KITAB TAUHID LIIBNI KHUZAIMAH – ISTBAT WAJAH DALAM KITABULLAH

January 18, 2014 at 11:46 pm | Posted in Aqidah | Leave a comment

3- بَاب ذكر إثبات وجه الله

Bab 3 Penjelasan Istbat Wajah Allah

 

Imam Ibnu Khuzaimah berkata :

الذي وصفه بالجلال والإكرام في قوله ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام ونفى عنه الهلاك إذا أهلك الله ما قد قضى عليه الهلاك مما قد خلقه الله للفناء لا للبقاء جل ربنا عن أن يهلك شيء منه مما هو من صفات ذاتة قال الله جل وعلا ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام. وقال كل شيء هالك إلا وجهه وقال لنبيه {واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه} وقال {ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجه الله} فأثبت الله لنفسه وجهًا بالجلال والإكرام وحكم لوجهه بالبقاء ونفى الهلاك عنه.

فنحن وجميع علمائنا من أهل الحجاز وتهامة واليمن والعراق والشام ومصر مذهبنا أن نثبت لله ما أثبته الله لنفسه نقر بذلك بألسنتنا ونصدق ذلك بقلوبنا من غير أن نشبه وجه خالقنا بوجه أحد من المخلوقين عز ربنا عن أن يشبه المخلوقين وجل ربنا عن مقالة المعطلين وعز أن يكون عدمًا كما قاله المبطلون لأن ما لا صفة له عدم تعالى الله عما يقول الجهميون الذين ينكرون صفات خالقنا الذي وصف بها نفسه في محكم تنزيله وعلى لسان نبيه محمد قال الله جل ذكره في سورة الروم {فآت ذا القربى حقه إلى قوله ذلك خير للذين يريدون وجه الله} وقال {وما آتيتم من ربًا ليربو في أموال الناس فلا يربو عند الله وما آتيتم من زكاة تريدون وجه الله} وقال {إنما نطعمكم لوجه الله} وقال {وما لأحد عنده من نعمة تجزى إلا ابتغاء وجه ربه الأعلى}

Terjemahan :

Dialah yang disifatkan dengan Ketinggian dan Kemulian dalam firmannya : “Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rakhmaan : 27). Maka Allah menafikan Wajah-Nya dari kehancuran, ketika Allah menghancurkan apa yang telah ditetapkannya dari apa yang Allah ciptakan bahwa hal tersebut Fana’ tidak kekal. Maha Tinggi Rabb kita untuk menghancurkan apa yang berupa sifat Dzat-Nya, Allah berfirman : “Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (QS. Ar-Rakhmaan : 27) . Dia berfirman : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah” (QS. Al Qoshash : 88). Allah berfirman kepada Nabinya : “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap Wajah-Nya” (QS. Al Kahfi : 28). Dan Firman-Nya : “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah” (QS. Al Baqoroh : 115). Maka Allah menetapkan untuk Diri-Nya sendiri Wajah dengan Kebesaran dan Kemulian-Nya dan menghukumi Wajah-Nya dengan kekekalan serta menafikan kehancurannya.

Kami dan seluruh ulama kami dari Hijaz, Yaman, Irak, Syam, Mesir dan madzhab kami (Syafi’iyyah) menetapkan bagi Allah apa yang ditetapkan oleh Diri-Nya sendiri, kami menetapkan hal tersebut dengan lisan-lisan kami dan membenarkannya dalam hati kami, tanpa menyerupakannya Wajah-Nya dengan wajah makhluk-Nya, Maha Suci Rabb kami dari penyerupaan dengan makhluk-Nya dan Maha Tinggi Rabb kami dari ucapan Mu’athilin serta Maha Suci bahwa Allah tidak ada, sebagaimana perkataan al-Mubathiluun, karena apa yang tidak memiliki sifat adalah sesuatu yang tidak ada. Maha Tinggi Allah dari ucapan Jahmiyyah yang mengingkari sifat Pencipta kita yang telah mensifati Diri-Nya sendiri dalam hukum yang diturunkan (Al Qur’an) dan melalui lisan Nabi-Nya Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Allah berfirman dalam Surat Ar Ruum ayat 38 : “Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari Wajah Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung”. Firman-Nya : “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai Wajah Allah” (QS. Ar Ruum : 39), Firman-Nya : “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan Wajah Allah” (QS. Al Insaan : 9) dan Firman-Nya : “tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi” (QS. Al Lail : 20).

 Ta’liq :

Wajah Allah merupakan sifat Dzatiyah yang harus diimani seorang Muslim, tanpa menyerupakannya dengan wajah makhluk-Nya, membagaimanakannya, tidak melakukan ta’thil dan tahrif, namun wajib menetapkannya sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah Ta’aalaa.  Imam Ibnu Utsaimin dalam “Syarah Aqidah al-Wasithiyyah berkata :

أما صفة (الوجه) لله جل وعلا فهي من الصفات الذاتية

“Adapun sifat Wajah bagi Allah Jalla wa ‘Alaa, maka ini termasuk sifat dzatiyah”.

Penulis kitab “Syarah al-Barok lil Washitiyyah” berkata :

وأهل السنة والجماعة يثبتون هذا كله لله على ما يليق به -سبحانه- يثبتون مع نفي التمثيل ونفي العلم بالكيفية يثبتون الوجه لله واليدين والعينين وأن وجهه ليس كوجوه العباد ، العباد لهم وجوه ، { وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (22) }  العباد لهم وجوه وليس وجه الخالق كوجه أحد من الخلق ولا يعلم العباد كيفية وجهه كما لا يعلمون كيفية ذاته

“Ahlus Sunnah Jama’ah menetapkan ini semua kepada Allah sesuai dengan yang layak bagi-Nya, mereka menetapkan (sifat-sifat tersebut) dengan menafikan tamstil (penyerupaan) dan menafikan ilmu kaifiyahnya (bagaimananya). Ahlus Sunnah menetapkan Wajah, kedua Tangan dan kedua Mata bagi Allah. Wajah-Nya tidak seperti wajah para hamba-Nya, karena hamba juga memiliki wajah, sebagaimana firman-Nya : “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri” (QS. Al Qiyamah : 22). Para hamba memiliki wajah, namun wajah penciptanya tidak sama seperti wajah salah seorang hamba-Nya dan para hamba tidak tahu kaifiyat Wajah-Nya, sebagaimana mereka tidak tahu kaifiyat Dzat-Nya”.

Imam Ibnu Khuzaimah dan juga Aimah lainnya telah menyebutkan penetapan wajah bagi Allah dari Kitabullah dan sunah Nabi-Nya sholallahu alaihi wa salam. Dalam kitab ini, Imam Ibnu Khuzaimah menyebutkan 8 ayat yang menetapkan adanya Wajah bagi Allah sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya, ayat-ayat tersebut adalah :

1. Surat Ar-Rakhman ayat 27 : “Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.

Imam Syinqithi dalam kitab tafsirnya yang bernama “Adhwaaul Bayaan” berkata :

والوجه صفة من صفات الله العلي وصف بها نفسهن فعلينا أن نصدق ربنا ونؤمن بما وصف به نفسه مع التنزيه التام عن مشابهة صفات الخلق

“Wajah adalah sifat dari sifat-sifat Allah yang Tinggi, yangmana Dia mensifatinya untuk Diri-Nya sendiri, maka wajib bagi kita membenarkan Rabb kita dan beriman dengan apa yang Dia sifati untuk Diri-Nya sendiri, bersama dengan mensucikan secara sempurna dari penyerupaan sifat-Nya dengan sifat makhluk”.

Tim tafsir yang diketuai oleh DR. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turkiy dalam kitab “at-Tafsir al-Muyassar” menafsirkan ayat tersebut dengan :

وفي الآية إثبات صفة الوجه لله تعالى بما يليق به سبحانه، دون تشبيه ولا تكييف

“dalam ayat ini terdapat dalil penetapan sifat Wajah bagi Allah Ta’aalaa dengan apa yang layak bagi Allah tanpa mentasybih dan mentakyifnya”.

2. Surat Al Qoshosh ayat 88 : “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah”

Imam Syinqithi dalam kitab tafsirnya berkata :

والوجه من الصفات التي يجب الإيمان بها مع التنزيه التام عن مشابهة صفات الخلق ، كما أوضحناه في سورة الأعراف وفي غيرها

“Wajah adalah termasuk sifat yang wajib diimani bersama pensucian secara sempurna dari penyerupaan dengan sifat makhluk, sebagaimana kami jelaskan dalam surat Al A’raf dan selainnya”.

3. Surat Al Kahfi ayat 28 : “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap Wajah-Nya”.

Imam Ibnu Utsaimin dalam tafsir surat Al Kahfi berkata :

قوله: { يُرِيدُونَ وَجْهَهُ } مخلصين لله يريدون وجهه ولا يريدون شيئاً من الدنيا، يعني أنهم يفعلون ذلك لله وحده لا لأحدٍ سواه. وفي الآية إثبات الوجه لله تعالى ، وقد أجمع علماء أهل السنة على ثبوت الوجه لله تعالى بدلالة الكتاب والسنة على ذلك، قال الله تعالى: وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالْأِكْرَامِ) (الرحمن:27) . وقال النبي صلى الله عليه وسلم: “أعوذ بوجهك” ، وأجمع سلف الأمة وأئمتُها على ثبوت الوجه لله .

“Firman-Nya : dengan mengharap Wajah-Nya, yakni mengikhlaskan amalannya kepada Allah, mereka menginginkan Wajah-Nya, tidak menginginkan sesuatu berupa perkara dunia, yakni mereka melakukan hal tersebut karena Allah saja, bukan kerena orang lain. Dalam ayat ini terdapat penetapan Wajah bagi Allah Ta’aalaa, Ulama ahlus sunnah telah bersepekat menetapkan Wajah bagi Allah dengan dalil Kitab dan Sunnah. Allah berfirman : “Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.

Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “aku berlindung dengan Wajah-Mu” (HR. Bukhori). Salaful Umat dan Aimahnya telah bersepakat atas penetapan wajah bagi Allah”.

4. Surat Al Baqoroh ayat 115 : “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah”.

Imam Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan beberapa pendapat tentang makna Wajah Allah dalam ayat tersebut, beliau banyak menyebutkan keterangan-keterangan dari para ulama pentakwil sifat-sifat Allah. Beliau menyebutkan juga dari sebagian Aimah yang menetapkan itsbat Wajah Allah dengan ayat ini, kata beliau :

وقال بعض الائمة: تلك صفة ثابتة بالسمع زائدة على ما توجبه العقول من صفات القديم تعالى

“sebagian Aimah berkata : ‘ini adalah sifat yang telah ditetapkan dengan sam’I (dalil) sebagai tambahan yang mengharuskan akal menetapkan sifat Allah yang Qodiim’.

Imam as-Sa’diy dalam tafsirnya berkata :

{ فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ } فيه إثبات الوجه لله تعالى، على الوجه اللائق به تعالى، وأن لله وجها لا تشبهه الوجوه

Firman-Nya : di situlah wajah Allah, sesungguhnya Dia Maha luas karunianya dan Maha mengetahui”. Dalam ayat ini terdapat dalil penetapan wajah yang layak bagi Allah Ta’aalaa, bahwa Allah memiliki Wajah yang tidak serupa dengan wajah-wajah makhluknya”.

5. Surat Ar Ruum ayat 38 : “Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari Wajah Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung”.

Imam Abu Fadhoil dalam kitab “Hujajul Qur’an” (1/50) berkata :

الفصل الثاني في الوجه وذلك في عشر آيات في القصص كل شيء هالك الا وجهه وفي الروم ذلك خير للذين يريدون وجه الله

“Pasal kedua tentang Wajah, (penetapan hal ini) terdapat dalam 10 ayat yaitu : dalam Al Qoshoh {“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah”}, dalam surat Ar Ruum {Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari Wajah Allah}…”.

6. Surat Ar Rumm ayat 39 : Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai Wajah Allah”.

Imam Baihaqi dalam “Asmaa wa Shifat” dibawah judul bab itsbat Wajah Allah, membakan ayat ini diantara dalil dari Kitabullah yang menetapkan adanya Wajah Allah.

7. Surat Al Insaan ayat 9 : “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan Wajah Allah”.

Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya (2/83) berkata :

وعلى هذا يتأول قوله تعالى: ” إنما نطعمكم لوجه الله  ” لان المراد به: لله الذي له الوجه

“oleh karenanya takwil ayat ini : “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan Wajah Allah”. Yakni yang dimaksud bahwa Allah memiliki Wajah”.

8. Surat Al Lail ayat 20 : “tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi”

Masih dalam kitab dan halaman yang sama Imam Qurthubi berkata :

كذلك قوله: ” إلا ابتغاء وجه ربه الاعلى  أي الذي له الوجه

demikian juga, Firman-Nya : “tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi”. Yakni bahwa Allah memiliki wajah”.

Adapun dalil itsbat Wajah bagi Allah dalam hadits akan disampaikan oleh Imam Ibnu Khuzaimah pada bab selanjutnya. Imam Ibnu Khuzaimah menyebutkan bahwa penetapan Wajah bagi Allah, adalah madzhabnya para ulama di seluruh penjuru negeri, karena mereka para ulama menetapkan apa yang Allah tetapkan bagi Diri-Nya sendiri dan melalui lisan Nabi-Nya Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Berikut nukilan para Aimah tentang istbat Wajah bagi Allah :

1. Imam Abu Bakar al-Ismailiy dalam kitab “I’tiqod Aimah Ahli Hadits” (h. 55) berkata :

ويثبتون أن له وجها . . .

Mereka para Aimah hadits menetapkan bahwa Allah memiliki Wajah …”.

2. Imam ash-Shabuniy dalam “Aqidah Salaf Ashabul Hadits” (h. 5-6) berkata :

وكذلك يقولون في جميع الصفات التي نزل بذكرها القرآن ووردت بها الأخبار الصحاح من السمع . . والوجه

Demikianlah mereka mengatakan berkaitan dengan semua sifat yang turun penyebutannya dalam Al Qur’an dan hadits shahih, yaitu : mendengar,…wajah”.

3. Imam Abul Hasan Asy’ariy dalam kitabnya “al-Ibanah” (h. 121) berkata :

فأخبر أن له سبحانه وجها لا يفنى ولا يلحقه الهلاك

“maka Allah mengabarkan bahwa Dia memiliki Wajah yang tidak fana dan binasa”. (ketiga nukilan Aimah diatas berasal dari al-I’tiqod karya Syaikh Muhammad al-Khumais).

4. Imam Ibnu Bathoh dalam “al-Ibaanah” (3/269) berkata :

قال الشيخ رحمه الله وكذبت الجهمية بهذا كله  وقالوا لا نقول إن لله تعالى وجها  وقد أكذبهم الله عز و جل ورسوله

“Jahmiyyah mendustakan ini semua, mereka mengatakan bahwa Allah Ta’aalaa tidak memiliki wajah…mereka telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya”.

5. Imam Baihaqi dalam kitabnya “al-I’tiqod” (1/88) berkata :

بَابُ ذِكْرِ آيَاتٍ وَأَخْبَارٍ وَرَدَتْ فِي إِثْبَاتِ صِفَةِ الْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ وَالْعَيْنِ وَهَذِهِ صِفَاتٌ طَرِيقُ إِثْبَاتِهَا السَّمْعُ، فَنُثْبِتُهَا لِوُرُودِ خَبَرِ الصَّادِقِ بِهَا وَلَا نُكَيِّفُهَا

“Bab penyebutan ayat dan hadits yang datang berkaitan dengan penetapan wajah, kedua tangan dan kedua mata. Sifat-sifat ini ditetapkan dengan jalan dalil, maka ia tetap karena datangnya khabar yang benar dan kami tidak mentakyifnya”.

Hal senada beliau tetapkan juga dalam kitabnya “Asmaa wa Shifat”.

6. Imam Abul Hasan al-Malathiy (w. 377 H) dalam kitabnya “at-Tanbiih wa ar-Raadd Alaa ahlil Hawa wal Bidaa’” (h. 118) berkata :

وَأنكر جهم أَن يكون لله عز وَجل وَجه

“Jahmiyyah mengingkari bahwa Allah Azza wa Jalla memiliki Wajah”.

7. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam beberapa kitabnya, seperti Aqidah Washitiyyah menetapkan sifat Wajah bagi Allah Ta’aalaa.

8. Syaikhul Islam Ibnul Qoyyim juga menetapkan sifat Wajah bagi Allah, seperti dalam kitabnya “Ijtimaail Juyuusy”.

9. Imam al-Wasithi yang lebih dikenal dengan nama Ibnu Syaikh al Hazamiin (w. 711 H) dalam “Sifatur Robb” (h. 25) berkata :

وإذا ثبتت صفة الوجه بهذا الحديث وبغيره من الآيات والنصوص فكذلك صفة اليدين والضحك والتعجب ولا يفهم من جميع ذلك الا ما يليق بالله عز وجل بعظمته لا ما يليق بالمخلوقات من الأعضاء والجوارح تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا

“jika telah tsabit sifat Wajah dengan hadits ini dan selainnya dari ayat dan nash-nash syariat, demikian juga dengan sifat kedua tangan, tertawa dan takjub, tidak boleh dipahami bahwa seluruh sifat tadi, kecuali dengan apa yang sesuai bagi Allah Azza wa Jalla dengan keagungan-Nya, bukan dengan sesuatu yang layak bagi makhluk berupa anggota tubuh dan badan, Maha Tinggi Allah dengan ketinggian yang besar”.

10. Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam “Kitabut Tauhid” (h. 58) berkata :

فيه مسائل: الأولى: النهي عن أن يسأل بوجه الله إلا غاية المطالب. الثانية: إثبات صفة الوجه.

ada beberapa faedah, pertama larangan meminta dengan Wajah Allah, kecuali permintaan yang sangat; yang kedua penetapan sifat Wajah”.

11. Al Hafidz Abdul Ghoniy al-Maqdisiy dalam Aqidahnya menetapkan sifat Wajah bagi Allah.

12. Imam as-safaariniy al Hanbali (w. 1188 H) dalam kitabnya “Lawaa’iul Anwaar” (1/225) berkata :

ثُمَّ ذَكَرَ مِنْ صِفَاتِ اللَّهِ الَّتِي يُثْبِتُهَا السَّلَفُ دُونَ غَيْرِهِمْ عِدَّةً وَبَدَأَ بِصِفَةِ الْوَجْهِ لَهُ تَعَالَى فَقَالَ: ((كَوَجْهِهِ)) أَيْ مِنَ الصِّفَاتِ الثَّابِتَةِ لَهُ تَعَالَى صِفَةُ الْوَجْهِ إِثْبَاتَ وُجُودٍ لَا إِثْبَاتَ تَكْيِيفٍ وَتَحْدِيدٍ، وَهَذَا الَّذِي نَقَلَ الْخَطَابِيُّ وَغَيْرُهُ أَنَّهُ مَذْهَبُ السَّلَفِ وَالْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ، وَبِهِ قَالَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَكَثِيرٌ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَغَيْرِهِمْ وَهُوَ إِجْرَاءُ آيَاتِ الصِّفَاتِ وَأَحَادِيثِهَا عَلَى ظَاهِرِهَا مَعَ نَفْيِالْكَيْفِيَّةِ وَالتَّشْبِيهِ عَنْهَا مُحْتَجِّينَ بِأَنَّ الْكَلَامَ فِي الصِّفَاتِ فَرْعٌ عَنِ الْكَلَامِ فِي الذَّاتِ، فَإِذَا كَانَ إِثْبَاتُ الذَّاتِ وُجُودًا لَا إِثْبَاتَ تَكْيِيفٍ، فَكَذَلِكَ إِثْبَاتُ الصِّفَاتِ

“lalu disebutkan diantara sifat Allah yang ditetapkan oleh salah bukan selainnya sangat banyak, dimulai dengan sifat Wajah bagi Allah, ia berkata (seperti Wajah-Nya) yakni sifat yang tsabit bagi Allah Ta’aalaa adalah sifat Wajah dengan penetapan wujud bukan penetapan kaifiyah dan batasannya, ini adalah yang dinukil oleh Al Khothobiy dan selainnya bahwa madzhab salah dan Aimah arba’ah, yakni ucapan Hanafiyyah, Hanabilah dan kebanyakan ulama Syafi’iyyah serta selainnya yakni untuk memberlakukan ayat sifat dan hadits-haditsnya sesuai dhohirnya, bersamaan dengan penafian kaifiyyah dan penyerupaannya, berdalilkan bahwa ucapan dalam masalah sifat adalah cabang dari ucapan dalam masalah dzat, maka jika penetapan Dzat wujud tidak berkonsekuensi penetapan takyif, begitu juga dengan penetapan sifat”.

13. Dan masih banyak Aimah lainnhya yang secara tegas menetapkan Wajah bagi Allah sesuia dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: