pakaian apakah merusak (sholat) atau tidak?’”.

Kemudian lanjut beliau berkaitan dengan makna “al-Bushooq” dan “al-Mukhooth” :

والبصاق بضم الباء على وزن فعال ما يسيل من الفم وفيه ثلاث لغات بالصاد والزاي والسين وأعلاها الزاي وأضعفها السين قوله والمخاط عطف على البصاق وهو بضم الميم ما يسيل من الأنف

“al-Bushooq dengan dhommah huruf ‘ba-nya’, maka ia berasal dari wazan fiáal, maknanya adalah apa yang mengalir dari mulut (ludah), dan hal tersebut ada 3 bacaan dengan ‘shood’ (sehingga al-Bushooq), dengan ‘zaaí’ (sehingga al-Buzooq) dan dengan ‘siin’ (sehingga al-Busooq) yang paling berat dengan zaaí dan yang paling ringan dengan siiin. Lalu al-Muhkhooth itu athof kepada al-Bushooq yaitu dengan mendhommah huruf mim-nya maknanya adalah sesuatu yang mengalir dari hidung (ingus)”.

Adapun maksud dan ‘nahwuhu’ (semisalnya) maka menurut Al Imam yang tercakup didalamnya adalah keringat.

Kemudian hadits muálaq Urwah yakni ibnuz Zubair dari Miswar yakni ibnu Mukhromah bin Naufal rodhiyallahu anhu, beliau adalah seorang sahabat pernah mendengar dari Nabi sholallahu alaihi wa salam. Adapun Marwan yakni Ibnul Hakam, sebenarnya beliau lebih muda dari Abdullah ibnuz Zubair rodhiyallahu anhu dengan selisih 4 bulan, namun beliau tidak shahih pendengaranya dari Nabi sholallahu alaihi wa salam (belum pernah berjumpa dengan Nabi sholallahu alaihi wa salam), sehingga sebagian ulama menggolongkannya sebagai Tabií kabiir.

Hadits ini diriwayatkan dengan sanad bersambung oleh Imam Abdur Rozaq dalam “al-Mushonnaf” (no. 9720) :

عَنْ مَعْمَرٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي الزُّهْرِيُّ: قَالَ: أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، عَنِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ، وَمَرْوَانَ بْنِ الْحَكَمِ، ـ صَدَّقَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ ـ قَالَا

“dari Ma’mar ia berkata, akhbaroni az-Zuhriy ia berkata, akhbaroni Úrwah bin az-Zubair dari al-Miswar bin Makhromah rodhiyallahu anhu dan Marwaan bin al-Hakam, keduanya saling membenarkan satu sama lainnya, mereka berdua berkata : “al-Hadits”.

Para perowinya, sebagaimana dapat dilihat adalah Aimah masyhuriin, sehingga sanadnya shahih.

Hadits ini memberikan faedah kesucian ludah dan dahak, Al Hafidz Ibnu Hajar dalam “al-Fath” berkata :

وَالْغَرَضُ مِنْ هَذَا الِاسْتِدْلَالُ عَلَى طَهَارَة الرِّيق وَنَحْوِهِ . وَقَدْ نَقَلَ بَعْضهمْ فِيهِ الْإِجْمَاع لَكِنْ رَوَى اِبْن أَبِي شَيْبَة بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيّ أَنَّهُ لَيْسَ بِطَاهِر وَقَالَ اِبْن حَزْم : صَحَّ عَنْ سُلَيْمَان الْفَارِسِيِّ وَإِبْرَاهِيم النَّخَعِيّ أَنَّ اللُّعَابَ نَجِسٌ إِذَا فَارَقَ الْفَم

“tujuan dari membawakan hadits ini adalah untuk berdalil atas kesucian air liur dan semisalnya, sebagian ulama menukil adanya ijma’ berkaitan kesuciannya, namun Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad shahih dari Ibrohim an-Nakhoí bahwa beliau berpendapat tidak sucinya. Ibnu Hazm berkata : ‘telah shahih dari Sulaiman al-Faarisiy dan Ibrohim an-Nakhoí bahwa air liur itu najis, jika sudah keluar dari mulut”.

Kemudian Imam ibnu Bathool dalam “Syarah Bukhori” melengkapi bahwa selain adanya ulama diatas yang berpendapat najis, ada juga ulama yang memakruhkannya yakni dinukil oleh Imam ath-Thohawi dari Imam al-Hasan bin Hay dan Imam al-Auzaí. Kemudian Imam Ibnu Bathool membantahnya bahwa ulama yang mengatakan najis atau makruhnya tidak dapat membawakan dalil yang jelas atas hal itu. Kata beliau :

وما ثبت عن النبى – صلى الله عليه وسلم – من خلافهم هى السنة المتبعة والحجة البالغة، فلا معنى لقولهم وقد أمر النبى المصلى أن يبزق عن يساره أو تحت قدمه، ويبزق – صلى الله عليه وسلم – فى طرف ردائه، ثم رد بعضه على بعض وقال: أو تفعل هكذا – .

قال الطحاوى: وهذا حجة فى طهارته، لأنه لا يجوز أن يقوم المصلى على نجاسة، ولا أن يصلى وفى ثوبه نجاسة

“tidak ada dalil yang tsabit/shahih dari Nabi sholallahu alaihi wa salam yang bagi orang yang berpendapat berbeda, suatu sunah yang diikuti dan hujjah yang terang, oleh karenanya pendapat mereka tidak perlu diperhatikan. Nabi sholallahu alaihi wa salam telah memerintahkan bagi orang yang sholat untuk berludah di sebelah kirinya atau dibawah kakinya. Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah berdahak lalu meletakkanya di salah satu ujung ridhanya, kemudianya digosok-gosookan dan beliau bersabda : ‘lakukan seperti itu’.

Thahawi berkata : ‘ini adalah hujjah tentang kesuciannya, karena tidak boleh seorang yang sholah dalam kondisi ada najisnya dan dia sholat dalam kondisi ada najis di bajunya’.

 

Berkata Imam Bukhori :

241 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَزَقَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى ثَوْبِهِ . طَوَّلَهُ ابْنُ أَبِى مَرْيَمَ قَالَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنِى حُمَيْدٌ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –

102). Hadits no. 241

“Haddatsanaa Muhammad bin Yusuf ia berkata, haddatsanaa Sufyaan dari Humaid dari Anas ia berkata : ‘Nabi sholallahu alaihi wa salam meludah di bajunya’.

Ibnu Abi Maryam memanjangkan sanadnya ia berkata, akhbaronaa Yahya bin Ayyub, haddatsani Humaid ia berkata, aku mendengar Anas rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam : “al-Hadits”.

 

Biografi Perowi Hadits

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

1.  Nama                      : Abu Muhammad Saíd bin al-Hakam yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Abi Maryam

Kelahiran                : lahir pada tahun 144 H dan wafat  224 H

Negeri tinggal         : Mesir

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Maín, Imam Abu Hatim, Imam al-Íjli dan Imam Ibnu Hibban.  Imam Nasaí berkata : “laa ba’sa bih”.

Hubungan Rowi       : Yahya adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

2.  Nama                      : Abul Ábbas Yahya bin Ayyub

Kelahiran                : Wafat  168 H

Negeri tinggal         : Mesir

Komentar ulama      : Ditsiqohkan oleh Imam Ibnu Maín, Imam Bukhori, Imam Ya’qub bin Sufyan, Imam Ibnu Syahiin, Imam Ibrohim al-Harbiy dan Imam Ibnu Hibban. Imam Ahmad menilainya, jelek hapalannya. Imam Ibnu Saád menilainya, mungkarul hadits. Sebagian lagi menilainya pertengahan yakni shoduq, seperti Imam Abu Hatim, Imam Nasaí, Imam as-Saaji. Imam al Hakim berkata : ‘jika meriwayatkan dari hapalannya ia keliru, namun jika dari kitabnya tidak mengapa’.

Hubungan Rowi       : Humaid ath-Thowiil adalah salah seorang gurunya, sebagaimana ditulis oleh Imam Al Mizzi.

 

(Catatan : Semua biografi rowi dirujuk dari kitab tahdzibul kamal Al Mizzi dan Tahdzibut Tahdzib Ibnu Hajar)

Penjelasan Hadits :

  1. Imam Bukhori mendatangkan sanad kedua dari Ibnu Abi Maryam yang menunjukkan bahwa Humaid mendengar langsung dari Anas rodhiyallahu anhu, sehingga kemudallisannya sudah hilang, karena Humaid adalah perowi tsiqoh yang mudallis.
  2. Hadits ini sangat terang menunjukkan bahwa ludah dan yang semisalnya adalah suci.
  3. Namun perlu dijadikan catatan bahwa meludah di masjid adalah satu kesalahan. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

التَّفْلُ فِى الْمَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا

“meludah di masjid satu kesalahan dan kafarahnya adalah memendamnya” (HR. Muslim).

Imam Nawawi dalam “Syarah Muslim” berkata :

وَاعْلَمْ أَنَّ الْبُزَاق فِي الْمَسْجِد خَطِيئَة مُطْلَقًا ، سَوَاء اِحْتَاجَ إِلَى الْبُزَاق أَوْ لَمْ يَحْتَجْ ، بَلْ يَبْزُق فِي ثَوْبه فَإِنْ بَزَقَ فِي الْمَسْجِد فَقَدْ اِرْتَكَبَ الْخَطِيئَة ، وَعَلَيْهِ أَنْ يُكَفِّر هَذِهِ الْخَطِيئَة بِدَفْنِ الْبُزَاق . هَذَا هُوَ الصَّوَاب أَنَّ الْبُزَاق خَطِيئَة كَمَا صَرَّحَ بِهِ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“ketahuilah bahwa meludah di masjid adalah suatu kesalahan secara mutlak, sama saja apakah ia berniat untuk meludah atau tidak, namun hendaknya ia meludah di bajunya, jika ia meludah di Masjid maka ia telah melakukan kesalahan dan wajib baginya kafarah yakni menanam ludahnya (tentunya jika lantai masjid dari tanah-pent.). ini adalah pendapat yang benar bahwa meludah di masjid suatu kesalahan, sebagaimana ditegaskan oleh Nabi sholallahu alaihi wa salam”.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: