BERTAWASULAH DENGAN JAH NABI

March 31, 2014 at 4:29 pm | Posted in Aqidah, Hadits | Leave a comment

TAKHRIJ HADITS TAWASUL DENGAN JAH NABI

 

Para penggemar bid’ah berdalil dengan sesuatu yang dikatakan sebagai hadits Nabi sholallahu alaihi wa salam, yakni dikatakan bahwa beliau bersabda :

توسلوا بجاهي فإن جاهي عند الله عظيم

“bertawasulah dengan Jahku, karena jahku disisi Allah adalah agung”.

Komentar ulama terhadap hadits ini :

  1.      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

وهذا الحديث كذب ليس في شيء من كتب المسلمين التي يعتمد عليها أهل الحديث ولا ذكره أحد من أهل العلم بالحديث مع أن جاهه عند الله تعالى أعظم من جاه جميع الأنبياء والمرسلين

“ini adalah hadits dusta, tidak ada dalam kitab-kitab kaum muslimin yang dijadikan pegangan oleh ahli hadits, tidak juga disebutkan oleh ulama hadits, sekalipun jah Nabi sholallahu alaihi wa salam disisi Allah Subhanaahu wa Ta’aalaa adalah agung dibandingkan jahnya para Nabi dan Rasul”.

  1.      Imam al-Khothobiy dalam “al-Ghunyah” (1/65) berkata :

Continue Reading BERTAWASULAH DENGAN JAH NABI…

Advertisements

PENDAPAT SYAIKH YAHYA AL HAJURI TENTANG TAUTSIQ IMAM AL BAZAR DAN IMAM DARUQUTHNI

March 31, 2014 at 3:44 pm | Posted in Mustholah Hadits | 1 Comment

PENDAPAT SYAIKH YAHYA AL HAJURI TENTANG

TAUTSIQ IMAM AL BAZAR DAN IMAM DARUQUTHNI

 

Soal ke-4 : semoga Allah menjaga antum dan Jazakumullah khoir. Az-Zarkasyi menukilkan dalam “an-Nukat alaa Mukadimah Ibnu Sholaah” (2/276), tentang al-Bazaar dan ad-Daaruquthniy bahwa keduanya berpendapat perowi yang diriwayatkan oleh 2 orang tsiqoh, maka telah terangkat kemajhulannya dan telah tetap keadilannya, maka ini adalah ungkapan yang menunjukkan ketasahulan mereka dalam mentautsiq perowi majhul. Pertanyaannya adalah jika al-Bazar atau ad-Daaruquthniy bersendirian dalam mentautsiq seorang perowi dan kita tidak mendapatkan ucapan ulama lainnya, apakah diterima tautsiq mereka berdua?

Jawab :

 yang kami tahu bahwa ad-Daaruquthni dan al-Bazaar tautsiq mereka berdua adalah mu’tabar dan diterima, sekalipun tidak didapati kecuali adanya tautsiq dari salah satu mereka terhadap seorang perowi. Ini mu’tabar menurut sebagian Aimah. Istilah diatas bukan maksudnya seperti itu, yakni seandainya tidak ada yang mentautsiq kecuali mereka berdua berarti diterima, namun ini adalah seperti penyebutan 2 orang tentang keadilannya dan 2 orang mentautsiqnya dari kalangan Aimah hadits. Lalu engkau mendapatinya sebagai perowi adil dan ini tidak seperti kaedah tersebut, hanyalah ini ungkapan dari isyarat kepada bahwa jika engkau membahas dan mendapati orang yang diriwayatkan darinya oleh 2 ulama atau lebih yang tsiqoh, seperti Syu’bah dan Sufyaan bahwa mereka telah ditautsiq. Continue Reading PENDAPAT SYAIKH YAHYA AL HAJURI TENTANG TAUTSIQ IMAM AL BAZAR DAN IMAM DARUQUTHNI…

ALASAN TASAAHULNYA IMAM DARUQUTHNI

March 31, 2014 at 3:18 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

IMAM DARUQUTHNI MUTASAAHIL?

 

Salah satu cara untuk mengetahui seorang ulama disifati dengan tasahul atau tidak dengan melihat kaedah ulama tersebut. Imam Sakhowiy berkata dalam “Fathul Mughiits” (3/376) :

وعبارة الدارقطني من روى عنه ثقتان فقد ارتفعت جهالته وثبتت عدالته

“ungkapan ad-Daruquthni adalah perowi yang memiliki 2 orang murid tsiqoh, maka telah terangkat kemajhulannya dan telah tetap keadilannya”.

Hal ini bertentangan dengan kaedah jumhur ulama yang mengatakan bahwa perowi yang diriwayatkan oleh 2 orang tsiqoh, hanya mengangkat kemajhulan ainnya menjadi majhul haal, namun keadilannya belum tsabit. Imam Al-Khoothiib al-Baghdaadiy berkata dalam “al-Kifaayah” :

وأقل ما ترتفع به الجهالة أن يروي عن الرجل اثنان فصاعدا من المشهورين بالعلم كذلك. Continue Reading ALASAN TASAAHULNYA IMAM DARUQUTHNI…

PENDAPAT IMAM AL ALBANI TENTANG TASAAHULNYA IMAM AL BAZAR

March 31, 2014 at 1:20 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

Imam Al Albani dalam (adh-Dhoifah no. 6592) berkata

قلت: البزار يتساهل في التوثيق

al-Bazaar tasaahul dalam tautsiq.

IMAM AL BAZAR MUTASAAHIL?

March 31, 2014 at 1:03 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

IMAM AL BAZAAR DAN IMAM DARUQUTHNI MUTASAAHIL?

 

Soal : para ulama  menyebutkan kaedah Ibnu Khuzaimah dan muridnya Ibnu Hibban dalam mentautsiq para perowi majhul, kemudian as-Sakhowiy –Rahimahullah- memasukkah ad-Daruquthni dan al-Bazaar bahwa mereka berdua mentautsiq perowi jika memiliki 2 orang murid. Maka apakah penilaian kepada seorang perowi yang tidak disana tautsiq kecuali dari ad-Daruquthni dan al-Bazaar. Ini adalah kasus yang aku lihat dalam at-Taqriib, namun aku tidak menyebutkan perowi tersebut yang mendapatkan tautsiq dari ad-Daruquthni, yang mana al-Hafidz menganggapnya maqbul. Aku telah menulis di catatan kaki : ‘bagaimana ini, sungguh ad-Daruquthni telah mentautsiqnya? Lalu ketika aku merujuk kesana, aku membaca ucapan as-Sakhowiy yang memasukkan ad-Daruquthni diantara orang yang sejenis dengan Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah, maka bagaimana pendapat antum?

Jawab :

Continue Reading IMAM AL BAZAR MUTASAAHIL?…

PEMBELAAN DARI SYAIKH ABDULLAH AL-BUKHORI KEPADA IMAM AL IJLI

March 31, 2014 at 12:44 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

PEMBAHASAN SEPUTAR TAUTSIQ IMAM AL IJLI

(Oleh Syaikh DR. Abdullah Al Bukhori dalam http://www.shahab.net)

 

Soal : Mengapa tautsiq Al’ijli tidak dianggap (tidak mu’tabar) ?

Jawab :

Sebelum menjawab pertanyaan ini, aku memandang pertanyaannya kurang tepat,  ketika penanya berkata “tidak mu’tabar”. Karena senantiasa para ulama dan para peneliti biografi perowi dari sisi jarh dan ta’dil, mereka semuanya menukil pendapat al-Hafidz Al’ijli, mereka memandang –sebagaimana akan datang penukilan dari sebagian mereka, dengan izin Allah- berkaitan sebagian pendapatnya apakah sesuai atau bertentangan (dengan ulama lain) dan ini adalah pembahasan lainnya. Seandainya penanya berkata : ‘apakah benar Imam Al’ijli disifati dengan tasaahul (gampang) mentautsiq atau hal tersebut tidak benar?’. Maka pertanyaannya lebih tepat dan jawabannya lebih jelas.

Continue Reading PEMBELAAN DARI SYAIKH ABDULLAH AL-BUKHORI KEPADA IMAM AL IJLI…

IMAM IBNU KHUZAIMAH MUTASAAHIL?

March 31, 2014 at 11:56 am | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

IMAM IBNU KHUZAIMAH DALAM TAUTSIQNYA

KEPADA PARA PEROWI MAJHUL

 

Imam Al Albani dalam “Silsilah Ahaadits ash-Shahihaah” (no. 1247) berkomentar tentang Imam Ibnu Khuzaimah, kata beliau :

فلا يفيد بعد الاطلاع على هذا أن ابن خزيمةأخرجه ، لا سيما و هو معروف عند أهل المعرفة بهذا الفن أنه متساهل في التصحيح ، على نحو تساهل تلميذه ابن حبان

“tidak ada faedahnya setelah diteliti bahwa (hadits tersebut) diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, terlebih lagi beliau ma’ruf menurut ulama yang berkecimpung dalam ilmu hadits , bahwa Imam Ibnu Khuzaimah mutasaahil (gampang) dalam menshahihkan, sama seperti muridnya, Imam Ibnu Hibban”.

 

PANDANGAN SYAIKH MUALIMI DAN SYAIKH AL ALBANI TERHADAP TAUTSIQ IMAM AL IJLI

March 30, 2014 at 1:52 pm | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

TAUTSIQ IMAM AL ‘IJLI DALAM PANDANGAN

SYAIKH AL MU’LIMIY DAN SYAIKH AL ALBANI

 

Asy-Syaikh al-Mu’alimiy –Rakhimahullah- dalam kitabnya “at-Tankiil”, beliau  berkata :

“al-‘Ijli mirip dengan (ibnu Hibban) dalam men-tautsiq para perowi majhul dari kalangan mutaqodimiin”.

Dalam tempat lain di kitabnya “al-Anwaarul Kaasyifah”, beliau berkata :

“Tautsiq al-‘Ijli, aku mendapatinya berdasarkan penelitian, seperti tautsiqnya Ibnu Hibban, bahkan lebih luas lagi”.

Adapun asy-Syaikh Al Albaaniy –Rakhomihullah- dalam “Tamaamul Minnah” berkata :

“Tautsiq al-‘Ijli seperti kedudukan tautsiqnya Ibnu Hibban”.

 Masih dalam kitab yang sama, sebelumnya Al Albani berkata :

“hal ini diikuti oleh al-‘Ijli yang menulisnya dalam kitab tsiqootnya (510/2038), demikian juga Ibnu Hibban (5/585). Tidak menentramkan hati untuk menerima tautsiq keduanya, karena mereka berdua sudah terkenal sebagai ulama yang mutasaahil (bermudah-mudahan) dalam men-tautsiq”.

 

Sumber : multaqo ahlul hadits

 

وفقد قال الشيخ المعلمي رحمه الله في كتاب التنكيل :”العجلي قريب منه{يقصد ابن حبان}في توثيق المجاهيل من القدماء”. وفي مواضع أخرى…وجاء في كتابه الأنوار الكاشفة…:”توثيق العجلي وجدته بالاستقراء كتوثيق ابن حبان أو أوسع”… وأما الشيخ الألباني رحمه الله فقال في تمام المنة:”توثيق العجلي في منزلة توثيق ابن حبان”. في مكان متقدم من نفس الكتاب قال:”تبع في ذلك العجلي فإنه أورده في ثقاته {510/2038} وكذلك ابن حبان {5/585} ولم تطمئن النفس لتوثيقهما لما هو معروف من تساهلهما”.

PENDAPAT SYAIKH MUQBIL TERHADAP TAUTSIQ IMAM AL IJLI

March 30, 2014 at 7:05 am | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

PENDAPAT SYAIKH MUQBIL TERHADAP

TAUTSIQ IMAM AL ‘IJLI

 

Syaikh al-Muhaddits Muqbil bin Haadiy al-Waadi’i pernah ditanya dengan pertanyaan berikut, berkaitan dengan tautsiq Al ‘Ijli :

Soal : Syaikh Al Albani –Hafidhohullah- menyebutkan bahwa Al ‘Ijli dan Al Haakim adalah ulama yang mutasaahil dalam tautsiq, namun aku mendapatkan Al Hafidz Ibnu Hajar, jika tidak ada komentar terhadap biografi seorang perowi, kecuali perkataannya Al ‘Ijli (misalnya) : ‘orang Kufah tsiqoh’ atau ‘Orang Madinah Tabi’i tsiqoh ‘, maka Al Hafidz dalam “at-Taqriib” berkata : ‘tsiqoh’. sehingga apa sisi ke-Tasaahulan- dari Imam Al ‘Ijli?

Jawab :

Telah diketahui berdasarkan penelitian kesendirian beliau –bersama Imam Ibnu Hibban- dalam mentautsiq sebagian perowi yang tidak ada ulama lain yang memberikan tautsiq kepadanya. Maka masalah ini diketahui dengan penelitian, karena jika tidak seperti itu, saya belum mengetahui ucapan Hufadz dalam hal ini.

Continue Reading PENDAPAT SYAIKH MUQBIL TERHADAP TAUTSIQ IMAM AL IJLI…

TALIQ NUKHBAH – SYADZ

March 30, 2014 at 4:55 am | Posted in Mustholah Hadits | Leave a comment

قال الإمام الحافظ :

وزيادة راويهما مقبولة ما لم تقع منافية لمن هو أوثق  فإن خولف بأرجح فالرجح المحفوظ ومقابله الشاذ ومع الضعف الراجح المعروف ومقابلة المنكر

“Tambahan dari perowinya diterima, selama tidak terdapat pertentangan dengan perowi yang lebih tsiqoh. Namun jika terjadi pertentangan, maka yang kuat disebut Mahfuudh, sedangkan yang marjuh (lawannya) disebut Syadz. Namun jika yang menyelisihi adalah perowi yang dhoif, maka yang rajih (kuat) disebut Ma’ruf, sedangkan lawannya disebut Mungkar”.

Ta’liq :

Telah berlalu pembahasan mengenai hadits Syadz, nampaknya Al Hafidz condong kepada pendapat bahwa tambahan perowi Maqbul yang dapat dijadikan hujjah, haditsnya diterima, selama tambahan tersebut tidak bertentangan dengan perowi yang lebih tsiqoh darinya. Lawan dari Syadz disebut Mahfudz.

Adapun jika yang menyelisihi tadi adalah perowi yang dhoif, sedangkan yang diselisihi adalah perowi Maqbul, maka hadits perowi Maqbul disebut Ma’ruf, sedangkan hadits perowi yang dhoif tadi disebut Mungkar. Ini adalah istilah yang dipakai oleh Al Hafidz Ibnu Hajar, Imam Ibnu Katsiir dalam “Ikhtishor ‘Ulumul Hadits”, dan selainnya.

Continue Reading TALIQ NUKHBAH – SYADZ…

Next Page »

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: