SYARAH BUKHORI KITAB WUDHU BAB 71 TIDAK BOLEH BERWUDHU DENGAN NABIDZ

January 8, 2014 at 12:03 am | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

71 – باب لاَ يَجُوزُ الْوُضُوءُ بِالنَّبِيذِ وَلاَ الْمُسْكِرِ

وَكَرِهَهُ الْحَسَنُ وَأَبُو الْعَالِيَةِ . وَقَالَ عَطَاءٌ التَّيَمُّمُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِنَ الْوُضُوءِ بِالنَّبِيذِ وَاللَّبَنِ

Bab 71 Tidak Boleh Berwudhu Dengan Nabidz (Anggur) dan Sesuatu Yang Memabukkan

Al-Hasan dan Abul ‘Aaliyah memakruhkannya.

‘Athoo’ berkata : ‘Tayammum lebih saya sukai daripada berwudhu dengan nabidz dan susu’.

 

Penjelasan :

Imam al-Áini dalam “Úmdahtul Qoriy” (3/178) berkata :

أي بيان عدم الجواز بالنيذ قوله ولا بالمسكر أي ولا يجوز أيضا بالمسكر قال بعضهم هو من عطف العام على الخاص قلت إنما يكون ذلك إذا كان المراد بالنبيذ ما لم يصل إلى حد الإسكار وأما إذا وصل فلا يكون من هذا الباب وتخصيص النبيذ بالذكر من بين المسكرات لأنه محل الخلاف في جواز التوضىء به

“Yakni penjelasan tidak bolehnya berwudhu dengan Perasan Anggur dan minuman memabukkan. Sebagian ulama mengatakan ini adalah athof umum kepada yang khusus. Aku (al-‘Aini) berkata : ‘ini jika yang dimaksudkan dengan nabidz adalah minuman yang belum sampai taraf memabukkan, adapun jika sudah mencapai taraf memabukkan maka ini termasuk bab pengususan nabidz diantara minuman memabukkan, karena ini adalah tempat perselisihan diantara ulama’.

Perkataan Imam al-Hasan yakni al-Bashri diriwayatkan dengan sanad bersambung sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz dalam “al-Fath” :

رَوَى اِبْن أَبِي شَيْبَة وَعَبْد الرَّزَّاق مِنْ طَرِيقَيْنِ عَنْهُ قَالَ ” لَا تَوَضُّأَ بِنَبِيذٍ ” وَرَوَى أَبُو عُبَيْد مِنْ طَرِيقٍ أُخْرَى عَنْهُ أَنَّهُ لَا بَأْسَ بِهِ فَعَلَى هَذَا فَكَرَاهَته عِنْدَهُ عَلَى التَّنْزِيهِ

“Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Rozaq meriwayatkan dari 2 jalan dari al-Hasan ia berkata : ‘janganlah engkau berwudhu dengan nabidz’. Diriwayatkan Abu Ubaid dari jalan lain dari al-Hasan bahwa beliau berpendapat tidak mengapa berwudhu dengan nabidz. Maka berdasarkan hal ini, menurut beliau hal tersebut makruh untuk kebersihan”.

Adapun perkataan Imam Abul ‘Aaliyah menurut Al Hafidz :

رَوَى أَبُو دَاوُد وَأَبُو عُبَيْد مِنْ طَرِيقِ أَبِي خَلْدَةٍ قَالَ : سَأَلْت أَبَا الْعَالِيَةِ عَنْ رَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَنَابَة وَلَيْسَ عِنْدَهُ مَاءٌ أَيَغْتَسِلُ بِهِ ؟ قَالَ : لَا . وَفِي رِوَايَةِ أَبِي عُبَيْد : فَكَرِهَهُ

“diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Abu Ubadi dari jalan Abi Kholdah ia berkata : ‘aku bertanya kepada Abul ‘Aaliyah tentang seorang laki-laki yang junub dan ia tidak mendapati air, apakah ia boleh mandi dengan Nabidz?’, beliau menjawab : ‘tidak boleh’. Dalam riwayat Abu Úbaid : ‘beliau memakruhkannya’.

Adapun perkataan ‘Athoo’ bin Abi Robaah diriwayatkan dengan sanad bersambung oleh Abu dawud dari jalan Ibnu Juraij, sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz.

Berkaitan dengan nabidz maka para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan berwudhu dengannya, menjadi berikut :

  1. Tidak boleh berwudhu dengan nabidz, baik ada air atau tidak ada air. Ini adalah pendapatnya Imam Malik, Imam Bu Yusuf al-Hanafiy, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad.
  2. Boleh berwudhu dengannya, sekalipun ada air. Ini adalah pendapatnya Imam al-Hasan dan Imam al-Auza’i, diriwayatkan hal ini dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu.
  3. Boleh berwudhu jika tidak ada air, namun jika ada air tidak boleh. Ini adalah pendapatnya Imam Abu Hanifah.

Dalil bagi ulama yang membolehkan adalah hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallahu anhu tentang kisah pada waktu malam Nabi sholallahu alaihi wa salam bertemu dengan Jin. Imam Ahmad, Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah serta selainnya meriwayatkan dan ini lafadz musnad Ahmad dari Abdullah bin Mas’ud :

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْجِنِّ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَا عَبْدَ اللهِ، أَمَعَكَ مَاءٌ ؟ ” قَالَ: مَعِي نَبِيذٌ فِي إِدَاوَةٍ، فَقَالَ ” اصْبُبْ عَلَيَّ “، فَتَوَضَّأَ، قَالَ: فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ، شَرَابٌ وَطَهُورٌ “

“bahwa beliau bersama Rasulullah sholallahu alaihi wa salam pada malam jin. Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata kepadanya : “wahai Abdullah apakah engkau punya air?”. Ibnu Mas’ud menjawab : ‘aku punya nabidz di ember’. Nabi sholallahu alaihi wa salam berkata : “guyurkan kepadaku, lalu Beliau berwudhu, kemudian Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda : “wahai Abdullah bin Mas’ud ini adalah minuman dan suci”.

Namun berdalil dengan hadits ini tidak tepat karena :

  1. Sanadnya dhoif sebagaimana ditakhrij oleh Imam Al Albani dan Syaikh Syuáib Arnauth, bahwa pada masing-masing jalan terdapat perowi yang lemah.
  2. Matannya bertentangan dengan hadits yang shahih, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, bahwa Ibnu Mas’ud berkata :

لَمْ أَكُنْ لَيْلَةَ الْجِنِّ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ مَعَهُ

“aku tidak bersama Nabi sholallahu alaihi wa salam pada malam Jin dan aku sangat berharap aku disana bersama Beliau”.

Sehingga pendapat yang rajih adalah tidak diperbolehkan berwudhu dengan nabidz, sekalipun tidak didapati air pada waktu itu. Maka jika seorang tidak mendapatkan air, maka dia cukup dengan bertayamum. Alasan perajihannya :

  1. Bahwa kisah pada malam Jin tersebut tidak shahih, sehingga tidak bisa dijadikan hujjah.
  2. Seandainya shahih, maka hal ini telah dimansukh (dihapus) dengan ayat tentang tayamum, karena kisah malam Jin terjadi pada waktu Nabi sholallahu alaihi wa salam sebelum hijrah, sedangkan ayat Tayamum diturunkan pada waktu perang al-Muraisi’ dimana pada waktu itu Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu anha kehilangan kalungnya.
  3. Bahwa air yang terkandung dalam nabidz, bukan air secara mutlak dalam artian itu adalah zat cairnya saja. Seandainya zat cair apapun boleh digunakan untuk berwudhu, tentu air cuka boleh juga digunakan berwudhu, padahal tidak seperti itu. Maka ketika sifat kemutlakkan air telah hilang darinya, berarti sifat mensucikannya juga hilang, sebagaimana air ketika sudah dicampur dengan kopi atau teh, sehingga dinamakan air teh atau air kopi, maka sifat kemutlakkan air telah hilang.

Imam Nawawi dalam “al-Majmu” (1/93) berkata :

أَمَّا النَّبِيذُ فَلَا يَجُوزُ الطَّهَارَةُ بِهِ عِنْدَنَا عَلَى أَيِّ صِفَةٍ كَانَ مِنْ عَسَلٍ أَوْ تَمْرٍ أَوْ زَبِيبٍ أَوْ غَيْرِهَا مَطْبُوخًا كَانَ أَوْ غَيْرَهُ فَإِنْ نَشَّ وَأَسْكَرَ فَهُوَ نَجَسٌ يَحْرُمُ شُرْبُهُ وَعَلَى شَارِبِهِ الْحَدُّ وَإِنْ لَمْ يَنِشَّ فَطَاهِرٌ لَا يَحْرُمُ شُرْبُهُ وَلَكِنْ لَا تَجُوزُ الطَّهَارَةُ بِهِ هَذَا تَفْصِيلُ مَذْهَبِنَا وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَأَحْمَدُ وَأَبُو يُوسُفَ والجمهور

“adapun nabidz maka tidak boleh bersuci dengannya menurut kami (syafi’iyyah) apapun bahan pembuatnya baik dari madu, kurma, maupun anggur atau selainnya baik yang sudah matang atau tidak. Namun jika mendidih dan memabukkan, maka itu najis dan haram meminumnya serta bagi yang meminumnya terkena had (hukuman). Namun jika tidak mendidih dan tidak memabukkan, maka itu suci, tidak diharamkan untuk meminumnya, namun tidak boleh bersuci dengannya. Ini adalah perincian madzhab kami dan ini juga pendapatnya Malik, Ahmad, Abu Yusuf dan jumhur ulama”.

Berkata Imam Bukhori :

242 – حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا الزُّهْرِىُّ عَنْ أَبِى سَلَمَةَ عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « كُلُّ شَرَابٍ أَسْكَرَ فَهُوَ حَرَامٌ »

103). Hadits no. 242

“Haddatsanaa Ali bin Abdullah ia berkata, haddatsanaa Sufyaan ia berkata, haddatsanaa az-Zuhriy dari Abi Salamah dari Aisyah rodhiyallahu anha dari Nabi sholallahu alaihi wa salam beliau bersabda : “setiap minuman yang memabukkan adalah haram”.

 

Biografi Perowi Hadits

Semua perowinya telah berlalu.

 

Penjelasan Hadits :

1. Hadits ini menunjukkan semua yang memabukkan haram, Al Hafidz dalam “al-Fath” berkata :

قَالَ الْخَطَّابِيّ : فِيهِ دَلِيل عَلَى أَنَّ قَلِيل الْمُسْكِر وَكَثِيره حَرَام مِنْ أَيِّ نَوْعٍ كَانَ ؛ لِأَنَّهَا صِيغَة عُمُوم أُشِيرَ بِهَا إِلَى جِنْس الشَّرَاب الَّذِي يَكُونُ مِنْهُ السُّكْر

“al-Khothobiy berkata : ‘ini adalah dalil bahwa sesuatu yang memabukkan baik sedikit atau banyak adalah haram dari jenis apapun juga, karena bentuk kalimatnya umum yang mengisyaratkan kepada semua jenis minuman yang menyebabkan mabuk’.

2. Kaitannya hadits ini dengan bab adalah dikatakan oleh Imam Ibnu Bathool dalam “Syarah Bukhori” :

أنه إذا أسكر الشراب فقد وجب اجتنابه لنجاسته، وحرم استعماله فى كل حال، ولم يحل شربه، وما لم يحل شربه لا يجوز الوضوء به، لخروجه عن اسم الماء فى اللغة والشريعة

“bahwa jika minuman itu memabukkan, maka wajib dijauhi karena najisnya dan haram digunakan pada kondisi apapun, tidak halal meminumnya. Sehingga jika tidak halal meminumnya maka tidak boleh berwudhu dengannya, karena telah keluar darinya nama air (secara mutlak-pent.) dari segi bahasa dan syariat”.

3. Adapun berkaitan dengan najisnya minuman keras, maka ini adalah pendapatnya mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan firman Allah Taálaa :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijsun (kotor) termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah : 90).

Maka firman-Nya yang mensifati bahwa khomr adalah rijsun, mereka jadikan dalil tentang najisnya. Namun pendapat ini dikritik, Syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunnah” berkata :

وذهبت طائفة إلى القول بطهارتها، وحملوا الرجس في الاية على الرجس المعنوي، لان لفظ (رجس) خبر عن الحمر، وما عطف عليها، وهو لا يوصف بالنجاسة الحسية قطعا، قال تعالى: (فاجتنبوا الرجس من الاوثان) فالاوثان رجس معنوي، لا تنجس من مسها

“sekelompok ulama berpendapat atas sucinya, mereka membawa makna ar-Rijsu dalam ayat tersebut sebagai ar-Rijsu maknawi, karena lafadz (Rijsun) bukan khobar untuk khomr saja, tapi juga apa yang diathofkan kepadanya (yakni berhala, berjudi dan mengundi nasib-pent.), maka semua itu tidak disifati dengan najis secara hisiyyah (dzatnya itu sendiri) secara pasti. Allah berfirman : maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu “ (QS. Al Hajj : 30). Maka berhala adalah najis secara maknawi bukan najis ketika menyentuhnya.

Kemudian Syaikh menyebutkan kaedah dari Imam Shon’ani dalam Subulus Salam bahwa sesuatu yang najis pasti haram, tapi sesuatu yang haram belum tentu najis. Sehingga untuk kasus Khomr, ia adalah haram diminum, namun untuk mengatakan najisnya maka harus didatangkan dalil lainnya, jika tidak ada dalil yang menunjukkan najisnya, maka kembali kepada hukum asal bahwa hal tersebut adalah suci. Dan dalam masalah ini tidak ada dalil lain yang secara tegas menunjukkan najisnya, maka pendapat yang rajah, khomr adalah suci dzatnya, hanya saja ia diharamkan untuk dikonsumsi.

Imam Al Albani dalam “Tamaamul Minnah” melengkapi daftar ulama yang mengatakan sucinya khomr yaitu : Robi’ah bin Abi Abdir Rokhman ar-ray, gurunya Imam Malik; Laits bin Sa’ad; Ismail bin Yahya al-Muzani murid seniornya Imam Syafi’I; dan selainnya.

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: