TAFSIR AL FATIHAH AYAT 1

January 22, 2014 at 11:15 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Tafsir Segala Puji Bagi Allah, Rabb Alam Semesta (Al Fatihah : 1)

 

I.                   Mufrodat Ayat

الْحَمْدُ” adalah mubtada’ dan khobarnya adalah “لِلَّهِ”. Alim lam ta’rif pada Alhamdu, bisa berupa “لِلْجِنْسِ”  yaitu maknanya hakiki, mengisyaratkan bahwa semua orang mengetahui bahwa yang berhak dipuji adalah Dia Rabbunaa. Atau bisa juga alil lamnya berupa “لِلْاِسْتِغْرَاقِ” (mencakupi) yang maknanya bahwa seluruh pujian itu pada hakikatnya semuanya untuk Allah.  Alhamdu secara bahasa maknanya adalah pujian yang indah untuk mengagungkan dan mencintai, adapun secara istilah diungkapkan oleh Imam Ibnu Utsaimin :

وصف المحمود بالكمال مع المحبة، والتعظيم

Mensifati yang Dipuji dengan sifat kesempurnaan bersama kecintaan dan pengagungan (kepada-Nya)

Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

ليس شيءٌ أحبَّ إليه الحمد، من الله تعالى، ولذلك أثنى على نَفسه فقال: “الحمد لله”

“tidak ada sesuatu yang dicintai Allah, selain Al Hamdu (pujian), oleh karena itu Dia memuji dirinya sendiri dengan berfirman : “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah)” (HR. Thabari dalam tafsirnya, dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir).

Qiro’ah yang tujuh membaca “الْحَمْدُ” dengan mendhomahkan huruf ‘daalnya’. Zamakhsariy menukil bahwa Imam Hasan al-Bashri mengkasrohkan hurud ‘daalnya’ mengikuti huruf ‘laamnya’ sehingga dibaca “الْحَمْدِ لِلَهِ”, kemudian Imam Ibrohim Abi Ablah membacanya “الحمدُ لُلَّه” dengan mendhomahkan hurud ‘daal’ dan huruf ‘lam’ setelahnya. Diriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah bahwa beliau membacanya dengan nashob, yakni memfathah huruf ‘daalnya’, karena asalnya ada fi’il yang tersembunyi yaitu dari kata “أَحْمَدُ اللهَ حَمْدًا” (aku memuji Allah dengan sepenuh pujian).

Kemudian “لِلَّهِ” huruf ‘laam’ di ayat tersebut bermakna “لِلْاِخْتِصَاصِ، والِاسْتِحْقَاقِ” yakni maknanya untuk pengkhususan dan kepemilikan bahwa segala puji adalah hanya dan milik Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Sebagaimana Firman-Nya :

يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ath Thaghabun : 1).

رَبِّ” adalah na’at kepada “لِلَّهِ”, karena man’utnya majruur, maka na’atnya juga majruur, ini adalah bacaan mayoritas ulama, adapun Imam Abul ‘Aliyah dan Imam Isa bin Umar membacanya dengan nashob “Robba”, kemudian Imam Abu Riziin, Imam Rabii’ bin Khoitsam dan Imam Abu Imroon membacanya dengan rofa’ “Robbu”, demikian nukilan Imam Ibnul Jauzi . Rabb adalah masdar dari tarbiyah yakni mengajarkan agar sempurna, setahap demi setahap. Menurut Imam Ibnul Jauzi, Robb memiliki 3 makna yakni : “المَالِك” (pemilik), “المُصْلِح” (yang memelihara) dan “السَيِّدُ المُطاَعُ” (tuan yang ditaati). Contoh penggunaan Robb dalam artian pemilik adalah seperti perkataan Shofwaan kepada Abu Sufyan Rodhiyallahu ‘anhu :

لأن يربني رجل من قريش أحب إليّ من أن يربني رجل من هوازن

Orang Quraisy yang memilikiku lebih aku sukai daripada yang memilikiku orang dari Hawaazin.

Adapun yang bermakna tuan adalah seperti Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ

“Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar” (QS. Yusuf : 41).

Ketiga makna ini layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’alaa, karena Dialah pemilik alam semesta, yang memeliharanya dan yang mengaturnya. Selain Allah tidak boleh menggunakan kata Robb dengan isim ma’rifah yakni ditambahkan alif lam “Ar-Robb” dan harus diidhofahkan, misalnya “رَبُّ الدَارِ” (pemilik rumah) dan semisalnya. Ar-Robb adalah Allah pencipta kita dan yang mengatur urusan semua makhluk-Nya, sehingga Dialah yang hanya dan layak untuk disembah. Allah berfirman :

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus : 3).

الْعَالَمِينَ” (alam semesta), ini adalah mudfhofun ilaih-nya “Robb” dan hukumnya majruur, ia jamak dari “العالَمُ”  yakni kata ulama selain Allah Subhanahu wa Ta’alaa dinamakan Alam. Imam Baghowi dalam tafsirnya menukilkan makna “Aalamiin” dari Ibnu Abbas dan murid-muridnya :

قال ابن عباس: هم الجن والإنس لأنهم المكلفون بالخطاب قال الله تعالى: “لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا”( 1-الفرقان ) وقال قتادة ومجاهد والحسن: هم جميع المخلوقات. قال الله تعالى: “قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ  قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا”

Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu berkata : ‘Aalamin adalah Jin dan Manusia, karena merekalah yang dibebani dengan syariat, Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam” (QS. Al Furqon : 1). Sedangkan Qotadah, Mujaahid dan Al Hasan mengatakan : ‘Aalamiin adalah seluruh makhluk, Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman : “Fir’aun bertanya: “Siapa Tuhan semesta alam itu? Musa menjawab: “Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu)” (QS. Asy-Syu’aara : 23-24).

Kedua penafsiran diatas dapat kita kompromikan bahwa jika alam yang dimaksud adalah makhluk yang menerima pembebanan syariat, maka itu adalah bangsa Jin dan Manusia, adapun alam secara umum adalah seluruh makhluk-Nya baik yang ada di bumi, di langit dan diantara keduanya. Dan itu semua Robbnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

II.                Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Segala puji hanya dan layak dimiliki oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa, Dialah yang mengatur, menciptakan dan memilki apa yang ada di langit, di bumi dan diantara keduanya, dari seluruh alam semesta. Sehingga tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah saja.

 

III.             Faedah Ayat

1. Penetapan pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa dan salah satu Asmaaul Husna adalah Al Hamiid (Yang Maha Terpuji), sebagaimana firman-Nya :

قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah” (QS. Huud : 73).

2. Kita wajib memuji dan bersyukur kepada-Nya, karena sangat banyak nikmat yang telah dianugerhkan kepada kita. Firman-Nya :

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya” (QS. Ibrohim : 34).

3. Hendaknya seseorang ketika memulai pembicaraan atau doanya dengan puji-pujian kepada Allah dahulu. Sebagaimana kebiasaan Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam ketika akan berbicara kepada kaum muslimin, Beliau senantiasa memulainya dengan pujian terlebih dahulu. Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu berkata :

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى مَرَضِهِ الَّذِى مَاتَ فِيهِ عَاصِبٌ رَأْسَهُ بِخِرْقَةٍ ، فَقَعَدَ عَلَى الْمِنْبَرِ ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ

“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam keluar pada saat sakit yang mengantarkan kepada wafatnya, lalu belia unaik mimbar, memuji Allah lalu bersabda : “….” (HR. Bukhori).

Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam juga pernah bersabda :

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Seutama-utamanya dzikir adalah Laa ilaaha illallah dan seutama-utamanya doa adalah Alhamdu lillah” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Imam Al Albani).

4. Disyariatkan bagi kita ketika mendapatkan sesuatu yang disenangi dan tidak disenangi untuk tetap memuji Allah Subhanahu wa Ta’alaa, sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ» ، وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»

“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam jika melihat sesuatu yang disenangi mengucapkan : “Segala puji bagi Allah dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan”, dan jika melihat sesuatu yang tidak disenangi berkata : “Segala puji bagi Allah atas segala sesuatu” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh Imam Al Albani).

5. Boleh untuk memuji seseorang asalkan dengan pujiannya tadi menimbulkan motivasi untuk beramal dan tidak menyebabkan orang tersebut terjangkiti khibir (tinggi hati), sebagaimana Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pernah memuji para sahabatnya.

6. Disyariatkan bersyukur (berterimakasih) kepada seseorang yang telah memberikan kebaikan kepada kita, karena Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidak bersyukur kepada Allah, bagi orang yang tidak berterimakasih kepada manusia” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

Dan disyariatkan untuk membalas kebaikan orang tersebut atau minimal mengucapkan “Jazakallah khoir” sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا فَقَدْ أَبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ

“Barangsiapa yang diberikan kebaikan, maka ucapkanlah kepada pemberi : “semoga Allah membalasmu dengan kebaikan”, maka telah sampai pembalasannya tersebut” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Imam Al Albani).

7. Ayat ini mengandung tiga pembagian tauhid yaitu Tauhid Rububiyah dalam Firman “Robbul ‘Aalamiin” (Robb semesta alam), tauhid Uluhiyyah dalam Firman : “lillahi” (bagi Allah) dan tauhid Asmaa’ wa Shifat dalam firman-Nya : “Alhamdu” (segala puji), karena Allah memiliki nama Al Hamiid dan sifat yang terpuji.

8. Ada 5 surat yang dimulai dengan kata “Alhamdulillah” yakni surat Al Fatihah ini, surat Al An’aam, Al Kahfi, Sabaa’ dan Faathir

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: