STUDI KASUS KEPUTUSAN MA TENTANG WARISAN BEDA AGAMA

February 5, 2014 at 11:04 pm | Posted in fiqih | 1 Comment

STUDI KASUS KEPUTUSAN MAHKAMAH AGUNG YANG MEMBERIKAN BAGIAN WARISAN KEPADA ISTRI YANG KAFIR

 

Pada hari Rabu tanggal 30 April 2010, majelis hakim yang diketuai oleh Drs. H. Andi Syamsu Alam, S.H , M.H., dengan anggota Prof. Dr. Rifyal Ka’bah, M.A. dan Drs. H. Mukhtar Zamzami, S.H., M.H. mengeluarkan keputusan yang bernomor 16K/AG/2010 dimana keputusannya adalah memberikan bagian warisan kepada Evie Lany Mosinta yang beragama Kristen (Kafir) dari peninggalan suaminya Ir. Muhammad Armaya bin Renreng yang beragama Islam.

Dalam keputusan tersebut diceritakan bahwa Ir. M. Armaya bin Renreng (MAR) menikahi Evie Lany Mosinta (ELM) pada tanggal 1 November 1990 dan tercatat secara resmi di catatan sipil. Selama pernikahan mereka tidak dikaruniai anak. Pada tanggal 22 Mei 2008 MAR meninggal dunia dalam keadaan masih memeluk agama Islam, beliau meninggalkan harta warisan dan 5 ahli waris yaitu : Halimah Daeng Baji (Ibu Kandung), Dra. Hj. Murnihati binti Renreng (saudara kandung perempuan), Dra. Hj. Muliyahati binti Renreng (saudara kandung perempuan), Djelitahati binti Renreng (saudara kandung perempuan) dan Ir. Arsal bin Renreng (saudara kandung laki-laki). Namun sampai MAR meninggal dunia, ELM masih tetap beragama Kristen.

Sebelumnya dalam pengadilan agama Makassar telah ditetapkan keputusan yang bernomor 732/Pdt.G/2008/PA.Mks tanggal 12 maret 2008/5 Rabiul Awal 1430 H yang intinya berbunyi :

  • Harta milik MAR dibagi 2 dengan ELM karena merupakan harta gono-gini
  • Bagian ½ MAR diserahkan kepada 5 ahli waris diatas dengan pembagian (pokoknya adalah 30):

ü  Ibu kandung mendapat 1/6 x 30 = 5 bagian

ü  Saudara kandung perempuan yang berjumlah 3 masing-masing mendapat 1/5 x 25 = 5 bagian

ü  Saudara laki-laki 2/5 x 25 = 10 bagian.

Keputusan ini ditolak oleh penggugat dan diajukan banding, namun Pengadilan Tinggi agama Makassar menguatkan keputusan tersebut dengan nomor 59/Pdt.G/2009/PTA.Mks tanggal 15 Juli 2009/22 Rajab 1430 H. Kemudian tidak puas penggugat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan keluarlah keputusan Mahkamah Agung dengan nomor diatas.

Inti dari isi keputusan MA adalah :

  • Menetapkan harta gono-gini antara MAR dengan ELM sebesar 1/2 bagian dan 1/2 bagian.
  • ELM berhak mendapatkan harta warisan dari ½ harta MAR bersama 5 ahli waris diatas, sehingga pembagiannya adalah (pokoknya adalah 60) :

ü  Ibu kandung menerima 10/60 bagian.

ü  ELM menerima 15/60 atau ¼ bagian.

ü  Saudara kandung perempuan yang berjumlah 3 masing-masing 7/60 bagian.

ü  Saudara kandung laki-laki sebanyak 14/60 bagian.

Alasan yang mendasari keputusan MA memberikan harta warisan kepada ELM yang notabene tidak seagama dengan MAR yaitu :

  • Alasan undang-undang bahwa perkawinan mereka sah dan tercatat di catatan sipil sehingga mengacu kepada undang-undang perdata.
  • ELM sebagai istri MAR telah mengabdi kepada suaminya selama kurang lebih 18 tahun.
  • Para ulama seperti Yusuf al-Qordhawi telah memberikan fatwa bolehnya non Muslim mewarisi seorang muslim.
  • MA menganggap hal tersebut sebagai wasiat wajibah.

Pokok masalah dalam studi kasus ini adalah :

  1. apakah seorang non Muslim (kafir) boleh mewarisi seorang Muslim?
  2. Prosentase pembagian warisan.
  3. Masalah wasiyat ahli waris
  4. Hukum islam dalam masalah harta gono-gini.

 

Pembahasan masalah warisan orang kafir dari orang islam

Para ulama ketika menyebutkan salah satu penghalang seorang menerima warisan adalah karena beda agama. Dari Usamah bin Zaid rodhiyallahu anhu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

لاَ يَرِثُ المُسْلِمُ الكَافِرَ وَلاَ الكَافِرُ المُسْلِمَ

“Seorang Muslim tidak mewarisi harta orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi harta seorang Muslim” (Muttafaqun ‘alaih).

Imam Ibnu Bathool dalam “Syarah Bukhori” (8/378, al-Maktabah Rusydi-Riyaadh) berkata :

ذهب جماعة أئمة الفتوى بالأمصار إلى حديث أسامة وقالوا: لا يرث المسلم الكافر ولا الكافر المسلم.

روى هذا عن عمر وعلى وابن مسعود وزيد بن ثابت وابن عباس وجمهور التابعين.

“Sekelompok para Imam Fatwa diseluruh penjuru negeri berpendapat dengan hadits Usamah ini bahwa “Seorang Muslim tidak mewarisi harta orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi harta seorang Muslim”. Hal ini diriwayatkan dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ibnu Abbas rodhiyallahu anhum ajmain dan mayoritas tabi’in”.

Indonesia yang mayoritas kaum Musliminnya bermadzhab syafi’i, maka Imam kita yakni Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dalam “al-Umm” (7/18) pernah ditanya oleh murid sekaligus perowi kitab al-Umm tersebut, yakni Imam ar-Robii’ bin Sulaimaan berikut :

فَقُلْت لَهُ: فَلِمَ قُلْت إذَا كَانَ الْأَبُ كَافِرًا، أَوْ مَمْلُوكًا، أَوْ قَاتِلًا عَمْدًا، أَوْ خَطَأً لَمْ يَرِثْ وَاحِدٌ مِنْ هَؤُلَاءِ قَالَ: جَاءَ عَنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – «لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ»

“aku bertanya kepada beliau : ‘mengapa engkau mengatakan bahwa jika bapak kafir atau seorang budak atau dibunuh dengan sengaja atau karena keliru, maka seorang pun diantara mereka tidak mewarisi?’ Imam Syafi’i menjawab : ‘telah datang hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam : “Seorang Muslim tidak mewarisi harta orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi harta seorang Muslim”.

Imam al-Qurthubi (w. 474 H) dalam “al-Muntaqoo Syarah Muwatho Malik” (no. 959) berkata :

وَرُوِيَ عَنْ مُعَاذٍ وَمُعَاوِيَةَ وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَنَفِيَّةَ يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ وَقَدْ انْعَقَدَ الْإِجْمَاعُ عَلَى مَا ذَهَبَ إِلَيْهِ الْجُمْهُورُ مِنْ أَهْلِ عَصْرِهِمْ .

“diriwayatkan dari Mu’adz, Mu’awiyah dan Muhammad ibnul Hanafiyyah bolehnya seorang kafir mewarisi seorang Muslim. Maka ini membatalkan ijma sebagaimana yang dipegangi oleh mayoritas ulama dipenjuru negeri”.

Namun penukilan Imam Qurthubi ini keliru bahwa ulama yang disebutkan tadi, membolehkan seorang kafir mewarisi seorang Muslim. Yang betul adalah ulama yang disebutkan tadi hanya berpendapat bolehnya seorang muslim mewarisi orang kafir. Imam Ibnu Bathool dalam “Syarah Bukhori”  berkata :

وفى ذلك خلاف عن بعض السلف، روى عن معاذ بن جبل ومعاوية أن المسلم يرثُ الكافر ولا يرث الكافر المسلم، وذهب إليه سعيد بن المسّيب وإبراهيم النخعى ومسروق. واحتجو لذلك فقالوا: نرث الكفار ولا يرثونا كما ننكح نساءهم ولا ينكحوا نساءنا،

“tentang hal ini terjadi khilaf dari sebagian salaf, diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal dan Mu’awiyah rodhiyallahu anhumaa bahwa seorang Muslim mewarisi orang kafir dan Seorang kafir tidak mewarisi seorang Muslim. Yang berpendapat seperti ini juga adalah Sa’id ibnul Musayyib, Ibrohim an-Nakho’i dan Masruuq (dari kalangan tabi’in-pent.). mereka berdalil : ‘kita mewarisi orang kafir dan mereka orang kafir tidak mewarisi kita, sebagaimana kita (boleh) menikahi wanita kafir dan mereka tidak boleh menikahi wanita kita”.

Maka dari sini terjadi ijma (kesepakatan) bahwa orang kafir tidak boleh mewarisi seorang Muslim dan kelirulah perkataan Imam Qurthubi yang mengatakan batalnya ijma ini. Salah satu pensyarah Muwatho Malik juga, Imam Ibnu Abdil Bar dalam “al-Istidzkaar” (5/368) berkata :

لأن الكافر لا يرث المسلم بإجماع المسلمين

karena orang kafir tidak mewarisi seorang muslim dengan kesepakatan kaum Muslimin”.

Sekarang tinggal pembahasan hukum seorang Muslim menerima warisan orang kafir. Telah dinukil diatas pendapat sebagian Aimah salaf yang berfatwa bahwa seorang Muslim menerima warisan orang Kafir, namun ini adalah pendapat yang marjuh (lemah). Imam kita Syafi’I pernah ditanya oleh muridnya Imam Ar-Robii’ berkaitan dengan fatwa dari sebagian Aimah tadi, mari kita baca nukilannya dalam “al-Umm”  masih di jilid yang sama sebelumnya :

قُلْت فَهَلْ رُوِيَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَمُعَاوِيَةَ وَسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ أَنَّهُمْ قَالُوا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ كَمَا تَحِلُّ لَنَا نِسَاؤُهُمْ وَلَا يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ كَمَا لَا تَحِلُّ لَهُمْ نِسَاؤُنَا فَلِمَ لَمْ تَقُلْ بِهِ؟ قَالَ لَيْسَ فِي أَحَدٍ مَعَ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – حُجَّةٌ وَحَدِيثُ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقْطَعُ هَذَا (قَالَ الشَّافِعِيُّ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى -) : قُلْنَا وَإِنْ قَالَ لَك قَائِلٌ: هَؤُلَاءِ أَعْلَمُ بِحَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَلَعَلَّهُ أَرَادَ بَعْضَ الْكَافِرِينَ دُونَ بَعْضٍ قَالَ مَخْرَجُ الْقَوْلِ مِنْ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَامٌّ فَهُوَ عَلَى الْعُمُومِ وَلَا نَزْعُمُ أَنَّ وَجْهًا لِتَفْسِيرِ قَوْلِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَوْلُ غَيْرِهِ، ثُمَّ قَوْلُ مَنْ لَمْ يَحْتَمِلْ ذَلِكَ الْحَدِيثِ الْمُفَسَّرِ، وَقَدْ يَكُونُ لَمْ يَسْمَعْهُ.

“aku (Robii’) bertanya : ‘bagaimana dengan riwayat dari Mu’adz bin Jabal dan Mu’awiyah Rodhiyallahu ‘anhuma serta Sa’id ibnul Musayyib, Muhammad bin Ali bin Husain bahwa mereka mengatakan seorang muslim mewarisi seorang kafir, sebagian mereka beralasan bahwa kita dihalalkan menikahi wanita mereka. Adapun seorang kafir tidak mewarisi seorang muslim, sebagaimana mereka tidak dihalalkan menikahi wanita kita, apa pendapatmu?’ Imam Syafi’I menjawab : ‘tidak ada pendapat seorang pun dihadapan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dan hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menetapkan hal tersebut’. Lanjut Imam : ‘jika ada orang yang mengatakan, mereka lebih mengetahui hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, mungkin yang dimaksud adalah sebagian orang kafir tidak semuanya?’ jawabannya adalah yang keluar dari sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam adalah umum, maka tetap pada keumumannya, kita tidak bisa mengklaim suatu penafsiran sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dengan ucapan orang lain. Kemudian ucapan mereka yang tidak membawa hadits ini dengan penafsiran, menunjukkan bahwa mereka belum mendengar hadits tersebut.”.

Maksud Imam Syafi’I adalah kemungkinan sebagian Aimah yang berpendapat bahwa seorang muslim mendapatkan warisan orang kafir adalah karena mereka belum mendengar hadits dalam bab ini, dengan bukti mereka tidak menakwilkan hadits ini ketika berpendapat yang berbeda, maka hal ini sebagai udzur kepada Aimah tersebut dan tentu saja orang yang lebih tahu hujjah bagi orang yang belum mendapatkan informasi.

Imam Ibnu Bathool masih di kitab yang sama menambahkan :

قال ابن القصار: والتوارث متعلق بالولاية ولا ولاية بين المسلم والكافر لقوله تعالى: {لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء بعضهم أولياء بعض} [المائدة: 51] يدل أنهم لا يكونون أولياء للكافر فوجب ألا يرثوهم كما لا يرثهم الكافر، وأيضًا فما بين المسلم والكافر أبعدُ مما بين الذمى والحربى فإذا ثبت أن الذمى لا يرث الحربى مع اتفاقهم فى الملة فلأن لا يرث المسلم الكافر أولى لاختلافهما فى الملة.

“Ibnul Qoshoor berkata : ‘pewarisan berkaitan dengan loyalitas, tidak ada loyalitas antara seorang Muslim dengan kafir, berdasarkan Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu)” (QS. Al Maidah : 51). Hal ini menunjukkan bahwa kaum muslimin tidak akan berloyalitas kepada orang kafir, maka wajib untuk mereka tidak mewarisi orang kafir, demikian juga antara seorang muslim dengan orang kafir berbeda jauh dibandingkan kafir dzimiy dengan harbi, jika tsabit bahwa kafir dzimi tidak mewarisi kafir harbi, padalah agamanya sama, maka seorang muslim tidak mewarisi orang kafir lebih utama, karena perbedaan agama mereka”.

Kesimpulannya pendapat yang rajih adalah seorang muslim tidak mewarisi seorang kafir begitu juga sebaliknya seorang kafir tidak mewarisi seorang muslim. Atau dengan bahasa lain perbedaan agama adalah penghalang seorang saling mewarisi.

Berkaitan dengan keputusan MA diatas yang memberikan fatwa ELM yang notabene beragama kafir mendapatkan warisan dari MAR, suaminya yang beragama Islam adalah tidak sesuai dengan syariat Islam. Adapun dalil keputusan ini dengan mengacu kepada fatwa DR. Yusuf Qordhawi, maka ada beberapa point yang perlu diluruskan :

  1. DR. Yusuf Qordhowi -semoga Allah mengampuni dan memberinya jalan lurus- banyak mengeluarkan fatwa-fatwa yang “nyeleneh” dan beliau banyak mengambil fatwa-fatwa yang cenderung mudah tanpa dasar-dasar ilmiyah yang kuat.
  2. Informasi yang penulis dapat bahwa fatwa DR. Yusuf Qordhowi berkaitan dengan warisan seorang muslim dari orang kafir, bukan sebaliknya. Sehingga keputusan MA yang berdalil dengan fatwanya DR. Yusuf Qordhowi salah alamat.
  3. Fatwa bolehnya seorang muslim mewarisi seorang kafir adalah lemah, sebagaimana penjelasannya diatas.
  4. Fatwa MA menyelisihi ijma kaum muslimin, sebagaimana dinukil Imam Ibnu Abdil Bar diatas yang mengatakan seorang kafir tidak boleh mewarisi seorang Muslim.

Adapun dalil mereka dengan undang-undang perkawinan no. 1 tahun 1974, maka seorang mukmin hanya berucap :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS. Al Maidah : 50).

 

Pembahasan Prosentase Warisan

Si mayit dalam hal ini MAR meninggalkan harta yang dapat diwariskan dan meninggalkan ahli waris : Ibu kandung, 3 saudara perempuan dan 1 saudara laki-laki dan tidak memiliki anak. Adapun ELM yang merupakan istrinya tidak dianggap sebagai ahli waris karena beda agama. Terhadap hal ini, pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama Makassar telah memberikan keputusan yang tepat berkaitan ahli waris MAR dengan tidak mengikutkan ELM istri yang kafir.

Adapun pembagian warisannya adalah sebagai berikut :

  • Ibu kandung, bagian warisannya telah disebutkan dalam Al Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 11 :

وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ

“Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam”.

Karena MAR memiliki 4 saudara kandung, maka sang ibu mendapatkan 1/6 dari harta warisan MAR.

  • Saudara kandung, bagian warisannya telah disebutkan dalam Al Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 176 :

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْن

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan”.

Karena MAR tidak meninggalkan anak, maka saudara-saudara kandungnya mendapatkan harta warisan dengan bagian saudara laki-laki dua bagian dari saudara perempuan. Dan warisan mereka semua setelah dikurangi warisan untuk ibu.

  • Seandainya ELM, istri MAR adalah seorang muslimah tentu ia akan mendapatkan bagian yang disebutkan dalam surat An-Nisaa’ ayat 12 :

وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ

“Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan”.

Berdasarkan syariat islam yang tidak mengikutkan orang kafir dalam warisan, maka bagian ibu kandung MAR adalah 1/6 dan sisanya 5/6 dibagi untuk saudara-saudaranya MAR dengan laki-laki mendapatkan 2 bagian dari wanita. Perincian perhitungannya adalah dengan mengunakan factor angka 30. Yaitu :

  • Ibu kandung 1/6 x 30 = 5 bagian atau 16.67 %
  • Saudara perempuan masing-masing 1/6 x 30 = 5 bagian atau 16.67 %
  • Saudara laki-laki 2/6 x 20 = 10 bagian atau 33.32 %

Maka keputusan pengadilan agama dan pengadilan tinggi agama dalam pembagian warisan ini sudah sesuai dengan syariat Islam –Alhamdulillah-.

 

Pembahasan harta Goni-Gini

Dalam Al Qur’an dan as-Sunnah tidak disebutkan pembagian harta antara suami-istri dengan prosentase tertentu pada saat mereka berpisah, karena cerai atau meninggal dunia. Islam mengakui harta masing-masing pihak, harta suami adalah punya suami dan harta istri adalah milik istri. Misalnya bisa saja seorang suami memiliki harta sebelum menikah, maka itu adalah harta suami, begitu juga istri bisa jadi sebelum menikah ia memiliki harta, maka itu tetap menjadi hartanya. Adapun setelah menikah maka suami berkewajiban menafkahi istri dan anak-anaknya dengan memberikan sandang, papan dan pangan. Maka sandang, papan dan pangan yang telah dihibahkan kepada istri atau anak-anaknya, otomatis menjadi harta istri dan anaknya. Namun mungkin saja sepasang suami istri tersebut mendapat harta yang memang dihadiahkan kepada mereka berdua, maka tentunya harta itu adalah milik bersama. Inilah yang disebut dengan harta gono-gini. Karena dalam undang-undang perkawinan pasal 35 ayat 1 didefinisikan “bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama”.

Jika sepasang suami-istri tidak membuat perjanjian untuk memisahkan harta mereka, maka harta yang diperoleh setelah berlangsungnya pernikahan, bisa dianggap sebagai harta bersama dan jika keduanya berpisah, entah karena bercerai atau meninggal dunia, maka hartanya dibagi menjadi 2. Dalam pasal 97 KHI disebutkan :

“Janda atau duda cerai hidup masing-masing berhak seperdua dari harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan

Namun dalam undang-undang perkawinan mengakui adanya bawaan, karena dalam pasal 35 ayat 2 dikatakan :

Harta bawaan dari masing-masing suami dan istri dan harta benda yang diperoleh masing-masing sebagai hadiah atau warisan, adalah dibawah penguasaan masing-masing sepanjang para pihak tidak menentukan lain

Dan pembagian harta bersama juga dapat fleksibel tidak harus separuh-separuh, karena dalam pasal 37 disebutkan :

Bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing

Yang dimaksud hukum masing-masing adalah hukum agama, hukum adat atau hukum lainnya. Bisa saja sepasang suami istri tersebut mengadakan kesepakatan dengan pembagian prosentase tertentu, maka ini dapat mengesampingkan peraturan yang berlaku, namun jika menempuh jalur hukum dengan mengambil hukum agama Islam, maka akan mengacu kepada kompilasi hukum islam (KHI) dimana pada pasal 97 disebut hartanya akan dibagi separuh-separuh.

Dalam kasus MAR dan ELM ini keputusan pengadilan agama, pangadilan tinggi agama dan MA mengacu kepada peraturan tersebut yang membagi menjadi separuh-separuh. Adapun dalam hukum islam maka harta bersama tidak harus dibagi 2, tapi bisa dengan pembagian prosentase yang lebih banyak dari lainnya, sesuai kesepakatan atau keputusan hakim, jika tidak mencapai kata mufakat.

 

Pembahasan masalah Wasiat

Ada beberapa pembahasan berkaitan dengan masalah wasiat, yang pertama adalah masalah rukun dan syarat wasiat. Imam Muhammad bin Abdul Mukmin asy-Syafi’i dalam “Kifaayatul Akhyar” (1/340, Darul Khoir-Damsyiq) menjelaskan rukun wasiyat, kata beliau rukun wasiat adalah :

  1. isi wasiat, maka dipersyaratkan bukan sesuatu yang berupa maksiat, seandainya seorang mewasiatkan untuk membangun gereja, maka hal ini diharamkan.
  2. Orang yang mewasiatkan sah kepemilikan harta yang akan diwasiatkan, berakal dan baligh atau cakap hukum.

Permasalahan berikutnya adalah berkaitan dengan hukum wasiat seorang Muslim kepada orang kafir. Imam Muhammad bin Abdul Mukmin dalam kitab diatas mengatakan :

فَإِذا علم هَذَا فيشرط فِي الْوَصِيّ أُمُور أَولهَا الاسلام فَلَا يجوز أَن يُوصي الْمُسلم إِلَى ذمِّي لِأَن الْوِصَايَة أَمَانَة وَولَايَة فَاشْترط فيهمَا الاسلام

“jika telah diketahui hal tersebut, maka dipersyaratkan dalam masalah wasiat beberapa perkara, yang pertama adalah islam, maka tidak boleh seorang muslim mewasiatkan kepada kafir dzimiy, karena wasiat adalah amanah dan loyalitas, maka dipersyaratkan pada keduanya islam”.

Namun Syaikh Muhammad bin Sholih al-Munajid dalam fatawanya mengatakan bolehnya seorang Muslim mewasiatkan kepada orang kafir demikian teks fatwanya :

سؤال رقم 2722- حكم وصية المسلم للكافر والكافر للمسلم

ما حكم وصية المسلم للكافر بأن يجعل له شيئا من ماله أقلّ من الثلث وما حكم العكس أي هل يقبل المسلم مالا من كافر إذا أوصى إليه ؟

الجواب:

الحمد لله

يتفق الفقهاء المسلمون من الحنفية والحنابلة وأكثر الشافعية على صحة الوصية إذا صدرت من مسلم لذميّ ، أو من ذمي لمسلم ، بشروط الوصية الشّرعية ، واحتجوا لذلك بقوله تعالى : ( لا ينهاكم الله عن الذين لم يقاتلوكم في الدين ولم يخرجوكم من دياركم أن تبروهم وتقسطوا إليهم إن الله يحب المقسطين ) سورة الممتحنة /8 ، ولأن الكفر لا ينافي أهلية التملك ، وكما يصح بيع الكافر وهبته فكذلك تصحّ وصيته .

ورأى بعض الشافعية أنها إنما تصح للذمي إذا كان معيّناً ، كما لو قال : أوصيت لفلان ، أما لو قال : أوصيت لليهود أو للنصارى .. فلا تصح ، لأنه جعل الكفر حاملاً على الوصية ، أما المالكية فيوافقون من سواهم على صحة وصية الذمي لمسلم ، أما وصية المسلم لذمي فيرى ابن القاسم وأشهب الجواز إذا كانت على وجه الصّلة ، بأن كانت لأجل القرابة ، وإلا كُرهت ، إذ لا يوصي للكافر ويدع المسلم ، إلا مسلم مريض الإيمان . الموسوعة الفقهية 2/312

واليوم نرى بعض المسلمين مع الأسف وخصوصا من المقيمين في بلاد الكفار يوصون بمبالغ طائلة من أموالهم لجمعيات نصرانية أو يهودية أو غيرها من جمعيات الكفار بحجة أنها جمعيات خيرية أو تعليمية أو إنسانية ونحو ذلك مما لا وجه لانتفاع المسلمين به ، ولا ينتفع بهذه المبالغ إلا الكفّار ويتركون إخوانهم المسلمين المضطهدين والمشردين والجياع في العالم دون إعانة ولا إغاثة وهذا من ضعف الإيمان ومن علامات انحلاله وهو كذلك من دلائل الولاء للكفّار ومجتمعاتهم الكافرة والإعجاب بهم نسأل الله السلامة والعافية وصلى الله على نبينا محمد .

الإسلام سؤال وجواب

الشيخ محمد صالح المنجد

Soal : apa hukum wasiat seorang muslim kepada orang kafir, yang mana ia mewasiatkan hartanya kurang dari sepertiga dan bagaimana hukum kebalikannya yakni seorang Muslim meneriwa harta dari orang kafir yang berwasiat kepadanya?

Jawab : para fuqoha kaum muslimin dari hanafiyah, hanabilah dan kebanyakan syafi’iyah mengatakan sahnya wasiyat dari seorang muslim kepada kafir dzimiy atau kafir dzimi kepada muslim dengan syarat-syarat wasiyat yang syar’I, mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah : 8). Karena orang kafir tidak menafikan kecakapan dalam kepemilikan. Sebagaimana sahnya jual beli orang kafir dan hibahnya, maka demikian juga sah wasiatnya.

Sebagian syafi’iyah berpendapat bahwa wasiat yang sah kepada dzimiy, jika disebutkan secara personal orangnya, seperti ia berkata : ‘aku wasiatkan kepada fulan’. Adapun jika ia mengatakan : ‘aku wasiatkan kepada yahudi atau nashroni.. maka tidak boleh, karena menjadikan orang kafir sebagai pembawa wasiat. Adapun Malikiyyah mereka bertawaquf sama saja apakah wasiat seorang muslim kepada orang kafir dzimiy atau dzimiy kepada muslim. Ibnul Qosim dan Asyhab (dari malikiyyah) berpendapat bolehnya jika hal tersebut bertujuan untuk menyambung tali silaturahmi, karena untuk pendekatan diri, jika tidak seperti maka dimakruhkan, yang mana tidaklah seorang berwasiat kepada orang kafir dan meninggalkan muslim, kecuali seorang muslim yang sakit imannya (al-Maushu’ah al-Fiqhiyah (2/312).

Pada hari ini kita melihat sebagian kaum muslimin sangat disayangkan, terlebih lagi mereka yang tinggal di neferi-negeri kafir, mewasiatkan hartanya kepada yayasan nashroni atau yahudi atau selainnya dari yayasan-yayasan kafir dengan dalil bahwa yayasan tersebut adalah yayasan kebaikan, pengetahuan atau kemanusian dan yang semisalnya yang mana mereka tidak bermanfaat bagi kaum muslimin. Hal ini tidak bermafaat kecuali menambah kekafiran mereka saja, dan hal tersebut mengabaikan saudara muslim yang ditimpa kesulitan, kelaparan di seluruh dunia tanpa memberikan kepada mereka bantuan dan pertolongan, ini adalah bersumber dari kelemahan iman dan tanda berkurangnya dan juga tanda loyalitasnya kepada orang kafir dan kelompok kufar. Kita memohon kepada Allah keselamatan dan afiyat dari perkara yang menakjubkan ini, sholawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu ‘alaihi wa salaam.

Pembahasan ketiga berkaitan dengan hukum wasiat. Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri dalam “Fiqih alaa madzhabil arba’ah”  mengatakan bahwa dalam madzhab syafi’I hukum wasiat sebagai berikut :

الشافعية – قالوا : الوصية باعتبار الأحكام الشرعية إلى خمسة أقسام :

 القسم الأول : الوصية الواجبة وهي الوصية بما عنده من ودائع وديون معلومة فيجب عليه أن يوصي بها ولو لم يكن مريضا حتى لا تضيع حقوق الناس بموته فجأة

 القسم الثاني : الوصية المحرمة كما إذا أوصى مشاغب بحيث إذا جعل له حق في التركة أفسدها

 القسم الثالث : الوصية المكروهة وهي ماكانت بأكثر من ثلث المال أو كانت لوارث

 القسم الرابع : الوصية المستحبة استحبابا مؤكدا وهي ما استوفت الشرائط ولم تكن واجبة أو محرمة أو مكروهة كالوصية لغير الوارث المستقيم العقل والوصية للفقراء والمساكين ونحو ذلك

 القسم الخامس : الوصية المباحة كالوصية للأغنياء

Syafi’iyah berkata : wasiat ditinjau dari hukum syar’I terbagi menjadi 5 macam :

  1. Wasiat wajib yaitu wasiat yang berupa amanat, hutang-hutang yang diketahui, maka wajib untuk berwasiat, sekalipun tidak dalam kondisi sakit, hingga tidak menyia-nyiakan hak orang lain dengan kematiannya yang tiba-tiba.
  2. Wasiat haram, sebagaimana jika berwasiat maka menjadikan hak orang yang tidak mendapatkan wasiat menjadi rusak.
  3. Wasiat makruh, yaitu wasiat yang lebih dari sepertiga harta atau untuk ahli warits.
  4. Wasiat mustahab, yaitu yang kuat anjurannya yaitu yang memenuhi syarat-syaratnya dan bukan sesuatu yang wajib atau haram atau makruh, seperti wasiat kepada selain ahli warits yang lurus akalnya dan wasiat kepada orang miskin dan semisalnya.
  5. Wasiat mubah, seperti wasiat kepada orang kaya.

Ini adalah hukum ditinjau dari sisi isi atau kandungan wasiat itu sendiri, adapun berkaitan dengan wasiat dari sisi memberikan harta kepada seorang yang diwasiati, maka pembahasannya adalah jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukumnya sunnah seorang mewasiatkan hartanya, ini adalah pendapatnya ulama 4 madzhab, ats-Tsauri, asy-Sya’bi dan Ibrohim an-Nakho’i, mereka berdalil bahwa kebanyakan sahabat Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tidak dinukil dari mereka adanya wasiat, seandainya perkara tersebut wajib tentu akan dinukil kepada kita dengan penukilan yang gamblang, karena wasiat adalah pemberian, maka hal tersebut tidak wajib ketika seorang masih hidup, maka tidak wajib juga setelah meninggal dunia. Kemudian mereka menganjurkan wasiat dengan harta jika memiliki harta, sebagaimana firman-Nya :

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya” (QS. Al Baqoroh : 180).

Lalu kewajiban dalam ayat ini dimansukh dengan datangnya ayat tentang warisan. Namun wasiat masih tetap mustahab kepada karib kerabat yang tidak mendapatkan warisan, karena Nabi sholallahu alaihi wa salam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، أَلَا لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

“Sesungguhnya Allah memberikan kepada yang berhak haknya, maka ketahuilah tidak ada wasiat kepada ahli waris” (HR. Ibnu Majah dan selainnya, dishahihkan oleh Imam Al Albani).

Sebagian ulama seperti Masruuq, Qotadah, ath-thobari berpendapat bahwa wasiat wajib kepada kerabat yang tidak menerima warisan dalil mereka adalah ayat yang mulia diatas dan sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodhiyallahu anhu :

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَه

“tidak ada hak seorang Muslim yang memiliki wasiat, ia bermalam selama 2 malam, kecuali wasiatnya sudah tertulis disisinya” (muttafaqun alaih).

Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan bahwa Ibnu Umar rodhiyallahu anhu berkata :

مَا مَرَّتْ عَلَيَّ لَيْلَةٌ مُنْذُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ إِلَّا وَعِنْدِي وَصِيَّتِي

“saya tidak melewatai suatu malam pun semenjak saya mendengar sabda Nabi sholallahu alaihi wa salam tersebut, kecuali aku sudah mempersiapkan wasiatku”.

Namun pendapat yang rajih adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan wasiat harta adalah sunnah, karena hak-hak harta telah ditetapkan dalam warisan ketika seorang meninggal dunia dengan membawa harta. Seandainya wasiat wajib tentu para sahabat akan membuat wasiat dan tentunya akan dinukilkan kepada kita, namun ternyata tidak dinukilkan kepada kita wasiat-wasiat tersebut, kecuali dari beberapa orang saja.

Kembali kepada studi kasus kita, maka keputusan MA yang memberikan bagian harta MAR kepada ELM dengan menganggap hal itu sebagai wasiat wajibah. Wasiat wajibah yang dimaksud dalam Kompilasi hukum Islam (KHI) adalah disebutkan dalam pasal 209 KHI secara implisit yakni terkandung didalamnya 3 unsur :

  1. Subyek hukumnya adalah anak angkat terhadap orang tua angkat atau sebaliknya.
  2. Tidak diberikan atau dinyatakan oleh pewaris kepada penerima wasiat secara tegas dan jelas, akan tetapi dilakukan oleh negara.
  3. Bagian penerima wasiat tidak boleh melebihi 1/3 harta peninggalan warisan.

Jadi konsep wasiat wajibah dalam peraturan negara kita adalah tindakan dari penguasa yang diwakili hakim untuk memberikan bagian warisan kepada anak angkat atau orang tua angkat yang tidak melebihi 1/3 harta peninggalan warisan, sekalipun pewaris tidak pernah menyatakannya sepanjang hidupnya. Kemungkinan konsep ini diadopsi dari undang-undang Mesir yang menyebutkan wasiat wajibah untuk menyelesaikan kasus-kasus masalah kerabat yang tidak mendapatkan warisan. Sekalipun dinegara kita mayoritas kaum musliminnya menggunakan madzhab Syafi’i dimana madhzab tersebut memandang bahwa wasiat harta adalah sunnah, maka jika seorang tidak membuat wasiat, tentu tidak boleh diambil dari hartanya sebagai wasiat. Dalam kasus kita ini, maka seharusnya ELM tidak mendapatkan bagian warisan, karena ia seorang kafir yang terhalangi menerima warisan dan tidak ada wasiat dari MAR sebagai pewaris kepadanya.

Namun atas pertimbangan tertentu, yang penulis tidak mengetahuinya, pemerintah Mesir yang kemudian diikuti juga oleh pemerintah kita dalam masalah wasiat wajibah ini berpegang kepada pendapatnya Imam Ibnu Hazm yang merupakan pembawa madhzab dhohiri. Beliau berkata dalam “al-Muhalla” (masalah no. 1753) :

مَسْأَلَةٌ: وَفَرْضٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يُوصِيَ لِقَرَابَتِهِ الَّذِينَ لا يَرِثُونَ، إمَّا لِرِقٍّ، وَإِمَّا لِكُفْرٍ، وَإِمَّا لأَنَّ هُنَالِكَ مَنْ يَحْجُبُهُمْ عَنْ الْمِيرَاثِ أَوْ لأَنَّهُمْ لا يَرِثُونَ فَيُوصِي لَهُمْ بِمَا طَابَتْ بِهِ نَفْسُهُ، لا حَدَّ فِي ذَلِكَ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ أُعْطُوا وَلا بُدَّ مَا رَآهُ الْوَرَثَةُ، أَوْ الْوَصِيُّ.

فَإِنْ كَانَ وَالِدَاهُ، أَوْ أَحَدُهُمَا عَلَى الْكُفْرِ، أَوْ مَمْلُوكًا فَفَرْضٌ عَلَيْهِ أَيْضًا أَنْ يُوصِيَ لَهُمَا، أَوْ لأَحَدِهِمَا إنْ لَمْ يَكُنْ الآخَرُ كَذَلِكَ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ أُعْطِيَ، أَوْ أُعْطِيَا مِنْ الْمَالِ وَلا بُدَّ، ثُمَّ يُوصِي فِيمَا شَاءَ بَعْدَ ذَلِكَ.

“wajib atas setiap muslimin untuk berwasiat kepada kerabatnya yang tidak menerima warisan, hal dilakukan untuk menyambung tali silaturahmi atau untuk orang kafir dan bisa jadi mereka adalah orang-orang yang terhalangi dari mendapatkan bagian warisan atau bahwa mereka memang tidak berhak mendapatkan warisan, maka muslim tadi berwasiat kepada mereka dengan kebaikan hatinya, tidak ada batasan tertentu. Jika si muslim tidak membuat wasiat, maka mereka semua diberikan harta yang harus memperhatikan ahli warisnya atau wasiat.

Jika kedua orang tuanya atau salah satunya beragama kafir (non Muslim) atau sebagai budak (sehingga menghalangi warisan-pent.), maka wajib juga bagi si Muslim untuk berwasiat kepada keduanya atau salah satunya tersebut, jika tidak ada orang lain yang kondisinya seperti itu. Jika si muslim tidak berwasiat, maka diberikan hartanya kepada mereka atau kedua orang tuanya diberi harta dan ini adalah keharusan, lalu diwasiatkan kepada siapa saja setelahnya”.

Namun entah mengapa dalam KHI wasiat wajibah ini dibatasi hanya kepada anak angkat dan ayah angkat saja dengan pembagian tidak boleh lebih dari 1/3 harta peninggalan warisan. Adanya keputusan MA yang memberikan ELM bagian warisan adalah ‘ijtihad’ majelis hakim yang memberikan keputusan tanpa adanya dasar dari hukum positif apalagi hukum Islam. Majelis hakim melakukan kewenangannya untuk berijtihad dengan membuat keputusan diluar aturan baik hukum positif apalagi syariat Islam.

Pendapat Imam Ibnu Hazm yang mewajibkan seorang yang tidak berwasiat kepada kerabatnya untuk diambil hartanya ‘secara paksa’ adalah pendapat yang lemah dari sisi :

  1. Tidak ada dalil dari Kitabullah, sunnah Nabi dan atsar para sahabat yang secara tegas menunjukkan adanya pengambilan secara paksa harta pewaris kepada kerabat yang tidak menerima waris, dan juga tanpa adanya wasiat. Padahal biasanya Imam Ibnu Hazm berpegang dengan dhohirnya nash dan yang mengherankan beliau berisyarat dengan qiyas bolehnya shodaqoh dari harta warisan, sekalipun pewaris tidak menyebutkan dalam wasiat, padahal beliau adalah ulama anti qiyas.
  2. Atsar-atsar yang dinukil Imam Ibnu Hazm dari ulama salaf adalah pendapat mereka yang mewajibkan wasiat kepada kerabat dan telah berlalu bahwa pendapat ini menyelisihi mayoritas ulama yang menganggap sunahnya wasiat harta.
  3. Ayat tentang wasiat telah dinasakh (dihapus hukumnya) dengan ayat-ayat tentang pembagian warisan, maka syariat telah menunaikan hak-hak orang yang seharusnya mendapatkan hak dari harta warisan.
  4. Setelah syariat menghalangi beberapa jenis ahli waris untuk menerima warisan karena alasan-alasan tertentu seperti kekafiran, perbudakan dan pembunuhan, maka dengan alasan wasiat ini semuanya jadi mendapatkan pembagian, maka tentu ini akan menyia-nyiakan hukum syar’i terhadap penghalang tersebut.
  5. Adanya penghalang warisan yang dibuat oleh syari’at kepada mereka yang seharusnya berhak mendapatkan warisan adalah terdapat hikmah dibalik itu semua, -wallahu A’lam- bisa jadi ini sebagai hukuman kepada ahli waris yang melakukan perkara yang menghalangi warisan, seperti pembunuhan kepada pewaris, atau kekafiran. Karena dengan adanya kekafiran memutuskan hubungan kekeluargaan. Nabi Nuh alaihi salam ketika dijanjikan oleh Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa ketika banjir besar melanda negerinya, bahwa semua keluarganya akan diselamatkan, maka Nabi Nuh alaihi salam memohon kepada Allah agar anaknya yang tidak mau bergabung didalam kapalnya juga diselamatkan, namun Allah mengatakan bahwa anaknya bukan termasuk keluarganya. Firman-Nya :

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ (45) قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46)

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan” (QS. Huud : 45-46).

6. Pendapat Imam Ibnu Hazm bahwa kedua orang tua yang kafir wajib diberikan wasiat, bertentangan dengan sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam :

“tidak ada wasiat bagi ahli waris”

Sedangkan kedua orang tua yakni Ibu Bapak adalah termasuk ahli waris mayit. Adapun karena kekafirannya kemudian keduanya atau salah satunya terhijab dari menerima warisan adalah kesalahan dan hukuman kepada mereka yang lebih memilih kufur daripada iman.

وَقُلِ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكُمْ فَمَنْ شَاءَ فَلْيُؤْمِنْ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا

“Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.” Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka” (QS. Al Kahfi : 29).

7. Harta seorang muslim adalah haram dan terjaga, tidak boleh seseorang sewenang-wenang terhadap harta kaum muslimin. Ini adalah sesuatu yang diharamkan atas sesama muslim, maka bagaimana lagi harta seorang muslim dihadapan orang kafir, tentu lebih haram dan terjaga. Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ، وَأَمْوَالَكُمْ، وَأَعْرَاضَكُمْ، بَيْنَكُمْ حَرَامٌ

“sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian diantara kalian adalah haram” (muttafaqun alaih).

Maka harta seorang muslim tidak boleh diambil paksa kecuali jika memang dibenarkan oleh syariat.

Sehingga berdasarkan pemaparan diatas keputusan Mahkamah Agung (MA) yang memberikan bagian warisan kepada ELM padahal berbeda agama dengan MAR menyalahi syari’at islam dari sisi :

  1. Tidak bolehnya seorang kafir mewarisi harta seorang muslim.
  2. Tidak boleh wasiat kepada ahli waris, seandainya seorang muslim mewasiatkan sejumlah harta kepada ahli warisnya hal ini tidak diperbolehkan kecuali dengan ijin ahli waris lainnya, apalagi dalam hal ini tidak ada wasiat dari pewaris.
  3. Wasiat wajibah adalah pendapat yang lemah menurut mayoritas fuqoha 4 madzhab, sedangkan kaum muslimin di Indonesia kebanyakan menggunakan madzhab Syafi’I yang berpendapat sunahnya wasiat jika dimutlakkan.
  4. Seandainya ahli warits dihukumi mendapatkan wasiat, maka itu atas sepertujuan ahli warits lainnya. Diriwayatkan bahwa Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ إلَّا أَنْ يُجِيزَ الْوَرَثَةُ

“Tidak boleh wasiat kepada ahli warits, kecuali jika diijinkan oleh ahli warits (lainnya)” (HR. Daruquthni, Imam Dzahabi berkata : ‘sholihul isnad (hasan haditsnya), namun Imam Baihaqi berkata : ‘sesungguhnya ‘Athoo’, salah satu perowinya tidak kuat dan tidak pernah berjumpa dengan Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu perowi hadits ini. Imam Al Albani mendhoifkan hadits ini)

Sekalipun hadits ini lemah, namun para ulama bersepakat mengamalkan tambahan ini. Imam Ibnul Mundzir dalam “al-Ijmaa” (1/21) berkata :

وأجمعوا على أنه لا وصية لوارث إلا أن يجيز ذلك

“para ulama bersepakat bahwa tidak boleh wasiat kepada ahli waris, kecuali jika diijinkan hal tersebut (oleh ahli waris lainnya-pent.)”.

maka hendaknya pemberian wasiat kepada ahli waris harus mendapatkan persetujuan dari ahli waris lainnya.

Akhir dari kesimpulan pembahasan ini adalah semoga kita mendapatkan keadilan penerapan hukum Islam sesuai dengan syariat aslinya, dan mendorong kaum Muslimin menerapkan hukum Islam dalam diri mereka masing-masing. Pada akhirnya tulisan ini hanya pendapat pribadi penulis semata dan keputusan hukum tetaplah sebagai keputusan suka atau tidak suka. Wallahul musta’aan.

Advertisements

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: