PENDAPAT IMAM SYAFI’I TENTANG MENGIRIMKAN PAHALA BACAAN AL QUR’AN KEPADA MAYIT

January 25, 2014 at 3:07 am | Posted in fiqih | Leave a comment

MENGIRIMKAN PAHALA BACAAN AL QUR’AN MENURUT IMAM SYAFI’I

Imam Syafi’i dalam “Al Umm” bab Shodaqohnya orang yang hidup dari mayit (4/126, Daarul Ma’rifah-Beirut) :

أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ: حَدَّثَنَا الشَّافِعِيُّ إمْلَاءً قَالَ: يَلْحَقُ الْمَيِّتَ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ وَعَمَلِهِ ثَلَاثٌ حَجٌّ يُؤَدَّى عَنْهُ وَمَالٌ يُتَصَدَّقُ بِهِ عَنْهُ، أَوْ يُقْضَى وَدُعَاءٌ فَأَمَّا مَا سِوَى ذَلِكَ مِنْ صَلَاةٍ، أَوْ صِيَامٍ فَهُوَ لِفَاعِلِهِ دُونَ الْمَيِّت

Akhbaronaa ar-Robii’ bin Sulaimaan ia berkata, haddatsanaa asy-Syafi’i dengan imlaa bahwa beliau berkata : ‘diikutkan mayit (mendapatkan pahala-pent.) dari perbuatan orang lain dalam 3 perkara yaitu, haji yang ditunaikan untuk mayit (badal haji), harta yang disedekahkan atas namanya atau yang dibayarkan dan doa. Adapun selain itu berupa sholat dan puasa, maka pahalanya (hanya) untuk pelakunya, tidak untuk mayit.

Imam Nawawi dalam “Syarah Muslim” (1/90, Daaru Ihyaa’it Turots-Beirut) :

وَأَمَّا قِرَاءَة الْقُرْآن فَالْمَشْهُور مِنْ مَذْهَب الشَّافِعِيّ أَنَّهُ لَا يَصِلُ ثَوَابُهَا إِلَى الْمَيِّت وَقَالَ بَعْض أَصْحَابه : يَصِل ثَوَابهَا إِلَى الْمَيِّت

Adapun bacaan Al Qur’an, maka yang masyhur dari madzhab Syafi’i adalah tidak sampai pahalanya kepada mayit.Sebagian ashabnya berpendapat, pahalanya sampai kepada mayit.

Imam Ibrohim bin Ali asy-Syairoziy (w. 476 H) dalam “al-Muhadzab” (2/388, Darul Kitaabil Ilmiyah) berkata :

وأما ما سوى ذلك من القرب كقراءة القرآن وغيرها فلا يلحق الميت ثوابها

Adapun selain hal tersebut berupa ibadah pendekatan diri, seperti Al Qur’an dan selainnya, maka mayit tidak diikutkan pahalanya

Kemudian Imam As-Subki dalam menyempurnakan “al-Majmu Syarah al-Muhadzab” (15/521-Daarul Fikr) memberikan syarah :

واختلف العلماء في وصول ثواب قراءة القرآن، فالمشهور من مذهب الشافعي وجماعة أنه لا يصل.

وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل، والمختار أن يقول بعد القراءة: اللهم أوصل ثواب ما قرأته، والله أعلم اه

 وقال ابن النحوي في شرح المنهاج: لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور. والمختار الوصول إذا سأل الله أيصال ثواب قراءته، وينبغى الجزم به لانه دعاء، فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعى، فلان يجوز بما هو له أولى، ويبقى الامر فيه موقوفا على استجابة الدعاء، وهذا المعنى لا يخص بالقراء بل يجرى في سائر الاعمال، والظاهر أن الدعاء متفق عليه انه ينفع الميت والحى القريب والبعيد بوصية وغيرها.

وعلى ذلك أحاديث كثيرة، بل كان أفضل الدعاء ان يدعو لاخيه بظهر الغيب وقد حكى النووي في شرح مسلم الاجماع على وصول الدعاء إلى الميت، وكذا حكى أيضا الاجماع على أن الصدقة تقع عن الميت ويصل ثوابها ولم يقيد ذلك بالولد.

Para ulama berbeda pendapat berkaitan sampainya pahala membaca Al Qur’an kepada mayit, maka yang masyhur dari madzhab Syafi’I dan jamaahnya bahwa hal tersebut tidak sampai. Ahmad bin Hanbal dan sejumlah ulama serta sejumlah ashab Syafi’I berpendapat hal tersebut sampai. Pendapat yang terpilih (rajih) hendaknya ia berkata setelah membaca Al Qur’an : ‘Ya Allah sampaikanlah pahala apa yang kubaca (kepada mayit-pent.). wallahu A’lam.

Ibnu Nahwi dalam Syarah al-Minhaj berkata : ‘yang masyhur tidak sampai pahala bacaan Al Qur’an kepada mayit menurut kami’. Pendapat terpilih sampainya pahala tersebut jika ia memohon kepada Allah untuk menyampaikan pahala bacaannya. Hendaknya dipastikan hal tersebut bahwa itu adalah doa, jika diperbolehkan berdoa kepada mayit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang berdoa, maka membolehkan dengan sesuatu yang ia miliki (maksudnya orang yang berdoa punya pahala bacaan Al Qur’an-pent) tentu lebih utama, maka tetaplah perkara ini dalam bab terkabulnya doa. Permasalahan ini tidak dibatasi hanya untuk bacaan Al Qur’an, namun berlaku untuk seluruh amal, yang Nampak bahwa doa tersepakati memberikan manfaat kepada mayit dan yang hidup baik dekat maupun jauh dengan wasiyat atau tidak.

Hal tersebut berdalil dengan hadits yang sangat banyak, bahkan seutama-utamanya doa adalah seorang mendoakan saudaranya yang tidak Nampak. Nawawi telah menghikayatkan dalam syarah Muslim, ijma sampainya doa kepada mayit, demikian juga ijma bahwa shodaqoh yang diambil dari mayit pahalanya akan sampai dan hal ini tidak dikaitkan dengan anak.

Imam Yahya bin Abil Khoir dalam “at-Tibyaan fii madzhabil Imam Syafi’i” (8/317, Daarul Minhaj-Jeddah) berkata :

فأما ما سوى ذلك من القرب، كالصلاة والقراءة والذكر.. فلا يلحق الميت ثوابها بفعل الغير لها عنه، قال أصحابنا: إلا أنه إذا قرئ القرآن عند القبر أو الميت.. فإن ثواب القراءة للقارئ، ولكن الرحمة تنزل حيث يقرأ القرآن، فيرجى أن تعم الرحمة الميت؛ لأنه كالجالس بينهم. هذا مذهبنا

Adapun selain hal tersebut berupa ibadah pendekatan diri, seperti sholat, bacaan Al Qur’an dan dzikir…, maka mayit tidak diikutkan pahalanya, karena perbuatan orang lain. Ashabunaa berkata : ‘kecuali jika dibacakan Al Qur’an disisi kuburannya atau mayit,,maka pahalanya untuk si pembaca, namun rakhmat turun ketika membaca Al Qur’an, maka diharapkan rakhmatnya meliputi mayit, karena seolah-olah ia seperti duduk dimajelis tersebut. Ini adalah madzhab kami.

 

Kesimpulannya, dhohir perkataan Imam Syafi’I adalah bacaan Al Qur’an seseorang yang diniatkan dikirim pahalanya kepada mayit tidak sampai kepada mayit. Namun para ulama Syafi’iyyah sendiri masih berbeda pendapat tentang sampai tidaknya, sebagian sependapat dengan Imamnya dan sebagian menyelisihi pendapat Imamnya. Imam Syafi’I dan yang mengikutinya berdalil dengan :

1. Surat An-Najm ayat 39, Allah berfirman :

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”.

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini :

أَيْ: كَمَا لَا يُحْمَلُ عَلَيْهِ وِزْرُ غَيْرِهِ، كَذَلِكَ لَا يُحَصِّلُ مِنَ الْأَجْرِ إلا ما كسب هو لنفسه. ومن وهذه الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ، رَحِمَهُ اللَّهُ، وَمَنِ اتَّبَعَهُ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَوْتَى؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلَا كَسْبِهِمْ؛ وَلِهَذَا لَمْ يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ وَلَا حَثَّهُمْ عَلَيْهِ، وَلَا أَرْشَدَهُمْ إِلَيْهِ بِنَصٍّ وَلَا إِيمَاءٍ، وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ، وَبَابُ الْقُرُبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيهِ عَلَى النُّصُوصِ، وَلَا يُتَصَرَّفُ فِيهِ بِأَنْوَاعِ الْأَقْيِسَةِ وَالْآرَاءِ، فَأَمَّا الدُّعَاءُ وَالصَّدَقَةُ فَذَاكَ مُجْمَعٌ عَلَى وُصُولِهِمَا، وَمَنْصُوصٌ مِنَ الشَّارِعِ عَلَيْهِمَا

Yaitu sebagaimana seorang tidak menanggung dosa orang lain, demikian juga tidaklah sampai pahala kecuali apa yang diusahakan oleh dirinya sendiri. Dari ayat yang mulia ini, Imam Syafi’I dan orang yang mengikutinya berdalil bahwa pahala bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan tidak sampai kepada mayit, karena hal tersebut bukan amalan dan usahanya. Oleh karenanya, Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak menganjurkan umatnya dan tidak memotivasi mereka (untuk menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an-pent.), Beliau tidak memberikan petunjuk baik dengan nash atau isyarat dan tidak dinukil perbuatan tersebut dari salah seorang sahabatpun Rodhiyallahu ‘anhum, seandainya hal tersebut baik, niscaya mereka telah mendahului kita. Bab pendekatakan diri kepada Allah terbatas kepada nash-nash, tidak dipalingkan dengan berbagai ragam qiyas dan pemikiran. Adapun doa dan shodaqoh, maka telah disepakati sampainya dan ternashkan dalam syariat.

2. Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: مِنْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ، أَوْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ مِنْ بَعْدِهِ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ

“Jika manusia mati terputus amalanya, kecuali karena 3 perkara : karena anak sholih yang mendoakannya atau shodaqoh jariyah setelahnya atau ilmu yang bermanfaat”.

Imam Nawawi dalam “Syarah Shahih Muslim” (11/85, Darul Ihyaa’it Turots-Beirut) berkata :

قَالَ الْعُلَمَاء : مَعْنَى الْحَدِيث أَنَّ عَمَل الْمَيِّت يَنْقَطِع بِمَوْتِهِ ، وَيَنْقَطِع تَجَدُّد الْجَوَاب لَهُ ، إِلَّا فِي هَذِهِ الْأَشْيَاء الثَّلَاثَة ؛ لِكَوْنِهِ كَانَ سَبَبهَا ؛ فَإِنَّ الْوَلَد مِنْ كَسْبه ، وَكَذَلِكَ الْعِلْم الَّذِي خَلَّفَهُ مِنْ تَعْلِيم أَوْ تَصْنِيف ، وَكَذَلِكَ الصَّدَقَة الْجَارِيَة ، وَهِيَ الْوَقْف

Para ulama berkata : ‘makna hadits bahwa amalan mayit akan terputus dengan kematiannya dan terputus juga untuk menjawab (seruan kepadanya-pent.), kecuali 3 perkara ini, karena hal tersebut adalah dari usahanya, anak adalah hasil usahanya, demikian juga ilmu yang ia ajarkan atau ia tulis dan demikian juga shodaqoh jariyah yaitu waqaf.

Anak adalah hasil usaha sebagaimana hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

وَإِنَّ وَلَدَهُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sesungguhnya anak adalah dari usahanya” (HR. Ahmad, dan ashabus Sunah, dishahihkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Al Albani).

Masih di halaman yang sama beliau berkata :

وَأَمَّا قِرَاءَة الْقُرْآن وَجَعْل ثَوَابهَا لِلْمَيِّتِ وَالصَّلَاة عَنْهُ وَنَحْوهمَا فَمَذْهَب الشَّافِعِيّ وَالْجُمْهُور أَنَّهَا لَا تَلْحَق الْمَيِّت

Adapun bacaan Al Qur’an dan menjadikan pahalannya untuk mayit dan sholat serta semisalnya, maka Syafi’I dan mayoritas ulama berpendapat bahwa hal tersebut tidak diikutkan mayit (pahala tidak sampai ke mayit-pent.)

 

Adapun pendapat ulama yang mengatakan bahwa menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an sampai kepada mayit, mereka berdalil dengan mengqiyaskan sampainya doa seorang kepada mayit. Adapun masalah sampainya doa kepada mayit telah ternashkan baik dalam Al Qur’an dan Hadits serta ijma para ulama terhadapnya. Namun pendapat ini memiliki kelemahan sebagai berikut :

1. Mengqiyaskan sampainya pahala bacaan Al Qur’an kepada mayit, dengan sampainya doa adalah qiyas ma’al fariq, karena menyelisihi dhohirnya Al Qur’an dan Hadits sebagaimana diatas. Imam al-Izz bin Abdis Salam dalam fatawanya (2/24-via ahkamul janaiz Al Albani) berkata :

ومن فعل طاعة الله تعالى، ثم أهدى ثوابها إلى حي أو ميت، لم ينتقل ثوابها إليه، إذ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

Barangsiapa yang melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa, lalu menghadiahkan pahalanya kepada yang masih hidup atau yang mati, tidak akan sampai pahalanya kepadanya, karena Allah berfirman : “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”.

2. Seandainya qiyas ini shahih, maka Imam Al Albani berkata dalam “Ahkaamul Jana’iz” (hal. 174, al-Maktabah al-Islamiy) :

أن هذا القياس لو كان صحيحا، لكان من مقتضاء استحباب إهداء الثواب إلى الموتى ولو كان كذلك لفعله السلف، لانهم أحرس على الثواب منا بلا ريب، ولم يفعلوا ذلك كما سبق في كلام ابن كثير، فدل هذا على ان القياس المذكور غير صحيح، وهو المراد.

وقد قال شيخ الاسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى في (الاختيارات العلمية) (ص 54): (ولم يكن من عادة السلف إذا صلوا تطوعا أو صاموا تطوعا أو حجوا تطوعا، أو قروؤا القرآن يهدون ثواب ذلك إلى أموات المسلمين، فلا ينبغي العدول عن طريق السلف فإنه أفضل وأكمل).

Bahwa qiyas ini, seandainya shahih, maka berkonsekuensi dianjurkannya menghadiahkan pahala kepada mayit, seandainya seperti itu tentu sudah dilakukan oleh salaf, karena mereka adalah orang-orang yang sangat bersemangat mencari pahala dibandingkan kita, namun ternyata mereka tidak melakukannya, sebagaimana penjelasan Ibnu Katsir sebelumnya, maka hal ini menunjukkan bahwa qiyas yang dimaksud tidak shahih, demikian maksud Ibnu Katsir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam “al-Ikhtiyaaroot al-Ilmiyyah” (h. 54) berkata : ‘bukan kebiasaan salaf, jika mereka sholat sunnah atau puasa sunnah atau haji sunnah atau membaca Al Qur’an menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang sudah meninggal dari kalangan kaum Muslimin, maka hendaknya tidak berpaling dari jalannya Salaf, karena ia lebih utama dan lebih sempurna’.

Na’am barangsiapa yang menyelisihi Salaf, maka akan tersesat jalannya, sebagaimana firman-Nya :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” (QS. An Nisaa’ : 115).

Dan jalan para sahabat adalah jama’ah yang selamat dari firqoh-firqoh yang lainnya dalam Islam. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً»، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»

“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu kelompok. Para sahabat bertanya : ‘siapa itu wahai Rasulullah?’, Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menjawab : “apa yang aku dan para sahabatku berada diatasnya” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Imam Al Albani).

 

Catatan :

Adapun berkaitan dengan perkataan sebagian Aimah Syafi’I seperti Imam Al Mawardiy dan Imam Yahya bin Abdil Khoir bahwa mayit mendapatkan manfaat ketika dibacakan Al Qur’an disisi kuburannya, maka ini adalah pendapat yang lemah. Kami nukilkan fatwa Lajnah daimah Saudi Arabia yang pada waktu itu diketuai oleh Imam bin Baz . berikut teksnya :

س1: هل يجوز قراءة الفاتحة أو شيء من القرآن للميت عند زيارة قبره، وهل ينفعه ذلك؟

ج1: ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه كان يزور القبور، ويدعو للأموات بأدعية علمها أصحابه، وتعلموها منه، من ذلك: « السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، وإنا إن شاء الله بكم لاحقون، نسأل الله لنا ولكم العافية » ، ولم يثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قرأ سورة من القرآن أو آيات منه للأموات مع كثرة زيارته لقبورهم، ولو كان ذلك مشروعًا لفعله، وبينه لأصحابه؛ رغبةً في الثواب، ورحمةً بالأمة، وأداءً لواجب البلاغ، فإنه كما وصفه تعالى بقوله: { لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ }  فلما لم يفعل ذلك مع وجود أسبابه دل على أنه غير مشروع، وقد عرف ذلك أصحابه رضي الله عنهم فاقتفوا أثره، واكتفوا بالعبرة والدعاء للأموات عند زيارتهم، ولم يثبت عنهم أنهم قرأوا قرآنًا للأموات، فكانت القراءة لهم بدعة محدثة، وقد ثبت عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال: « من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد »

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو // نائب رئيس اللجنة // الرئيس //

عبد الله بن قعود // عبد الرزاق عفيفي // عبد العزيز بن عبد الله بن باز //

Soal : bolehkah membaca Al Fatihah atau surat apapun dari Al Qur’an untuk mayit ketika ziaroh kubur? Apakah hal tersebut bermanfaat baginya?

Jawab : telah tsabit dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa beliau melakukan ziaroh kubur, lalu berdoa dengan doa-doa yang telah diajarkan kepada para sahabatnya dan mereka pun belajar dari Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam. Diantara doa tersebut : “Assalamuaikum para penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin, sesungguhnya Insya Allah kami akan menyusul, kami mohon kepada Allah bagi kami dan kalian al-‘Afiyaah”. Tidak tsabit dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa Beliau membaca surat atau ayat dari Al Qur’an kepada yang sudah meninggal, bersamaan banyaknya Beliau melakukan ziaroh kubur, seandainya hal tersebut disyariatkan, niscaya Beliau akan melakukannya dan menjelaskan kepada para sahabatnya dalam rangka mengharap pahala dan rakhmat kepada umatnya serta menunaikan kewajiban tabligh, hal ini sebagaimana disifatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa : “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At Taubah : 128).

Maka ketika Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak melakukan hal tersebut bersama adanya sebab (yang tidak menghalangi untuk tidak mengerjakannya –pent.), hal ini menunjukkan, bahwa hal tersebut tidak disyariatkan, dan hal ini diketahui juga oleh para sahabatnya Rodhiyallahu ‘anhu, maka ini juga atsar mauquf dari mereka. Mereka mencukupkan diri dengan berdoa kepada mayit ketika menziarohinya, tidak tsabit bahwa mereka membaca Al Qur’an kepada mayit, maka bacaan tersebut adalah bid’ah dan perkara baru. Telah tsabit dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda : “Barangsiapa yang membuat-buat perkara baru, apa yang tidak ada dari perintah kami, maka itu tertolak” (Muttafaqun ‘alaih).

 

Kesimpulan dalam pembahasan ini adalah bahwa yang rajih bacaan Al Qur’an tidak sampai kepada mayit, menurut pendapat Imam Syafi’I dan yang sependapat dengannya, berdasarkan dalil-dalil yang kuat. Pendapat ini didukung oleh tidak adanya anjuran dari Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam berkenaan mengirimkan hadiah pahala bacaan Al Qur’an kepada mayit dan juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya. Maka orang yang tidak melakukan amalan ini, telah mencocoki jalan salafus sholih.

Adapun pendapat sebagian Aimah kita yang menganjurkan untuk melakukan amalan ini adalah pendapat yang marjuh (lemah) yang kita harapkan semoga Allah mengampuni kesalahannya dan tetapnya pahala atas ijtihad mereka, sebagaimana dalam sebuah hadits :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

“Jika seorang hakim memutuskan hukum, lalu ia bersungguh-sungguh, kemudian tepat, maka ia mendapatkan dua pahala dan jika memutuskan hukum dengan sungguh-sungguh, lalu keliru, maka mendapatkan satu pahala.

Maka wajib bagi kita menghormati mereka, sekalipun tidak mengikuti pendapatnya yang keliru dan menjelaskan kekeliruannya. Sebagaimana perkataan yang masyhur dari para ulama :

وأنهم إنما ينظرون إلى القول لا إلى القائل، وإلى الدليل، وليس إلى التقليد

Mereka hanya melihat kepada apa yang dikatakan bukan kepada siapa yang mengatakannya dan hanya melihat dalil, bukan kepada taqlid.

Kami tutup dengan ucapan Imam Malik bin Anas yang masyhur :

كل أحد يؤخذ من قوله ويرد إلا صاحب هذا القبر

Setiap orang bisa diambil dan ditolak ucapannya, kecuali penghuni kubur ini (yakni maksudnya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam-pent.).

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: