KAEDAH DALAM MENGIKUTI KEBIASAN NABI

March 1, 2014 at 3:06 am | Posted in fiqih | Leave a comment

KAEDAH DALAM MENGIKUTI NABI Sholallahu ‘alaihi wa salaam DALAM PERKARA ADAT-ISTIADAT KAUM BELIAU

 

السؤال: هل يُشرع التشبه بالنبي عليه الصلاة والسلام في أموره العادية (السنّة العادية) ,وما ضابط ذلك؟

الجواب: ضابط ذلك أنّ ما فعله للتشريع إن كان واجبا فنعتقد وجوبه ,وإن كان مستحبا فنعتقد استحبابه ,وإن كان جائزا فنعتقد جوازه.

وبعض الناس يتعلقون بشيء من العادات! نعم لو فعلها هكذا ولم يَدْع إليها ,ولم يقل إنّها سنّة ,ولم يجعلها شعاراً ,فلا بأس ,فإنّ بعض الناس يتعلقون ببعض الأمور الجائزة والعادات التي كان يفعلها رسول الله على طريقة قومه عليه الصلاة والسلام فيجعلونها من السنن ومن الشعائر ومن المزايا ,ويذهبون يتعالون على الناس ,ويطعنون فيهم لأنّهم تركوا السنّة وأماتوها ,فهذا من التنطع في الدين ومرفوض في الإسلام.

نعم ,الرسول صلى الله عليه وسلم كان يحبّ الدّباء ,فعن أنس بن مالك رضي الله عنه: (أن خياطا دعا النبي صلى الله عليه وسلم لطعام صنعه فذهبت مع النبي صلى الله عليه وسلم ,فقرب خبز شعير ومرقا فيه دباء وقديد ,فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم يتتبع الدباء من حوالي القصعة ,فلم أزل أحب الدباء بعد يومئذ) 5.

فلا بأس أن تحب الدباء ,لكن تقول: هو سنة وتدعو إليه ,وتتميز به على الناس فهذا غلط.

كذلك رأى بعض الصحابة الرسول صلى الله عليه وسلم وصدره مفتوح فجعلوها سنّة وشعاراً يتميزون به على الناس! وأبو بكر وعمر لم يثبت عنهما هذا! الصحابة الكبار لم يثبت عنهم هذا! لو كان سنّة لسبقونا إليها.

يمكن الرسول صلى الله عليه وسلم فتح صدره بمناسبة حرّ أو نسي أو شيئا ما .. أو .. أو .. فلا نقول: إن هذا سنّة ثم نوالي ونعادي عليه ونجعله شعارا؛ هذا غلط.

Soal : apakah disyariatkan menyerupai Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam dalam perkara-perkara adat-istiadat. Apa batasannya dalam masalah ini?

Jawab :

Batasan dalam masalah ini adalah apa yang dilakukan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam untuk pensyariatan, jika ia wajib, maka kita berkeyakinan kewajibannya dan jika ia sunnah, kita berkeyakinan juga kesunahannya, jika ia boleh, maka kita berkeyakinan juga kebolehannya.

Sebagian manusia melazimkan perkara adat tertentu!, na’am seandainya ia melakukan ini (untuk pribadinya sendiri-pent.) dan tidak menyeru untuk melakukan seperti dirinya, tidak mengatakan bahwa ini sunnah, tidak menjadikannya sebagai syiar, maka tidak mengapa. Karena sebagian orang melazimkan sebagian perkara mubah dan adat-istiadat yang dikerjakan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam menurut kebiasaan kaumnya, lalu mereka menjadikan ini sebagai sunah, syiar dan perkara pembeda, lalu mereka melazimkan orang lain untuk seperti itu, mencela orang yang tidak seperti dirinya, dan menuduhnya meninggalkan dan mematikan sunnah, maka ini adalah perkara berlebih-lebihan dalam agama dan tertolak dalam Islam.

Na’am Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam menyukai dibaa’ (sejenis labu), dari Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu : bahwa Khiyaath Rodhiyallahu ‘anhu mengundang Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam untuk makan (dirumahnya), maka aku dan Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pergi kesana, dihidangkan kepada beliau khubuz (sejenis roti), selai dan kuah yang terdapat didalam labu dan dendeng, aku melihat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam sangat berantusias untuk mengambil labu ke piringnya, maka aku senantiasa menyukai labu setelah hari tersebut. Maka tidak mengapa untuk menyukai labu, namun jika engkau mengatakan bahwa ini sunnah dan mengajak orang kepadanya serta membedakan diri dengan orang lain karena perkara ini, maka ini adalah keliru.

Demikian juga sebagian sahabat melihat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam dadanya terbuka, maka apakah mereka akan menjadikan ini sunah, syiar dan pembeda diantara manusia? Abu Bakar dan Umar Rodhiyallahu ‘anhumaa tidak pernah dinukil dari mereka tentang perkara ini, para sahabat besar tidak pernah dinukil tentang perkara ini, seandainya ini sunah, niscaya mereka akan mendahului kita. Mungkin Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam membuka dadanya karena gerah atau lupa atau sesuatu apapun itu atau…, maka kita tidak mengatakan ini adalah adalah sunah, lalu berwala dan bermusuhan diatasnya dan kita menjadikannya sebagai syiar, ini adalah keliru. (dijawab oleh Al ‘Alamah Robii bin Hadi Al Madkholiy dalam Fiqihiyyah Mutanawiyyah).

Advertisements

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: