SYARAH BUKHORI – KITAB MANDI MUKADIMAH

January 30, 2014 at 6:27 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | Leave a comment

بِسْمِ اللَّه الرَّحْمَن الرَّحِيم

5 – كِتَابُ الغُسْلِ

Kitab Mandi

 

Penjelasan :

 

Ini adalah lanjutan dari kitab wudhu yakni masih dalam pembahasan berkaitan dengan Thoharoh (bersuci). Kata “الغسْلِ” jika huruf  ‘ghoinnya’ dibaca dhommah maka artinya ‘الِاغْتِسَالُ’ yakni mashdar (kata kerja yang dibendakan) dari perbuatan mandi. Jika dibaca dengan memfathahkan huruf  ‘ghoinnya’  maka artinya adalah perbuatan mandi. Adapun jika dikasrahkan huruf ‘ghoinnya’ maka bermakna sesuatu yang digunakan bersama air. Demikian penjelasan Imam Shon’ani dalam kitab “Subulus Salam”.

Adapun secara istilah adalah didefinisikan oleh Syaikh Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus Sunnah” :

تعميم البدن بالماء

“Mengguyurkan air keseluruh tubuh”.

Sebenarnya mandi itu sendiri telah kita ketahui dan telah kita lakukan sehari-hari. Dan yang dimaksud mandi disini adalah mandi dalam rangka beribadah, oleh karenanya Imam Ibnu Utsaimin dalam kitab syarah mumti’ telah mengingatkan kepada kita semua untuk menambahkan setiap definisi dalam masalah ibadah seperti bersuci, sholat, puasa dan selainnya dengan menambahkan kata “dalam rangka beribadah kepada Allah”. Karena jika itu mandi saja tanpa ada niat untuk beribadah, maka tidak akan mendapatkan pahala, karena itu adalah perbuatan mubah. Namun jika kita niatkan mandi tersebut dalam rangka beribadah kepada Allah, agar menghadap Allah dalam keadaan bersih, maka akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

Pembahasan mandi dalam kitab para ulama yang membahas masalah fikih, maka yang dimaksud adalah mandi yang disyariatkan, bisa jadi hukumnya wajib atau sunnah. Maka untuk mandi seperti ini, dipersyaratkan adanya niat. Dalam kitab mandi ini akan dibahas tentang dalil pensyariatannya, jenis perbuatan yang disyariatkan mandi, tatacara mandi dan sebagainya.

Berkata ImamBukhori :

وَقَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: {وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [المائدة: 6] وَقَوْلِهِ جَلَّ ذِكْرُهُ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَقْرَبُوا الصَّلاَةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلاَ جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا} [النساء: 43]

“Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa berfirman : “dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Maidah : 6).

Firman-Nya lagi : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun” (QS. An Nisaa’ : 43).

 

Penjelasan :

Imam Bukhori memulai pembahasan mandi dengan menyebutkan dalil pensyariatannya dari Kitabullah. Beliau membawakan 2 ayat yang Mulia yakni ayat 6 dari surat Al Maidah dan ayat 43 dari surat An Nisaa’.

Syahid untuk ayat yang pertama adalah dalam Firman-Nya : “وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا” (Jika kalian junub, maka bersucilah). Imam Ibnul Jauzi dalam tafsirnya berkata :

وقد بين الله عز وجل طهارة الجنب في سورة ( النساء ) بقوله : { حتى تغتسلوا } [ النساء : 43 ]

Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa telah menjelaskan cara bersucinya orang yang junub dalam surat An Nisaa’ dalam Firman-Nya : “hingga kalian mandi”.

Sehingga syahid ayat yang kedua yaitu dalam Firman-Nya : “حَتَّى تَغْتَسِلُوا” (hingga kalian mandi) menafsirkan ayat yang pertama. Dalam sunnah Nabi sholallahu alaihi wa salam yang dimaksud dengan orang yang junub adalah sepasang laki-laki dan wanita yang melakukan hubungan badan (jima’), sekalipun tidak sampai keluar mani, sebagaimana dalam hadits shahih Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallahu anhu dari Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Beliau bersabda :

إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ ». وَفِى حَدِيثِ مَطَرٍ « وَإِنْ لَمْ يُنْزِلْ »

“Jika seorang duduk diantara 4 bagian wanita, lalu berjima, maka wajib mandi”. Dalam riwayat Mathor : “sekalipun tidak keluar maninya”.

Dalil lainnya dari Kitabullah adalah Firman Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa dalam surat Al Baqoroh ayat 222 :

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci”.

Para ulama telah sepakat bahwa wanita yang telah berhenti haidhnya, jika hendak mengerjakan sholat maka diwajibkan mandi, sebagaimana sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam :

وَلَكِنْ دَعِى الصَّلاَةَ قَدْرَ الأَيَّامِ الَّتِى كُنْتِ تَحِيضِينَ فِيهَا ، ثُمَّ اغْتَسِلِى وَصَلِّى

“Namun engkau tinggalkan sholat sesuai dengan hari haidhmu, lalu mandi dan sholat” (Muttafaqun Alaih).

Imam Syafi’i dalam “al-Umm” (5/184, Daarul Ma’rifah) berkata :

{فَإِذَا تَطَهَّرْنَ} [البقرة: 222] يَعْنِي – وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ – الطَّهَارَةَ الَّتِي تَحِلُّ بِهَا الصَّلَاةُ لَهَا وَلَوْ أَتَى رَجُلٌ امْرَأَتَهُ حَائِضًا أَوْ بَعْدَ تَوْلِيَةِ الدَّمِ وَلَمْ تَغْتَسِلْ فَلْيَسْتَغْفِرْ اللَّهَ وَلَا يَعُدْ حَتَّى تَطْهُرَ وَتَحِلَّ لَهَا الصَّلَاةُ، وَقَدْ رُوِيَ فِيهِ شَيْءٌ لَوْ كَانَ ثَابِتًا أَخَذْنَا بِهِ وَلَكِنَّهُ لَا يَثْبُتُ مِثْلُهُ.

{maka jika mereka (para wanita) itu suci} (QS. Al Baqoroh : 222) yakni –Wallahu Ta’aalaa A’lam- bersuci yang membolehkan untuk sholat (mandi haidh). Sekiranya seorang akan mendatangi istrinya yang telah selesai haidh atau setelah berhenti darah haidhnya, namun belum mandi, maka hendaknya ia memohon ampun kepada Allah dan jangan mengulanginya lagi, hingga istrinya bersuci (mandi) yang membolehkan untuk sholat. Telah diriwayatkan berkaitan dengan hal ini, seandainya itu tsabit tentu kami akan mengambilnya, namun tidak tsabit (baca : shahih) semisal hal ini”.

 

 

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: