SYARAH BUKHORI KITAB MANDI – BAB 1 WUDHU SEBELUM MANDI

January 31, 2014 at 2:36 pm | Posted in Penjelasan Bukhori | 2 Comments

1 – باب الْوُضُوءِ قَبْلَ الْغُسْلِ

Bab 1 Wudhu Sebelum Mandi

 

Penjelasan :

 

Imam al-‘Ainiy dalam “Umdahtul Qoriy”  berkata :

أي هذا باب في بيان حكم الوضوء قبل أن يشرع في الاغتسال هل هو واجب أو مستحب أم سنة

“yaitu bab ini menjelaskan hukum berwudhu sebelum mandi, apakah hukumnya wajib, mustahab atau sunnah?”.

Al Hafidz Ibnu Hajar menukil perkataan Imam Syafi’i dalam “al-Umm” (1/56, Daarul Ma’rifah) :

فَكَانَ فَرْضُ اللَّهِ الْغُسْلَ مُطْلَقًا لَمْ يَذْكُرْ فِيهِ شَيْئًا يَبْدَأُ بِهِ قَبْلَ شَيْءٍ فَإِذَا جَاءَ الْمُغْتَسِلُ بِالْغُسْلِ أَجْزَأَهُ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ كَيْفَمَا جَاءَ بِهِ وَكَذَلِكَ لَا وَقْتَ فِي الْمَاءِ فِي الْغُسْلِ إلَّا أَنْ يَأْتِيَ بِغُسْلِ جَمِيعِ بَدَنِهِ

“Allah mewajibkan mandi secara mutlak dan tidak menyebutkan sedikitpun sesuatu untuk memulainya, jika seorang yang mandi telah mandi, maka hal itu telah mencukupi –wallahu A’lam-, bagaimanapun cara ia mandi. Demikian juga tidak ada waktu lama air tersebut yang digunakan untuk mandi, melainkan cukup untuk mencuci seluruh badannya”.

Maka dari pernyataan Imam Syafi’i tersebut, beliau berpendapat bahwa wudhu sebelum mandi adalah hukumnya sunnah saja, bukan wajib. Imam Ibnu Bathool dalam “Syarah Bukhori” :

العلماء مجمعون على استحباب الوضوء قبل الغسل

“para ulama telah bersepakat atas sunnahnya wudhu sebelum mandi”.

Adapun wudhu setelah mandi, maka Aisyah rodhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ

“adalah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tidak berwudhu setelah mandi” (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Namun telah dinukil dari beberapa sahabat yang mana mereka berwudhu setelah mandi, diantaranya :

1. Abul Bakhtari mengatakan :

أَنَّ عَلِيًّا، كَانَ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ

“bahwa Ali rodhiyallahu anhu berwudhu setelah mandi” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan selainnya).

Imam Ibnu Bathool mengatakan bahwa riwayat ini mursal (terputus sanadnya) karena Abul Bakthtariy tidak pernah mendengar Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu anhu. Seandainya ini tsabit dari Ali rodhiyallahu anhu kemungkinan hal ini beliau lakukan karena batal wudhunya, setelah selesai mandi.

2. Saalim bin Abdullah bin Umar pernah berkata :

كَانَ أَبِي يَغْتَسِلُ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ فَأَقُولُ: أَمَا يُجْزِيكَ الْغُسْلُ، وَأَيُّ وُضُوءٍ أَتَمُّ مِنَ الْغُسْلِ؟ قَالَ: «وَأَيُّ وُضُوءٍ أَتَمُّ مِنَ الْغُسْلِ لِلْجُنُبِ، وَلَكِنَّهُ يُخَيَّلُ إِلَيَّ أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ ذَكَرِي الشَّيْءُ فَأَمَسُّهُ فَأَتَوَضَّأُ لِذَلِكَ»

“Bapakku mandi, lalu ia berwudhu, maka aku bertanya kepadanya : ‘bukankah mencukupimu untuk mandi, apakah wudhu lebih sempurna dari mandi?’, maka Ibnu Umar rodhiyallahu anhu menjawab : “wudhu apa yang lebih sempurna dari mandi junub?, namun aku terbayang bahwa telah keluar sesuatu dari kemaluanku, maka aku merabanya, sehingga aku berwudhu kerena hal tersebut” (HR. Abdur Rozaq dengan sanad shahih).

Jadi wudhu yang dilakukan oleh Ibnu Umar rodhiyallahu anhu adalah karena telah terjadi sesuatu yang membatalkan wudhu setelah selesai mandi. Memang Nabi sholallahu alaihi wa salam pernah mengakhirkan mencuci kakinya setelah mandi junub, sebagaimana yang diriwayatkan oleh istri Beliau sholallahu alaihi wa salam, Maimunah rodhiyallahu anha, kata beliau :

ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ غَيْرَ رِجْلَيْهِ، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى جَسَدِهِ المَاءَ، ثُمَّ تَنَحَّى، فَغَسَلَ قَدَمَيْه

“lalu beliau berwudhu untuk sholat, kecuali kedua kakinya, kemudian Beliau sholallahu alaihi wa salam mengguyurkan air keseluruh badannya, lalu mengeringkan diri baru mencuci kedua kakinya” (muttafaqun ‘Alaih).

Para sahabat mengingkari orang yang berwudhu setelah mandi, sebagaimana dinukil dari Alqomah bahwa beliau berkata :

ذُكِرَتْ لَهُ امْرَأَةٌ تَوَضَّأَتْ بَعْدَ الْغُسْلِ قَالَ: «لَوْ كَانَتْ عِنْدِي مَا فَعَلَتْ ذَلِكَ، وَأَيُّ وُضُوءٍ أَعَمُّ مِنَ الْغُسْلِ»

“disebutkan kepada Ibnu Umar rodhiyallahu anhu seorang wanita yang berwudhu setelah mandi, maka Beliau rodhiyallahu anhu berkata : “sekiranya ia istriku, niscaya ia tidak akan melakukan hal tersebut, wudhu apa yang lebih umum dari mandi” (HR. Abdur Rozaq dengan sanad shahih).

Abu Sufyan Tholhah bin Naafi’ berkata :

سُئِلَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ الْجُنُبِ يَتَوَضَّأُ بَعْدَ الْغُسْلِ؟ قَالَ: «لَا، إِلَّا أَنْ يَشَاءَ يَكْفِيهِ الْغُسْلُ»

“Jaabir bin Abdullah rodhiyallahu anhu pernah ditanya tentang mandi junub, apakah ada wudhu setelah mandi?’, maka Beliau sholallahu alaihi wa salam bersabda : “tidak ada, kecuali ia berkehendak mencukupinya mandi saja” (HR. Abdur Rozaq dengan sanad hasan).

Selain para sahabat, murid mereka dari kalangan tabi’in juga mengingkari adanya wudhu setelah mandi, misalnya apa yang dikatakan Yahya bin Sa’id :

سُئِلَ ابْنُ الْمُسَيِّبِ عَنِ الْوُضُوءِ بَعْدَ الْغُسْلِ فَقَالَ: «لَا، وَلَكِنَّهُ يَغْسِلُ رِجْلَيْهِ»

“Sa’id ibnul Musayyib ditanya tentang wudhu setelah mandi, maka Beliau menjawab : “tidak ada, namun ia mencuci kedua kakinya saja” (HR. Abdur Rozaq dengan sanad shahih).

Imam Ibnu Utsaimin dalam “majmu fatawa” (no. 180) pernah ditanya sebagai berikut :

وسُئل الشيخ : هل يجزئ الغسل من الجنابة عن الوضوء ؟

فأجاب بقوله : إذا كان على الإنسان جنابة واغتسل فإن ذلك يجزئه عن الوضوء، لقوله تعالى : (وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُوا ) .ولا يجب عليه إعادة الوضوء بعد الغسل، إلا إذا حصل ناقض من نواقض الوضوء، فأحدث بعد الغسل ، فيجب عليه أن يتوضأ ، وأما إذا لم يحدث فإن غسله من الجنابة يجزئ عن الوضوء سواء توضأ قبل الغسل أم لم يتوضأ ، لكن لابد من ملاحظة المضمضة والاستنشاق، فإنه لابد منهما في الوضوء والغسل .

Soal : apakah mandi janabah mencukupi dari melakukan wudhu?

Jawab : jika seorang junub lalu mandi, maka hal terebut mencukupinya dari berwudhu, karena Allah berfirman : “jika kalian junub, maka bersucilah”. Maka tidak wajib mengulangi wudhu setelah mandi, kecuali jika terjadi sesuatu yang membatalkan wudhunya, setelah mandi maka ia wajib berwudhu. Adapun jika tidak terjadi apa-apa, maka mandi janabahnya mencukupi dari wudhu, sama saja apakah sebelum mandi ia berwudhu atau tidak, namun yang perlu dijadikan catatan, pada saat ia mandi berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung, karena ini adalah keharusan dalam wudhu dan mandi”.

Jadi menurut Imam Ibnu Utsaimin bahwa berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung adalah kewajiban wudhu, adapun bagi yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah sekedar sunnah saja, tentu mandi seperti biasa sudah mencukupi dari wudhunya. Dan telah berlalu dalam syarah kitab wudhu, penjelasan kami tentang pendapat yang rajih.

 

 

Berkata Imam Bukhori :

248 – حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ، بَدَأَ فَغَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ كَمَا يَتَوَضَّأُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي المَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ، ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ المَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ “

1). Hadits no. 248

“Haddatsanaa  Abdullah bin Yusuf ia berkata, akhbaronaa Maalik dari Hisyaam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah rodhiyallahu anha istri Nabi sholallahu alaihi wa salam bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam jika mandi janabah, Beliau memulainya dengan kedua tangannya, lalu berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat, lalu memasukkan jari-jarinya kedalam air, kemudian menyela-nyela dasar rambutnya, kemudian mengguyurkan air diatas kepalanya sebanyak 3 kali dengan kedua telapak tangannya, lalu mengguyurkan air keseluruh kulitnya”.

Diriwayatkan juga dalam Shahih Muslim no. 316.

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

Semua perowinya telah berlalu keterangannya

 

Berkata Imam Bukhori :

249 – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الجَعْدِ، عَنْ كُرَيْبٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: «تَوَضَّأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُضُوءهُ لِلصَّلاَةِ، غَيْرَ رِجْلَيْهِ، وَغَسَلَ فَرْجَهُ وَمَا أَصَابَهُ مِنَ الأَذَى، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَيْهِ المَاءَ، ثُمَّ نَحَّى رِجْلَيْهِ، فَغَسَلَهُمَا، هَذِهِ غُسْلُهُ مِنَ الجَنَابَةِ»

2). Hadits no. 249

“Haddatsanaa  Muhammad bin Yusuf ia berkata, haddatsanaa Sufyaan dari Al A’masy dari Saalim bin Abil Ja’di dari Kuroib dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu dari Maimuunah istri Nabi sholallahu alaihi wa salam beliau berkata : “Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berwudhu dengan wudhu untuk sholat, selain kedua kakinya. Lalu Beliau mencuci kemaluannya dan bagian yang terkena mani, lalu Beliau mengguyurkan air keseluruh tubuhnya, lalu Beliau mencuci kedua kakinya. Ini adalah (sifat) mandi janabah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam”.

Diriwayatkan juga dalam Shahih Muslim no. 317.

 

Penjelasan biografi perowi hadits :

 

Semua perowinya telah berlalu keterangannya.

 

Penjelasan Hadits :

  1. Hadits ini menerangkan sifat mandi Janabah Rasulullah sholallahu alaihi wa salam.
  2. Dalam 2 riwayat diatas disebutkan adanya perbuatan wudhu Nabi sholallahu alaihi wa salam sebelum mandi, pada hadits yang pertama wudhu dilakukan secara sempurna, sedangkan pada hadits yang kedua, semua anggota wudhu dibasuh, kecuali kedua kaki dibasuh setelah selesai mandi.
  3. Wudhu tersebut hukumnya adalah sunnah, dan ini adalah ijmanya ulama.
  4. Yang wajib dalam mandi janabah adalah mengguyurkan air keseluruh tubuh, sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i diatas. Imam Ibnu Abdil Bar dalam “al-Istidzkaar” (1/260) :

فإن لم يتوضأ المغتسل للجنابة قبل الغسل ولكنه عم جسده ورأسه ويديه وجميع بدنه بالغسل بالماء وأسبغ ذلك فقد أدى ما عليه إذا قصد الغسل ونواه لأن الله تعالى إنما افترض على الجنب الغسل دون الوضوء بقوله ( ولا جنبا إلا عابري سبيل حتى تغتسلوا ) النساء 43 وقوله ( وإن كنتم جنبا فاطهروا ) المائدة 6  وهذا إجماع من العلماء لا خلاف بينهم فيه والحمد لله إلا أنهم مجمعون أيضا على استحباب الوضوء قبل الغسل للجنب تأسيا برسول الله صلى الله عليه و سلم

“jika orang yang mandi junub tidak berwudhu sebelum mandi, namun hanya mengguyurkan air keseluruh tubuh, kedua tangan dan seluruh badannya, lalu menyempurnakan mandinya tersebut, maka ia telah dianggap menunaikannya, jika memang ia meniatkan dan memaksudkan mandinya untuk janabah, karena Allah Subhanahu wa Ta’alaa hanyalah mewajibkan orang yang junub untuk mandi, tanpa berwudhu, sebagaimana firman-Nya : “(jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi” (QS. An Nisaa’ : 43) dan Firman-Nya : “dan jika kamu junub maka mandilah” (QS. Al Maidah : 6).

Ini adalah ijma ulama  yang tidak ada perselisihan diantara mereka dan Alhamdulillah mereka juga bersepakat disunahkannya wudhu sebelum mandi junub dalam rangka meneladani Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam.

5. Hadits ini dalil wajibnya mandi karena janabah dan telah berlalu bahwa seorang yang melakukan hubungan suami istri, sekalipun belum sampai keluar maninya, tetap wajib mandi.

6. Hadits ini juga dalil untuk meng-keramas rambut ketika mandi janabah, adapun berkaitan dengan wanita yang rambutnya panjang, maka diberikan keringanan untuk tidak mengurai seluruh rambutnya dan Insya Allah akan datang penjelasannya.

7. Hadits ini dalil dalam masalah ushul fikih, bahwa apa yang senantiasa dilakukan oleh Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak melazimkan bahwa hal itu wajib bagi umatnya.

8.  Mani sekalipun ia suci menurut pendapat yang kami rajihhkan, namun ia kotor sebagaimana ingus atau dahak, sehingga layak untuk dibersihkan.

9. Kesempurnaan Islam yang mengatur segala aspek kehidupan, mulai dari kebersihan hati, badan, masyarakat dan bahkan sampai Negara.

Advertisements

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. bukankah ketika mandi wajib, kita memegang kemaluan? Mohon pencerahannya

    Like

  2. terkait masalah memegang kemaluannya dalam pembahasan pembatal=pembatal wudhu, dapat bapak lihat di penjelasan kami
    di e-book penjelasan kitab wudhu shahih Bukhori. silakan melihatnya disana

    Like


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: