TAFSIR AL FATIHAH AYAT 3

January 24, 2014 at 1:35 pm | Posted in Tafsir | Leave a comment

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Tafsir “Yang Menguasai Hari Pembalasan” (Al Fatihah : 3)

 

I.                   Mufrodat Ayat

مَالِكِ” adalah sifat untuk “لِلَّهِ”. Qiro’ah Abu Ja’far, Naafi’, Ibnu Katsiir, Abu ‘Amr, Ibnu ‘Aamir dan Hamzah dengan “مَلِكِ” tanpa alif. Sedangkan qiro’ah ‘Aashim, al-Kasaa’i, Ya’qub, Abu Hatim dan Kholaf dengan “مَالِكِ” menggunakan alif. Semua qiro’ah ini tidak berbeda didalam mengkasrohkan huruf kaafnya.

Imam Ibnul Jauzi dalam tafsirnya menukil qiro’ah Ibnu Sumaifi’ dan Ibnu Abi Ablah dengan alif, hanya saja mereka manashobkan huruf kafnya “مَالِكَ”. Lalu qiro’ah Abu Huroiroh dan ‘Aashim al-Jahdariy dengan tanpa alif, mensukunkan lam dan mengkasrohkan kaafnya “مَلْكِ”. Qiro’ah Abu Utsman an-Nahdiy dan asy-Sya’biy dengan tanpa alif, mengkashroh laam dan menashob/memfathah kaaf “مَلِكَ”. Qiro’ah Sa’ad bin Abi Waqqoosh, Aisyah dan Mawarroq al-Ijly dengan tanpa alif dan merofa’/mendhomah kaafnya “مَلِكُ”. Qiro’ah Ubay bin Ka’ab dan Abu Rojaa al-‘Athooridiy dangan menambahkan huruf Yaa setelah lam dan mengkasrohkan kaaf “مَلِيْكِ”. Qiro’ah ‘Amr bin al-‘Ash juga seperti itu, namun beliau mendhomah kaafnya “مَلِيْكُ” dan terakhir qiro’ah Abu Hanifah dan Abu Hayawah dengan menjadikannya sebagai fi’il madhi “مَلَكَ”. Namun yang rajih kita gunakan qiro’ah yang masyhur yaitu “مَالِكِ” atau “مَلِكِ”.

مَالِكِ” yang menggunakan alif berasal dari kata “المِلْكُ” (yang memiliki/yang menguasai) sedangan jika tanpa alif “مَلِكِ” berasal dari kata “المُلْكُ” (raja), sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنفَخُ فِى الصُّورِ

“dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup” (QS. Al An’aam : 73).

يَوْمِ” (hari) adalah dhorf zaman (kata keterangan waktu) yang berkedudukan sebagai mudhofun ilaih dari “مَالِكِ” dan dia juga mudhof untuk “الدِّينِ”. Abu Hanifah membaca “يَوْمَ” dengan nashob. Sedangkan “الدِّينِ” disini adalah bermakna “الجَزاَءُ” (pembalasan) sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa :

يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ الله دِينَهُمُ الحَقَّ

“Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya” (QS. An-Nuur : 25).

Dan sebagaimana perkataan seorang penyair :

ولَمْ يَبْقَ سِوَى العُدْوَا … نِ دِنَّاهمْ كما دَانُوا

Tidak tersisa kecuali musuh … pembalasannya sebagaimana lawan mereka membalas

Adapun makna bahwa Allah yang menguasai hari pembalasan adalah sebagaimana firman-Nya :

وَمَآ أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدين ثُمَّ مَآ أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدين يَوْمَ لاَ تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئاً

“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al Infithoor : 17-19).

II.                Kesimpulan Makna Ayat Secara Global

Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa yang merupakan Robb bagi alam semesta ini, memiliki sifat kasih sayang kepada para hamba-Nya. Dia juga yang menguasai dan raja pada hari pembalasan nanti. Semua amal hamba-Nya akan dibalas sesuai dengan keadilan Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa.

 

III.             Faedah Ayat

1. Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa adalah raja dan menguasai seluruh hari, bukan hanya hari pembalasan saja. Dalam ayat ini hanya disebutkan raja dan yang menguasai hari pembalasan, karena menurut Imam Ibnu Utsaimin pada waktu itu nampaklah kerajaan dan kekuasaan-Nya secara mutlak, tidak ada raja dunia yang berani bersuara, ketika Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ

“Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?”” (QS. Ghoofir : 16).

tidak ada satu suarapun yang menjawab, maka Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman :

لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

“Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan” (QS. Ghoofir : 16).

2. Penetapan Asmaaul Husna bagi Allah yakni ‘Al-Maliku’, sebagaimana firman-Nya :

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan” (QS. Al Hasyr : 23).

3. Pada hari pembalasan Allah akan mengadili hamba-Nya dengan penuh keadilan. Firman-Nya :

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ (69) وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَا يَفْعَلُونَ (70)

“Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan” (QS. Az Zumar : 69-70).

Bahkan hewan-hewan yang telah berbuat dholim kepada rekannya, tetap akan diqishosh, padahal mereka tidak dikenai beban syariat. Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لَتُؤَدُّنَّ الْحُقُوقَ إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

“Benar-benar hak-hak itu akan ditunaikan oleh yang berhak pada hari kiamat, sampai-sampai akan diberikan qoshosh untuk kambing yang tidak bertanduk kepada kambing yang bertanduk”.

Artinya kambing yang dulu waktu didunia karena tidak memiliki tanduk, lalu diseruduk oleh kambing yang memiliki tanduk, maka akan diberikan qishosh kepada kambing yang tidak bertanduk untuk membalasnya.

Allah juga berfirman bahwa Diri-Nya akan memasang timbangan yang adil, tidak ada yang dirugikan sedikitpun. Firman-Nya :

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan” (QS. Al Anbiyaa : 47).

4. Apakah anda orang kafir? Jika tidak maka ucapkanlah : “Ya Rabbku, ampunilah dosa-dosaku pada hari pembalasan”. Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Ummul Mukminin Aisyah rodhiyallahu anha, beliau berkata :

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْنُ جُدْعَانَ كَانَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيُطْعِمُ الْمِسْكِينَ فَهَلْ ذَاكَ نَافِعُهُ قَالَ « لاَ يَنْفَعُهُ إِنَّهُ لَمْ يَقُلْ يَوْمًا رَبِّ اغْفِرْ لِى خَطِيئَتِى يَوْمَ الدِّينِ »

“Wahai Rasulullah Ibnu Jud’aan pada masa Jahiliyyah senang menyambung tali silaturahmi dan memberi makan orang miskin, apakah hal tersebut bermanfaat?, Nabi sholallahu alaihi wa salam menjawab : “hal itu tidak bermanfaat baginya, karena ia tidak pernah satu haripun berkata : “Ya Rabbku, ampunilah kesalahanku pada hari pembalasan”.

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: