HUKUM MUALAQ DALAM KITAB SHAHIH

February 25, 2014 at 11:46 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

HUKUM MUALAQ DALAM SHAHIHAIN

 

Hadits Mualaq adalah hadits yang gugur perowi di awal sanadnya. Maka mualaq sendiri termasuk hadits yang munqothi (terputus sanadnya). Keterputusan ini ada beberapa bentuk :

  1. Keterputusannya di awal sanad, maka inilah yang disebut hadits mualaq.
  2. Keterputusannya di akhir sanad, maka ini disebut hadits mursal.
  3. Keterputusannya di tengah sanad, namun satu orang atau lebih dari satu perowi tapi tidak berurutan, maka ini yang disebut hadits munqothi.
  4. Keterputusannya lebih dari satu perowi dan secara berurutan, maka ini yang disebut dengan hadits mu’dhol.

Khusus untuk hadits mualaq yang ada dalam shahih Bukhori dan Muslim, maka para ulama telah mengadakan penelitian dan kesimpulan dari penelitian tersebut, akan kami ambil dari penjelasan Syaikh Robii’ bin Hadi al Madkholiy yang pernah ditanya dengan pertanyaan berikut :

الجواب: المعلقات في البخاري بعض الناس يعتقدون أنّ كل ما علّقه بصيغة الجزم فهو صحيح إلى ذلك المعلق عنه, وما علّقه بصيغة التضعيف فهو ضعيف ,لكن الحافظ ابن حجر العليم بهذه الأمور أكثر من غيره يرى أنّ فيما روي بصيغة الجزم قد يكون فيه الضعيف و ضرب لذلك أمثلة ,وما روي بصيغة التمريض قد يكون فيه الصحيح ,وتكون روايته له بصيغة التمريض لا من أجل ضعفه و إنّما لأجل أنّه رواه بالمعنى ,أو تصرف فيه هذا فيما يتعلق بالمعلقات في البخاري. و أثبتوا له في الصحة إلى من علق عنه هذا الأثر ويبقى النظر في من بعد هذا. وتعرفون أنّ الحافظ رحمه الله في فتح الباري يصل بعض المعلقات وفي» تغليق التعليق «يصل بعض المعلقات ,وأنا أقول بناء على هذه القاعدة لا أذكر الآن حديثاً عجز الحافظ عن تغليقه ,ما أذكر, لكن لو فرض أنّه عجز عن تغليقه ,فيكون حكمه حكم المراسيل

والمقاطيع وما شاكل ذلك يحكم عليها بالضعف ,لأننا لماذا نحكم على المرسل بالضعف والمنقطع؟ للجهل بحال الراوي , الساقط هذا قد يكون ثقة وقد يكون ضعيفا وقد يكون كذّابا إلى آخره , فنجهل حاله فلا نحكم له بالصحة إلاّ إذا عرفنا حال راويه وأنّه من الثقات أو على الأقلّ ممّن تقبل روايته كراوي الحسن وما شاكل ذلك , إذا لم نجد فلا يكلّف الله نفسا إلاّ وسعها , نمشي على هذه القواعد ونعامله كمعاملة المراسيل ونحكم عليه بالضعف.

Jawab : Hadits-hadits Mualaq dalam shahih Bukhori, sebagian ulama berkeyakinan bahwa semua yang dimualaqkan dengan bentuk kalimat jazm/pasti (aktif) maka statusnya shahih dan apa yang dimualaqkan dengan bentuk kalim tadh’if, maka statusnya dhoif. Namun Al Hafidz Ibnu Hajar yang pakar dalam masalah ini, dibandingkan ulama lainnya, berpendapat bahwa mualaq yang diriwayatkan dengan  bentuk kalimat aktif, terkadang statusnya dhoif (lemah), dan Ibnu Hajar menyebutkan beberapa contoh, dan mualaq yang diriwayatkan dengan bentuk kalimat pasif, terkadang statusnya shahih. Riwayat yang menggunakan bentuk kalimat pasif bukan karena kelemahannya, hanyalah hal tersebut dilakukan karena diriwayatkan secara makna atau ini adalah apa yang terjadi dalam mualaq yang ada di shahih Bukhori dan mereka menetapkan keshahihannya ketika melihat siapa yang memualaqkan atsar ini, dengan tetap memperhatikan kondisinya.

Kalian mengetahui bahwa Al Hafidz dalam Fathul Bari menyambungkan sebagian hadits-hadits mualaq ini, begitu juga dalam kitabnya Taghliqut Ta’liiq. Saya katakan berdasarkan kaedah ini, aku tidak menyebutkan sekarang sebuah hadits yang dilemahkan oleh Al Hafidz dalam kitab Taghliqnya, namun jika memang beliau melemahkannya dalam kitab taghliqnya, maka hukumnya adalah hukum hadits mursal dan munqothi’ dan tidak mengapa untuk menghukuminya sebagai hadits dhoif, karena kenapa kita menghukumi hadits mursal dan muqothi sebagai hadits dhoif? (jawabannya) karena ketidaktahuan kondisi perowinya, apakah yang digugurkan tersebut tsiqoh atau dhoif dan terkadang seorang pendusta dan yang semisalnya, maka ketidaktahuan kondisinya, tidaklah kita hukumi haditsnya dengan keshahihan, kecuali jika kita mengetahui kondisi rowinya, bahwa ia seorang yang tsiqoh atau minimalnya perowi yang diterima riwayatnya, seperti perowi hasan dan yang sejenisnya. Jika kita tidak mendapatkan seperti itu, Allah tidak membebani seseorang, kecuali apa yang telah diusahakannya, maka kita berjalan diatas kaedah ini dan kita menghukumi hadits tersebut, seperti hadits mursal yang dihukumi sebagai hadits dhoif. (dinukil dari transkip ceramah Syaikh Robii’ via Syamilah).

 

Hal senada disampaikan juga oleh Syaikh Abul Hasan Musyhofa Al Ma’ribi dalam kitabnya “Ittihaafun Nabiil” (1/315-317) :

Soal : Apa pendapat yang rajih (kuat) tentang hadits-hadits mualaq dalam Ash-Shahiih, apakah dapat dijadikan hujjah atau tidak?

Jawab : kebanyakan ulama membedakan mualaq yang berupa bentuk kalimat aktif dan bentuk kalimat pasif, mereka berkata : ‘dijadikan hujah apa yang diriwayatkan oleh penulis kitab shahih berupa hadits mualaq yang datang dengan bentuk kalimat aktif dan dilemahkan apa yang diriwayatkan berupa mualaq dengan bentuk kalimat pasif.  Menurutku tidak semua mualaq dengan bentuk kalimat aktif yang dijadikan hujjah dan tidak semua mualaq dengan bentuk kalimat pasif, tidak dijadikan hujjah, karena ternyata sebagian yang datang berupa kalimat aktif, ada yang tidak dapat dijadikan hujjah, misalnya dalam kitabul ilmu dalam shahih Bukhori yaitu ucapan Abu Dzar rodhiyallahu anhu : ‘seandainya kalian meletakkan pedang disini –yakni di lehernya- … sampai akhir atsar. Imam Bukhori meriwayatkan dengan sighot aktif, sekalipun atsar ini tidak dapat dijadikan hujjah, aku telah menjelaskannya dalam tahqiqku terhadap Al Fath yang berjudul ‘Tuhfatul Qoori bidiraasati wa tahqiiqi fathil baariy’, aku memohon kepada Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa untuk memudahkan penyempurnaannya dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

Al Hafidz telah menjelaskan dalam mukadimah Taghliqut Ta’liq kondisi-kondisi hadits mualaq yang berupa bentuk kalimat pasif, beliau menjelaskan bahwa didalamnya ada juga yang dapat dijadikan hujjah dan ada yang tidak seperti itu, beliau menyebutkan dalam Al Fath (2/105) ucapan yang umum, dan tidak dimaksudkan dengannya hadits-hadits mualaq ash-Shahih, beliau berkata : ‘sesungguhnya bentuk kalimat pasif digunakan dalam ash-Shahih, berbeda dengan penggunaan bentuk kalimat aktif, ini adalah khusus penggunaan tidak sebagaimana dalam tempat lain. Sebagian ulama membantah pihak-pihak yang menerima hadits-hadits mualaq dengan bentuk kalimat aktif dengan alasan bahwa ulama tidak berhujjah dengan tautsiq mubham (yang tidak disebutkan namanya), maka barangsiapa mengatakan ‘haddatsani tsiqoh’, tidak diterima riwayatnya, hingga ia menjelaskan nama perowi yang dapat diketahui, apakah ia benar-benar tsiqoh atau ada jarh, selain dari orang yang mengatakan haddatsani tsiqoh tadi.

Maksimal kondisi pen-jazm-an Bukhori dalam hadits-hadits mualaqnya adalah seperti tautsiq kepada perowi mubham, maka tidak diterima begitu saja. Pendapat yang diriku merasa tenang denganya bahwa harus tetap dilakukan pembahasan dan penelitian sanadnya, lalu dihukumi sesuai dengan kondisinya, memang betuk apa yang berupa kalimat aktif, maka mayoritas kondisinya adalah tsabit/shahih dibandingkan dengan yang berupa kalimat pasif. Wallahu A’lam. Penulis.

Kesimpulan :

  • Bentuk kalimat aktif adalah seperti dikatakan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam ‘Baitsul Hatsiis’, sebagaimana dinukil oleh pentaliq kitab Ittihaafun Nabiil yakni : roowa (ia telah meriwayatkan), Jaa’a (telah datang riwayat…) dan ‘an (dari). Sedangkan bentuk kalimat pasif seperti : ruwiya ‘an (diriwayatkan dari), yudzkaru (disebutkan dari…) dan sejenisnya.
  • Mualaq dalam kitab shahih, seperti shahih Bukhori tetap harus dilakukan pembahasan sanadnya dari jalan lain, kemudian dihukumi berdasarkan kondisi sanad tersebut.
  • Penghukuman hadits mualaq dengan bentuk kalimat aktif sebagai hadits shahih dan jika dengan bentuk kalimat pasif sebagai hadits dhoif, adalah melihat kepada kondisi keumumannya atau kebanyakan, setelah para ulama melakukan penelitian terhadap sanadnya, namun bukan sebagai kaedah yang baku dalam artian jika bentuk kalimatnya aktif berarti haditsnya shahih dan jika dengan bentuk kalimat pasif berarti haditsnya lemah.
Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: